
Putra tampak kesal di dalam kamar Azmi, selesai makan dia ingin menyusul Quinsya dan Sagara yang menuju Studio Quinsya, tapi ternyata Quinsya mengunci kamarnya, jadi dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa naik keatas kamar Azmi.
“Ngapa sih bro, kayak kucing minta kawin aja” ledek Azmi yang baru menyelesaikan permainannya.
Putra menatap Azmi dengan serius, “Lo gak penasaran apa?! Caca sedang melakukan apaan dengan tu cowok di dalam kamar berduaan aja?! Mereka itu berbeda jenis kelamin!” amuk Putra.
“Tenang lah bro, lo tau adik gue itu polos, dia gak bakal melakukan hal memalukan yang ada di otak mesum lo” ujar Azmi.
“Azmi, semua cowok itu adalah srigala, jangan lo sangka tu cowok baik baik gak bakal memikirkan hal mesum dengan caca” ujar Putra.
Azmi mengambil laptopnya dan membuka kamera cctv yang ada di kamar Quinsya, “nah liat sendiri apa yang mereka lakukan” Kata azmi sambil menyerahkan Laptop itu pada Putra. Kamar Quinsya memang di pasangi kamera cctv yang sangat banyak, hanya pada kamar mandi tempat tidur dan ruang ganti baju saja yang tidak di pasangi kamera cctv, jadi Azmi sama sekali tidak khawatir dengan apa yang akan dilakukan dua orang itu di dalam kamarnya.
Putra akhirnya tenang setelah melihat apa yang Quinsya dan sagara lakukan di kamera cctv yang ada di kamar Quinsya. “Gimana ceritanya, baru beberapa bulan gue gak ada di dekat caca, dia udah dapat Muse miliknya?”
Azmi mengedikkan bahu acuh, dia kembali memainkan game yang tadi sempat dia mainkan, “jangan terlalu memaksakan kehendak lo ke caca, ingat papi dan mami gue gak suka orang yang terburu-buru dan memaksa” peringat Azmi.
“Iya gue tau, Tapi kenapa ni cowok di bolehkan nginap di sini, setau gue om rafa itu protective banget sama caca” tanya Putra penasaran.
“Caca yang bawa dia kesini dengan paksaan, lo tau sendiri papi emang protective pada caca, tapi papi tidak bisa menolak permintaan caca dan mami, jadi itu sebabnya dia bisa keluar masuk rumah ini serta bisa sangat dekat dengan caca” jawab Azmi.
“Lo juga setuju caca sama ni cowok?” selidik Putra.
“Gue setuju setuju aja, asal adek gue bahagia, dengan siapapun dia” ucap Azmi, begitulah pria itu tidak terlalu suka dengan urusan yang rumit.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
“maaf ya muse” celetuk Quinsya tiba-tiba.
__ADS_1
Sagara yang sedang membaca buku langsung menolehkan kepalanya melihat Quinsya, “maaf kenapa?”
“harus dengar ucapan ucapan putra yang gak jelas itu” ujar Quinsya.
Sagara menyunggingkan senyumnya sekilas lalu balik menatap buku bacaannya, “Gue kira apaan, gue gak masalah kok”.
“Muse pernah pacaran” tanya Quinsya lagi secara tiba-tiba.
Sagara kembali menutup bukunya dan menatap Quinsya, “Gue gak pernah mau membuat diri gue masuk ke dalam hubungan pacaran atau pernikahan, tidak akan ada wanita yang bisa bahagia jika berada di sisi gue” pandangan sagara berubah sendu.
“Hmmm… boleh caca tau kenapa?”
Sagara kembali menatap manik mata Quinsya dengan lekat, “Hubungan keluarga gue tidak sebaik hubungan keluarga lo” sagara menjeda ucapannya sejenak, dia menatap figura yang berisi foto Papi rafa mami cessa dan Quinsya sedang tertawa bersama, “Setiap hari yang gue dengar hanya pekikan dan amukan bunda pada ayah yang selalu sibuk bekerja, lalu ayah memukul bunda karena bunda tidak mengurusku dengan baik, bunda selalu mengatakan tidak aka nada wanita yang bahagia bersama pria sepertiku, karena aku mirip dengan ayah, wajah tampan bukan membawa kebahagian tapi akan membawa ketakutan, bunda selalu takut ayah selingkuh dan direbut oleh orang lain sampai akhirnya bunda jatuh sakit dan meninggal tanpa ayah disisinya, ayah terlalu sibuk bekerja sampai tidak bisa menemani bunda di saat terakhir, saat aku menemui ayah ternyata dia bersama wanita lain seperti ketakutan bunda, semua ucapan bunda adalah kebenaran, aku adalah monster yang terlahir untuk menghancurkan kebahagiaan orang lain, Jadi caca jangan menyukaiku, aku takut kau akan menderita seperti bunda” ungkap sagara.
Quinsya diam, air mata gadis itu langsung jatuh mendengar ucapan sagara, dia berlari dan memeluk Sagara secara tiba-tiba.
Sagara tertawa pelan sambil mengelus punggung Quinsya dengan lembut, “kenapa lo yang nangis sih, gue cerita bukan buat lo nangis”.
Quinsya melepaskan pelukannya sambil menatap Sagara, “Karena lo gak nangis jadi gue gantiin lo” ujar quinsya.
Sagara tersenyum menatap Quinsya, tangannya terangkat untuk memegang pipi Quinsya dan menghapus air mata yang masih jatuh di pipi gadis itu. “jangan menangis buat gue, gue gak pantas menerima itu” ucap sagara.
Quinsya menggelengkan kepalanya pelan, “gak lo__” Ucapan quinsya terhenti karena suara gedoran pintu kamar yang sangat kuat.
‘BRAK BRAK BRAK’
“CACA! BUKAIN CA!!” Suara teriakan Putra terdengar sangat jelas di telinga sagara dan Quinsya, gadis itu mendengus sebal karena putra sangat mengganggu.
__ADS_1
“Tu Cowok nyebelin banget sih!!” gerutu quinsya kesal, dia berjalan menuju pintu kamar dengan cara menghentakkan kakinya dengan kuat. “apaan sih!” bentak Quinsya.
“Lo yang apaan ca! ngapain peluk pelukan di dalam kamar sama cowok!” bentak Putra dengan suara lantang, untung saat ini Rafa dan Cessa sedang tidak ada di rumah, tadi mereka berdua pergi saat Quinsya sedang masak di dapur.
“Lo mata matain gue!” gentian sekarang Quinsya yang mengamuk pada Putra.
Putra semakin marah karena Quinsya yang balas marah padanya, Pria itu masuk dengan paksa ke dalam kamar Quinsya. Begitu sampai di dalam studio Putra menatap marah pada Sagara yang hanya berwajah datar.
“Lo! Jangan seenaknya ngambil kesempatan dalam kesempitan ya!” Putra menunjuk wajah sagara dengan kesal.
“PUTRA! LO APA APAAN SIH!” Quinsya menepis tangan Putra yang menunjuk sagara.
“ca! ngapain lo peluk peluk ni cowok!” Putra membentak Quinsya dengan emosi.
Saat itu juga sagara tegak dan menyembunyikan Quinsya di belakang badannya. “Tolong bicara yang lembut di depan wanita” ucap sagara dengan lembut.
Putra masih terlihat emosi dia menarik kerah baju Sagara, “Lo! Yang jangan kurang ajar dengan wanita!”
“PUTRA!” bentak Quinsya, gadis itu berusaha melepaskan tangan putra yang mencengkram kerah baju Sagara.
“Putra, tolong tenang” Azmi akhirnya muncul bersama Aryan, kedua pria itu akhirnya ikut campur dalam pertengkaran putra dengan sagara.
“Kalian tidak marah melihat Caca pelukan sama ni cowok?!” amuk Putra.
“Udah lah put, Cuma pelukan, gak lebih, lo jangan kekanakan put” lerai Azmi. “lagian adek gue yang meluk, gimana gue mau marah coba?” batin Azmi.
“Ca, kenapa caca peluk saga?” tanya Aryan penuh intimidasi.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...