
“Jangan beraninya membantu saudaramu itu, atau lo yang bakal jadi bulan bulanan kita semua, lo juga benci kan sama saudara lo?”
Amira diam, dia sedang dilema, gadis itu takut akan menjadi korban bully oleh teman sekolahnya, dia hanya sendirian di kelas, saudara kembar dan saudara sepupunya tidak ada, dia tidak seperti Quinsya yang pemberani dan tidak punya malu, amira juga sangat penakut, tapi sekarang saudaranya sedang di ganggu, dia tidak bisa diam saja seperti permintaan mereka semua.
‘ting’ satu pesan masuk membuat Amira terbangun dari lamunannya.
📲“Gue gak apa, semuanya sudah terbayar lunas” isi pesan dari Quinsya, membuat amira menjadi tenang.
“Siapa yang kirim pesan ke elo?” tanya Tina penasaran.
“Pasti si caca mau minta bantuan lo, hahahha” tebak Fani tersenyum senang.
Amira menggelengkan kepala, “memang dari caca, tapi bukan minta bantuan fan” Amira merubah wajahnya menjadi memelas.
“Lalu?!”
“Caca udah bayar lunas semua makanan kita, itu isi pesannya buat gue, gimana dong? Rencananya gagal” Amira merubah mimic mukanya menjadi sedih, sambil berusaha menahan tawanya.
“Gimana caranya dia bisa bayar? Bukannya dia bilang gak ada uang! Dia bohong dengan kita!” pekik Tina kesal sambil mulai melangkah menuju restoran tadi.
“Mau kemana Tin?” tanya Amira pura pura tidak tau.
“Kasih pelajaran buat anak itu!” murka Tina, diikuti Fani, rina, dwi dan terakhir Amira yang tersenyum senang, karena rencana teman-temannya gagal untuk mengerjai Quinsya.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Tina murka saat melihat Quinsya sedang tegak di depan restoran sambil memainkan ponselnya. Saat hendak mendekati Quinsya, mereka semua terhenti karena suara sagara dari arah belakang mereka.
“CACA!” teriak Sagara, sambil melintasi Tina and the gank.
Quinsya juga tidak sadar dari kejauhan ada tina dan gank nya, dia hanya melihat Sagara yang sedang berlari kearahnya.
“Muse!” balik teriak Quinsya sambil merentangkan tangannya. Sagara yang tau kode dari gadis itu langsung memeluknya dan tanpa sadar memberikan ciuman pada puncak kepala Quinsya, mungkin karena pria itu cemas, dengan kondisi Quinsya.
“Lo gak apa kan? Mereka lakuin apa lagi buat ganggu lo?” tanya Sagara beruntun pada Quinsya.
Quinsya masih diam seperti patung karena ciuman yang tidak sadar sagara berikan tadi, wajah gadis itu juga berubah memerah padam seperti kepiting rebus.
“Ca! caca! Lo sakit? Muka lo merah gini?” tanya Sagara panik.
__ADS_1
“HAH? Apa?!” Quinsya berubah menjadi bloon setelah diberi ciuman dari sagara.
“Lo sakit? Apa yang mereka lakuin sama lo?” sagara masih menatap Quinsya dengan cemas.
Quinsya mengambil nafas panjang berusaha mengatur nafas agar bisa menenangkan detak jantung yang berdetak sangat kencang dan grogi yang tiba tiba muncul, “Gak, gue gak apa, benaran gue baik baik aja_”
‘Kruuyuukkkk’ baru saja Quinsya mengatakan baik baik saja tapi perutnya sudah berbunyi nyaring sekali.
Membuat Pria yang tadinya berwajah cemas kini tertawa sambil mencubit pipi Quinsya dengan gemas, “yuk kita makan” ajak Sagara sambil menggandeng tangan Quinsya mencari tempat makan.
‘DEG DEG DEG’
“oh jantung tolong kendalikan dirimu, kenapa berdetak keras banget sih! Kalau muse dengar gimana?” Teriak Quinsya di dalam hatinya.
.
Dari kejauhan Tina meremas tali tas yang menggantung di badannya, dia kesal kenapa sagara bisa muncul di sana, pasti pria itu yang membantu Quinsya untuk membayar makanan mereka semua, bisa hancur nama baiknya di depan sagara, dia akan di anggap jahat di mata sagara.
“Gimana ini tin? Kita ikuti mereka atau tinggalin aja?” tanya Fani.
“Ikuti! Nanti kita muncul dan mengganggu mereka, bisa hancur nama kita di depan saga, jika gadis bodoh itu melaporkan pada saga semua kelakuan kita” umpat Tina kesal.
Saat melewati sebuah toko baju Quinsya menahan tangan sagara, “Muse kita mampir bentar ya”.
Sagara berhenti dan menatap Quinsya lalu toko baju yang dilihat oleh gadis itu.
“mau ganti baju dulu?” tebak sagara.
Quinsya mengangguk cepat, dia kurang suka mengenakan tas dan baju sekolahnya saat sedang berjalan jalan dengan sagara.
Sagara mengangguk mengerti, membiarkan Quinsya memilih baju yang ingin dia kenakan dan setelah itu pria itu membayarkan barang belanjaan Quinsya begitu saja, dia tidak peduli protes dari Quinsya, yang dia pedulikan hanya senyuman gadis itu.
“Hmm, mbak boleh titip bentar barang ini disini, saya malas bawa banyak barang, nanti saya kesini lagi ambil semuanya” ujar Quinsya pada pelayan di butik itu.
“boleh mbak, silahkan titip di sini” ujar si pelayan sopan. Bagaimana tidak sopan baru saja Quinsya membeli baju dengan harga fantastis dari butik mereka.
“makasih mbak” ucap Quinsya, setelah itu dia menggandeng tangan Sagara untuk keluar dari butik itu, kembali mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang masih keroncongan.
.
__ADS_1
Tina dan yang lainnya semakin kesal melihat Quinsya yang berjalan jalan sambil menggandeng tangan sagara, mereka juga melihat sagara yang membayar belanjaan Quinsya.
“Udah dong ngikutin mereka, gue mau pulang” keluh Amira yang kecapekan mengikuti Quinsya dan sagara.
“Kalau lo mau pulang, sana pulang!” ujar Rina ketus, dia juga sama emosinya dengan Tina, dwi dan fani.
Tanpa menunggu waktu lama, Amira langsung mengambil ponselnya meminta saudaranya untuk menjemputnya pulang. “Ya udah gue pergi” ujar Amira tanpa menunggu jawaban dari teman temannya, mereka semua masih sibuk menatap Sagara dan Quinsya yang sedang berjalan-jalan.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Sebuah Foodcourt menjadi tempat pemberhentian Quinsya dan sagara, gadis itu tidak masalah makan dimana saja asal bersama sagara.
“1 nasi goreng, 1 mie goreng, 1 mie ayam, 2 lychee tea, apa lagi ca?” Tanya Sagara ke arah Quinsya.
“itu semua pesanan siapa?” tanya balik Quinsya tidak percaya.
“Lo gak mau makan? Itu semua buat lo, kan biasanya lo pesan 3 piring” ledek sagara.
Quinsya tersenyum senang, “itu aja dulu, nanti tambah lagi kalau kurang” kekeh Quinsya.
.
Dari arah kejauhan Tina, fani, dwi dan Rina masih mengikuti Sagara dan Quinsya, mereka memilih kursi paling ujung agar tidak dilihat oleh sagara dan Quinsya.
“mau sampai kapan kita mengikuti mereka” tanya Dwi kesal.
“Tunggu bentar lagi” ujar Tina masih menatap pasangan itu dengan wajah kesal.
.
Sekitar 15 menit makanan yang dipesan sagara datang, Quinsya memakan makanan itu dengan lahap sementara sagara hanya diam menonton gadis itu makan.
“Muse gak makan?” tanya Quinsya.
Sagara menggeleng pelan, dia menjulurkan tangannya untuk mengambil nasi yang menempel di bawah bibir Quinsya. “gue udah makan tadi di rumah” tolak sagara.
‘Deg deg deg’ kembali jantung Quinsya berdetak tidak karuan karena ulah si patung es dengan spontan. Sagara tidak sadar dengan semua tindakannya yang sangat alami saat di depan gadis itu.
...🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1