
Brak!
Tiffani membuka pintu ruangan tempat Richard dirawat dengan cara yang begitu kasar, hingga menimbulkan suara berisik yang tidak seharusnya.
Adam yang sedang duduk sambil menyantap sepotong roti di ruang utama begitu terkejut hingga ia menjatuhkan roti yang baru saja hendak ia masukkan ke dalam mulut. Adam menggeram kesal, ia yang tadinya hendak mengomel karena mengira bahwa Rama lah yang datang dan lagi-lagi membuat rotinya terjatuh langsung mengurungkan niatnya begitu melihat bahwa Tiffani lah yang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat begitu kesal, bukannya Rama.
"Astaga, Nona, Anda mengejutkanku," ucap Adam, sambil bangkit berdiri, dan langsung berdiri di hadapan Tiffani, menghalangi jalan Tiffani agar Tiffani tidak langsung masuk ke kamar Richard.
Tiffani tidak menghiraukan ucapan Adam. Ia mendorong Adam menjauh, lalu terus melangkah hingga tiba di kamar rawat Richard.
"Om Damar, aku ingin bica ...." Tiffani tidak menyelesaikan kalimat yang sejak tadi sudah menumpuk di dalam kepalanya. Kedua matanya membelalak dan berembun saat ia melihat sang ayah duduk di atas ranjang sambil asyik menjilati es krim.
Tanpa berkata-kata lagi, Tiffani langsung menghampiri Richard dan memeluk pria tua itu dengan sangat erat.
Richard terkekeh dan membalas pelukan dari Tiffani dengan sama eratnya.
"Anak ayah yang cantik," gumam Richard. "Kamu membuat es krim ayah terjatuh, Nak."
Tiffani tidak peduli. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Richard. "Akan aku ganti. Aku akan belikan seratus es krim untuk Ayah. Ayah tenang saja," lirih Tiffani yang masih memeluk sang ayah.
Richard kembali terkekeh dan menepuk-nepuk punggung Tiffani.
"Kapan Ayah sadar, kenapa Ayah tidak mengabariku?" tanya Tiffani.
"Baru beberapa jam yang lalu, dan ketika sadar tiba-tiba saja aku ingin makan es krim. Itulah sebabnya aku meminta Damar membelikan es krim untukku," Richard menjawab pertanyaan Tiffani.
Tiffani melepaskan pelukannya dari tubuh Richard, kemudian mengusap air matanya. "Jangan lakukan hal ini padaku, Ayah. Aku tidak tahan melihat Ayah berbaring berhari-hari dengan mata terpejam, dan tidak bisa melihatku."
__ADS_1
Richard menghela napas, dan kemudian mengusap rambut panjang putrinya yang begitu lembut dan indah. "Semua manusia pada akhirnya akan berbaring dengan kedua mata terpejam, bukan hanya berhari-hari, tetapi untuk selamanya. Kamu pun harus bersiap untuk menghadapi hal seperti itu, Tiffani. Ayah sudah tua, ayah bisa saja tertidur untuk selama-lamanya."
Tiffani duduk di ranjang, tepat di samping Richard, dan langsung menyandarkan kepala di bahu sang ayah yang sudah tidak sekokoh dulu lagi.
"Apa yang Ayah bicarakan. Aku tidak akan membiarkan Ayah berbaring dengan mata terpejam untuk selamanya. Aku pasti akan membangunkanmu, Ayah, jika Ayah tidak kunjung bangun, maka akulah yang akan menyusul untuk berbaring di samping Ayah," ucap Tiffani.
Ucapan Tiffani itu membuat Damar, Mona dan Adam ikut merasa sedih
Richard berdecak. "Jangan berkata demikian, Tiffani. Kamu masih muda, masih banyak hal indah yang harus kamu lewati dengan orang yang kamu cinta. Hidup tidak melulu tentang dirimu dan ayah, tetapi tentang orang lain yang membutuhkanmu juga."
Tiffani menggeleng. "Tidak, aku tidak butuh siapa pun selain Ayah ... dan, ya, kebetulan sekali Ayah sadar, ada yang ingin aku tanyakan pada Ayah. Ini tentang dia! Pria tua bangka itu!" Tiffani mengalihkan pembicaraan, dan langsung menunjuk wajah Damar tanpa ragu sedikit pun.
Damar terkejut, karena Tiffani mengatainya tua bangka. Sebelumnya tidak pernah ada satu orang pun di dunia ini yang mengatainya tua bangka.
"Aku! Ada apa denganku, Nona?" tanya Damar.
Richard mencubit pipi Tiffani dengan gemas. "Bicara yang sopan pada Damar, Nak, bagaimana pun dia adalah walimu saat ayah sedang tidak memiliki kemampuan untuk menjagamu. Contohnya adalah seperti beberapa hari ini. Itulah sebabnya Damar menyebutmu Tiffani, karena saat ayah tidak ada, maka Damar adalah pengganti ayah untuk sementara."
Tiffani seperti tertelan sebongkah batu begitu mendengar apa yang ayahnya katakan. Selama ini ia mengira Damar hanyalah mengada-ngada perihal hak wali yang Damar miliki atas diri Tiffani, tetapi ternyata perkiraan Tiffani itu salah.
"Jadi, Om Damar memang adalah waliku?" tanya Damar.
Richard mengangguk. "Ya, benar."
"Tapi, ayah tidak pernah membahas hal itu padaku."
"Ya, memang tidak pernah, karena ayah membahas semua hal itu pada pengacara, bukan padamu, Nak."
__ADS_1
Tiffani terlihat kesal, ia mendelik ke Damar, membuat Damar bergidik karena tatapan Tiffani begitu menakutkan, seperti tatapan seorang predator yang ingin mencabik-cabik mangsanya.
"Aku tidak suka dengan keputusan Ayah," ujar Tiffani, setelah beberapa saat ia terdiam untuk memelototi Damar.
"Tidak semua yang terjadi di muka bumi ini adalah hal yang kamu suka, Tiffani. Kamu harus mulai belajar menerima bahwa hidup berjalan bukan sesuai kehendakmu, justru kamu sedang menjalankan skenario Tuhan."
Tiffani menghela napas. Ia tahu, jika saat ini ia tidak dalam posisi untuk membantah Richard. Mana mungkin ia mendebat Richard yang baru saja sadar dari koma.
"Kalau begitu apa kedatangan Gracella juga merupakan skenario Tuhan? Padahal Tuhan tahu kalau Tuhan memilih untuk mempertemukan kami sekarang, aku bisa saja membun-uhnya," ujar Tiffani, lalu melanjutkan, "Ayah pasti tidak tahu kan kalau Gracella akan datang. Semua itu ide Om Damar. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Om Damar sampai-sampai Om Damar meminta Gracella untuk datang. Menyebalkan sekali."
Richard mengusap wajahnya. Ia bersiap untuk mendapatkan tatapan sakit hati Tiffani, begitu ia mengatakan yang sebenarnya pada Tiffani, kalau kedatangan Gracella bukanlah karena Damar, tetapi karena ialah yang meminta gadis itu untuk datang.
"Ayah sudah tahu?" tanya Tiffani, saat ia melihat ekspresi Richard yang tidak menunjukan keterkejutan sama sekali.
Richard diam sejenak, kemudian ia mengangguk. "Ya, aku tahu, karena akulah yang meminta Gracella untuk datang. Bukannya Damar."
Tiffani terkejut. Refleks ia turun dari ranjang dan melangkah mundur menuju pintu. Menjauhi Richard, dan menatap Richard dengan penuh tanda tanya "Ayah. Bagaimana mungkin Ayah meminta dia untuk datang. Ayah kan tahu kalau aku dan Grace ... apa Ayah lupa bagaimana cara dia menyakitiku?"
"Ayah tahu, Tiffani, tapi bukankah sudah saatnya untuk melupakan semuanya dan saling memaafkan. Kalian sudah sama-sama dewasa sekarang, tidak baik menyimpan dendam terlalu lama."
Tiffani menggeleng. "Tidak, Ayah, seharusnya Ayah jangan lakukan hal ini. Ayah tega sekali!" lirih Tiffani, kemudian tanpa menunggu lebih lama untuk mendengarkan penjelasan sang ayah, Tiffani bergegas keluar dari dalam kamar Richard, disusul kemudian oleh Mona yang memang selalu mengekor setiap langkah Tiffani.
"Nona, tunggu!" Damar berteriak, dan hendak menyusul Tiffani, tetapi Richard melarang.
"Biarkan saja dia. Dia buruh waktu untuk sendiri," ujar Richard pada Damar. "Hubungi saja Rama dan katakan kalau Tiffani marah padaku dan melarikan diri."
Damar mengangguk cepat. "Baik, Tuan."
__ADS_1
Bersambung.