
“Sampai kapan marahnya?” tanya rafa.
Tapi Quinsya tidak menjawab, rafa menyenggol lengan azmi agar pria itu menyampaikan ucapannya pada Quinsya.
“Sampai kapan marahnya dek, papi tanya?” tanya azmi. Azmi menatap mami cessa meminta tolong dari dua orang yang mengganggunya makan malam, tapi yang ada mami cessa hanya mengedikkan bahu acuh dengan permohonan putranya.
“Bang bilang sama papi caca gak tau marahnya sampai kapan, kalau mood caca udah baik!” ketus Quinsya.
“Papi udah dengar sendirikan abang capek menjadi pengantar pesan pi” rengek azmi.
“Caca mau papi belikan kanvas besar gak? Dulu kan caca pengen banget punya itu, atau mau papi bangunkan studio baru untuk caca?” bujuk rafa. Quinsya masih tetap diam tidak mau menjawab ucapan rafa kecuali azmi yang menyampaikan, alhasil azmi dengan malas membuka mulutnya lagi.
“Dek, papi tanya, Caca mau papi belikan kanvas besar gak? Dulu kan caca pengen banget punya itu, atau mau papi bangunkan studio baru untuk caca” azmi sudah menghela nafas panjang karena capek menjadi pengantar pesan antara rafa dan Quinsya.
“Gak mau caca gak mood melukis” gerutu Quinsya.
Rafa menoleh pada istrinya yang masih terkikik geli karena pertengkaran anak dan bapak itu, “yang bantuin please” rengek rafa dengan suara pelan agar yang mendengar hanya cessa saja.
Cessa akhirnya ikutan angkat bicara, “caca~ gak boleh marah gitu sama papi, ntar caca berdosa loh, papi kan bukan sengaja nyusul caca ke bali, tapi itu semua adalah permintaan oppa harry, jadi caca gak boleh marah lama lama dengan papi”.
“Benar itu sayang papi, papi gak ada maksud ke sana loh” sambung Rafa semangat 45 karena mendapat dukungan dari istri tercinta.
Quinsya mendengus sebal jika mami cessa udah angkat bicara gadis itu gak bisa apa apa lagi, apa lagi kalau sudah menyangkut dosa, itu adalah kelemahannya yang paling utama, “Belikan caca kanvas ukuran paling besar kalau bisa setinggi dinding rumah ini!” setelah berkata itu Quinsya beranjak dari kursinya, mencium pipi cessa, “makasih makanannya mam, caca mau tidur lagi selamat malam” setelah itu dia benar benar pergi, tidak memberikan ciuman pada pipi rafa sedikitpun.
__ADS_1
“Papi ca?!” rengek rafa.
“Belum di belikan caca masih marah!” teriak Quinsya dari arah tangga.
“Yang~ caca masih ngambek” Rengek Rafa pada istri tercinta.
Cessa tertawa kecil dan mengelus puncak kepala suaminya dengan lembut, “Belikan dulu kanvasnya udah gak marah lagi itu” ujar cessa.
“Tauk papi masih aja manja sama mami milik abang, ingat umur pi” ledek azmi yang sudah menyelesaikan santapannya, “Selamat malam mam” azmi memberikan ciuman pada pipi cessa, lalu mengikuti jejak adiknya tapi pria itu memilih menggunakan lift, karena kamarnya sedikit lebih jauh dari kamar Quinsya.
“Milik abang milik abang! Ini istri papi! Kalau gak ada papi kamu gak akan lahir!” gerutu rafa, “dan mau sampai kapan kalian terus terusan cium pipi mami kalian?! Kalian udah bukan anak kecil lagi!” tambah rafa dengan kesal, karena memang sudah kebiasaan mereka memberikan ucapan selamat malam dengan orang tuanya sebelum tidur.
“Sampai kami udah nikah pi” yang menjawab adalah Aryan yang masih tersisa di sana, “selamat malam mi, abang juga tidur duluan, besok adalah hari pertama masuk sekolah” tambah Aryan, tapi pria itu tidak mengucapkan selamat malam lagi dengan rafa, memang tujuan kedua pria remaja itu untuk menggoda papi rafa agar rafa mengamuk.
“Iya selamat malam sayang” ucap cessa disela tawanya.
“bagus pi, kalau bisa carikan yang seperti mami ya, bye pi” Aryan sudah menghilang di dalam lift yang sudah turun kembali.
“Bye bye, emang dia di negara apa, selamat malam kek, ini bye bye, anak siapa sih itu” gerutu rafa.
“Anak kamu yang, gak ingat waktu mereka lahir kamu nangis” goda cessa.
Rafa mencium pipi cessa lalu tertawa kecil, “gak ingat sayang, gimana kamu ingatkan dimulai dari pembentukan mereka berdua” goda rafa dengan berbisik seduktif di dekat telinga cessa.
__ADS_1
Cessa memukul bahu rafa dengan pelan, karena malu dengan ucapan rafa.
“ABANG GAK MAU PUNYA ADIK LAGI!” terdengar suara teriakan dari lantai dua rumah itu berasal dari lantai kamar milik azmi.
“CACA JUGA GAK MAU!” teriak Quinsya dari lantai satu kamarnya.
“Wuuuaahhh sirik aja anak anak dua tu” gerutu rafa sambil tertawa pelan.
Cessa hanya bisa tertawa sambil geleng geleng kepala, mana mungkin dia bisa hamil lagi, karena Rafa tidak akan pernah membiarkan dia hamil lagi, pria itu terlalu takut istrinya tersiksa lagi, bahkan dia selalu menyiapkan pil kb di kamar dan dapur, agar selalu siap sedia, agar istrinya tidak hamil.
...🎋🎋🎋🎋🎋...
Pagi harinya di sekolah sedikit ada keributan di kelas Quinsya, karena kehadiran Amira yang bukan di kelasnya melainkan gadis itu telah pindah kelas, tetapi keributan itu menghilang begitu wali kelas menjelaskan karena amira di bully di kelasnya, jadi dia di pindahkan ke kelas Quinsya karena di kelasnya Amira sudah tidak memiliki teman, takutnya akan ada pembulian lagi jika amira masih di kelas yang sama.
Memang itu adalah keputusan yang bagus, karena Tina dan Rina memang berniat untuk mengerjai Amira lagi tapi kedua orang itu tidak memperkirakan jika amira akan pindah kelas, semua rencana mereka langsung buyar karena amira yang pindah kelas.
Fani dan Dwi juga tidak tau gimana cara untuk mengerjai Amira dan Quinsya karena ada ketiga saudara kedua gadis itu di kelas yang sama dengan mereka, ketiga pria itu selalu siap melindungi saudara mereka dan selalu maju paling depan untuk melindungi saudara mereka, cara terakhir untuk membuat Quinsya dan Amira bertengkarpun gagal karena rasa persaudaraan yang kuat, hingga pertengkaran saudara akan di sidang di depan keluarga dan keputusan akan di ambil oleh para orang dewasa, tidak peduli itu masalah kecil sekali pun.
“Hai mir, gue minta maaf ya atas kesalahan gue, kita masih teman kan?” Rina menghampiri Amira dan Quinsya yang sedang menyantap makanan mereka.
“Seperti kemarin gue udah maafin, tapi untuk berteman lagi seperti dulu sangat tidak mungkin” tolak amira dengan cara halus.
“Baiklah gue tau kok, gue salah, tapi bolehkan gue berusaha nunjukkin ke elo kalau gue benar benar sudah berubah dan tidak akan seperti dulu lagi, gue masih mau berteman dengan lo mir” bujuk Rina dengan suara lembut.
__ADS_1
Amira menganggukkan kepalanya pelan, “silahkan” ujarnya dengan anggukan kepala pelan.
...🌻🌻🌻🌻🌻...