
Tiffani menuruti apa yang Rama katakan, walaupun sebenarnya ia masih sangat tidak setuju dengan tugas kali ini. Bagaimana bisa ayahnya menyetujui permintaan bahan peledak dalam jumlah banyak. Apa ayahnya tidak berpikir panjang tentang apa yang akan terjadi kalau sampai bahan peledak itu jatuh ke tangan yang salah, kemudian di salahgunakan.
"Dua kontainer bahan peledak bisa digunakan untuk meledakkan satu pulau sekaligus, bukan?" tanya Tiffani pada Mona.
Mona menggeleng. "Entahlah, Tiffani, kenapa kamu memikirkan hal yang seseram itu. Aku saja tidak ingin memikirkannya."
"Bagaimana aku tidak memikirkannya, Mon, memangnya bahan peledak sebanyak itu akan digunakan untuk apa lagi kalau bukan untuk meledakkan satu pulau sekaligus," ujar Tiffani, yang sekarang tengah mengikat rambut panjangnya.
Untuk tugas kali ini Tiffani memilih tampilan yang kasual. Sangat bertolak belakang dengan penampilannya saat memimpin pertemuan kerjasama kemarin malam di sebuah hotel berbintang.
Kali ini Tiffani hanya mengenakan celana jeans berwarna Navi yang dipadukan dengan kemeja berwarna putih tanpa motif,sedangkan rambutnya dikuncir kuda tinggi, yang membuatnya terlihat sederhana tetapi tetap elegan dan cantik.
Mona menghela napas mendengar setiap ucapan Tiffani. "Jangan overthinking, Tiffani, bisa saja kalau bahan peledak sebanyak itu akan digunakan untuk membuat petasan dan kembang api."
Tiffani tertawa, tawa yang dibuat-buat sehingga terdengar menyebalkan. "Mana mungkin. Kenapa kamu ini polos sekali."
"Aku bukannya polos, aku hanya tidak ingin berpikir buruk. Berpikir terlalu buruk tentang pekerjaan ini sama saja berpikir buruk tentang ayahmu, dan aku tidak tega jika harus memikirkan hal seburuk itu tentang ayahmu, Tiffani."
Tiffani menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan. "Ya, aku tahu, tapi tetap saja ini terasa sangat menyeramkan, Mon, rasanya aku seperti menjadi seorang tero-ris."
Mona menarik kuncir kuda Tiffani dengan gemas. "Sudah aku bilang jangan over thinking! Ayo cepat, kita bisa kemalaman nanti." Mona menarik lengan Tiffani agar Tiffani bergerak dengan cepat menuju pintu keluar dari kamar, karena sepertinya Tiffani enggan untuk beranjak dari kamarnya, dan malah sibuk memikirkan bahan peledak yang bentuknya pun belum mereka lihat secara langsung.
Tiffani tiba di halaman depan saat matahari hampir tenggelam, membuat langit menjadi berwarna kemerahan.
"Aku siap berangkat. Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk sampai di tempat tujuan?" tanya Tiffani pada Rama yang sedang sibuk menatap langit.
Rama terkejut begitu mendengar suara Tiffani yang tiba-tiba muncul di dekatnya.
Rama kemudian mengalihkan pandangan dari langit yang kemerahan. Ia sekarang tengah memindai penampilan Tiffani yang terlihat begitu menganggumkan.
"Kamu cantik sekali," puji Rama.
"Terima kasih," ujar Tiffani, sembari mengibaskan rambut panjangnya yang terikat.
"Perjalanan menuju ke gudang dua mungkin sekitar satu setengah jam. Aku akan memilih jalur yang akan membuat kita lebih cepat tiba di tempat tujuan. Tenang saja, aku paling handal mencari jalan tembusan," ujar Rama, lalu membukakan pintu mobil untuk Tiffani dan mempersilakan Tiffani untuk masuk.
"Apa semua pengawal sudah siap, Rama?" tanya Mona, sebelum ia juga masuk ke dalam mobil.
Rama mengangguk. "Mereka semua sudah siap. Kita akan dikawal oleh beberapa pengawal pribadi Tuan Richard. Mereka sudah menunggu di gerbang depan.
Mona mengangguk. " Baguslah kalau begitu. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman kali ini."
"Mungkin karena kali ini adalah kali pertama buatmu dan juga Tiffani. Sebelumnya kalian tidak pernah terlibat dalam pengiriman barang, bukan? Apalagi mengirim langsung dari gudang."
Mona menggeleng. "Ya, kali ini memang untuk pertama kalinya aku dan Tiffani melakukan hal ini, dan rasanya cukup.membuatku gugup."
Rama tersenyum. "Sesampainya di sana, kamu akan berdecak kagum, karena bisnis Guan Richard adalah bisnis yang benar-benar besar, bukan hanya pengiriman kecil-kecilan. Lihat saja nanti," ujar Rama, lalu segera masuk ke dalam mobil.
Detik berikutnya Mona pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian belakang, sementara Tiffani duduk di kursi depan, tepat di samping Rama.
"Sudah siap, Ladies? Mari kita berangkat," ujar Rama, sembari tersenyum menatap Tiffani. Saat mobil mulai bergerak perlahan, Rama segera melakukan panggilan telepon ke Damar.
"Halo, Pak Damar, kami sudah berangkat. Mari kita bertemu di pertigaan."
Setelah mengatakan hal itu, Rama memutus panggilan dan segera meletakkan ponselnya di saku jas yang ia kenakan.
"Om Damar akan ikut juga? Lalu, siapa yang akan menunggu ayahku?" tanya Tiffani.
"Tuan Richard akan dijaga oleh Dokter Steve dan beberapa bodyguard," jawab Rama.
__ADS_1
Tiffani menghela napas. "Aku harap semua ini segera berakhir. Aku gugup sekali."
"Jangan gugup, Tiffani, kaku sudah melakukan yang terbaik kemarin malam, dan malam ini kamu pasti akan melakukan yang sama baiknya." Rama menyemangati.
Tiffani tersenyum. "Kalau begitu apa aku boleh menciummu agar rasa gugupku hilang?" tanya Tiffani.
"Astaga, apa-apaan, sih, Tiffani," gumam Mona, yang mendengar ucapan Tiffani.
"Tentu boleh, Sayangku, kemarilah." Rama mencondongkan tubuhnya ke Tiffani agar Tiffani mudah menjangkau bibirnya. Detik berikutnya Tiffani pun mengecup bibir Rama, dan ia menggigit sedikit bibir pria itu dengan gemas.
Mona menutup kedua matanya dengan tangan saat melihat adegan 18 plus yang ada di hadapannya.
"Dasar pasangan bucin," gerutu Mona.
"Mulai sekarang, kalau aku merasa gugup, aku akan menciummu, oke!' ujar Tiffani, saat ia telah kembali ke posisi semula.
Rama tersenyum mendengar ucapan Tiffani. " Degan senang hati, Sayangku."
Perjalanan kemudian berlanjut dalam keheningan. Perlahan mobil yang Rama kendarai mulai meninggalkan jalanan perkotaan. Tidak ada lagi gedung pencakar langit, tidak ada lagi tiang-tiang lampu tinggi yang menerangi jalanan, bar, mal, dan pusat-pusat perbelanjaan menghilang dari pandangan. Hanya pepohonan rindang yang terlihat mengisi kekosongan di kana dan kiti jalan. Pohon-pohon berukuran besar itu terlihat menjulang dalam bayangan kehitaman akibat terpaan sinar rembulan.
Jalanan terlihat semakin sepi dan menyeramkan karena tidak ada mobil lain yang melintas. Hanya mobil Tiffani dan rombongan yang melewati jalanan tersebut.
"Di mana letak gudang dua itu tepatnya, Ram?" tanya Tiffani, yang mulai penasaran.
"Di tepi pantai," jawab Rama.
"Pantai?"
"Ya, Tiffani pantai. Akan ada dermaga di sana, dan juga kapal tongkang yang akan membawa barang kiriman kita ke tempat tujuan." Rama menjelaskan.
"Jadi pengiriman barangnya menggunakan kapal besar?" tanya Tiffani.
"Tentu. Apa kamu pikir pengirimannya akan menggunakan perahu?" canda Rama.
Rama menggeleng. "Ayahmu tidak menyewa kapal atau apa pun Tiffani. Kapal-kapal yang ada di pelabuhan adalah milik ayahmu semua.
Kedua mata Tiffani membelalak mendengar ucapan Rama. Meskipun Rama tidak dapat melihat ekspresi Tiffani karena jalanan yang terlalu gelap, tetapi Rama dapat merasakan keterkejutan Tiffani.
"Kamu pasti tidak menyangka kalau ayahmu begitu kaya raya," ujar Rama.
Tiffani mengangguk. "Ya, aku memang sama sekali tidak menyangka jika ayahku ternyata super kaya raya."
"Ya, itulah sebabnya aku menyukaimu, karena kamu kaya sekali, Tiffani." Rama terkekeh, ia menggoda Tiffani agar suasana tidak terlalu menegangkan.
Mendengar perkataan Rama, Tiffani langsung mencubit pinggang Rama hingga Rama berteriak kesakitan.
"Dasar kejam, seharusnya jangan katakan, agar aku tetap berpikir kalau cintamu itu tulus." Tiffani menggerutu.
Rama meraih tangan Tiffani dan mengecup punggung tangan gadis itu berulang kali. "Aku hanya bercanda, Tiffani, jangan diambil hati."
Tiffani menarik tangannya dari bibir Rama, lalu berkata, "Akan aku pikirkan, apakah harus kuambil hati atau tidak."
***
Beberapa saat kemudian rombongan Tiffani akhirnya tiba di tempat tujuan. Rama langsung memarkirkan mobilnya di area parkir yang tersedia, disusul oleh beberapa mobil lainnya yang berisi pengawal yang akan mengawal Tiffani.
Rama keluar dari dalam mobil, dan membukakan pintu untuk Tiffani.
Saat Tiffani keluar dari dalam mobil, Rama segera mengecup bibir Tiffani.
__ADS_1
"Ish, apa-apaan, sih," ujar Tiffani, yang berpura-pura tidak suka dengan apa yang Rama lakukan.
Rama nyengir. "Agar kamu tidak gugup."
"Aku sudah tidak gugup lagi. Justru sekarang rasanya aku sangat bersemangat. Bersemangat untuk menenggelamkan seseorang," ujar Tiffani dengan sengit.
Rama hanya tertawa mendengar ocehan Tiffani.
Pak Damar yang baru saja keluar dari dalam mobil bersama dengan Adam langsung menghampiri Tiffani dan Rama.
"Selamat malam, Tiffani," sapa Damar.
"Ya, Om, selamat malam juga. Bagaimana keadaaan ayah?" tanya Tiffani.
"Ayahmu baik. Semoga besok dia sadar .Grafik tanda-tanda vitalnya menunjukkan kemajuan."
"Sungguh?!" Kedua mata Tiffani berbinar bahagia.
"Ya, Tiffani. Ayahmu pasti bangga padamu, hingga dia memutuskan untuk sembuh lebih cepat. Pokoknya sebelum ayahmu sadar, semua pekerjaannya merupakan tanggung jawabmu." Damar berujar, agar Tiffani lebih bersemangat.
Tiffani mengangguk. "Aku akan melakukan yang terbaik untuk ayahku. Walaupun jujur saja, Pak Damar, aku sangat tidak menyukai semua pekerjaan ini."
"Kamu harus menyukainya Tiffani, karena selama ini, inilah yang dikerjakan ayahmu, dengan semua resiko yang ada dia tetap menjalann bisnis ini dengan sepenuh hati."
Damar tersenyum ke Tiffani, lalu segera melambaikan tangan, meminta Tiffani untuk mengikutinya.
Tiffani dan Mona mengekor langkah Damar dengan hati-hati melewati pohon-pohon pinus yang tumbuh tidak terlalu rapat. Mereka terus melangkah hingga pepohonan tidak lagi terlihat, dan digantikan dengan pasir putih yang yang mengilap di bawah sinar rembulan.
"Wow," gumam Tiffani, saat ia melihat dermaga yang ada di kejauhan, lengkap dengan kapal-kapal pengangkut yang berukuran sangat besar.
Puluhan pekerja berlalu lalang di pantai, saling berteriak dan membawa barang ini dan itu yang dimasukkan ke dalam sebuah truk, kemudian truk tersebut bergerak perlahan menuju jembatan yang menjorok ke laut.
Sementara itu di sisi lain pantai, terdapat sebuah truk kontainer yang bagian atasnya tertutup oleh terpal berukuran sangat besar. Truk itu bergerak maju memasuki sebuah jembatan lagi yang menjorok ke laut.
"Tuan Damar!"
Seorang pria yang merupakan mandor di gudang tersebut menghampiri Damar dan menyapa Damar yang baru tiba.
"Halo, Pak Rian." Damar balas menyapa. "Bagaimana pengiriman hari ini. Apa ada hambatan?" tanya Damar.
"Tidak, Pak, semuanya lancar. Sekarang hanya tinggal pengiriman terakhir, dan kami membutuhkan tanda tangan Pak Richard."
Damar melirik Tiffani yang masih berdiri tanpa bersuara di samping Damar. "Pak Richard tidak bisa datang hari ini karena sesuatu hal, sebagai gantinya, Tiffani yang akan menandatanganinya."
"Tiffani. Siapa Tiffani?" tanya Rian.
Tiffani maju selangkah menghampiri Rian.
"Aku adalah Tiffani, putri Richard Raendra. Barikan padaku dokumen yang diperlukan, aku akan mempelajarinya sebelum menandatanganinya," ujar Tiffani.
"Tidak ada yang perlu dipelajari, Tiffani. Kamu hanya perlu menandatanganinya," ujar Damar.
"Tidak, Om, aku akan mempelajarinya terlebih dahulu."
Damar menatap Rama, dan Rama tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus membujuk Tiffani yang keras kepala.
"Tiffani, Sayang, dengarkan aku. Kamu hanya harus tanda tangan agar barang segera dikirim. Kita tidak boleh terlambat, atau sesuatu yang buruk akan terjadi, Tiffani."
"Sesuatu yang buruk itu apa?" tanya Tiffani.
__ADS_1
"Kita mungkin tidak akan bisa menikah."
Bersambung.