
Waktu liburan akhirnya berakhir, mereka semua kembali menggunakan pesawat pribadi Rafa.
Sebenarnya sagara terlalu malas untuk pulang ke rumahnya, namun saat ini dia masih anak dari seorang Aditya, mau tidak mau sagara harus pulang ke rumah.
“Akhirnya kamu pulang juga! Berhari hari ayah menunggumu! Tapi kenapa kamu baru pulang!” bentak Aditya begitu sagara baru memasuki rumahnya.
Sagara hanya menatap datar ayahnya tidak menjawab sedikitpun karena dia terlalu malas melihat pria itu, yang pria itu tau semua perlakuan yang dia terima karena perbuatan ayahnya, karena ayahnya yang jarang pulang maka semua itu terjadi, bunda menjadi depresi juga karena ayahnya.
“SAGA! Ayah bicara padamu! Kenapa pergi tidak meminta izin dariku!” teriak Aditya, karena sagara berlalu begitu saja melewatinya.
“Apakah perlu? Apa anda masih menganggap ku anak?” ujar sagara tanpa berbalik badan hanya berhenti untuk menjawab ayahnya.
“Kamu pikir untuk siapa ayah kerja banting tulang?!” bentak Aditya marah.
Sagara akhirnya berbalik badan, “apa pernah uang di tabungan yang ayah buat mendapatkan notifikasi masuk bahwa aku menggunakannya? Aku tidak butuh itu, silahkan tinggalkan aku, pergilah dengan selingkuhan ayah! Tidak perlu memikirkan perasaanku, menikahlah, bunda sudah meninggal apa lagi yang ayah tunggu? Apa ayah menunggu aku juga menyusul bunda?!” balas sagara kali ini lebih panjang.
Aditya terdiam, dia memang tidak pernah mendengar notifikasi dari kartu yang dia berikan pada sagara, mungkin uang yang ada di dalam kartu yang di kasihnya sudah ratusan juta karena sagara tidak pernah menggunakan uang milik ayahnya. Aditya sendiri heran, kenapa Sagara tidak pernah mengambil uang yang ada, dia bahkan tidak menggunakan uang itu sejak beberapa tahun yang lalu.
Tanpa Aditya sadari sagara yang tumbuh tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya lebih cepat beranjak dewasa, pria itu mulai mencari penghasilan sendiri dari umur 10 tahun, dari berjualan koran hingga menjadi kuli bangunan, lalu dari uang yang dia kumpulkan sagara mulai bermain saham, jatuh bangun dia lalui hingga bisa menjadi sukses seperti sekarang, Aditya sama sekali tidak tau, penderitaan yang di rasakan sagara. Pria itu pernah tidak makan selama 2 hari karena bundanya sengaja tidak memberikan dia makan. Dari sana dia berjalan jalan dan bekerja sebagai tukang cuci piring untuk mendapatkan satu piring makanan, setelah itu sagara sadar dia tidak akan bisa hidup jika hanya mengharapkan kasih sayang orang tuanya.
“Saga! Ayah tidak pernah selingkuh! Itu hanya delusi bundamu!” amuk Aditya.
Sagara mendengus dan tertawa sinis, “Benarkah? Lalu hari dimana bunda menutup matanya, kenapa aku melihat ayah sedang setengah telanjang bersama tante Riri!”
__ADS_1
Aditya terdiam, dia hendak menjelaskan bahwa saat itu dia sedang dijebak oleh Riri, tapi mau bagaimanapun dia mengatakannya sagara tetap tidak akan percaya seperti istrinya yang tidak pernah percaya setiap dia membela diri.
“Itu semua salah paham saga” akhirnya bibir Aditya berucap dengan pelan.
“Salah paham? Sudahlah yah, ayah tidak perlu mengatakan apapun padaku, tante riri sering datang kesini dan mengatakan karena aku kalian tidak bisa menikah, anggap saja aku tidak pernah hadir di dunia ini, aku tetap berada di sini karena permintaan bunda, kalau tidak sudah lama aku pergi adri rumah ini” Sagara segera berjalan cepat menuju kamarnya, tidak peduli dengan suara teriakan dari ayahnya yang terus memanggil nama sagara, Pria itu sudah putus harapan sejak dia melihat sendiri dengan mata kepalanya saat ayah Aditya sedang bersama tante riri, di dalam sebuah kamar hotel.
“Kamu salah paham nak” lirih Aditya, pria itu tertunduk sambil memegangi dadanya yang mulai terasa sakit, sejak istrinya meninggal Aditya terkena penyakit jantung, untung bisa terkontrol dengan obat obatan yang dia konsumsi, untuk itu juga dia ingin sagara cepat mewarisi semua perhotelan miliknya agar dia bisa tenang meninggalkan sagara sendirian.
“Bik! bibik!” panggil Aditya, dia baru sadar ucapan sagara tadi mengandung banyak maksud.
“Ya tuan ada apa?” asisten rumah tangga yang sudah tampak sangat tua itu datang dengan cepat.
“Apa benar Riri sering datang kesini?” tanya Aditya.
“Jangan gagap gitu cepat jawab saya sering atau tidak pernah!” bentak Aditya.
“Sering tuan, nyonya riri datang bersama anak laki lakinya ya-yang me-menga-ku se-bagai putra tuan” ucap asisten rumah tangga itu akhirnya.
“APA!” teriak Aditya tidak percaya, Riri memang pernah berusaha menjebaknya beberapa kali, tapi Aditya yakin tidak pernah melakukan hubungan lebih dengan Riri walau pernah dia tanpa busana bersama riri di dalam hotel, tapi Aditya yakin 100 persen dia tidak pernah lepas kendali, tapi entah bagaimana caranya riri mengaku telah memiliki anak darinya, saat di tes DNA anak itu dinyatakan adalah darah dagingnya, ini juga salah satu alasan kenapa Aditya mau cepat cepat mewariskan harta kekayaannya pada sagara, karena tidak mau hartanya jatuh ke tangan riri dan anak yang entah dari mana hadir.
“Mulai sekarang perintahkan pada semua orang yang bekerja di sini untuk mematuhi perintahku, usir wanita itu dan anaknya setiap dia datang kesini! Jangan pernah biarkan dia bertemu dengan saga atau memprovokasi sagara!” perintah Aditya dengan tegas.
“Ba-baik tuan”
__ADS_1
...🎄🎄🎄🎄🎄...
Quinsya menatap makanannya dengan malas, gadis itu masih ngambek dengan sang papi yang telah mengganggu wisatanya dengan sagara. Walau dia memang dibiarkan untuk berkencan berdua dengan sagara, tapi tetap saja waktu berduanya pakai batas dan lebih sering bersama saudara sepupunya.
“Caca~ caca mau kanvas baru gak?” bujuk Rafa entah ke berapa kalinya, gadis itu tetap dengan pendiriannya tidak mau menjawab ucapan papi rafa. Rafa menatap istrinya meminta bantuan dari sorot mata.
“rasain, udah tau anak suka ngambek, cari sendiri sana cara membujuknya” ledek mami cessa.
“Sayangnya papi, bukan papi loh yang mau ke sana, tapi opa harry yang mau pergi liburan satu keluarga” akhirnya rafa mengkambing hitamkan sang mertua agar namanya bersih.
“huh” Quinsya membuang wajahnya kesamping tidak mau menatap rafa.
“Sayangnya papi, maaf ya papi nyusul caca ke bali, caca mau beli kanvas baru? Atau kuas baru?” bujuk Rafa sekali lagi.
“Bang az, bilangin sama papi kalau caca masih marah dan tidak mau bicara sama papi” ujar Quinsya sambil menatap azmi.
Azmi yang masih makan hanya diam, berpikir rafa pasti mendengarnya, tapi karena kelakuan pria itu Quinsya jadi membentaknya, “bang az! Bilang sama papi caca masih marah dan tidak mau bicara sampai caca tidak marah lagi!” teriak Quinsya tepat disebelah telinga Azmi.
Dengan pasrah azmi mengelus elus telinganya yang berdengung akibat adiknya, “papi, caca nya masih marah dan tidak mau bicara sama papi sampai caca tidak marah lagi” ujar Azmi pasrah.
“Sampai kapan marahnya?” tanya rafa.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1