My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
MEMULAI PEMBALASAN


__ADS_3

Tok, tok, tok.


Suara ketukan di pintu membuat Rama yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang mau-tidak mau harus kembali bangkit berdiri untuk melihat siapa yang datang dan mengganggu waktunya untuk beristirahat, karena Adam baru saja beberapa menit yang lalu kembali ke markas untuk memberitahuku rekan lainnya tentang misi yang akan mereka lakukan nanti malam.


Begitu pintu terbuka, Rama langsung mendapatkan pelukan yang membuatnya terkejut bukan main. Pelukan yang Rama dapat sangat erat, hingga membuat Rama tercekat dan kesulitan bernapas.


"Astaga, tolong jangan begini. Aku tidak bisa bernapas," ujar Rama dengan suara tercekat.


"Aku dengar dari Adam kalau kamu sakit. Itulah sebabnya aku langsung datang kemari untuk memastikan keadaanmu. Aku cemas sekali. Sangat, sangat, sangat cemas," ujar Gracella, yang memang sangat khawatir pada keadaan Rama.


Rama menjauhkan tubuh Gracella yang saat ini masih memeluknya dengan begitu erat.


"Aku tidak apa-apa, sungguh. Terima kasih karena telah memperhatikanku, " ujar Rama.


Gracella menatap wajah Rama, dan ia meringis begitu melihat luka-luka yang ada di wajah tampan Rama, terutama luka di sudut bibir Rama yang seksi, bibir yang begitu lembut yang telah membuatnya ingin kembali mengecup bibir itu lagi dan lagi.


"Siapa yang melakukan semua ini padamu? Dan kenapa kamu tidak melawan sama sekali, Rama? Atau Jangan-jangan kamu dikeroyok, ya? Rasanya mustahil sekali jika pria seperti dirimu babak belur begini," oceh Gracella, sambil melangkah masuk ke dalam kamar Rama dan duduk di tepi ranjang Rama tanpa ragu sedikit pun.


Rama menggeleng. "Tidak, aku tidak dikeroyok. Tapi, Grace, kenapa kamu datang ke sini? Kembalilah ke kamarmu, aku tidak ingin jika ada yang melihat keberadaanmu di sini dan kemudian terjadi salah paham, karena kamar seorang bodyguard tidak boleh didatangi oleh nona muda," ujar Rama, yang masih berdiri di ambang pintu. Ia sama sekali tidak berniat untuk menyusul Gracella yang telah duduk di ranjangnya. Ia berpikir bisa saja Tiffani tiba-tiba muncul, dan Tiffani pasti akan marah besar jika memergoki Gracella berada di dalam kamarnya.


"Kemarilah, biar aku obati luka di wajahmu itu." Gracella menepuk ranjang Rama, meminta Rama agar duduk di sebelahnya. Ia tidak peduli pada kekhawatiran Rama.


Rama menghampiri Gracella, tetapi ia tidak duduk di samping gadis itu seperti yang Gracella minta. Justru Rama memohon agar Gracella pergi dari kamarnya.


"Tolonglah jangan begini. Kalau sampai Tiffani lihat, bisa-bisa dia marah padaku dan ...." Rama tidak menyelesaikan ucapannya, karena Gracella tiba-tiba saja bangkit berdiri dan mendorong tubuh Rama.


"Semua orang mengkhawatirkan perasaan Tiffani, termasuk dirimu, tapi tidak ada satu pun dari kalian yang memikirkan perasaanku! Apa kamu pikir hanya Tiffani yang butuh perhatian di sini, Rama?"


"Bukan begitu maksudku, aku hanya tidak ingin jika--"


"Diamlah. Aku sungguh tidak ingin mendengar penjelasan apa pun darimu. Aku sangat kecewa padamu!" Gracella membentak Rama, kemudian ia segera melenggang pergi dari hadapan Rama sembari menggerutu.


Rama membiarkan Gracella pergi begitu saja. Ia suda cukup lelah karena harus menanggung kemarahan Tiffani selama beberapa hari. Ia juga sudah cukup lelah karena harus memikirkan keadaan Richard yang ternyata sakit parah, belum lagi memikirkan tindakan kurang ajar Darren pada Tiffani. Semua hal itu membuat Rama sakit kepala, dan ia tidak ingin menambah rasa sakit di kepalanya dengan cara mengkhawatirkan Gracella juga.


Rama berbaring, dan langsung memejamkan mata. Ia butuh istirahat sebelum beraksi nanti malam.


***


Mona berlarian menuju kamar Tiffani setelah ia tanpa sengaja mendengar perkataan Adam di markas beberapa waktu lalu. Ia dengan jelas mendengar Adam mengatakan pada bodyguard yang lain kalau Rama sedang sakit sekarang.


Begitu tiba di kamar Tiffani, Mona langsung duduk di hadapan Tiffani yang sedang asyik meletakkan earphone di perutnya yang sedikit membuncit.


"Aku punya informasi penting ... apa yang sedang kamu lakukan? Apa telingamu pindah di perut?"


Tiffani meletakkan tangan di bibir, meminta Mona untuk diam. "Bayiku sedang mendengarkan musik klasik. Jangan rusak musiknya dengan suara cemprengmu," ucap Tiffani, dengan suara yang begitu pelan seperti seseorang yang sedang berbisik.


"Suaraku tidak cempreng sama sekali." Mona balas berbisik. "Lagi pula, untuk apa kamu membuat bayimu mendengarkan musik klasik, kalau pada akhirnya kamu akan melakukan abortus?! Jangan buat bayimu berharap banyak padamu, Tiffani. "


Tiffani kesal sekali karena Mona mengatakan hal buruk seperti itu saat ia sedang menstimulus bayinya. Tiffani bangkit berdiri dan melempar earphone di pangkuan Mona.


"Kamu datang hanya untuk merusak suasana!" seru Tiffani.

__ADS_1


Mona terkekeh, lalu segera bangkit berdiri dan menghampiri Tiffani yang sekarang berdiri di depan meja rias.


"Sebenarnya aku datang bukan untuk merusak suasana, tapi untuk menyampaikan informasi penting," ujar Mona.


Tiffani memutar bola matanya dengan malas. Moodnya telah rusak karena Mona telah menghancurkan agendanya dengan si bayi.


Melihat gelagat Tiffani yang tidak tertarik pada informasi yang akan ia sampaikan, Mona pun berujar, "Serius tidak ingin dengar, padahal aku ingin memberitahu padamu kalau Rama sedang sakit saat ini."


Mendengar ucapan Mona, Tiffani langsung terlihat cemas. "Serius?"


Mona mengangguk, dan tanpa menunggu lagi, Tiffani langsung keluar dari dalam kamar dan berlari-lari kecil menuju kamar Rama. Melihat Tiffani yang pergi begitu saja dari hadapannya, Mona segera menyusul.


"Tiffani hati-hati, kamu itu sedang hamil!" teriak Mona ketika ia telah berhasil mengejar Tiffani hingga ke ujung koridor, tetapi teriakannya itu tidak diindahkan sama sekali oleh Tiffani, Tiffani terus saja berlari menuruni tangga hingga tidak lagi terlihat oleh Mona.


"Wah, parah sekali dia," gumam Mona, kemudian berbalik hendak kembali ke kamar Tiffani. Namun ....


Buk!


Mona menabrak Gracella yang ternyata telah berdiri di belakang Mona sambil berkacak pinggang.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu membuntutiku?" tanya Mona, pada Gracella.


Gracella tertawa. "Yang benar saja, untuk apa aku membuntutimu. Asal kamu tahu saja, Mona, kalau kamu sekarang sedang berdiri tepat di depan kamarku, jadi tanpa kubuntuti pun, kita pasti akan berpapasan!" ujar Gracella, sambil menyunggingkan senyum sinis di bibirnya.


Mona terperangah. Ia lalu mengedarkan pandangan dan tatapannya terhenti tepat di pintu yang ada di belakang Gracella.


"Benar, kan." Gracella kembali berucap, kemudian ia melanjutkan, "Karena aku tidak sengaja mendengar teriakanmu barusan, bagaimana kalau aku sekalian bertanya saja padamu. Apa aku tidak salah dengar tadi?"


Mona terlihat salah tingkah, ia tahu jika ia baru saja melakukan kesalahan yang seharusnya tidak ia lakukan. Dan sekarang yang terpikir olehnya hanyalah melarikan diri dari Gracella yang pasti akan bertanya macam-macam padanya.


" Baiklah. Tidak masalah sama sekali kalau kamu tidak ingin memberitahuku. Aku bisa langsung tanya pada Om Richard, apa benar kalau putrinya yang sok suci itu sedang hamil. Ah, payah sekali, bagaimana dia bisa hamil tanpa suami."Gracella berteriak, membuat langkah Mona terhenti.


Mona melangkah mundur hingga ia kembali tiba di hadapan Gracella. "Jaga mulutmu. Bukankah kamu pun pernah hamil tanpa suami."


"Setidaknya aku tidak berlagak sok suci seperti Tiffani dan keluarganya!" seru Gracella, kemudian ia mengibaskan rambutnya ke belakang dan beranjak pergi dari hadapan Mona.


"Aargh! Dasar si mulut besar!"


***


Tiffani menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar Rama, dan ia begitu sedih ketika mendapati keadaan Rama yang memang terlihat tidak sehat, Wajah Rama pucat, dan terdapat banyak luka di wajah tampan itu, sedangkan tubuh Rama yang berbaring tanpa mengenakan selimut terlihat gemetar karena kedinginan.


Tiffani segera meraih remote AC yang ada di atas meja dan mematikan AC yang menyala di kamar Rama.


"Seharusnya dia tidak pakai AC kalau sedang tidak enak badan," gumam Tiffani sambil menghampiri Rama.


Berada sedekat itu dengan Rama, apalagi Rama dalam keadaan tertidur membuat dada Tiffani menghangat. Keinginan untuk selalu berada di dekat Rama dan mengurus semua kebutuhan pria itu mendadak saja kembali muncul di dalam dirinya, hingga membuat tekadnya untuk menjauh dari Rama perlahan menguap dan menghilang entah ke mana.


Tiffani menghela napas, dan kemudian duduk di samping Rama. Seketika itu juga tangannya refleks mengusap kepala Rama, menyentuh setiap helai rambut pria itu dengan lembut.


"Apa yang harus kulakukan padamu. Haruskan aku meninggalkanmu, atau tetap berada di sisimu," gumam Tiffani.

__ADS_1


Tepat saat Tiffani menyelesaikan ucapannya, kedua mata Rama tiba-tiba terbuka.


Tiffani terperanjat, ia menjauhkan tangannya dari rambut Rama, dan langsung bangkit berdiri.


"Jangan pergi. Bukankah kamu datang ke sini untuk menemuiku?" ucap Rama, sambil menahan lengan Tiffani.


Tiffani menghela napas. Ia lalu kembali duduk di samping Rama. "Kenapa kamu babak belur begini, Rama?"


Rama tersenyum kecut. "Aku dihajar oleh kerinduanku padamu, makanya aku babak belur begini."


"Omong kosong. Siapa yang menghajarmu?"


Rama nyengir. "Memang."


Rama lalu bangkit dari posisi berbaringnya, dan duduk menghadap ke Tiffani. "Obati aku, Tiffani."


"Apa yang harus kulakukan? Sepertinya semua luka di wajahmu itu sudah diobati. Katakan padaku siapa yang melakukan ini padamu?"


Rama mengangguk. "Memang sudah, tapi belum sembuh."


"Sembuh kan memang butuh proses, Rama, mana bisa langsung sembuh begitu saja," ucap Tiffani sambil menatap Rama dengan kesal, karena pria itu terus saja menggodanya, dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Satu ciuman darimu bisa menyembuhkanku, Tiffani, aku serius," ujar Rama lagi, sambil menatap Tiffani dengan penuh harap.


Tiffani mendengkus kesal. "Jangan harap."


"Tapi kamu tadi menciumku di depan Gracella. Kenapa sekarang tidak lagi? Aku pikir kita sudah berbaikan."


"Ya, kita memang sudah berbaikan, tapi kita baru akan benar-benar berbaikan saat kamu tidak lagi menjadi bodyguard Gracella. Aku menunggumu menemui ayahku dan mengajukan pengunduran diri sebagai bodyguard Gracella," ucap Tiffani, kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan Rama yang terlihat kecewa.


***


Markas Bodyguard, pukul 22.30 ....


Rama, Adam, Mario, Willi, Anton, Rei, dan Andi tengah menatap peta sebuah bangunan yang baru saja Damar letakkan di atas meja.


Andi yang sudah mulai mengantuk memelototi peta tersebut dengan bingung. "Peta apa ini? Apa kita akan merampok bangunan ini? Itukah sebabnya misi kali ini dilakukan malam hari?" tanya Andi


Damar menendang tulang kering Andi dengan keras. "Kamu pikir tuan sudah kehabisan uang, sampai-sampai kalian aku kumpulkan seperti ini hanya untuk merampok!" bentak Damar.


Andi mengusap kakinya yang terasa sakit sambil menggerutu, "Aku kan cuma bertanya."


"Jangan banyak bertanya kalau begitu," ujar Damar lagi, kemudian ia mulai menjelaskan, "Ini peta rumah Darren. Aku baru tahu kalau sekarang orang tua Darren mempekerjakan penjaga rumah dalam jumlah banyak. Semua penjaga rumah di sana dilengkapi dengan senjata. Jadi Berhati-hatilah kalian. Jangan sampai tertangkap, dan jangan sampai terluka." Damar mengakhiri penjelasannya sembari melemparkan pistol Glock17 ke setiap bodyguard yang ada di depannya. "Gunakan dengan bijak dan di saat-saat genting saja."


Semua bodyguard mengangguk, walaupun mereka masih belum tahu apa yang harus mereka lakukan saat mereka berhasil menemukan Darren, karena sampai detik ini Damar belum membahas tentang hal itu.


Rama yang begitu penasaran dengan rencana Damar pun mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan. "Setelah kami menemukan Darren, apa kami ... hem, maksudku apa aku boleh menghajarnya atau mungkin membu-nuhnya."


Damar menggeleng. "Jangan lakukan apa pun padanya. Kalian harus membawanya padaku dalam keadaan hidup dan tenang, dengan kata lain kalian harus membiusnya agar dia tidak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama."


"Ini tidak adil, padahal aku ingin menghajarnya," ujar Rama.

__ADS_1


"Diamlah, Rama. Lihat saja apa yang aku lakukan padanya. Jika hanya menghajarnya, tidak akan mempan. Percayalah padaku, setelah ini dia tidak akan berani macam-macam lagi dengan Tiffani, " ucap Damar, sambil tersenyum puas.


Bersambung.


__ADS_2