My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
GARA-GARA TINDIK


__ADS_3

Damar dan Gracella melangkah menuju ruang tamu utama begitu mendengar bahwa Rama dan yang lainnya telah tiba dari tugas yang mereka emban. Dalam perjalanan menuju ruang tamu, Damar mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya untuk menelepon Dokter Steve, ia meminta dokter itu datang dan membawa peralatan yang dibutuhkan oleh Tiffani yang baru saja mengalami kecelakaan.


Bukan hal yang sulit untuk dilakukan, mengingat Tiffani adalah putri seorang pengusaha kaya raya, semua peralatan yang ada di rumah sakit dalam sekejap bisa berpindah ke kediaman Richard jika Richard meminta.


"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?" tanya Gracella, pada Damar.


Damar menggeleng. "Tiffani pasti tidak mau. Setelah mengalami guncangan yang cukup parah, dia pasti lebih senang berada di rumah daripada harus berada di rumah sakit. Aku sudah hafal dengan sikapnya. Dia hanya akan merasa rileks jika berada di rumahnya sendiri terutama di dalam kamarnya."


"Oh, begitu."


"Ya, begitulah. Anda juga harus mulai memahami bagaimana watak saudari kembar Anda agar hubungan kalian cepat membaik." Damar tersenyum sambil menepuk bahu Gracella.


Setelah beberapa saat akhirnya Damar dan Gracella tiba di ruang tamu utama. Dengan cepat Damar menghampiri Tiffani yang sedang dipapah oleh Rama dan Adam, sementara Gracella hanya berdiri diam di ujung lorong, memperhatikan apa yang sedang terjadi dari kejauhan. Sebenarnya ia tidak berniat untuk menyambut kedatangan Tiffani. Ia terpaksa karena ia tidak ingin menolak keinginan Damar di depan Richard.


Tanpa sadar, kedua mata Gracella langsung mencari sosok Xavier, ia penasaran apakah pria itu baik-baik saja. Dan setelah melihat bahwa Xavier tidak terluka sedikit pun, Gracella merasa sangat lega. Namun,begitu ia melihat Rama yang kepalanya terluka, Gracella menjadi khawatir. Ia maju selangkah ingin menghampiri Rama, tetapi tidak jadi, ia tidak ingin jika tindakannya malah membuat keadaan menjadi tidak kondusif.


"Nona, Astaga. Ayo, bawa nona ke kamar sekarang. Aku sudah menelepon Dokter Steve, dia akan datang sebentar lagi." Damar memerintah para bodyguard untuk menuntun Tiffani ke kamar.


Damar kemudian menatap Rama yang terlihat begitu kelelahan dan penampilannya kacau sekali. "Kamu juga. Pergilah ke kamarmu, Dokter Steve akan memeriksamu juga nanti."


"Bolehkah aku ikut ke kemar Tiffani saja?" tanya Rama.

__ADS_1


Damar menyipitkan kedua matanya. "Apakah ini modus?"


"Anda juga akan ada di sana, kan? Tidak mungkin aku macam-macam pada Tiffani. Aku hanya ingin berada di dekatnya." Rama berujar, berusaha meyakinkan Damar agar ia diperbolehkan untuk beristirahat di kamar Tiffani.


Damar mengangguk. "Oke, tidak masalah," ucapnya. "Pergilah sekarang ke kamar Tiffani dan berbaringlah di sofa bed yang ada di sana. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan cokelat panas. Aku juga akan memberitahu tuan kalau kalian sudah tiba dengan selamat."


"Terima kasih, Pak Damar," ucap Rama, kemudian ia langsung melangkah menuju kamar Tiffani. ia tersenyum sekilas pada Gracella saat ia melewati gadis itu.


Gracella menghela napas sambil menatap punggung Rama yang bergerak menjauh. ingin rasanya ia merangkul pria itu dan mengusap darah yang ada di wajah Rama dengan tangannya sendiri. Namun, apalah daya, ia tidak mungkin melakukan semua itu karena Rama bukan miliknya. Rama milik Tiffani, saudarinya sendiri.


"Menyesakkan sekali," gumam Gracella, sambil menepuk dadanya berulang kali.


Xavier yang sekarang tengah berdiri di samping Gracella menghentikan gerakan tangan Gracella yang masih melayangkan pukulan ke dadanya sendiri. "Apa yang Anda lakukan?" tanya Xavier.


Xavier tersenyum, senyumnya yang begitu seksi yang membuat Gracella terperangah. "Apa ini karena cinta bertepuk sebelah tangan yang sedang Anda pendam?"


Kepala Gracella mengangguk, suara helaan napasnya yang panjang dan berat kembali terdengar, membuat Xavier merasa kasihan pada gadis muda itu.


"Jangan terlalu sedih. Semuanya pasti akan berlalu. Aku rasa semua orang pernah merasakan cinta yang tidak terbalas. Cinta semacam itu bukanlah pertanda dari akhir dunia, hidup terus berjalan dan masih banyak cinta yang bertebaran di muka bumi ini. Anda hanya harus menemukan cinta yang tepat, yang membuat Anda nyaman, bahagia, dan memiliki rasa sama besar seperti yang Anda rasakan." Xavier berujar panjang lebar.


Saat Xavier bicara, Gracella tidak terlalu memperhatikan apa yang pria itu katakan. Gracella malah fokus pada tindik di bibir Xavier dan juga di lidah Xavier. Saat Xavier bicara, ia dapat melihat kilatan yang tepantul dari bagian dalam mulut Xavier, dan hal itu membuat Gracella tertarik untuk membayangkan bagaimana rasanya tindik lidah dan bibir. Namun, yang lebih ekstrem lagi, ia malah membayangkan bagaimana rasanya berciuman dengan seseorang yang memiliki tindik lidah.

__ADS_1


"Nona, apa Anda mendengarku?" Xavier menjentikan jemari di hadapan wajah Gracella.


Gracella terkejut, dan refleks ia berkata. "Bagaimana rasanya berciuman dengan seseorang yang lidah dan bibirnya di tindik?" Setelah megeluarkan pertanyaan yang begitu memalukan Gracella langsung mengigit bibirnya bawahnya, ia malu sekali karena tidak dapat mengontrol ucapannya.


Jika Gracella terlihat malu, Xavier justru sebaliknya. Ia senang sekali mendapat pertanyaan demikian dari Gracella, itu berarti Gracella memperhatikannya.


"Anda harus melakukannya jika Anda ingin tahu bagaimana rasanya. Apa Anda ingin mencoba?" tanya Xavier, senyum miring yang begitu menggoda kembali tersungging di bibirnya.


"Tidak. Terima kasih," jawab Gracella, kemudian berbalik memunggungi Xavier dan menjauh dari pria itu.


Akan tetapi, Xavier menahan lengan Gracella dan menarik Gracella ke dalam pelukannya hingga tubuh Gracella kini menempel dengan tubuhnya. "Katakan saja jika Anda ingin. Anda memiliki nomor ponselku, bukan?"


Gracella mengangguk. Ia tidak dapat mengatakan apa-apa. Xavier benar-benar telah membuatnya mati kutu.


"Telepon saja aku jika Anda membutuhkan teman untuk bercerita bahkan teman untuk bercinta," desis Xavier, sembari mengecup punggung tangan Gracella.


Gracella terbatuk. Ia sangat terkejut, ia tidak menyangka jika Xavier akan segamblang itu dalam menawarkan jasa yang sangat menyenangkan, dan jujur saja Gracella membutuhkan tawaran itu. Namun, ia tidak mungkin semurahan itu untuk mengiyakan apa yang Xavier tawarkan padanya.


"Anggap saja sebagai bentuk pengabdianku pada Anda, Nona," lanjut Xavier. Xavier kemudian mengedipkan sebelah matanya ke Gracella sebelum ia pergi meninggalkan gadis itu yang terlihat masih sangat terkejut.


Gracella memandang punggung Xavier yang bergerak menjauh, dan dengan cepat kedua matanya yang begitu jeli justru beralih memandang bokong Xavier, alih-alih punggung Xavier.

__ADS_1


"Argh sial! Apa yang aku pikirkan!" Gracella memukul kepalanya berulang kali. Ia merasa sangat tersiksa sekarang karena setiap melihat Xavier, yang ada di dalam pikirannya hanyalah bagaimana rasanya bercinta dengan pria itu. Ia sendiri tidak tahu kenapa Xavier membawa pengaruh yang begitu besar pada dirinya. Mungkin karena penampilan Xavier yang begitu seksi dan menantang, sehingga sulit sekali untuk tidak berpikiran jorok saat ia sedang berada di sekitar Xavier.


Bersambung.


__ADS_2