My StuPid Girl

My StuPid Girl
104. Kabur


__ADS_3

Setelah mengantar pulang Quinsya ke rumah nya, sagara baru pulang ke rumah, kening pria itu berkerut begitu melihat ada 2 mobil mewah bukan milik ayah Aditya sedang terparkir di depan rumahnya.


“Assalamualaikum” salam sagara begitu memasuki rumahnya.


“waalaikum salam” jawab orang orang yang ada di ruang tamu.


“Itu dia anak saya pa, saga sini nak salam sama opa, oma, paman dan bibi” kata Aditya.


Sagara memang bingung, tapi dia tetap mematuhi apa kata Aditya, dia menyalami empat orang dewasa yang pertama kali dia temui tanpa banyak bertanya, tapi mata sagara menangkap sosok yang dia kenal, seorang gadis manis sedang duduk tertunduk dengan wajah bersemu merah sambil sesekali melirik sagara.


“Wahhh tampan sekali putramu adit” puji pria berambut putih, walau sudah tua masih tampak wibawa dari dirinya.


“Tentu saja pa, dia anak adit” kata adit penuh kebanggaan, “saga, ini opa Eddy, dia yang sering ayah ceritakan, pria yang mensponsori ayah, hingga ayah bisa seperti sekarang ini” jelas Aditya pada sagara yang masih kebingungan.


Kepala sagara hanya mengangguk pelan dan tersenyum sopan dengan pria tua itu. Di dalam kepalanya sedang memikirkan segala scenario negative yang mungkin terjadi dengan kedatangan pria yang sangat di puji puji oleh ayah Aditya.


“Indah kok diam aja, kalian satu sekolahkan?” suara wanita seumuran bunda airi sedang menggoda gadis yang sagara kenal dari semua orang yang ada di sana, dialah Indah teman satu kelasnya, dan gadis yang sudah pernah beberapa kali mendekati sagara tapi tidak pernah berhasil karena sagara selalu menolaknya dengan tegas.


"Sepertinya Indah sangat malu” goda opa Eddy.


Indah yang ditanya hanya tertunduk malu dengan wajah memerah.


“Adit, bagaimana jika kita menjodohkan anak kita” ujar pria asing satu lagi yang seumuran dengan Aditya.


“hah?!” Aditya sedikit terkejut dengan ide mendadak yang di ucapkan oleh abang angkatnya secara tiba tiba.


‘bingo’ batin sagara, sekarang dia tau alasan para orang asing itu datang dia hanya menunggu bagaimana reaksi ayahnya, sudah pasti sagara akan langsung menolak permintaan itu, karena selamanya dia tidak akan menikah jika bukan dengan Quinsya.

__ADS_1


“Ide bagus itu, ezra, bagaimana adit kamu setuju?” sambut opa eddy.


Aditya menatap orang tua yang telah menolongnya selama ini, lalu putranya, “Pa~ mereka masih kelas 3 sma, mana ada perjodohan di zaman sekarang pa” tolak Aditya secara halus, agar opa eddy tidak merasa tersinggung.


“Justru karena zaman sekarang itu banyak pergaulan bebas, sebaiknya putramu dijodohkan dengan putriku, dengan begitu pergaulannya di luar sana bisa terkontrol” ujar ezra, putra dari opa eddy itu terlihat sangat antusias dengan menjodohkan putrinya dengan sagara.


“Bagaimana pergaulan saya dan bagaimana saya besar itu bukan urusan om dan opa, saya cukup pandai mengurus diri saya sendiri tanpa bantuan kalian orang dewasa, yah maaf saga ke kamar duluan, banyak tugas yang harus saga kerjakan” sagara pamit pada ayahnya tanpa pamit pada tamu ayahnya.


“Itu putramu dit? Sangat tidak sopan dengan orang tua” pekik opa eddy marah.


“Maaf pa~” ujar Aditya tertunduk sedih.


“Kamu yakin mau jodohin indah dengan pria seperti itu ezra?” tanya opa eddy.


“Pa~ wajar dia marah, dulu ezra juga begitu kan saat papa menjodohkan ezra, tapi sekarang ezra justru berterima kasih dengan perjodohan yang papa paksakan, ezra jadi dapat istri tercinta serta dua anak yang tampan dan cantik” ujar Ezra.


“Ya ampun, Indah sangat bersemangat dengan rencana perjodohan ini ya” kekeh mama Nana, mamanya Indah.


Gadis itu mengangguk pelan dengan wajah bersemu merah.


Aditya menghembuskan nafas berat, “Pa_” baru saja bibirnya terbuka untuk bersuara, Aditya lebih dulu di potong oleh ezra yang tau aditya akan menolak ide yang dia ajukan.


“adit, jangan menolak ide ini, bagaimana jika memberikan saga dan Indah waktu, sebentar lagi mereka sudah mau lulus sekolah saat itu kita langsungkan perjodohan mereka, kamu mau menolak keluarga kami dit? Pikirkan baik baik dit sampai mereka resmi lulus sekolah” ujar Azra.


“Iya, papa ingin keluarga kita Bersatu dit, cucu cantik papa ini sangat cocok dijadikan menantumu, dari mana kamu bisa dapat mertua dan menantu seperti keluarga papa” tambah opa edy.


Aditya terdiam, dia ingin sekali menolak, tapi dirinya tidak bisa karena jasa jasa yang diberikan oleh eddy padanya. “Ta_”

__ADS_1


“Pikirkan baik baik, kamu ingin hubungan keluarga kita hancur dit?” lagi lagi ucapan Aditya terpotong oleh ezra.


Aditya menghembuskan nafas berat, “baiklah kita tunggu sampai mereka lulus sekolah” ucap Aditya akhirnya. Rasa segan dan balas budi lebih besar mengalahkan ide penolakan oleh Aditya. “Tapi pa, kalau sagara menolaknya Aditya tidak bisa memaksa putra adit” ucap Aditya lagi.


“Apa susahnya memaksanya, aku dulu juga dipaksa menikah dengan istriku” ujar ezra.


Aditya menggeleng pelan, “maaf, tapi ini adalah hidupnya ezra, aku tidak bisa memaksanya, tapi aku akan berusaha mendorongnya untuk menerima perjodohan ini” ujar Aditya, agar keluarga angkatnya tidak marah dan tersinggung.


“Baiklah tapi papa berharap banyak dengan keputusanmu adit, jangan kecewakan papa” ujar opa eddy.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Begitu masuk ke dalam kamarnya, sagara langsung memasukkan beberapa baju sekolah dan buku bukunya ke dalam koper yang sudah dia siapkan jauh jauh hari saat dia berniat untuk pergi dari rumahnya.


Sagara pikir Aditya akan berubah setelah beberapa bulan ini hubungan mereka mulai membaik, tapi dia tidak menyangka akan hadir lagi pengganggu dalam hidupnya yang sudah mulai berjalan normal.


Dijodohkan? Satu kata itu yang paling sagara benci, sejak dulu dia tidak berniat untuk menikah jika bukan karena Quinsya dia tidak akan pernah mau memikirkan tentang pernikahan.


Sagara tidak mau tau lagi apa yang dibahas di ruang tamu itu yang dia inginkan hanya pergi dari rumah itu meninggalkan Aditya.


Setelah membereskan koper sagara segera menarik koper itu keluar dari kamarnya.


“Saga! Kau mau kemana?!” pekik Aditya yang melihat Sagara turun dengan membawa koper besar.


Sagara menatap Aditya dan para tamu yang masih berbincang dengan Aditya di ruang tamu.


“Ayah saja yang menikah dengan wanita itu, aku sudah memiliki pilihanku sendiri” setelah itu sagara pergi tanpa berhenti sedikitpun walaupun Aditya berteriak memanggilnya, sagara tetap melangkah maju tanpa memandang kebelakang.

__ADS_1


...🌵🌵🌵🌵🌵...


__ADS_2