
Tiffani mengerjap saat cahaya memaksa masuk ke dalam kedua matanya. Refleks ia menjauhkan tangan seseorang yang memaksa untuk membuka kelopak matanya dengan cara melayangkan tinju ke segala arah, dan ajaib sekali tinju yang dilayangkan secara mendadak itu mengenai wajah seseorang yang berada tepat di depannya.
Buk!
"Argh, sakit sekali." Dokter Steve mengeluh sambil memegangi hidungnya yang baru saja mendapat hadiah bogem mentah dari Tiffani.
Tiffani bangkit untuk duduk dengan gerakan secepat kilat saat menyadari siapa yang baru saja ia tinju. Suara Dokter Steve memang tidak asing di telinga Tiffani, hanya mendengar suara tanpa memandangnya pun Tiffani tahu jika yang ia tinju adalah Dokter Steve.
"Astaga, Dok, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Tiffani, sambil menggeser bokongnya agar mendekat ke Dokter Steve yang duduk di tepi ranjangnya.
Dokter Steve mendelik kesal ke Tiffani. "Tidak sengaja? Yang benar saja."
Tiffani menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Kemudian ia berkata, "Apa yang dokter lakukan di sini?"
"Apalagi yang bisa dilakukan seorang dokter kalau bukan memeriksa Anda, Nyonya Tiffani. Anda pingsan, lalu Nyonya Gracella meneleponku."
Tiffani berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan.
"Pingsan? Aku jarang sekali pingsan, Dok. Kenapa aku bisa pingsan?" tanya Tiffani pada Dokter Steve yang masih sibuk memijat hidungnya.
Belum lagi Dokter Steve menjawab pertanyaan Tiffani, pintu kamar Tiffani berayun membuka, dan Gracella memasuki kamar bersama dengan Xavier. Keduanya terlihat khawatir.
"Kamu suah sadar?" tanya Gracella, sambil meletakan nampan berisi dua gelas cokelat panas dan sepiring biskuit cokelat yang sepertinya baru diangkat dari oven. Aroma cokelat yang manis menguar memenuhi udara di dalam kamar. Aroma yang nikmat yang seharusnya disukai oleh Tiffani, tetapi sekarang wanita itu justru menutup mulut dan hidungnya serapat mungkin.
"Bawa keluar. Bau sekali," titah Tiffani, sambil menuding nampan yang baru saja Gracella letakkan di atas meja kecil tepat di samping ranjang Tiffani.
Gracella mengerjap bingung, tetapi dengan sigap ia bangkit berdiri dan meraih nampan itu dan membawa nampan itu keluar dari dalam kamar.
Saat nampan berisi cokelat tidak ada lagi di hadapannya, Tiffani mengembuskan napas lega. Rasanya dadanya menjadi plong sekali, tidak sesak seperti yang barusan. Meskipun begitu, rasa mual yang mendadak mendera masih lumayan terasa.
"Itu tadi kesukaanmu, Tiffani," ujar Xavier, yang sekarang tengah menatap Tiffani dengan bingung.
Tiffani tidak menjawab, ia hanya menggeleng karena masih kualahan menangani perutnya yang bergolak. Tidak lama kemudian Gracella kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah yang terlihat semakin khawatir.
"Mungkin ini efek karena kamu telah membuatnya pingsan,” ucap Gracella, begitu ia telah kembali berada di hadapan Tiffani Xavier.
Xavier menggeleng. " Tidak mungkin. Mana ada efek seperti itu."
Sementara Gracella dan Xavier sedang asyik berbicara, Tiffani menatap Gracella dan Xavier bergantian dengan dahi mengernyit. Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi, dan kemudian ....
"Aha, aku ingat sekarang, jadi itu kamu, Vier? Kau yang telah memukulku dari belakang agar aku tidak menyusul Rama!" seru Tiffani, dan kemudian tanpa peringatan apa pun Tiffani bangkit berdiri dan mengejar Xavier.
Xavier yang sudah tahu akan menjadi target kekesalan Tiffani segera berlari menghindar. Xavier berlari mengelilingi kamar Tiffani yang begitu kuas. Ia masuk ke ruang ganti, masuk ke kamar mandi, dan kembali lagi ke kamar utama, lalu mulai mengelilingi meja rias Tiffani sementara Tiffani mulai melempari Xavier dengan berbagai benda yang ada di atas meja rias; lipstik, brush, bedak tabur, sisir, hingga perona wajah melayang ke arah Xavier tanpa ampun.
Tiffani bahkan tidak peduli saat tangannya meraih lipstik bermerek H. Counture Beauty Diamond, lipstik mahal itu bukannya Tiffani letakan kembali, malah tetap ia lempar lipstik itu ke Xavier.
"Astaga, Tiffani, itu mahal." Gracella memekik, dan segera menghampiri medan pertempuran untuk menyelamatkan lipstik milik Tiffani yang memiliki harga selangit.
Xavier mendengus kesal saat melihat Gracella melakukan penyelamatan terhadap benda yang tidak bernyawa. "Sayang, lebih baik selamatkan aku daripada lipstik itu," protesnya dengan lantang.
Gracella menggeleng. "Ini lebih berharga," jawab Gracella dengan entengnya, kemudian kembali menjauh agar tidak terkena lemparan barang-barang dari Tiffani.
__ADS_1
"What the ... ampun Tiffani, ampun." ujar Xavier kemudian.
"Tidak. Aku tidak akan mengampunimu. Seharusnya jangan larang aku untuk mendatangi Rama. Aku harus ke sana dan memastikan keadaannya, tapi kamu malah membuatku pingsan dan membawaku pulang ke rumah tanpa izin dariku." Tiffani mengoceh panjang lebar, masih sambil melempari barang-barang ke Xavier.
"Tapi, membawamu kembali ke ruma adalah perintah langsung dari Rama. Aku harus patuh. Kamu adalah prioritas."
Tiffani menghentikan gerakannya, ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan meregangkan tubuhnya, kali ini ia terlihat siap untuk kembali mengejar dan menghajar Xavier alih-alih terus melempari Xavier dengan barang-barang.
"Sudah kubilang jangan katakan itu. Aku bukan prioritas--"
"Anda memang prioritas, Nyonya, dan Anda harus terima kenyataan itu. Jika Anda tidak terima bahwa diri Anda adalah prioritas, anggap saja nyawa yang ada di dalam kandungan Anda adalah prioritas utama untuk saat ini, dan tindakan yang dilakukan oleh Tuan Xavier sama sekali tidak salah." Dokter Steve memotong ocehan Tiffani setelah ia merasa keadaan hidungnya jauh lebih baik.
Tiffani, Xavier, dan Gracella sekarang menatap Dokter Steve dengan bingung dan sedikit tercengang.
"Apa maksud Dokter?" tanya ketiganya berbarengan.
Dokter Steve menepuk-nepuk ranjang Tiffani. "Duduklah dulu agar aku bisa menjelaskan dengan tenang."
Tidak menunggu perintah kedua kali, Tiffani segera berlari menghampiri rajangnya dan kemudian duduk manis seperti anak nakal yang mendadak menjadi anak penurut karena akan diberi sekantong permen warna-warni. Xavier dan Gracella pun ikut duduk di samping Tiffani agar mereka bisa ikut mendengarkan dengan baik apa yang akan Dokter Steve katakan.
Terjadi jeda yang terasa panjang saat Dokter Steve tidak langsung mengatakan apa yang ingin didengar oleh ketiga manusia dewasa di hadapannya. Dokter Steve masih sempat mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tas tangannya, meneguk air itu sedikit, dan kembali memasukan botol air mineral ke dalam tas tangannya dengan sedikit paksaan, karena tas itu terlihat sudah kelebihan muatan.
Xavier mulai gemetar. Ia gemas sekali karena Dokter Steve terkesan menunda-nunda. Ingin rasanya ia menghajar Dokter Steve atau mengutuk Dokter Steve agar berubah menjadi botol air mineral juga, atau jika bisa ia ingin memasukan Dokter Steve ke dalam tas tangan seperti yang dokter tua itu lakukan pada botol air mineral. Namun, Xavier tahu jika itu semua mustahil. Kesabarannya yang setipis tisu sedang diuji kali ini, dan ia harus berhasil melewati ujian.
"Dia hamil," ujar Dokter Steve, sambil menarik resleting tas tangannya agar kembali menutup saat botol air mineral telah sukses masuk ke dalam tas. "Lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter kandungan," tambahnya, kali ini sambil tersenyum dan mengulurkan tangan ke Tiffani. "Selamat, Nyonya Tiffani."
Tiffani membelalak. Ia menatap Dokter Steve dengan kedua mata yang super lebar hingga rasanya kedua bola mata Tiffani dapat melesat keluar saat itu juga.
"Ini kabar yang luar biasa. Sungguh luar biasa." Gracella bergumam di telinganya Tiffani, dan Tiffani dapat merasakan jika di saat bersamaan Gracella juga menangis.
Ya, tidak mungkin Gracella tidak menangis. Selama ini Gracella telah susah payah menunggu hadirnya malaikat kecil yang mendiami rahimnya, tetapi hari itu tidak kunjung tiba. Beberapa kali Gracella terlambat datang bulan, dan mengira bahwa ia telah berhasil mengandung, tapi beberapa hari kemudian ia harus menelan rasa kecewa dengan dada lapang.
Dokter Steve menepuk pundak Tiffani sambil berkata. "Lakukan pemeriksaan sesegera mungkin. Aku turut bahagia, Nyonya," ujarnya. "Aku pamit dulu kalau begitu."
Tiffani hanya mengangguk. Ia masih terlihat bingung dan tidak percaya.
"Aku akan mengantar Anda keluar, Dok," ujar Xavier, yang juga telah bangkit berdiri dan mengikuti langkah Dokter Steve keluar dari kamar.
Dalam perjalanan menuju halaman, Dokter Steve tidak henti-hentinya menasehati Xavier, mengatakan pada Xavier tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh Tiffani lakukan.
"Pada bulan-bulan pertama kehamilannya sangat rentan. Aku sarankan agar untuk sementara Tiffani tidak melakukan kegiatan yang berbahaya," ujar Dokter Steve. "Apa dia masih menjalankan bisnis Richard? Maksudku bisnis yang melibatkan segerombolan penjahat?" tanya Dokter Steve.
Xavier mengangguk. "Ya, masih. Hanya Tiffani yang bisa melakukannya, dan dia memiliki wewenang penuh terhadap pengambilan keputusan."
"Itu sama sekali tidak bagus," ujar Dokter Steve sambil mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. "Bagaimana dengan Gracella. Apa dia tidak bisa melakukannya?"
"Maksud Dokter pekerjaan yang dilakukan Tiffani?"
"Ya, Gracella bisa melakukannya sementara selama trimester pertama kehamilan Tiffani."
Xavier menggeleng sambil menghela napas. "Entahlah, selama ini Grace berusaha semampunya agar dia tidak melakukan banyak aktivitas. Dokter tahu kalau dia sedang menjalani program hamil. Jika aku mengatakan padanya untuk menggantikan Tiffani yang sedang hamil, aku takut perkataanku akan menyinggungnya. Dia sensitif sekali. Beberapa kali dia merasa jika dia sedang hamil, tapi ternyata tidak, dan hal itu membuat dia sering merasa kesal."
__ADS_1
"Kalau begitu jangan. Aku tidak ingin jika Gracella menjadi putus asa atau merasa terpuruk. Tolong jaga saja agar Tiffani tidak sampai kelewat lelah, dan Dia tidak boleh stres. Hal itu akan membawa pengaruh buruk bagi perkembangan janin. Katakan semua ini pada Rama saat dia kembali nanti," ujar Dokter Steve lagi.
Saat ini Dokter Steve dan Xavier telah tiba di halaman depan, dan kebetulan sekali Damar pun baru saja keluar dari dalam mobilnya.
"Hai, Dok, apa yang membawamu ke sini?" Damar, walaupun wajahnya terlihat letih dan tertekan, ia tetap menyapa Dokter Steve dengan ramah. Ia bahkan merangkul dokter Steve sepersekian detik sambil mengajukan pertanyaan..
"Aku harus memeriksa Tiffani. Dia pingsan beberapa saat lalu saat--”
" Saat sedang menyiram tanaman." Xavier memotong ucapan Dokter Steve.
Dokter Steve terlihat bingung sesaat, tetapi kemudian ia berlagak tidak peduli. "Aku pamit dulu, Pak Damar," ujar Dokter Steve sambil berlalu dari hadapan Damar dan Xavier.
Damar mengangguk. "Hati-hati di jalan."
Mobil milik Dokter Steve sekarang telah meninggalkan halaman parkir. Hanya Xavier dan Damar yang sekarang ada di halaman, memandangi mobil yang detik berikutnya menghilang di gerbang keluar.
"Ayo kita masuk," ujar Damar, setelah ia merasa tidak ada lagi alasan untuk tetap berdiri di halaman.
Damar melangkah dengan perlahan menuju teras, diikuti oleh Xavier yang tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya menatap punggung Damar yang terus bergerak di hadapannya.
"Paman dari mana saja?" tanya Xavier begitu mereka tiba di ruang tamu. "Paman jarang terlihat belakangan ini? Apa paman sesibuk itu?"
Damar mengangguk. ”Ya, aku sibuk sekali, Vier, dan aku lelah. Aku akan langsung ke kamarku." Damar menjawab tanpa menatap Xavier yang ada di belakangnya, seolah apa pun yang ada di pikiran Xavier tidak penting untuk saat ini. Ia bahkan tidak menanyakan keadaan Tiffani.
"Apa Paman tahu kalau seseorang telah meninggal dunia karena ulah Paman? Seseorang di Distrik EL 33."
Langkah Damar terhenti, dan ia segera berbalik untuk berhadapan dengan Xavier.
”Siapa lagi yang tahu tentang ini selain dirimu?" tanya Damar. Wajah Damar yang terlihat khawatir membuat Xavier kecewa.
Xavier tersenyum miring. "Paman sungguh terlibat? Padahal aku tidak mengharapkan ekspresi di wajah Paman itu."
Damar mendekat ke Xavier, dan ia meremas bagian depan pakaian yang Xavier kenakan. "Katakan padaku, Vier, siapa lagi yang tahu dan bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu, hah?"
Xavier tidak menjawab pertanyaan Damar. Ia memainkan bagian dalam pipinya dengan lidahnya. Rasanya ia malu sekali memiliki paman seperti Damar.
"Apa paman juga yang menjual senjata-senjata kita ke Dion?"
Damar tercengang. Wajahnya yang tadinya berwarna merah karena kesal kini berubah menjadi pucat. Sepucat mayat di rumah duka.
Xavier tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya. Melihat ekspresi di wajah Damar saja ia tahu bahwa semua tuduhan yang Rama berikan pada Damar tidak ada satu pun yang salah. Pamannya itu, yang telah ia bela setengah mati dan yang ia percaya sepenuh hati ternyata telah benar-benar berkhianat.
Xavier menjauhkan tangan Damar dari tubuhnya. ”Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa Paman tega melakukan semua ini pada keluarga Tiffani. Apalagi aku adalah menantu di keluarga ini. Aku suami Gracella. Harus bersikap seperti apa aku di depan mereka?!" teriak Xavier, ia tidak lagi mampu menahan kekesalan yang menggerogoti pikirannya. Ia malu, ia malu sekali pada tindakan yang Damar ambil.
"Shuut! Jangan teriak-teriak, Vier, bagaimana kalau ada yang dengar, hah?" Damar meminta Xavier untuk diam, ia terlihat panik sekali sekarang.
Xavier tertawa, tetapi di saat bersamaan air matanya pun mulai mengalir dari kelopak mata elangnya. "Dasar bedebah!" seru Xavier, lalu beranjak pergi dari hadapan Damar.
Gracella yang kebetulan berdiri di salah satu anak tangga melihat semua yang terjadi. Sekarang ia tahu bahwa kecurigaannya terbukti benar, begitu juga dengan kecurigaan Rama.
Begitu Damar beranjak menuju kamarnya yang ada di lorong, Gracella kembali menapaki anak tangga menuju lantai satu. Ia harus mengejar Xavier dan mengatakan pada Xavier bahwa apa pun yang dilakukan Damar, hal itu tidak akan membawa pengaruh apa-apa bagi hubungan mereke. Xavier tetap suaminya, dan akan selalu begitu.
__ADS_1
Bersambung.