My StuPid Girl

My StuPid Girl
26. Iri


__ADS_3

Hingga jam istirahat Quinsya masih fokus dalam melukis di atas mejanya, gadis itu tidak beralih sedikitpun dari posisinya, bahkan Quinsya menjadi tontonan teman sekolah mereka karena sibuk melukis di jam istirahat.


Aryan dan Azmi sampai turun tangan untuk memberikan asupan nutrisi pada Quinsya, sesekali Azmi menyuapkan makanan pada Quinsya dan gadis itu menurut membuka mulutnya untuk makan, Aryan juga memberikan minum menggunakan sedotan agar Quinsya tidak terganggu dan hanya perlu membuka mulut saja.


.


Amira dan Rina terlihat kebingungan dengan keadaan kelas saudara kembarnya yang terlihat ramai orang yang mengintip ke dalam kelas.


“Ada apa ya mir?” tanya Rina penasaran.


“gak tau” jawab Amira sambil mengedikkan bahunya.


“Ayo kita lihat” Rina menarik paksa tangan Amira untuk mendekat untuk mencari tau lebih dalam tentang apa yang sedang terjadi.


Dengan usaha yang cukup besar dan lama kedua orang itu akhirnya bisa masuk dan melihat jelas apa yang sedang di tonton orang orang.


“Ehhh mira, untung lo ada di sini” tegur Tina pada Amira.


“hmm” Amira hanya berdeham dan tersenyum seadanya menjawab teguran Tina, gadis itu memandang mata para gadis yang terlihat cemburu pada Quinsya. Setiap Azmi menyuapkan makanan pada Quinsya beberapa gadis tampak menggerutu sebal dan tidak suka.


“jijik banget sok jadi ratu aja” umpat Tina.


“Memang Caca adalah ratu di rumahnya” batin Amira, tapi dia hanya diam tidak menanggapi apapun.


Tina tidak sengaja bertatapan mata dengan Amira, “oh ya ampun mira, maafin gue ya, jangan marah ya sama gue karena menghina saudara sepupu lo” ujar Tina dengan suara yang dibuat selembut mungkin tapi amira tau gadis itu tidak tulus dengan maaf yang dia ucapkan.

__ADS_1


“jadi amira yang biasanya saja, jangan membantah mereka atau membelaku, diam saja dengarkan saja apa kata mereka, kalau mira membela caca, amira tidak akan kuat di bully satu sekolah, amira boleh kok ikutan ngehujat caca, biar mereka percaya mira tidak di pihak caca” ucapan Quinsya pada dirinya beberapa hari yang lalu kini terngiang di pikiran amira.


Gadis itu tersenyum palsu dan tertawa kecil pada Tina, “gak perlu minta maaf kok, gue gak masalah”.


“Lo juga benci ya sama dia? Dilihat dari sini sih lo benci banget pasti, apa di rumah dia dijadikan ratu juga” tanya Tina.


“Dia putri satu satunya di dalam keluarga tiandra jadi sudah pasti dia dimanjakan oleh orang tua dan saudara kembarnya” ujar Amira, dia tidak pernah mau mengatakan tentang penyakit yang pernah di derita oleh Quinsya pada teman-temannya toh apa gunanya dia mencari simpati para manusia yang jelas hanya akan memberikan kebencian pada saudara sepupunya.


“Pantas sok jadi ratu, sampai makan pun harus di suapi” ledek Rina, kali ini gadis itu ikutan menjelekkan Quinsya.


“lo benci juga dengan Quinsya mir?” tanya Tina penasaran.


“jangan membantah mereka atau membelaku” kembali ucapan Quinsya terngiang di pikiran amira.


“Iya” jawab Amira singkat. “maaf ca, nanti gue minta maaf karena sudah menjelekkan lo di belakang, gue harus cari tau sesuatu yang mengganjal dalam hati gue” batin Amira.


“Upppss” Amira mengangkat tangannya dan tersenyum palsu sekali lagi, “maaf caca orang yang suka mengadu, jangan ikutkan gue dalam membulli dia, gue bisa mati di tangan abang abang dan adik adik gue, apa lagi daddy dan mommy” tolak Amira secara halus.


“Yahh padahal paling berkesan itu pembullian dari saudara sendiri, atau gak gini aja, lo bantuin kita-kita buat berteman dengan caca, biar sisanya kami yang urus”usul Tina.


“Ngapain mau berteman dengan anak itu?” bukan amira yang bertanya, pertanyaan itu diwakilkan oleh Rina lebih dulu, dia salah satu orang yang tidak menyukai kehadiran Quinsya di sekolah mereka.


Tina menatap rina dan tersenyum meremehkan, “lo bodoh banget sih, jelas selain saudara ada satu lagi yang buat orang bisa terpuruk yaitu persahabatan, kita tawarkan persahabatan palsu pada Caca setelah itu kita manfaatkan dia hancurkan dari dalam, kita cari titik lemahnya”.


“Kenapa gak tanya mira langsung aja, kalau mau cari tau titik lemah dia kan saudara si caca” ujar fani.

__ADS_1


Tina mendengus kesal, “emang mira tau? Kalau tau dia pasti sudah kasih tau kita, iya kan mir?” desak Tina.


Lagi-lagi Amira menunjukkan senyum palsu ke arah teman-teman palsunya, “benar kata caca, kalau gue sendiri gak bakal sanggup menghadapi para rubah licik ini” batin amira. “Iya gue gak tau sama sekali, hanya dia tidak bisa belajar giat seperti kita, itu aja yang aku tau” ujar amira berpura pura sedang berpikir panjang.


“tu liat dia gak tau kan, jadi kita berteman dengannya untung-untung kita bisa dekat dengan saga dan para abang abang si caca”ujar Tina.


“benar banget, gue lama-lama jadi jatuh cinta sama Azmi, liat caranya menjaga adik kembarnya, gue pengen ada di posisi si caca” celetuk salah satu anak buah tina.


Kini semua mata menatap kearah Amira “gimana mir? Mau kan bantuin kami?” tanya mereka serempak.


“Abang abangnya? Berarti kalian juga incar abang kembar gue si ameer, amit-amit gue punya kakak ipar seperti kalian” batin amira, “tentu” jawab amira dengan senyum palsu, sungguh hati dan mulutnya sedang tidak singkron sekarang, tapi jika dia menolak yang akan di bully lebih dulu adalah dirinya, Amira yakin Quinsya banyak yang melindungi apa lagi 2 kesatria yang selalu siap sedia ada di sisi Quinsya tidak seperti saudara kembarnya yang selalu bertengkar dengan dirinya. apa lagi dia beda kelas sama saudara-saudaranya.


“Kalau gitu ayo mir” tina menarik pelan tangan Amira agar mendekat kearah ke empat saudara amira.


“Jangan sekarang, kalau sekarang kita mengganggu Caca, bukan hanya semua saudara gue yang ngamuk tapi pihak sekolah juga mengamuk dengan kita” ucap Amira.


“maksudnya apaan?” Tina tampak tidak mengerti dengan ucapan yang baru saja Amira ucapkan.


Amira menunjuk Quinsya yang masih serius dengan matanya, “karya yang di hasilkan caca setidaknya paling kecil seharga 50 juta, tapi karya setengah jadi hanya sekitar 5 juta, sepuluh kali lipat perbedaannya, kemungkinan karya di meja itu bisa menjadi karya yang tidak bernilai harganya” ungkap amira.


Tina menggeleng tidak percaya, dia bahkan tertawa mengejek pada Amira, siapa yang akan percaya dengan yang dikatakan Amira jika tidak menyaksikan langsung seberapa mahal karya Quinsya.


“gak percaya gue” ketus Tina.


“Caca kalau sedang serius melukis bisa menghasilkan milyaran, anak anak papi rafa memang special semua, kalau gak percaya tunggu aja besok atau beberapa hari lagi” tantang Amira.

__ADS_1


...🌼🌼🌼🌼🌼...


__ADS_2