
maaf semua author banyak salah kata, soalnya lagi gak fokus ngetik, sebagai permintaan maaf author up satu lagi deh, nanti yang salah salah author perbaiki lagi deh
untuk sementara ini aja dulu ya 😄😄
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Amira kembali bersekolah, sebenarnya gadis itu tidak mau sekolah dulu sampai hari pengumuman kejuaraan sekolah. Untung ada keluarga yang selalu menyemangati dan memberi dukungan padanya, jadi Amira berani datang kesekolah walau dia tidak meletakkan tas nya di dalam kelas karena tidak mau masuk di kelas itu lagi.
Saat ini Amira duduk di pinggir lapangan basket menyemangati pertandingan basket yang sedang berlangsung bersama Quinsya, ketua osis mengintrupsi pertandingan yang sedang berlangsung.
“Maaf semuanya aka nada jeda sedikit” Ucap Vito si ketua osis. “Kalian berempat ayo ke tengah” panggil Vito pada empat orang cewek yang selalu berkuasa di sekolah.
Tidak lama Tina dan teman temannya berjalan dnegan wajah tertunduk malu, Tina tidak mendapatkan cara bagaimana membalas Amira dan Quinsya, sampai di rumah dia kembali kena marah oleh papa nya, dan dia mau tidak mau harus meminta maaf kepada dua orang yang dia bulli.
“Ke empat orang ini akan meminta maaf atas kesalahan mereka pada Amira dan Quinsya, sekarang cepat ucapkan permintaan maaf yang tulus” perintah Vito pada ke empat gadis yang maju itu.
“HUuuuuu huuuuuuuu” banyak penonton yang bersorak mengejek ke empat gadis itu ada juga yang menertawakan mereka.
Rina yang maju lebih dulu dan menatap Amira dan Quinsya yang berdiri di pinggir lapangan basket, “Amira, caca, kita semua minta maaf karena sudah membulli kalian berdua” ucap Fani dengan suara keras.
Setelah Rina, tidak ada dari ketiga gadis itu yang maju, karena menunggu jawaban dari amira dan Quinsya yang masih diam mendengar permintaan maaf Rina.
“Ogah maafin orang yang gak ikhlas minta maaf!” balas Quinsya sambil melipat tangannya di depan mata.
“Huuuuuu benar! Itu bukan permintaan maaf!” teriak salah satu siswa menyoraki ke empat gadis itu.
“dengar itu, kalian harus minta maaf satu persatu bukan satu orang mewakilkan yang lainnya” ujar Vito.
Tina mengepalkan tangannya kesal dengan penuturan Vito sebagai ketua osis pria itu terlalu ikut campur dengan urusan mereka, dan kenapa harus di depan umum seperti itu, tina maunya minta maaf di depan kelas Quinsya dan amira saja, karena tidak akan banyak yang melihat, dan masih bisa dikatakan depan umum, tapi semuanya harus hancur karena si ketua osis.
__ADS_1
“CACA! MIRA gue minta maaf atas kesalahan gue!” teriak Fani sambil menundukkan kepalanya.
Dwi ikutan berbicara, “Amira gue minta maaf karena sudah membulli elo! Quinsya gue minta maaf sudah menghina elo! Gue bersalah!”ucap Dwi.
“Quinsya! Amira gue minta maaf atas kesalahan gue!” ucap Rina.
“Amira, Quinsya, gue minta maaf!” Tina yang terakhir meminta maaf, walau tidak ikhlas tapi ke empat gadis itu harus tetap meminta maaf di depan umum karena tidak mau menjadi miskin, dan juga tidak mau masuk ke kantor polisi.
Quinsya mau berteriak menolak tapi amira lebih dulu menahan tangan Quinsya agar gadis itu tidak jadi membalas ucapan Ke empat gadis itu.
“Ya sudah! Udah gue maafin, jangan gangguin orang lemah lagi, untung gue punya keluarga yang care dengan gue, jika itu orang lain mungkin dia akan hancur oleh kalian” ujar Amira.
“WOooW amira keren!”
“Dasar tukang bulli!”
“Cewek cewek sok cantik!”
“Oke kita akhiri ini, dan ingat kepada kalian berempat jangan mengganggu orang lain lagi” ucap vito sambil menatap Amira dengan mata penuh ke kaguman.
...🎋🎋🎋🎋🎋...
Pengumuman kejuaraan yang ditunggu tunggu akhirnya keluar juga, Aryan dan Azmi maju kedepan sebagai juara umum disekolah mereka karena nilai keduanya sama padahal keduanya berada dalam kelas yang berbeda, sementara fani tampak terkejut karena namanya yang tidak di pangil saat di kelas baru nama gadis itu dipanggil tapi sebegai juara 4 dari kelas mereka bukan kategori juara umum dari setiap kelas.
Sagara yang biasanya menempati posisi 3 atau 4 kini berhasil meraih posisi 2 berkat mengajarkan Quinsya pria itu juga belajar menggunakan pedoman yang diberikan oleh Azmi dan Aryan.
“Alquinsya tolong maju ke depan” panggil guru yang akan memberikan rapor pada dirinya gadis itu maju dengan jantung yang berdetak tidak karuan, dia sudah berusaha sebaik mungkin, jika tidak berhasil juga dia akan benar benar menyerah tentang menguasai pelajaran.
.
__ADS_1
“Gimana dek?” tanya Azmi penasaran.
“Belum caca liat bang” ujar Quinsya sambil menyerahkan rapor itu pada kedua abangnya sementara gadis itu sudah menyembunyikan dirinya di dalam dekapan Sagara.
“Abang buka ya?!” izin Azmi pada Quinsya.
Quinsya hanya menganggukkan kepala tidak menjawab dan tidak melihat ke arah azmi, wajahnya masih bersembunyi di dada sagara.
Azmi geleng geleng kepala liat tingkah sang adik. Pria itu membuka perlahan rapor milik Quinsya, Aryan juga ikutan mengintip ke arah rapor milik Quinsya, pria itu juga penasaran dengan hasil yang di dapatkan oleh Quinsya.
Bibir kedua orang itu melengkungkan senyuman dan tangan keduanya terangkat mengelus puncak kepala Quinsya, “Selamat ya dek” ucap kedua pria itu.
Perlahan kepala Quinsya terangkat untuk menatap kedua abangnya dengan wajah polos. “maksudnya bang?” tanya Quinsya tidak mengerti.
Azmi masih tersenyum manis pada adik bungsunya, “nih liat sendiri” ucapnya.
Quinsya semakin penasaran dengan hasil yang dia dapatkan, gadis itu melepaskan pelukannya dari sagara dan mengambil rapor yang ada di tangan azmi, melihat sekilas lalu dia berlonjak bahagia.
“Yei! Jadi liburan ke bali!” sorak Quinsya senang.
Sagara hanya tersenyum melihat tingkah Quinsya. Tadi dia sempat melihat sekilas nilai gadis itu memang tidak tinggi tapi tidak juga dikatakan rendah, lebih tepatnya diatas standar, dia berada di urutan ke 15 diantara teman temannya, dan tidak ada nilai merah, jadi sudah dipastikan sagara, quinsya, Aryan dan azmi akan liburan ke bali dengan hasil yang di dapat oleh Qinsya.
.
Fani menatap kesal pada Quinsya yang tertawa senang, padahal gadis itu tidak masuk 10 besar kenapa dia bisa bahagia seperti itu. Sementara dirinya harus meratapi nasib dengan posisi 4 yang dia dapatkan dia akan kena omel oleh orangtuanya yang selalu mengutamakan juara satu.
Fani sama sekali tidak tau arti dari kebahagian, seandainya fani bisa hidup seperti Quinsya, bagi gadis itu tidak penting juara satu atau juara umum, baginya kebahagian bisa meraih hasil yang dia inginkan itu sudah cukup, dia tidak pernah bermimpi tinggi hanya ingin bebas mengekpresikan dirinya, makanya Quinsya bisa terlihat begitu bahagia. Apa lagi dia berhasil menang taruhan dan akan jalan jalan dengan sagara, itu adalah kebahagian maksimal bagi Quinsya.
Sesimpel itu Quinsya membuat dirinya bahagia, makanya orang di sekitarnya bisa ikut bahagia melihat dia yang bahagia.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️...