
Bukan Rama namanya jika tidak bisa melakukan apa yang telah menjadi tekadnya, dan tekadnya saat ini adalah menangkap siapa pun yang telah berani menembakkan peluru ke arah Tiffani.
Kini Rama telah tiba di sebuah gedung yang letaknya berdampingan dengan gedung perkantoran keluarga Raendra. Jarak gedung itu dan gedung perkantoran milik keluarga Raendra tidak terlalu jauh, hanya dipisahkan oleh lapangan parkir yang tidak terlalu luas, karena gedung perkantoran milik keluarga Raendra memiliki area parkir basement yang biasa digunakan oleh tamu dan para karyawan yang bekerja di sana.
Gedung yang Rama duga telah menjadi tempat si penembak runduk untuk mengawasi Tiffani adalah gedung percetakan yang terdiri dari dua puluh lantai.
Rama masuk ke dalam gedung melalui tangga yang berada di samping gedung, karena ia tahu pasti akan repot sekali jika ia harus masuk melalui pintu utama.
Kaki Rama yang telah terlatih untuk berlari dan menapaki tangga tidak kesulitan sama sekali untuk menapaki tangga yang jumlahnya begitu banyak.
Suara anak tangga yang terbuat dari lempengan besi terdengar begitu berisik ketika Rama menginjaknya dengan keras sambil setengah berlari.
Napas Rama mulai memburu sekarang, dan keringat membasahi wajah, leher, serta kemeja putih yang ada di balik jasnya saat ia telah tiba di rooftop.
Angin sepoi menyambut kedatangan Rama, menerbangkan helai-helai rambutnya yang basah karena keringat. Rama sedikit menyipitkan mata, saat sebuah cahaya yang begitu tajam menyengat kedua matanya. Cahaya itu adalah cahaya dari matahari yang dipantulkan oleh sebuah cermin tepat ke arahnya. Rama tahu jika seseorang sengaja melakukan itu padanya.
Buk!
Sebuah hantaman keras mendarat di wajah Rama ketika ia masih bersusah payah untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang berpendar di matanya.
"Argh!" Rama merintih sambil berusaha agar kedua kakinya tetap berdiri tegak. Namun, percuma saja usahanya itu, karena hantaman kedua mampu membuat lutut Rama bertekuk dan akhirnya ia bersimpuh di atas semen yang kasar.
"Surprise!" seru seorang pria sambil bertepuk tangan. "Aku tahu kamu akan datang. Dasar bodoh!"
Rama membuka mata perlahan saat cahaya yang mengganggu itu tidak lagi terarah padanya.
"Siapa kamu?" tanya Rama, pada seorang pria tampan yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Pria itu tinggi dan berkulit putih. Di belakang pria itu terlihat beberapa orang penjaga yang berdiri mengawasi, siaga kalau-kalau mendapat perintah dari tuan mereka.
Pria itu adalah Dion Smith, seorang pemimpin mafia yang popularitasnya berada satu tingkat di bawah mendiang Richard, dengan kata lain Dion adalah saingan atau rekan yang statusnya hampir setara dengan Richard. Hanya saja selama ini Dion lebih tertarik menjalankan bisnis di bidang peredaran narkoba alih-alih senjata api dan bahan peledak seperti yang Richard jalankan.
(Visual Dion Smith π)
__ADS_1
Dion melangkah maju mendekati Rama yang sekarang telah dijaga oleh dua orang pria bertubuh besar dan berwajah bengis. Kedua pria itu masing-masing menahan lengan Rama agar Rama tidak bertindak sesuka hati.
"Aku Dion," ujar Dion. "Bukankah kamu berusaha untuk mencariku? Kamu bahkan meminta informasi tentangku dengan salah satu anak buahku di gudang. Jadi, karena aku mengasihanimu dan tidak ingin kamu berlelah-lelah hanya untuk menemukanku, aku memilih untuk datang sendiri. Bagaimana menurutmu? Aku sangat baik, 'kan?" jelas Dion, seringai licik terlihat jelas di wajahnya yang rupawan.
Rama mencerna informasi dengan mudah. Ia memahami setiap perkataan yang keluar dari bibir Dion. Dan ia sedikit terkejut karena ternyata Dion masih sangat muda, mungkin seumuran dengannya.
"Jadi, kamu adalah orang yang telah mencuri barang-barang dari gudang kami, benar?"
(Ramaππππ)
Dion tertawa terbahak-bahak sambil mengibaskan tangan di hadapan Rama. "Gudang milik istrimu tepatnya, bukan gudang kami. Kamu hanyalah seorang bodyguard, seorang pembantu yang beruntung karena dapat menikahi putri majikannmu, dan sekarang putri majikanmu itu telah menjadi pemilik sah semua kerajaan bisnis yang ayahnya tinggalkan. Jadi dengan kata lain aku mencuri milik Tiffani, bukan milikmu," ucap Dion, masih sambil tertawa, kemudian ia melanjutkan, "Dan asal kamu tahu saja, Rama, aku tidak mencuri. Seseorang menjual padaku dengan harga yang sangat murah, sebagai seorang pebisnis tentu saja aku mengambil kesempatan yang ditawarkan padaku."
Dahi Rama mengernyit mendengar ucapan Dion. Ia tidak peduli pada hinaan yang Dion lontarkan padanya, karena pada kenyataannya memang demikian. Tidak salah jika Dion mengatakan dirinya hanyalah seorang pembantu yang beruntung. Memang begitulah adanya. Sebelum menikah dengan Tiffani, dirinya hanyalah seorang bodyguard.
"Seseorang menjual padamu? Siapa orang itu?" tanya Rama, sambil melangkah maju menghampiri Dion, tetapi langkahnya tertahan oleh cengkeraman kedua penjaga yang sejak tadi mengawasinya.
Dion menepuk bahu Rama, kemudian ia berbisik di telinga Rama. "Tidak akan kuberi tahu, karena orang ini berjanji akan mengganti kerugian yang kualami karena dirimu. Itulah sebabnya untuk sementara aku harus mengamankanmu agar transaksi berikutnya berjalan dengan lancar."
"Argh!" Kedua pria penjaga merintih saat hidung keduanya mengeluarkan darah.
"Wow, luar biasa. Aku memang banyak mendengar tentangmu. Salah satu yang membuat dirimu terkenal adalah kemampuan bertarungmu yang tanpa senjata. Tinjumu sangat mematikan, itulah yang kudengar, dan ternyata benar," ujar Dion.
Rama menghampiri Dion dan segera mengayunkan tinju ke arah pria itu, tetapi Dion menghindar dengan cepat, sambil mengayunkan kaki jenjangnya ke arah Rama.
Buk!
Tendangan Dion mendarat tepat di perut Rama, membuat Rama jatuh tersungkur, dan saat itulah seorang penjaga mengayunkan sebuah tongkat pemukul ke punggung Rama.
"Argh!" Rama mengerang, pandangannya semakin kabur, dan telinganya berdenging, membuatnya merasa sangat tidak nyaman, lalu detik berikutnya kepala Rama terkulai, ia pun tidak sadarkan diri.
Dion menghampiri Rama, menendang Rama sekali lagi, kali ini tepat di wajah, membuat darah mengalir dari kening Rama menuju pipi dan terus turun hingga ke telinga.
__ADS_1
"Dasar bedebah. Gara-gara dia aku jadi rugi besar," gumam Dion, kemudian ia mengalihkan pandangan ke para penjaga. "Bawa dia ke markas!" perintahnya, lalu ia segera beranjak dari hadapan para penjaga.
Sepeninggalan Dion, seorang penjaga menghampiri Rama, penjaga itu menarik lepas headset bluetooth di telinga Rama yang terkena noda darah, dan melemparnya begitu saja ke sembarang arah.
"Cari ponselnya juga, jangan sampai ponselnya terbawa. Aku yakin ada pelacak di ponselnya," ucap salah satu penjaga, memerintah rekannya yang masih menggeledah setiap saku jas Rama.
Si penjaga yang menggeledah hanya mengangguk sambil terus memasukan tangannya ke saku jas Rama satu per satu.
"Dapat!" serunya, sambil mengeluarkan ponsel milik Rama.
"Bagus. Tinggalkan saja dan ayo kita harus segera turun."
Tepat setelah Rama dibawa pergi dari rooftop, tim bodyguard utama tiba. Mereka semua berpencar, mencari keberadaan Rama yang beberapa saat lalu ponselnya terlacak sedang berada di rooftop gedung percetakan. Namun, mereka tidak melihat siapa pun di sana.
"Rei, lihat ini!" Willi berseru. Ia yang telah mengeksplor lebih jauh menemukan headset milik Rama.
Seruan Willi membuat rekan-rekannya berdatangan menghampirinya.
"Apa itu milik Rama?" tanya Andi, yang sekarang menunduk untuk menyentuh sebuah headset yang terdapat bercak darah di permukaannya.
"Lihat, ini ponsel Rama!" Sekarang Anton yang berseru. Ia pun telah menemukan salah satu barang milik Rama.
Adam berlari menghampiri Anton. "Apa katamu? Ponsel?!" tanya Adam, dengan suara yang mulai gemetar. Ia tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi pada Rama. Rama yang begitu kuat dan tidak terkalahkan telah menghilang, hanya barang-barang Rama yang tertinggal, itu berarti lawan mereka bukanlah orang sembarangan.
"Ini memang milik Rama," gumam Anton, setelah melihat wallpaper yang terpasang pada layar ponsel tersebut.
Adam mengusap wajahnya dengan kasar sambil berteriak. "Sial! Siapa yang berani melakukan ini pada Rama. Dasar bang-sat!"
"Apa yang harus kita katakan pada Nyonya Tiffani? Dia pasti tidak akan menerima semua ini," ujar Anton.
Adam menghela napas panjang. "Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Sebaiknya kita kembali dan merencanakan langkah selanjutnya. Aku akan meminta bantuan Xavier untuk mencari Rama."
"Kita menyerah semudah itu?" tanya Andi, yang merasa tidak puas jika harus kembali sebelum memulai pertarungan.
__ADS_1
Adam menyikut perut Andi. "Kita bukan menyerah, tapi kita tidak punya petunjuk apa pun sekarang. Kita harus memiliki rencana yang matang sebelum memulai, dan kita membutuhkan bantuan Xavier."
Bersambung.