My StuPid Girl

My StuPid Girl
22. Pasrah


__ADS_3

“Jangan menuduh tanpa bukti, berikan bukti baru menuduh dan nyakiti adik gue!” Azmi memberi peringatan pada Dwi dengan wajah marahnya.


“Ada bukti? Atau mau gue laporin ke polisi atas pencemaran nama baik?” ancam Aryan.


“Ada! Setiap kami mau menjelekkan dia! Kami selalu di ganggu oleh orang yang sama! Dia selalu dilindungi oleh hacker itu!” dwi menunjuk Quinsya dengan wajah memerah padam, gadis itu sangat marah dengan Quinsya yang dilindungi oleh kedua saudara kembarnya.


“hahahha” azmi tertawa keras, “Lo pikir bukti itu cukup? Pesan itu dikirim saat jam pelajaran, sedangkan caca tertidur, dia terbangun karena teriakan teman lo, gimana caranya adik gue mengirim pesan saat dia sedang tidur?” sindir Azmi.


Dwi terdiam, Quinsya memang tidur karena mereka berdua tadi sibuk mengedit video Quinsya yang tertidur buat mempermalukan gadis itu. Pandangan Dwi kini beralih pada 2 orang pria yang ada dihadapannya, tampan memang tapi karena saudara dari Quinsya kedua orang itu langsung hilang dari list calon pacar. “kalian yang melakukannya!?” tuduh Dwi.


Azmi mengulum senyum sambil mengedikkan bahu, “emang gelakukan apa sih? Kalau menuduh itu jangan hanya sekedar menebak, pakai otak” Azmi berdecak kesal, dia kembali kemejanya dan merapikan task arena jam sekolah telah habis. “Yuk pulang” ajak azmi.


“Ayo pulang dek” ajak Aryan pada adiknya Quinsya.


Quinsya hanya mengangguk pelan dengan wajah polosnya dia tidak mengerti apa yang terjadi kenapa Dwi bisa semarah itu, memori apa yang terhapus? Dan apa yang abangnya lakukan hingga membuat Dwi marah sebesar itu.


“Saga, lo gak ikut ke rumah?” tanya Azmi.


“besok aja, sekarang gue ada urusan di club basket” ujar Sagara, dia memang seorang kapten basket jadi harus menyelesaikan beberapa urusan dulu.


“Oke sampai ketemu lagi” ujar azmi.


“Dada muse, besok mau dibawakan bekal apa?” tanya Quinsya dengan semangat 45.


“Apa aja asal gak nyusahkan” Sagara sudah mulai bisa berbicara normal pada 3 saudara kembar itu, lebih tepatnya 2 karena satu orang lagi pendiam seperti dirinya kalau bicara hanya jika ada keperluan saja.


“Muse ada alergi?” tanya Quinsya lagi.

__ADS_1


Sagara menggelengkan kepalanya.


“Baiklah nantikan masakan cinta dari caca ya” seru caca penuh semangat sebelum dirinya berlalu meninggalkan sagara yang terdiam, padahal baru digoda dengan kata cinta saja dirinya sudah mati kutu tidak dapat mengatakan apapun dan diam seperti patung bahkan saat ini pipi pria itu memerah padam.


“HAH! Emang berbahaya” gumam sagara pelan, setelah berusaha menyadarkan dirinya dari lamunan sagara segera berlari menuju ruang basket, dia baru saja mendapat info setelah ujian kenaikan kelas akan ada lomba antar sekolah dan sagara harus menyampaikan info itu pada anggota tim basket lainnya.


...🌼🌼🌼🌼🌼...


Beberapa hari setelahnya sekolah menjadi sedikit heboh karena insiden kesurupan yang dialami oleh Fani, orang-orang mulai menceritakan cerita hantu dan misteri misteri yang ada di sekolah mereka.


“Lo gak takut?” tanya sagara tiba-tiba saat ini pria sedang menjadi patung lukisan oleh quinsya di ruangan Lukis disekolah. Sagara memang sudah tidak bisa menolak permintaan Quinsya untuk menjadi model lukisan.


“takut apa?” tanya Quinsya santai sambil masih terus menggerakkan kuasnya di atas kanvas.


“Masalah kesurupan itu? Biasanya cewek selalu takut tentang itu” ujar Sagara.


“hahahha gue udah sering nginap di tempat yang paling sering orang bilang angker” kekeh Quinsya.


“Dimana itu?” tanpa sadar sagara sudah mulai bertanya dan menjawab Quinsya secara spontan.


“Rumah sakit” jawab Quinsya singkat, gadis itu kembali melanjutkan lukisannya yang tadi sempat tertunda, “hampir seluruh hidup gue di dedikasikan di rumah sakit, gue malah berteman dengan hantu hantu di sana” kekeh Quinsya.


Sagara kini terdiam mendengar pernyataan Quinsya, dia memang sudah mendengar cerita dari Azmi, tapi tidak serratus persen percaya karena saat ini gadis itu tidak terlihat seperti orang yang sakit.


“Jangan kasihani gue, bagi gue perjuangan gue untuk bisa sembuh itu sangat tidak mudah, gue gak mau di kasihani” gumam Quinsya.


Sagara mendengus, “siapa yang mengasihani gue Cuma gak tau mau bicara apa lagi” elak sagara.

__ADS_1


“Biasanya diam, tumben canggung kalau gak bicara” goda Quinsya.


Sagara menghela nafas sedikit lebih panjang, dia sendiri tidak tau kenapa dirinya seperti itu, setiap tidak ada pembicaraan di antara mereka maka jantung sagara akan berdetak cepat jika hanya berdua di sebuah ruangan dengan quinsya, entah sihir apa yang gadis itu berikan pada sagara, tapi sihir itu sudah mampu membuat si gunung es mencair bahkan meleleh.


“Bisa cepat gak? Gue harus Latihan basket” sagara sengaja melarikan topik pembicaraan mereka.


“Belum juga bel pulang, tadikan katanya Latihan pas selesai pulang sekolah” kata Quinsya, mereka berdua saat ini memang sedang memanfaatkan jam bebas yang tidak ada guru karena sang guru sedang sakit jadi hanya tugas sekolah yang diberikan, dan kesempatan itu dimanfaatkan Quinsya untuk menggunakan ruang kesenian buat melukis sagara.


“Lo gak bosan apa tiap hari Lukis gue? Katanya pelukis terkenal” gumam sagara.


“Gak bosan, dan gue gak peduli mau lukisan ini dijual atau gak yang penting gue bisa melukis sesuai apa yang gue bayangkan, sebenarnya gue pengen melukis di tembok sekolah tapi nanti bakal banyak cewek cewek yang memanfaatkan lukisan muse buat imajinasi mereka jadi gue batalkan deh” jelas Quinsya.


‘krruuuyyuuukkk’ bunyi perut Quinsya yang tiba-tiba membuat sagara tertawa keras.


“Ngapa tu perut?” kekeh sagara.


Quinsya sudah nyengir sambil memegangi perutnya yang berbunyi keras. “gue lapar, tadi Cuma makan 1 piring bakso, kita berhenti sekarang, kita harus makan” Quinsya menghentikan lukisannya yang setengah jadi, gadis itu tegak dan berjalan kearah sagara.


‘glek’ tanpa sadar sagara meneguk air liurnya saat melihat Quinsya berjalan mendekatinya, detak jantung pria itu sudah bergemuruh keras setiap quinsya berada pada jarak yang dekat dengannya.


“Ayo kita ke kantin” Quinsya merah tangan sagara dan menggenggam tangan itu tanpa permisi begitulah gadis itu sesuka hati membawa sagara kemanapun dia suka dan tidak akan memikirkan penolakan sagara karena dia akan memohon berkali-kali sampai sagara mau menerima ajakannya tidak peduli mau malu di depan orang banyak karena dia sering membujuk dan memohon pada sagara, Quinsya tidak pernah kenal yang namanya malu, jika dia malu maka semua kegiatan yang dia lakukan akan terhenti.


“Gue udah kenyang ca” tolak sagara


“Temani gue makan”.


“hah” sagara sekali lagi hanya bisa menghela nafas atas apa yang Quinsya lakukan, si Queen milik papi rafa memang tidak pernah kalah kecuali dalam pelajaran.

__ADS_1


...🎄🎄🎄🎄🎄...


__ADS_2