My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
MEMORY CARD


__ADS_3

Richard mendengar apa yang baru saja Mona katakan, karena sekarang pria itu telah berdiri tepat di hadapan Damar. Tadinya ia tidak berniat untuk menghampiri Damar dan memeriksa siapa yang datang, tetapi ia mendengar teriakan Damar yang terlihat terkejut, ia pun menjadi penasaran dan memutuskan untuk menghampiri Damar. Richard tiba di samping Damar tepat saat Mona mengatakan hanya Rama yang ada saat ambulans datang, Tiffani tidak ada.


Kini Richard menatap Mona dengan penuh tanda tanya. Ia belum mencerna seutuhnya maksud perkataan Mona.


"Ambulans? Tiffani? Apa yang terjadi?" tanya Richard, menatap Mona dan Damar bergantian.


Damar tersentak, ia tidak menyadari jika Richard telah berdiri di belakangnya bersama dengan Xavier.


Air mata Mona mulai berjatuhan tanpa bisa dikendalikan sekarang. Ia begitu sedih karena semua kejadian buruk ini terjadi di saat Richard tengah sakit keras dan bisa pergi meninggalkan dunia kapan saja tanpa ada yang mengetahui.


"Rama mengalami kecelakaan, Tuan." Mona menjawab pertanyaan Richard dengan formal, ia merasa sangat bersalah karena tidak ikut serta saat Tiffani dan Rama memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.


"Rama, lalu bagaimana keadaannya? Apa Tiffani tahu kalau Rama mengalami kecelakaan?" tanya Richard lagi


"Itulah permasalahannya. Rama mengalami kecelakaan di persimpangan Cendrawasih, jalan itu tidak terlalu jauh dari sini, hanya sekitar lima belas menit, dan lima belas menit yang lalu Tiffani juga berada di dalam mobil itu, Tuan. Hem, maksudku, Rama dan Tiffani pergi bersama-sama menuju rumah sakit karena Tiffani mengeluh sakit perut sejak pagi tadi. Tapi, saat ambulans datang, hanya ada Rama di dalam mobil, Tiffani tidak ada." Mona menjelaskan pada Richard.


"Itu berarti Tiffani turun lebih dulu sebelum mereka tiba di rumah sakit. Tapi, kenapa Tiffani turun dari mobil? Apa mungkin mereka bertengkar, dan kemudian Tiffani kesal, lalu meminta Rama untuk menurunkannya di jalan." Xavier berpendapat.


Mona menggeleng. "Tiffani tidak mungkin melakukan hal itu. Tiffania bukan tipe yang akan turun di jalanan begitu saja, bahkan jika ia kesal sekali pada Rama, Tiffani tidak akan meminta Rama untuk berhenti dan kemudian turun dari mobil. Rama juga tidak mungkin meninggalkan Tiffani begitu saja. Rama sangat mencintai Tiffani."


"Kalau begitu kemungkinan terakhir hanyalah ada yang membawa Tiffani pergi setelah mereka mengalami kecelakaan. Aku yakin kecelakaan ini adalah kecelakaan yang telah direncanakan." Xavier kembali berpendapat. Sebagai bodyguard seorang mafia, pikiran Xavier terbuka untuk hal-hal aneh yang tidak mungkin dipikirkan oleh orang kebanyakan. Dan di dalam kepala Xavier, kecelakaan yang direncanakan dan penculikan adalah hal pertama yang ia pikirkan begitu ada kejanggalan pada kecelakaan Tiffani dan Rama.


Tubuh Richard limbung, lututnya menjadi lemas dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia mendengar analisa dari Xavier yang memang terdengar masuk akal. Beruntung Xavier sigap menahan tubuh Richard agar Richard tidak terjatuh.


"Tuan, tetaplah sadar dan tetaplah tenang, aku akan mencari tahu dan segera menemukan Tiffani. Aku berjanji pada Anda, Tuan," ucap Xavier, berusaha untuk menenangkan Richard yang terlihat begitu kalut.


Richard mengangguk.


"Kita harus membawa Tuan ke kamarnya," saran Mona.


"Ayo kalau begitu, dan setelah itu mari ikut aku ke lokasi kejadian, dan pastikan agar polisi tidak datang ke sana. kita tidak bisa melibatkan polisi jika ingin masalah ini cepat terselesaikan,” ujar Xavier, yang mulai memapah Richard menyusuri lorong menuju kamar Richard.


"Polisi mungkin sudah datang. Kecelakaan di jalan pasti banyak orang yang akan melapor," ucap Mona.


"Bagian itu biar aku yang urus, kalian tidak usah khawatir. Aku akan memastikan agar tidak ada yang datang ke sana," ujar Damar, yang berjalan tepat di belakang Richard.


"Baiklah, Om Damar, tolong lakukan sesuatu agar polisi tidak ikut campur dalam kasus kecelakaan ini. Seperti yang kita tahu, polisi tidak akan bisa benyak membantu jika kecelakaan kali ini memang melibatkan orang-orang yang ingin menjatuhkan Tuan Richard," ujar Xavier, lalu menambahkan, "Apakah mobil Tiffani dilengkapi dengan kamera dashboard?" tanya Xavier.


Damar mengangguk. "Ya, terdapat kamera dashboard di setiap mobil yang ada di sini."


"Oke, kalau begitu Tuan istirahat saja dan jangan pikirkan apa pun. Aku akan mengabari jika aku menemukan sesuatu yang mencurigakan," ucap Xavier lagi. Kali ini mereka telah tiba di depan pintu kamar Richard.


"Aku mengandalkanmu Xavier, dan sebelum kamu pergi ke lokasi kejadian, minta beberapa pengawal untuk ke rumah sakit, jaga ruangan tempat Rama dirawat. Jujur saja firasatku sangat tidak enak," ujar Richard.


Xavier mengangguk. "Siap, Tuan, aku akan meminta beberapa bodyguard untuk menjaga Rama." Setelah mengatakan itu, Xavier beralih memandang Mona, kemudian ia mengangguk, meminta Mona untuk mengikutinya, dan detik berikutnya baik Mona atau pun Xavier melesat dengan cepat dari hadapan Richard.


Dalam perjalanan menuju halaman depan, langkah Xavier dan Mona dihadang oleh Gracella yang berlari ke arah Xavier.


"Tunggu dulu, tunggu!" seru Gracella di kejauhan.


Xavier menghentikan langkah dan menunggu Gracella tiba di hadapannya.


"Aku ikut. Aku dengar Rama mengalami kecelakaan. kalian pasti akan pergi ke rumah sakit, 'kan?" tebak Gracella.


"Tidak, Nona, kami tidak akan pergi ke rumah sakit, kami akan pergi ke lokasi kejadian," Xavier menjawab dengan formal, karena sekarang ia telah resmi menjadi bodyguard Gracella.

__ADS_1


"Kenapa kalian malah ke lokasi kejadian, bukannya ke rumah sakit? Bukannya Rama dan Tiffani sekarang telah berada di rumah sakit."


Mona menggeleng. "Tidak Grace, hanya Rama yang ada di rumah sakit saat ini, sedangkan Tiffani menghilang. Itulah sebabnya kami harus ke lokasi kejadian sekarang untuk memeriksa rekaman di kamera dashboard mobil Tiffani. Kami harus tahu ke mana perginya Tiffani dan bagaimana kronologi kejadian. Maaf, kami tidak bisa membawamu. Kami buru-buru sekali." Setelah memberi pengertian singkat ke Gracella, Mona segera menarik pergelangan tangan Xavier dan meninggalkan Gracella begitu saja.


Gracella tidak terima ditinggalkan begitu saja. Ia khawatir pada keadaan Rama, jadi bagaimana pun caranya ia harus pergi ke rumah sakit agar bisa melihat keadaan Rama.


Gracella menyusul Mona dan Xavier yang sekarang telah menyeberangi halaman menuju markas para bodyguard yang berada di sisi lain halaman. Ia sudah kelelahan setengah mati dan berkeringat saat ia tiba di markas. Halaman kediaman Richard memang sangat luas, hingga saat menyeberangi halaman itu menuju markas, sama saja seperti sedang melakukan joging mengelilingi komplek perubahan.


"Berkumpul!" seru Xavier, begitu ia tiba di dalam markas.


Gracella yang baru saja masuk langsung berpegangan pada lengan Xavier, karena ia tersandung kaki kursi yang ada di dekat pintu.


"Astaga, Nona, kenapa Anda menyusul?" tanya Xavier.


"Jangan hiraukan aku. Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku tidak akan mengganggu, aku janji," ucap Gracella, pada Xavier yang saat ini sedang menatapnya dengan khawatir.


Xavier mengusap peluh di wajah Gracella dengan tangannya sebelum ia kembali berbicara pada semua bodyguard yang telah berkumpul di markas. Tindakan sederhana Xavier itu membuat Gracella menjadi deg-degan.


"Tuan Richard meminta beberapa dari kalian untuk berjaga di rumah sakit. Rama, rekan kalian baru saja mengalami kecelakaan, dan sekarang ini dia sedang dirawat di rumah sakit. Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan karena ada indikasi kecelakaan ini telah direncanakan, aku menugaskan kalian untuk menjaga Rama."


Mendengar ucapan Xavier, Mario dan Adam segera mengacungkan tangan. "Aku akan pergi. Aku mengajukan diri," ucap keduanya.


Rei, Willi, Anton, Johan, dan Andi melakukan hal yang sama seperti yang Mario dan Adam lakukan. Mereka semua mengajukan diri untuk menjaga Rama.


Xavier tersenyum. "Bagus. Sekarang juga bersiaplah, jangan lupakan senjata kalian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana nanti, dan untuk yang lainnya tetap berjaga di pos masing-masing. Jika ada hal yang mencurigakan langsung ambil tindakan, jangan menunggu serangan, oke."


Mario dan rekan-rekannya langsung membubarkan diri untuk mempersiapkan diri mereka sebelum berangkat ke rumah sakit, begitu juga dengan bodyguard lainnya yang dengan sigap kembali ke posisi mereka masing-masing.


Sambil menunggu tim yang akan pergi ke rumah sakit, Xavier beralih menatap Gracella yang masih berdiri di sebelahnya. "Nona, kembalilah ke kamar Anda, Anda tidak bisa ikut dalam misi kami, bahkan ke rumah sakit pun tidak. Kemungkinan akan ada bahaya yang tidak bisa diprediksi di luar sana. Aku akan mengawal Anda ke rumah sakit jika aku telah selesai dengan tugasku, aku tidak akan membiarkan Anda pergi tanpa pengawalan dariku."


"Baiklah, aku tidak akan ikut kalau begitu," ujar Gracella.


"Good girl," ujar Xavier, sambil tersenyum dan menyentuh puncak kepala Gracella. "Sampai jumpa kalau begitu."


Gracella mengangguk. "Hem, berhati-hatilah, Xavier," ujar Gracella, lalu ia memunggungi Xavier dan segera keluar dari dalam markas.


Sepeninggalan Gracella, Mona mnpenyikut pinggang Xavier. "Sepertinya dia mulai naksir padamu."


Xavier menyisir rambutnya dengan jemari. "Aku memang memiliki kemampuan untuk membuat wanita mana pun menyukaiku dalam sekejap," ujarnya dengan sombong.


Mona tertawa. "Jangan terlalu percaya diri. Si Gracella itu memang murahan, dia mudah sekali jatuh cinta. Baru tadi pagi dia mengakui kalau dia menyukai Rama, sekarang dia sudah terlihat tertarik padamu." Setelah mengatakan itu, Mona langsung keluar dari markas, meninggalkan Xavier yang terlihat sedikit kecewa.


***


Perjalanan menuju lokasi terjadinya kecelakaan membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama. Jika dalam keadaan normal membutuhkan waktu lebih-kurang lima belas menit, kali ini hanya membutuhkan waktu sekitar sembilan menit untuk tiba di sana. Lumayan mempersingkat waktu karena Xavier menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Mona saja hampir terkena serangan jantung karena Xavier menyetir seperti orang yang kesurupan.


Ciiiit!


Suara decit ban memecah keheningan di lokasi kecelakaan. Tidak ada satu orang pun di sana, bahkan polisi pun tidak. Xavier tersenyum puas, ia tahu jika keheningan yang terjadi bukanlah keheningan alami yang memang terjadi begitu saja, melainkan ada campur tangan Damar di dalamnya. Entah apa yang Damar lakukan sehingga tidak ada satu orang pun di sekitar mobil Rama yang rusak parah, tapi apa pun itu Xavier merasa sangat bersyukur karena Damarlah pekerjaannya akan lebih mudah sekarang.


Xavier dan Mona segera keluar dari dalam mobil begitu mobil telah berhenti sempurna.


"Lihatlah, ada satu mobil lagi." Mona menunjuk sebuah sedan yang juga rusak parah pada bagian sampingnya.


Xavier mengangguk. "Mobil Tiffani pasti kehilangan kendali kemudian menabrak mobil itu sebelum menabrak pembatas jalan. Aku akan periksa mobil itu dulu, barangkali terdapat kamera dashboard juga di sana," ujar Xavier, lalu segera berlari menuju sedan yang ada di tengah jalan.

__ADS_1


Mona sendiri segera menghampiri mobil milik Tiffani untuk melihat apa yang bisa ia dapatkan di dalam mobil yang terlihat begitu rusak.


Begitu tiba di hadapan mobil Tiffani seketika air mata Mona menetes. Ia begitu sedih, dan tidak dapat membayangkan bagaimana rasa sakit dan ketakutan yang dirasakan oleh Tiffani saat kecelakaan terjadi.


"Maafkan aku karena tidak ada di sampingmu di saat-saat seperti ini, Tiffani," gumam Mona, yang semakin lama semakin hanyut dalam kesedihan.


Xavier menggeleng di kejauhan begitu melihat Mona yang menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


"Ck, bukannya segera bekerja, dia malah menangis," gumam Xavier, lalu membuka pintu mobil yang ada di hadapannya dengan susah payah karena bagian pintu samping mobil itu penyok sehingga sulit untuk dibuka.


Setelah beberapa saat berusaha akhirnya ia berhasil membuka pintu mobil. Tanpa membuang waktu, Xavier segera masuk ke dalam mobil, dan senyum puas pun tersungging di bibirnya yang bertindik. "Nah, bagus," ujarnya, begitu ia melihat sebuah kamera yang terpasang di bagian depan mobil.


Dengan cekatan Xavier mengambil memory card yang ada di dalam kamera dashboard dan memasukan memori tersebut ke dalam plastik klip kecil yang ada di dalam saku celananya.


"Satu aman, tinggal satu lagi," gumam Xavier, kemudian segera keluar dari dalam mobil. Ia berniat untuk menghampiri mobil milik Tiffani. Namun, niatnya itu tidak segera ia lakukan saat sudut matanya menangkap sesosok pria berpakaian serba hitam yang bersembunyi di belakang sebuah tiang reklame, dan sosok berpakaian serba hitam itu sedang mengarahkan senjatanya ke Mona.


"Sial," desis Xavier, yang segera mengeluarkan pistolnya yang ia simpan di balik kaos tanpa lengan yang ia kenakan.


Dor!


Tepat sasaran. Sosok berpakaian serba hitam itu ambruk setelah peluru dari pistol Xavier menembus dadanya.


Mona terkejut begitu mendengar suara tembakan, ia pun menoleh ke belakang, di mana Xavier sedang berdiri dan memandang ke segala arah.


"Cepat ambil memorinya, dan segera kembali ke mobil. Aku akan melindungimu, kita dikepung!" Xavier berteriak.


Mona mengikuti arah pandang Xavier sebelum masuk ke dalam mobil untuk mengambil memori, dan benar saja ia melihat sedikitnya ada lima orang pria yang mengarahkan pistol ke arahnya.


Xavier mulai menembaki satu per satu pria-pria misterius itu agar tidak ada yang menembak Mona. Namun, salah seorang pria berhasil lolos dari terjangan peluru Xavier dan membalas tembakan Xavier.


Kena!


Bahu sebelah kanan Xavier terkena peluru. Xavier meringis, ia lalu berlari menghampiri Mona dan segera mendorong Mona agar masuk ke dalam mobil.


"Aku memintamu mengambil memori, bukannya melamun seperti itu. Cepat!" bentak Xavier.


Mona seketika sadar akan tugasnya. Ia menuruti apa perintah Xavier, dan langsung keluar dari dalam mobil begitu ia mendapatkan apa yang ia cari.


"Aku mendapatkan memorinya," ujar Mona.


"Bagus, ayo!" Xavier meraih pergelangan tangan Mona dan keduanya segera berlari menuju mobil, sesekali Xavier menembakkan pelurunya ke belakang, di mana terdapat lebih banyak pria misterius yang bermunculan dari segala arah.


"Mereka cepat sekali, seperti ninja," teriak Mona.


"Tetap saja mereka tidak bisa mengalahkanku."


"Jangan sombong. Toh kamu tertembak juga."


"Ini semua karena kamu. Aku kehilangan fokus karena kamu malah melamun di sana, padahal sudah jelas-jelas aku meneriakimu untuk mengambil memori secepatnya," omel Xavier.


"Ah, iya, soal itu maafkan aku," gumam Mona.


"Sudahlah, jangan dibahasa. Sekarang cepat masuk ke dalam mobil," ujar Xavier, ketika akhirnya mereka tiba di depan mobil. Detik berikutnya mobil meluncur dengan cepat meninggalkan lokasi kecelakaan bersama dengan bukti yang tersimpan rapi di saku celana Xavier dan juga Mona.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2