
Rina menyantap makanannya dengan sesekali melirik pada Quinsya yang sedang memakan mangkuk keduanya, Quinsya sama sekali tidak malu makan dengan lahap di depan sagara, malah cara makan gadis itu yang berantakan tidak membuat sagara jijik atau risih dengan Quinsya.
“Apa saga suka sama gadis yang makan seperti caca ya” bantin Rina setelah mengamati Quinsya.
“Mir, minggu depan gue ulang tahun yang ke 17, lo datang ya ajak juga caca dan saudara lo yang lain” Rina memberikan undangan ulang tahunnya pada mira dan Quinsya. “Saga mau ikut kan?” tidak lupa dia mengundang sagara walau kemungkinan kecil sagara tidak akan pernah datang.
“Hmmm” Amira memperhatikan undangan itu, dia masih menimbang nimbang untuk datang atau tidak, karena insiden yang terjadi baru baru ini.
“Gue pesan makanan dari café milik lo mir” ujar Rina cepat, takut Amira menolak undangan darinya.
Amira menghela nafas sedikit lebih panjang, jika begini, dia tidak ada pilihan untuk datang, Gadis itu melirik Quinsya yang masih berjoget joget karena makanan yang dia makan enak, “kalau caca datang gue juga datang, soalnya daddy gak bolehkan gue pergi sendirian lagi kemana mana” ucap amira, memang hanya alasan, untuk menolak permintaan Rina.
Kini tatapan Rina beralih pada Quinsya yang masih sibuk makan, “Ca~ caca!” panggil Rina agar mendapat perhatian dari Quinsya.
“Apa?!” tanya Quinsya sedikit terkejut.
“Kata amira dia mau datang ke pesta gue kalau lo juga ikut datang, gimana? Lo mau datang ya~ please” bujuk Rina, gadis itu juga berharap dengan ikutnya Quinsya maka sagara juga akan hadir ke pestanya.
Quinsya baru sadar ada undangan yang diberikan rina berada di dekatnya, gadis itu melihat undangan itu dan menatap amira yang menatapnya penuh minat, “gue datang bukan untuk dikerjain kan?” tanya Quinsya to the point.
“hahahha gak mungkin lah, mana mungkin gue berani setelah papi dan keluarga lo ngancam gue ca” ujar Rina dengan senyum terpaksa, padahal sebenarnya dia masih ingin membuat rencana untuk mengerjai Quinsya.
“Oke baiklah” jawab Quinsya dengan santai.
“A- i-itu saga juga datang ya, please” pinta rina, kali ini dia benar benar memohon pada sagara, tidak seperti meminta pada amira dan Quinsya.
“hmmm” hanya dehaman yang di dengar rina, itu entah pertanda iya atau tidak, karena sagara terlalu malas berbicara dengan orang kecuali dari keluarga Quinsya.
__ADS_1
“Saga, hmmm itu artinya apa? Ikut atau tidak?” tanya rina takut takut.
“. . .” sagara kembali tidak bersuara lagi hanya menikmati pemandangan Quinsya yang sedang menyantap makanannya lagi.
“Saga~” panggil rina karena di cuekin sagara.
“Saga, lo di tanyain noh” Azmi yang menepuk bahu sagara dengan pelan untuk menyadarkannya dari lamunannya pada Quinysa, baru setelah itu sagara menjawab ucapan rina.
“Liat nanti aja, gue gak janji” jawab sagara, tanpa menatap rina yang berbicara padanya.
Rina tersenyum senang karena itu pertanda sagara bisa saja datang ke pestanya, Dia bisa merencanakan hal yang luar biasa untuk mendekati sagara. “makasih saga, makasih banget” ucap rina sudah bahagia hanya dengan mendapat jawaban dari sagara.
“Gue juga diundangkan Rin” Tina tiba tiba muncul dan duduk di sebelah rina untuk ikut bergabung dengan sagara dan yang lainnya.
“Tentu saja, ini undangannya” Rina memberikan undangan juga pada tina, padahal kesempatan untuk memberikan undangan itu bisa saja dilakukan di kelas mereka.
“kalau mau renang juga gak apa sih, soalnya gue pesan tempat di hotel milik saga, dan memang yang ada kolam renangnya, bawa aja baju ganti, gue pestanya dari sore sampai malam” ujar Rina bangga karena berhasil membooking tempat di hotel milik sagara, lebih tepatnya ayah Aditya.
“kalau gak ikut renang gak apa kan?” tanya Quinsya.
“Kenapa ca? jangan bilang lo gak bisa berenang?” sindir Tina dengan nada mengejek.
“Bukan itu, tapi gue gak suka berenang dan gak boleh berenang di depan banyak orang” ujar Quinsya.
“Ribet banget ya keluarga lo, upps sorry amira kan keluarga lo juga” sindir tina, sekarang dia sudah tidak mau bersikap sok baik pada Quinsya karena kedoknya sudah terbongkar.
“Justru keluarga gue paling hebat dari keluarga kalian, kekayaan papi gue termasuk ke dalam orang terkaya ke 10 di dunia, berarti gue anak terkaya nomor satu se Indonesia karena setau gue belum ada orang Indonesia yang berada di atas papi gue, kalian pernah gak liburan bareng keluarga naik pesawat pribadi, tinggal pilih mau kemana aja, tinggal terbang?” balasan sindir dari Quinsya, gadis itu bukanlah gadis yang lemah akan mudah menerima sindiran lagi, setelah Tina menyinggung orang tuanya, itu adalah salah satu tombol paling sensitive bagi Quinsya.
__ADS_1
“Jangan sombong lo ca! ntar di cabut kekayaan lo baru tau rasa!” Balas Tina.
“Siapa yang sombong, gue cuma membicarakan fakta, jadi jangan pernah usik gue dan keluarga gue, karena mulai sekarang gue gak akan diam aja seperti dulu, akan gue balas semua yang kalian lakukan pada gue ataupun saudara gue” ancam Quinsya tegas.
Tina mengepalkan tangannya geram dengan ancaman dari Quinsya dan dia tidak bisa mengancam balik Quinsya karena dia belum mendapatkan informasi apa yang ditakuti oleh Quinsya.
“Lo Cuma bisa mengancam menggunakan nama bokap lo” sindir Tina akhirnya.
“Biarin aja, lo takut sama papi gue kan? Emang gue anak papi” balas Quinsya tidak mau kalah.
Tina semakin geram dengan ucapan Quinsya karena Quinsya tidak pernah merasa malu jika dibilang anak papi atau tukang ngadu.
“Mau jadi apa lo, kalau udah dewasa? Cuma bisa sembunyi di ketiak papi lo” sindir tina lagi.
“Papi gue gak mungkin buang gue, kalau itu yang lo takutkan, gue adalah anak paling beruntung di dunia ini, gak perlu jadi apapun buat tetap mendapatkan perhatian papi gue” balas Quinsya lagi, gadis itu memang selalu bisa menjawab apapun sindiran yang diberikan kepada dirinya. Amira dan saudara Quinsya yang lain sedang menahan tawanya melihat Quinsya yang selalu bisa menjawab tina, tidak hanya para saudaranya, sagara pun ikutan mengulum senyum melihat tingkah Quinsya.
“Lo kayak anak kecil, Sukanya bersembunyi di ketiak papinya” geram tina.
“emang gue masih kecil, baru juga 16 tahun” ujar Quinsya dengan santainya, “ayo~ apa lagi yang mau lo bilang, gue gak malu di bilang anak papi, gue juga gak malu di bilang anak kecil” tantang Quinsya sambil menaik turunkan alisnya meledek Tina.
“Cowok gak bakal suka dengan cewek modelan lo” umpat Tina.
Kini quinsya menatap sagara dengan mata puppy eyes nya, “Muse gak suka cewek seperti caca ya?”
Tina menahan senyumnya ketika Quinsya bertanya pada sagara karena sudah diketahui public saga tidak akan menjawab suka pada semua gadis yang mengatakan suka padanya.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1