
Quinsya tertidur sampai jam pelajaran berakhir, Azmi, Aryan dan Ameer bahkan sampai bingung bagaimana cara untuk membangunkan si singa tidur.
Tiga saudara itu sama sama melipat tangan mereka di depan dada sambil menatap Quinsya yang masih tertidur.
“kalian tidak pulang?” tanya sagara.
Senyum Ameer dan Azmi langsung merekah begitu melihat wajah sagara, kedua saudara itu saling menyikut lengan menyuruh salah satu mereka untuk berbicara pada sagara, bahkan sekarang ameer dan Azmi sedang melakukan hom pim pa untuk menentukan siapa yang akan bicara pada Sagara.
Azmi menepuk keningnya karena dia yang kalah dalam permainan barusan.
“Saga, boleh gue minta tolong gak?” ucap Azmi pelan.
“hmm?” hanya dehaman dan wajah datar yang di dapat Azmi dari sagara.
“tolong panggil nama adik gue Quinsya dan minta dia untuk bangun” pinta Azmi sambil menangkup kedua tangannya.
“kenapa kalian tidak membangunkannya sendiri?” tolak sagara secara halus.
“Tidak akan berpengaruh, liat ya” Azmi mendekati Quinsya dan menggoyang lengan gadis itu, “ca, caca bangun! CACA BANGUN!” Azmi sudah berteriak tapi gadis itu masih tertidur dengan nyenyaknya.
Aryan bahkan menarik lem yang menutupi mulut Quinsya dengan kuat agar gadis itu bangun, tapi percuma quinsya masih menutup matanya.
“See? Dia masih tidur seperti putri tidur” tunjuk Azmi.
“Emang aku bisa membangunkannya?” ucap Sagara datar.
“Di coba saja dulu, semoga bisa dan kalau bisa kami minta rekaman suaramu” Azmi langsung nyengir ke arah sagara.
Sagara menghela nafas panjang, pandangannya beralih pada Quinsya yang masih terlelap tidur dengan mulut yang menganga lebar.
“Quinsya, bangun, gue mau pergi lagi” ucap Sagara datar.
“Ahhh!” mata lentik itu langsung terbuka lebar begitu mendengar suara Sagara. Padahal suara sagara tidak besar dia juga tidak berteriak.
“Berhasil!” pekik Azmi, pria itu sekarang melakukan tos bersama Ameer.
“puiihh mulut caca kok lengket-lengket gini” gumam Quinsya, dia masih antara sadar dan tidak.
__ADS_1
“perasaan aja, yuk pulang” ucap Aryan sambil membereskan meja Quinsya.
“gak perasaan caca bang, ini benaran lengket” gerutu quinsya masih memegangi bibirnya.
“Lo ngences pasti ca, makanya lengket” ledek Ameer.
“Ngences? Benar juga hehehe” sekarang gadis itu tertawa kecil.
Sagara langsung tegak tanpa berkata apapun lagi, tapi Langkah kaki pria itu terhenti karena tangan Quinsya menahan tangan Sagara untuk berjalan.
“Muse koku dah pergi, caca nungguin waktu bisa Lukis muse” rengek Quinsya.
“Gue ada urusan” bohong Sagara.
Wajah Quinsya langsung berubah sedih, dia sengaja menunggu sagara pulang, tapi yang ada sagara malah pergi meninggalkannya.
“Besok aja lukisnya, sekarang waktunya gak tepat dek, emang alatnya lengkap?” Aryan berusaha mengalihkan perhatian Quinsya dan memberi kode pada Sagara untuk segera pergi dari sana, karena akan sulit mencari cara untuk mengalihkan perhatian Quinsya.
“Muse besok bantuin caca Lukis ya” pinta Quinsya dengan wajah memelas.
Ameer melotot dan menganga lebar mendengar jawaban Sagara, bukan hanya ameer yang terkejut, sagara sendiri juga terkejut kenapa mulutnya malah mengatakan hal yang tidak pernah dia pikirkan. Pria itu langsung menyingkir takut orang di sana makin salah paham padanya, sagara juga bingung harus menjelaskan apa jika di tanya kenapa dia setuju dengan permintaan Quinsya.
Senyum Quinsya langsung merekah lebar mendapat persetujuan dari Sagara, “sampai ketemu besok Muse!” teriak Quinsya sebelum sagara pergi dari kelas itu.
“sumpah tu anak aneh” gumam Ameer pelan.
“aneh gimana?” tanya Azmi penasaran.
“gak biasanya dia seperti itu, ini pertama kalinya dia menerima permintaan seseorang, bisa dihitung ucapan yang dia ucapkan dalam satu bulan itu paling hanya 10 kata tidak lebih, tapi hari ini sudah melebihi rekor” ujar Ameer tidak percaya.
“abang lebay!” ledek Quinsya, gadis itu sedang menggandeng abang pertamanya karena sudah siap untuk pulang.
“Nah pegang” Aryan melempar tas Quinsya untuk di pegang oleh Azmi. Setelah itu Aryan dan Quinsya berjalan lebih dulu keluar dari dalam kelas.
.
Saat keluar kelas semua mata siswa siswi masih mengikuti Quinsya, karena berita tentang gadis itu yang tidur dikelas serta menyatakan perasaannya pada Sagara langsung menjadi trending topik dalam waktu yang sangat singkat.
__ADS_1
“cantik sih tapi menjijikkan” gerutu Dwi, gadis itu dan beberapa temannya memang masih berada disekolah karena menunggu jemputan.
“Gue dengar dia saudaraan dengan ameer dan Amira, emang benar ya” celetuk salah satu teman Dwi yang Bernama Tina, dia tidak satu kelas dengan dwi dan fani jadi tidak tau situasi yang sebenarnya.
Dwi dan beberapa teman lain langsung menatap Tina. Karena Ameer dan Amira terkenal sebagau cucu dari keluarga bagaskara pengusaha yang sangat terkenal di Indonesia, untung saja amira tidak menyukai Sagara makanya mereka tidak pernah berurusan dengan Amira, jika Amira suka dengan sagara maka persaingan akan semakin sulit habisnya amira termasuk salah satu murid yang disegani di sekolah itu.
“Gue tadi sempat mikir mereka bohong, saat perkenalan juga mereka bilang mereka saudara sepupu, tapi berusaha untuk tidak percaya, tapi melihat bagaimana guru membiarkan tu cewek tidur di kelas gue jadi yakin dia memanfaatkan kekayaan orang tuanya untuk berbuat sesuka hati” Fani yang menjawab pertanyaan Tina, dia kesal dengan Quinsya yang berhasil berbicara dengan sagara beberapa kali.
“Wahhh mending kita bilang pada kepala sekolah biar dia di keluarkan dari sekolah ini” usul Tina.
“Gak mudah, kalau memang dia memanfaatkan kekayaan orang tuanya, kita sebarkan saja aib nya yang tidur di kelas dan melakukan hal menjijikkan lainnya, dengan begitu dia akan malu dan tidak mau datang kesekolah lagi” ujar Dwi.
“Benar banget, besok kita video dia sedang tidur biar dia malu” angguk fani setuju dengan ide Dwi.
Sedang asik berbicara Amira dan Rina melintas di depan mereka semua.
“Mira!” panggil fani cepat.
Amira berhenti dan berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggilnya.
“kenapa?” tanya Amira heran, tidak biasanya geng cewek centil itu memanggilnya.
“Lo gak malu ya punya saudara menjijikkan seperti Quinsya?” sindir Fani dengan senyum mengejek.
“malu kenapa?” Amira masih bertanya dengan wajah datar.
“Lo tau saudara lo itu tidur sepanjang kelas dengan suara ngoroknya” ungkap fani.
Bukannya marah atau malu amira malah tertawa keras, “tidur? Hahahaha” Amira geleng-geleng kepala mendengar ejekan untuk saudaranya, “ thanks udah kasih tau, gue bisa ledek caca di rumah nanti” kekeh Amira.
“Lo gak malu sebagai saudara apa?” kesal fani karena melihat reaksi Amira di luar dugaannya.
“Ngapain gue malu, yang tidur dia, itu bukan urusan gue” mata amira menangkap sosok abang sulungnya yang datang menjemput amira pulang, “gue duluan Rin” ucap Amira lalu berlalu pergi mendekati darel.
“ihhh gila, bibit bibit keluarga bagaskara kok bisa ganteng-ganteng gitu ya, gue mau salah satu keturunannya nikah sama gue buat perbaiki keturunan” gumam Tina, saat melihat wajah tampan Darel.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1