
“Wuaaahhh, besar juga apartemen ini kalau dilihat lihat” puji azmi. Saat ini pria itu sedang berkunjung ke apartemen sagara sebagai pengawal quinsya yang ingin melukis di apartemen milik sagara. Tidak hanya azmi, Aryan juga ada di sana sebagai kesatria pertama.
Sagara duduk di sebelah azmi, dan ikutan menonton quinsya yang sedang melukis, beberapa perabotan juga sudah di singkirkan agar tidak terkena cat yang quinsya gunakan.
“Ngapain kalian ikut kesini?” bisik sagara.
“Bos besar memberi perintah, jadi kami terpaksa menjadi pengawal tu ratu” balas azmi dengan berbisik.
“gue gak akan macam macam bro” bisik sagara lagi.
“Gak macam macam juga bahaya, setan ada dimana aja, godaan adik gue itu sulit di tolak, dengan kepolosannya bisa membutakan hati nurani” bukan azmi yang menjawab melainkan Aryan, yang juga mendengarkan pembicaraan azmi dan sagara.
Sagara mengangguk pelan, benar yang dibilang Aryan, kemarin aja dia hampir mencium bibir quinsya jika tidak sadar dengan larangan papi rafa.
“Gue dengar ayah lo sedang ada masalah dengan tante lo, benar?” tanya azmi.
Sagara menatap azmi heran, “dari mana lo tau? Caca?” sagara bukan marah caca membocorkan masalahnya, tapi dia hanya penasaran dari mana calon iparnya itu tau.
“Bukan caca, gue pasang alat penyadap di anting milik adik gue, jadi gue dengar pembicaraan waktu itu” jelas azmi, “sorry bro, jangan marah ya kalau gue dengar juga” tambah azmi.
Sagara menggeleng, “gak masalah, gue juga gak peduli siapa aja yang tau” kata sagara acuh.
“gimana hubungan lo dengan ayah lo?” tanya Aryan, dia ikutan berbicara pada sagara.
Sagara menghembuskan nafas berat, “gue sepertinya harus bertanya pada om rafa, bagaimana cara memperbaiki hubungan gue dengan ayah gue, sepertinya gue tau siapa penyebab keluarga gue hancur” ujar sagara pelan.
“Datang aja ke rumah, kalau mau curhat sama papi, papi selalu ada di rumah pada malam hari dan hari libur, dia hanya bekerja sebentar, lalu lebih cepat pulang” kekeh azmi.
“Gue iri punya ayah seperti papi lo, yang selalu ada waktu untuk anak anaknya, dan mengutamakan keluarga dari pada harta kekayaan” gumam Sagara pelan.
“kata papi, membahagiakan istri dan anak akan mendatangkan rezeki yang berlimpah dari allah, jangan takut akan kehilangan harta kita, tapi takutlah kehilangan keluarga, karena keluarga tidak akan bisa digantikan, tapi harta bisa diganti kapan saja” ujar Aryan.
Kembali sagara menghembuskan nafas berat, “ayah gue, gila harta karena dia kehilangan anaknya akibat tidak ada harta untuk menyelamatkan anaknya” lirih sagara.
“hmm” gantian azmi yang menghela nafas berat, “susah gue jawab bro, mending lo cerita sama papi aja, gue gak bisa banyak bantu, paling cuma bisa bilang, lo harus bersabar, semua pasti ada jalannya” lanjut azmi.
“Abang~!” teriakan Quinsya, baru saja menyadarkan 3 pria yang sedang berbincang itu.
__ADS_1
“apaan?” tanya Azmi dan Aryan bersamaan.
“Belikan adek cat warna biru dan putih! Ini cat punya adek kurang! Udah habis malah!” gerutu Quinsya.
“Ya ayo beli” ajak azmi.
“gak mau! Abang aja yang belikan berdua, caca sama muse tunggu disini” perintah quinsya.
Azmi memicing curiga, “Ini bukan cara adek buat cuma berduaan aja dengan saga kan?”tanya azmi curiga. Aryan juga ikutan curiga dan menatap Quinsya sama seperti azmi yang menatap quinsya.
“su’uzon aja sama adek sendiri juga, emang seberapa lama abang pergi beli cat untuk adek?” balas quinsya.
Aryan masih menatap curiga adiknya, “sana pergi az, biar gue yang di sini, jagain ni dua anak manusia” usir Aryan.
“lah kok gue bang?” protes azmi.
“Siapa yang abang di sini?” tantang Aryan.
“Abang ar”
“Nah harus nurut sama abang, jadi lo aja yang pergi sana, bahaya ni anak berdua jika di tinggal” ujar Aryan.
“bukan lo yang gue takuti, nih si kecil satu ini yang harus di waspadai” tunjuk Aryan pada adiknya.
Quinsya geleng geleng kepala mendengar tuduhan abangnya, emang dia mau ngapain ngapain sagara, dia saja sudah dinasehati oleh kedua orang tuanya.
“Terserah abang lah, pokoknya cepetan belikan cat caca!” amuk Quinsya.
“Sana az pergi” usir Aryan.
“hah” azmi hanya bisa menghela nafas panjang, “dimana mana abang yang ngalah sama adek, lah ini adek yang harus pasrah” gerutu azmi, tapi dia tetap mengambil dompet dan segera beranjak pergi membeli pesanan caca.
“Bang! Bawa contohnya, biar gak salah beli!” panggil Quinsya sambil menyerahkan bungkus cat yang dia butuhkan.
“emang adik durhaka” komentar Azmi.
...🌵🌵🌵🌵🌵...
__ADS_1
Begitu azmi keluar, Quinsya langsung berbaring di sofa, menjadikan paha sagara sebagai bantal kepalanya.
“bang, adek lapar” celetuk gadis kecil itu.
Aryan menatap malas pada adiknya yang tidak sadar tempat sedikitpun, “emang benar kata azmi, adek durhaka” komentar Aryan.
“Bilangin papi nanti! Abang gak jaga adeknya, ini udah kelaparan, aduhhhh ! sakit perut adek!” quinsya memegangi perutnya dan berpura pura kesakitan.
Sagara yang melihat acting quinsya hanya bisa tertawa kecil, “Biar gue yang buat” ujar sagara.
“No! caca pengen abang ar yang masak, mie goreng buatan abang ar yang paling enak” tolak quinsya.
“Hah! Baiklah ratu, lo ada indomie goreng saga?” tanya Aryan yang sudah berjalan menuju pantry milik sagara.
“Ada di laci atas, buka aja, ada banyak, dan ada sayuran dan tambahan lainnya di kulkas” ujar sagara yang masih duduk di sofa.
“Oke” ujar Aryan dari pantry.
.
Sagara menatap wajah quinsya yang tampak sangat manis dan cantik, saat ini gadis itu memejamkan matanya, entah dia tidur atau hanya memejamkan mata.
‘Deg Deg Deg’ Sagara menikmati debaran jantungnya yang berdetak cepat, semenjak hadirnya quinsya dia baru merasakan hidup, selama ini pria itu seperti robot dan tidak punya keinginan untuk hidup.
“Ca! caca!” panggil Aryan. Tapi gadis itu tidak bergeming. “caca tidur?” tanya Aryan lagi pada sagara.
“Sepertinya” jawab sagara.
“Lah cepat banget, emang lo obat tidur, baru mejam bentar udah tidur tu anak” komentar Aryan.
Sagara kembali menikmati menatap wajah quinsya dengan lekat, sesekali tangannya mengelus pipi quinsya dan bibir pria itu terangkat membentuk senyuman.
“Udah sadar dengan perasaan lo, ke adik gue?” celetuk Aryan, jarak pantry dan sofa sagara memang tidak jauh, dan juga tidak ada pembatas dinding jadi apa yang dilakukan sagara masih dapat dilihat oleh Aryan.
Fokus sagara kini teralihkan, dia menatap Aryan dan tersenyum canggung, “hmm, tapi gue masih takut untuk memulai sebuah hubungan” ujar sagara pelan.
“Boleh gue tanya apa yang lo takutkan?” kata Aryan, sambil fokus memasak.
__ADS_1
...🌲🌲🌲🌲🌲...