
Ke lima orang itu berjalan pelan melewati ruang keluarga yang tampak ramai, banyak sekali pria dan hanya Quinsya sendiri yang wanita yang ada di sana. Gadis itu menatap layar televisi yang sedang menampilkan movie yang baru dibeli oleh Ameer, kepala gadis itu menyandar pada bahu Sagara dan di sebelah Quinsya ada Aryan yang sibuk memakan popcorn.
Tina semakin kesal menatap quinsya yang bermanja pada sagara, sementara pria itu tampak biasa saja mendapatkan skinship dari Quinsya.
“Mir, sini ikutan nonton juga, gue baru beli ni movie nya” panggil Ameer pada saudara kembarnya.
“Gue ikut nonton sama mereka ya girls, kalian pulang aja duluan” ujar amira, dia segera mengambil posisi duduk di sebelah saudara kembarnya.
Tina cs menatap Ameer dengan mata memelas membuat Ameer akhirnya berbicara, “Kalian juga mau ikut nonton, ayo sini duduk” ajak ameer.
Belum ada selangkah mereka berjalan mendekati ruang keluarga itu, Quinsya sudah menyindir mereka, “itu movie emang Ameer yang beli, tapi ini rumah gue! Pergi kalian dari sini, gue gak suka kalian ada di rumah gue!”
Semua mata pria kini menatap Quinsya yang sedang cemberut dan menampilkan raut marah.
“Oke sorry ca” ujar Ameer pelan.
“Dasar jahat lo ca! Saga lo masih mau dekat sama cewek seperti itu! Gak punya hati dan mengerikan” ujar Tina sambil menatap sagara.
Sagara masih menampilkan wajah datarnya menatap Tina lalu tersenyum menatap Quinsya, “kalian pasti berbuat salah, makanya caca mengusir kalian, tadi kalian di sambut kok” ujar sagara.
“Kita hanya sala_” ucapan fani terhenti karena di potong Quinsya.
“Gak usah banyak bacot! Gue gak peduli temanan dengan kalian atau tidak, gue gak butuh teman seperti kalian, pergi dari sini sekarang juga atau gue panggil satpam untuk menyeret kalian keluar!” Ujar Quinsya tegas, gadis itu masih marah karena mereka menghina orang tuanya.
__ADS_1
“Ca, bukan gue yang ngomong, kok lo marah sama gue ca, gue sejak tadi diam aja loh, maafin gue ca kalau gue buat lo marah, tapi gue gak ada ngomong sedikitpun” Rina memelas menatap Quinsya yang masih duduk sambil menyandarkan kepalanya pada bahu sagara, disana bukan hanya ada sagara, tapi ada Aryan, Azmi, Ameer, Bima anak dafa dan devi, Arthur adik bungsu Amira, biru putra dari Prince. Para saudara pria Quinsya berumpul untuk menonton film action secara bersama sama. Nonton bareng bareng itu memang paling seru.
Karena melihat banyak cowok tampan disana Rina sengaja merendahkan dirinya berpura-pura menjadi korban, agar bisa ikutan nonton bersama pria tampan yang ada di sana.
“Gue orang jahat, jadi gue gak mau pilih pilih orang, pergi kalian semua, mau kalian tidak ada ngomong atau tidak gue gak peduli, gue disini adalah orang jahat!” ucap Quinsya dan kini dia fokus pada film yang ditampilkan. “BIK! USIR MEREKA!” teriak Quinsya dengan suara yang keras.
“baik non” ucap salah satu asisten rumah tangga, “ayo keluar nona nona” sambungnya pada keempat gadis yang berdiri bagai patung menatap sagara.
Pria yang mereka tatap malah bersikap acuh dan hanya sibuk mengelus puncak kepala Quinsya agar gadis itu tenang.
Tina berjalan pelan sambil menatap Amira yang juga sibuk menonton tayangan movie, dia kesal karena amira tidak membantu mereka dan malah bersikap acuh, “awas lo Mira, lo yang akan gue kerjai di sekolah” putus tina dalam hati.
...💐💐💐💐💐...
Membayangkan putri kecilnya yang akan pergi liburan dengan orang yang tidak ada hubungan pernikahan Rafa menjadi sedikit waspada, dia takut putrinya akan di manfaatkan oleh pria itu, secara Quinsy aitu sangat polos dan manja, permintaannya juga tidak bisa di bantah.
“saya akan bicara langsung saja, apa kamu pernah mencium bibir putri saya?” tanya Rafa to the point.
Sagara menggelengkan kepalanya pelan, “belum pernah om” jawab sagara jujur.
“apa kalian berdua berpacaran?” tanya Rafa lagi.
Sagara kembali menggelengkan kepalanya, untuk menjawab pertanyaan kedua Rafa. “tidak Om” jawab Sagara lagi.
__ADS_1
“Apa kamu pernah terlintas di pikiranmu tentang ingin melakukan hal lebih seperti ciuman bahkan lebih pada putri saya?” tanya Rafa untuk ketiga kalinya.
“tidak pernah om” jawab Sagara tegas, dia memang pernah memeluk Quinsya tapi itu dilakukan secara spontan tidak pernah terpikirkan pikiran mesum ketika memikirkan Quinsya.
“Saya berikan kepercayaan padamu untuk liburan bersama putri saya, tapi jika putri saya pulang dengan keadaan sudah tidak perawan, maka saya akan hancurkan hidupmu dan juga semua orang yang ada di sekitarmu, apa bisa saya memberikan kepercayaan itu padamu?” tanya Rafa serius.
Sagara meneguk saliva nya, menatap Rafa yang serius menatapnya, Pria itu menganggukkan kepalanya pelan, “Akan saya lakukan, saya bersumpah akan menjaga dia seperti om menjaga caca” ucap Sagara tegas.
“Baiklah, satu pertanyaan lagi, apa kamu menyukai putriku?” tanya Rafa.
Kali ini sagara menunduk menatap jari jarinya, bibir pria itu tidak terbuka sedikitpun untuk menjawab iya ataupun tidak, dia tidak tau perasaannya saat ini pada Quinsya adalah cinta atau nyaman sebagai teman, jujur jika ditanya apakah dia nyaman sagara akan menjawab langsung bahwa dia nyaman bersama Quinsya, Tapi kalau cinta dia masih belum tau, pria itu takut mengenal cinta, takut untuk memutuskan bahwa perasaannya saat ini adalah cinta, dirinya masih belum bisa menjawab apapun pada rafa.
Rafa sejak tadi memperhatikan bagaimana reaksi sagara saat dia bertanya tentang perasaannya pada Quinsya, dia sendiri sudah melakukan penyelidikan untuk pria bernama sagara, bahkan sampai kenapa pria itu bersikap dingin pada wanita dan hanya hangat pada putrinya.
“Tidak semua anak mengikuti perilaku orang tuanya” ucap Rafa di dalam keheningan mereka.
Sagara mendongakkan kepalanya untuk menatap Rafa.
“Mungkin karena kamu masih 16 tahun, sekarang bukan saatnya kamu memikirkan itu, tapi yang harus kamu tau, tidak semua anak sifatnya mencontoh orang tuanya, saya juga berasal dari orang tua yang mengacuhkan saya, tapi dari sana saya belajar untuk mengutamakan kebahagian keluarga saya dan bagaimana cara mendidik anak, jadi jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada kedua orang tuamu” nasehat rafa.
Sagara diam mencerna setiap ucapan Rafa, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman hangat, “terima kasih om” ucap Sagara dengan tulus.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
__ADS_1