My StuPid Girl

My StuPid Girl
82. Kencan


__ADS_3

Sepulang sekolah sagara meminta izin pada Rafa untuk membawa quinsya pergi, untung saja papi super duper protective itu mengizinkan tapi dengan syarat harus membawa pulang putrinya utuh tidak ternodai sedikitpun.


“Kita mau kemana muse?” tanya Quinsya heran, karena dia sejak tadi hanya di bawa berkeliling ke sana kemari oleh sagara yang sudah memiliki SIM.


“Jalan jalan, gak suka jalan jalan denganku?” tanya sagara.


“Apa??! Gak kedengaran!” teriak Quinsya, gadis itu semakin mendekatkan badannya pada sagara, karena saat ini mereka sedang menggunakan motor baru yang sagara beli.


Sagara menghentikan motornya di sebuah komplek Apartemen mewah.


“Ngapain ke sini?” tanya Quinsya heran sambil turun dari motor.


Sagara hanya diam, pria itu membantu Quinsya melepas helm nya, sesekali mencubit gemas pipi Quinsya.


“Muse~ ngapain ke sini” ulang Quinsya karena belum mendapatkan jawaban. Gadis itu sama sekali tidak risih dengan kelakuan sagara yang akhir akhir ini sering mencubit atau mengelus pipinya.


“Aku mau tunjukkin apartemen yang baru saja aku beli” jawab sagara akhirnya.


“Apartemen?!” mata Quinsya membola, menatap sagara dengan lekat.


“Iya, bantu aku menghias apartemen itu” kata sagara, pria itu sudah menggandeng Quinsya menuju Gedung mewah di depannya.


Quinsya cukup lama diam dan berfikir, karena yang dia tau dia juga punya apartemen di sana, lebih tepatnya studio yang dia beli saat dia berumur 15 tahun.


“Nomor berapa?” akhirnya Quinsya kembali bersuara setelah keterkejutannya hilang.


“41” jawab sagara.


Mata Quinsya kembali membola, dia mentup mulutnya untuk meredam teriakan yang mungkin akan keluar.


“Kenapa?” Kali ini sagara yang bertanya karena heran melihat reaksi Quinsya.


“Caca juga punya apartemen di sini, ahhh! bukan apartemen, tapi studio Lukis, dan itu berhadapan dengan apartemen mu, caca nomor 40” pekik Quinsya tertahan.


Sagara mengulum senyumnya, dia tau kalau Quinsya punya apartemen di situ, karena mendapat bocoran dari saudara kembar Quinsya, sagara juga sengaja membeli apartemen yang berhadapan dengan aparetemen milik Quinsya, padahal dia sudah memiliki apartemen yang berada di daerah lain.


“Apa ini yang dinamakan jodoh” gumam Quinsya tanpa sadar.

__ADS_1


“Sepertinya aku tidak bisa jauh darimu” bisik sagara, lalu menarik Quinsya keluar dari lift.


“Muse tadi bilang apa?” tanya Quinsya.


“Tidak ada pengulangan, ayo ca” Sagara mengelak dan menarik Quinsya ke depan apartemennya.


Sagara mulai membuka pintu apartemen miliknya. Tampak sekali apartemen itu sangat mewah, sudah ada beberapa perabotan di dalamnya, tapi belum banyak hiasan dan tidak ada perlengkapan makan.


Mata Quinsya sibuk menjelajahi apartemen milik sagara. ”Apa muse mau pindah ke sini?” tanya Quinsya di sela keheningan mereka.


“mau pindah tapi belum ada kepikiran kapan, aku masih memberikan ayah kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami” Sagara menatap Gedung Gedung tinggi yang terlihat dari beranda apartemennya.


Quinsya ikutan berdiri disebelah sagara, sudah lama dia tidak mendengar cerita sagara tentang dirinya, “Sudah berbaikan?” kata Quinsya membuka obrolan.


“hmm” Sagara berdeham sambil mengangguk.


“Setiap manusia pasti punya kesalahan, apa lagi orang tua, papi pernah cerita padaku tentang dirinya yang kesepian dan tidak pernah dianggap ada oleh opa ali dan oma reta” Quinsya mulai bercerita.


Sagara menatap Quinsya heran seingatnya opa ali dan oma reta terlihat baik baik saja saat bertemu dengan papi rafa di bali.


Melihat wajah heran sagara, Quinsya tertawa kecil, “Papi memberikan kesempatan pada papi ali untuk berubah, dan sekarang hubungan mereka menjadi baik”.


Quinsya menggenggam tangan sagara, “dicoba saja dulu, selalu ada kesempatan buat memaafkan orang tua kita tapi tidak ada kesempatan untuk penghianatan atau selingkuh” canda Quinsya.


Sagara menatap Quinsya dengan lekat, kini pandangan pria itu turun pada bibir Quinsya ada keinginan yang tiba tiba muncul dalam pikiran Sagara, namun dengan cepat pria itu hilangkan, sagara beralih mencubit pipi dan hidung Quinsya, “sok dewasa” ledek sagara.


Quinsya mendengus sambil mengelus pipinya yang tadi dicubit sagara.


“sakit, muse~ suka banget cubit cubit caca” gerutu Quinsya dan berbalik badan.


Sagara langsung mengelus dadanya karena telah berhasil menahan setan di dalam dirinya. dia memang suka mencubit quinsya sebagai ganti keinginan untuk mencium gadis itu. Pria itu cepat cepat mengejar Quinsya yang sudah masuk kembali ke dalam apartemen.


“Ca, bantuin beli peralatan untuk apartemen ini ya?” pinta sagara.


Quinsya kembali menatap keseluruhan apartemen sagara, “Boleh tapi ada syaratnya” tawar Quinsya, karena dia baru saja mendapatkan ide.


“Apaan syaratnya?”

__ADS_1


Tangan Quinsya terulur menunjuk dinding putih bersih tanpa hiasan apapun, “Biarkan caca melukis di dinding itu”.


Sagara mengangguk cepat dan tersenyum, “silahkan, semua dinding yang ada disini mau kamu Lukis juga gak masalah” kata sagara.


“Yuhuuu! Ayo kita cepat pergi!” Dengan gerakan cepat Quinsya menarik sagara untuk segera pergi keluar.


“Tunggu dulu, emang tau mau isi apa aja?” Tahan sagara.


“Tau kok, caca udah liat, ayo muse~ nanti keburu malam dan papi paksa caca pulang” desak Quinsya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Quinsya tersenyum senang memilih beberapa perlengkapan dapur sagara dengan perlengkapan khusus untuk couple, sementara sagara hanya membiarkan apapun barang barang yang ingin quinsya ambil. Pria itu pasrah dengan semua keputusan Quinsya.


“Sagara!” panggilan itu telah mengganggu kencan Quinsya dan sagara, kedua orang itu sama sama menoleh melihat siapa yang memanggil.


Begitu melihat wanita yang memanggilnya adalah tante riri, sagara hanya menghembuskan nafas kesal lalu kembali fokus dengan mug cantik yang tadi ingin quinsya ambil, begitu juga dengan Quinsya, dia tampak acuh dengan wanita tua yang memanggil sagara dan kembali sibuk menimbang nimbang mug yang akan dia pilih.


“Sagara! Bisa tante berbicara padamu, sebentar saja nak, aku ini tante mu, selama ibumu sakit tante yang mengurusnya, tolong jangan begini sagara” tante riri semakin mendekat dengan sagara dan Quinsya.


Hal itu membuat sagara semakin kesal, dia tau wanita tua itu akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan posisi di sebelah ayahnya, tapi sagara tidak menyangka jika wanita itu bisa bersikap seperti tadi.


“Tante mau bahas apa lagi? Aku tidak bisa membujuk ayah, bujuklah sendiri” kata sagara acuh.


“Tolong kamu dengarkan tante, dengar cerita tante, tante dengar hubunganmu dengan ayahmu mulai membaik maka dari itu sagara tante mohon bicara dengan tante”.


Sagara menghembuskan nafas berat, dia menatap Quinsya meminta persetujuan.


“Di dekat sini ada ice cream yang pengen caca makan, kita kesana aja yuk” ajak Quinsya.


“Baiklah, tante tunggu di sana, saga akan membayar belanjaan ini dulu” ujar sagara.


Bukannya mendengarkan Tante riri malah mengikuti sagara menuju kasir, dia sedikit terkejut saat melihat total barang belanjaan sagara yang lebih dari 10 juta, dan dengan santainya pria itu menuliskan alamat apartemennya untuk diantar semua barangnya ke sana. Saat Riri berusaha mengintip alamat sagara, tapi Quinsya dengan sengaja menutupi pandangan tante riri hingga wanita tua itu gagal untuk mengetahui alamat sagara.


...💐💐💐💐💐...


bonus pict

__ADS_1


Sagara dan Quinsya saling pandang



__ADS_2