My StuPid Girl

My StuPid Girl
17. Pernyataan


__ADS_3

Darel menatap amira yang cemberut, ketika mata mereka saling bertautan pria itu menggelengkan kepalanya pelan, memberi kode agar amira tidak memprotes aksi Quinsya.


“Mi, pi besok kita pindah ke rumah kita aja ya” Aryan tiba-tiba membuka obrolan tentang pindah.


“loh kenapa bang? Abang gak suka tinggal sama opa dan oma?” seru oma Dona.


Aryan menyunggingkan senyumnya agar oma dona tidak salah sangka dengan permintaannya.


“Suka oma, tapi abang udah kangen sama kamar lama abang, boleh ya oma, abang akan sering main kesini temani oma dan opa” elak Aryan, sebenarnya dia sedikit tidak suka tentang Amira yang terus menyindir Quinsya secara tidak langsung. Aryan tau Quinsya adiknya memang salah dan membuat orang malu melihat tingkahnya, tapi entah kenapa Aryan tidak suka jika adiknya di rendahkan dan di anggap idiot.


Aryan juga tau alasan Quinsya mengurung diri di ruang lukisan, dia tau adiknya itu perasa, karena tidak mau canggung dan bertengkar Quinsya memilih mengurung diri di ruang lukisnya.


“Ohh ya udah gak apa-apa, tapi sering main ke sini ya temani oma dan opa” ucap oma dona.


Aryan menganggukkan kepalanya, “iya oma, abang sama adik adik akan sering main ke sini” jawab Aryan.


“ya sudah kalau gitu besok kita pindah” ujar Rafa.


Sebenarnya alasan lain Aryan ingin segera pindah karena kamarnya tidak ada laboratory nya, Rafa merancang rumahnya sangat besar, rumah mereka ada 4 lantai, lantai 1 adalah milik Quinsya, kamar gadis itu lebih besar dari kamar di rumah opa dan oma bagaskara. Karena khusus 1 lantai itu adalah milik Quinsya, dari tempat ganti baju, ruang melukis, bioskop mini, ruang baca dan istirahat, kamar itu di desain sesuai permintaan Quinsya.


Sedangkan di lantai 2 adalah kamar Aryan, ada laboratory kecil, ruang baca, bioskop mini, sampai tempat Aryan bekerja ada di sana. Dan lantai 3 adalah tempat Azmi, kamar pria itu penuh dengan game dan ruang bermain, bisa di bilang seperti timezone itu adalah kamar Azmi, dia sangat suka dengan game dan komputer, pria itu bisa seharian di kamar jika sudah bermain.


Sementara itu lantai 4 adalah kamar milik Rafa dan cessa, tempat gym juga ada di lantai 4, wajar jika Aryan meminta kembali ke rumahnya, karena kamarnya di rumah opa dan oma hanya seperempat dari kamar yang mereka miliki di rumah mereka.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


“Pagi Muse!” sapa Quinsya dengan senyum cerahnya.


Sagara hanya mengangguk untuk menjawab salam dari Quinsya.


“Muse udah sarapan gak?” tanya Quinsya.


Lagi-lagi sagara hanya menjawab dengan gerakan kepala, kali ini pria itu menggelengkan kepala, dia memang sangat jarang sarapan karena tidak ada yang memperhatikannya di rumah.


Quinsya langsung mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya. “yuk makan” ajak Quinsya, dia sudah menyodorkan kotak bekal berisi sandwich pada Sagara.


Sagara kembali menggelengkan kepala dan mendorong kotak bekal yang di hadapkan padanya.

__ADS_1


“Caca gak ngerti Bahasa isyarat” gadis itu mengambil satu buah sandwich dan mengarahkan pada mulut sagara. “Gak buka nanti mulut saga bisa kotor loh kalau caca tempelkan?” ancam quinsya.


“Gak ca, gu__” ucapan Sagara terhenti karena Quinsya sudah memasukkan sandwich ke dalam mulut sagara, alhasil sagara jadi menggigit sandwich itu. Sagara sedikit terkejut begitu sandwich itu mulai dia kunyah, rasanya sangat enak berbeda dengan sandwich biasanya yang dia makan.


“enak kan?” Quinsya juga ikutan makan bekal yang dia bawa, rencananya memang itu untuk sarapan paginya, gadis itu membuatnya sendiri tadi pagi, sebenarnya gadis itu tidak tidur semalaman makanya bisa bangun pagi hari, karena dia tidak ada tidur sedikitpun.


“hmm” sagara menjawab dengan anggukan dan dehaman pelan.


“itu caca yang buat sendiri, kalau muse suka caca bisa buatkan setiap pagi” ujar Quinsya.


Sagara kini menggelengkan kepala, masih tidak mengeluarkan suara.


“caca gak ngerti Bahasa isyarat, besok caca buat lebih banyak ya” kekeh Quinsya.


Sagara menelan sandwich yang baru dia gigit lagi, “Gak perlu, gue biasa gak sarapan kok” ujar sagara.


“Fix besok dan seterusnya caca buatkan sarapan” ucap Quinsya kekeh dengan keputusan yang dia buat.


“Gak perlu ca” tolak sagara lagi.


“Caca gak dengar” elak caca.


Sagara hanya bisa menghela nafas panjang, dilihat dari tingkahnya Sagara tau gadis disebelahnya tidak akan bisa ditolak.


“hehehe enak kan, ni tambah lagi muse” kekeh Quinsya.


“iya makasih” ucap sagara tulus, dia akui sandwich buatan gadis itu sangat enak, berbeda dengan sandwich yang pernah dia rasakan.


“Saga tolong terima ini” seorang siswi perempuan datang ke meja sagara dengan memberikan selembar surat pada sagara.


Sagara hanya melihat surat itu tanpa niat mengambil sedikitpun, dia hanya melanjutkan makannya dalam diam.


“saga, gue tunggu lo sampai lo datang” ucap siswi itu lagi.


Quinsya tegak dan melihat surat itu sekilas lalu menatap siswi itu, “ngantri ya, soalnya muse ada janji sama caca, bakal jadi model caca sepulang sekolah” ujar Quinsya.


Siswi itu menatap Quinsya tidak suka, “lo siapanya saga, sampai mengatur dia” sindir siswi itu.

__ADS_1


“Bukan siapa siapa” jawab Quinsya dengan polosnya.


Sagara sampai menahan tawanya mendengar jawaban spontan Quinsya tentang dirinya bagi sagara.


“kalau bukan siapa siapa lo gak berhak suruh saga menentukan siapa yang dia pilih!” kesal siswi itu.


“Tapi muse udah janji, iya kan muse?” Quinsya menatap Sagara dengan mata terlihat sendu.


“iya gue udah janji” ucap sagara akhirnya sambil kembali memakan sandwich buatan Quinsya.


“kalau gitu besok lo mau kan bicara berdua aja sama gue saga?”


Sagara kembali diam tidak menjawab ucapan siswi di dekatnya dia hanya mengeluarkan ponsel dan sibuk membaca artikel yang ada di sana.


“Muse~ halo muse~ ni anak orang lagi nungguin jawaban muse loh” Quinsya menoel bahu Sagara agar mendapat perhatian pria itu.


“hmm?” deham sagara.


“Ini nanya kok gak dijawab?” tunjuk Quinsya pada siswi yang masih berdiri di dekat mereka.


Sagara akhirnya menatap mata siswi itu, “kalau Cuma mau nyatakan perasaan gue udah bilang gak bakal berpacaran dengan siapapun”.


Quinsya menatap heran siswi itu dan sagara, “hmmm muse cenayang ya?” tanya Quinsya polos.


“Gak kenapa?” jawab sagara.


“habisnya jawaban muse berbeda dengan pertanyaan yang dia ajukan, kan cenayang yang bisa tebak apa pikiran orang lain” ujar Quinsya dengan polosnya.


Sagara menahan senyumannya, “emang benar, cewek kalau ngomong sama gue Cuma berdua itu sudah ketebak apa yang mereka pikirkan, gue udah biasa”.


“Wuiihhh keren terus muse terima?” tanya Quinsya gadis itu tidak tampak sedih, ketakutan atau malu berbicara tentang suka dan pernyataan cinta di depan orang lain.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


bonus pict :


Muse si Quinsya (Sagara)

__ADS_1



__ADS_2