My StuPid Girl

My StuPid Girl
129. Hamil


__ADS_3

“yah, saga mohon, caca memiliki tubuh yang lemah sejak kecil, saga takut sesuatu terjadi pada caca, jadi apa boleh saga dan caca pindah ke rumah papi untuk beberapa tahun?” pinta sagara dengan wajah memelas.


Aditya menepuk bahu sagara dengan pelan, “tentu saja, boleh” dan kepala Aditya kini menoleh menatap rafa, “apa ada tempat untukku juga tinggal di sana?”


Rafa tertawa kecil sambil mengangguk, “ada banyak kamar kosong di rumah, bang adit tenang aja” jawab rafa.


Tidak berapa lama mereka berbincang tampak Quinsya baru membuka matanya, dia sedikit terkejut karena melihat papi rafa dan tempat dia berada, “papi kok di sini?”


“Periksa adek yang pingsan, tau gak suami adek nangis panggil papi suruh cepat periksa adek yang pingsan” canda rafa.


Quinsya mengulum senyum dan menatap suaminya yang duduk sambil menggenggam tangan gadis itu, “maaf ya, caca gak tau kenapa bisa sampai pingsan”.


“Adek gak tau?” goda rafa.


Quinsya menggelengkan kepalanya pelan.


“kok papi tau ya” kekeh rafa.


“Emang caca kenapa pi? Penyakit caca gak kambuh kan pi?” tanya Quinsya khawatir.


Rafa menggeleng menjawab pertanyaan Quinsya, “adek gak sakit Cuma terlalu lama main sama saga tadi malam” ledek rafa.


Mendengar ucapan rafa, quinsya langsung menyembunyikan wajahnya yang sudah berubah warna merah. “maaf pi, caca entah kenapa pengen main sama jamur mas saga terus” ujar Quinsya dari dalam selimut.

__ADS_1


“hahahaha itu namanya doyan dek, enak main jamurnya kemarin?” goda rafa.


“Masih kurang” jawab Quinsya dengan jujur. Dan langsung mendapat tawa keras dari rafa dan Aditya, sementara sagara menunduk menahan malu.


“boleh main lagi, tapi jangan kelamaan, dan jangan keluarkan di dalam spora putihnya saga” kekeh papi rafa. Walau dari nada bicaranya bercanda, rafa tetap memberi arahan pada sagara dengan cara yang berbeda.


“iya pi” angguk sagara.


“Ya udah papi dan ayah pergi dulu, kalian disini aja istirahat, ingat istirahat belum boleh mainkan jamur ya dek” peringat rafa, sebelum dia dan Aditya pergi dari kamar itu.


Selepas rafa dan Aditya pergi, Quinsya baru menatap suaminya yang terlihat sangat cemas dan khawatir. “mas kenapa mandang gitu? Caca minta maaf ya, udah buat mas jadi khawatir”


Sagara mengelus pipi istrinya lalu mencium kening gadis itu, “Mas yang harusnya minta maaf, udah buat kamu jadi pingsan, mas masih kurang peka padamu maaf ya sayang” ujar sagara pelan.


“Wajar kamu mudah capek, papi bilang kamu hamil, makanya kamu cepat Lelah” ungkap sagara.


Quinsya diam dan beberapa kali mengerjap kan matanya, “maksud mas apa? Bisa diulangi?” seru Quinsya, dia masih sedikit syok mendengar ucapan sagara.


“kamu hamil sayang, kita akan punya anak sebentar lagi” ujar sagara dengan sangat lembut, sesekali dia memberikan ciuman pada wajah Quinsya menyampaikan kebahagiaannya pada Quinsya.


“Caca hamil?” beo Quinsya tidak percaya, tangannya sudah bergerak pada perutnya.


Sagara mengangguk dan sekali lagi mencium kening Quinsya, “iya sayang, kamu hamil, dan sekarang kita akan pindah ke rumah papi dan mami, aku gak mau terjadi bahaya dengan kandungan kamu sayang, kamu mau kan sayang?” ujar Sagara.

__ADS_1


Quinsya mengangguk cepat, air mata bahagia sudah keluar karena mendengar berita bahagia itu. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi sagara saat ini, dia juga tidak kalah bahagia dengan Quinsya.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Darel dan Sagara saat ini sedang duduk di tengah tengah diantara keluarga bagaskara bersama pasangan mereka masing masing.


Darel dan Flora ternyata juga sedang menunggu kelahiran anak mereka karena flora sedang hamil 3 bulan, mereka baru mengetahuinya sekarang, makanya sekalian saja di nasehati oleh para orang tua.


“Darel dan Sagara,kalian sebentar lagi akan punya anak, kalian akan menjadi seorang ayah, siap tidak siap kalian berdua harus siap, jangan beralasan karena masih muda kalian tidak bisa menjadi ayah, kalian belum siap jangan pernah bilang itu, kalian sudah melakukan dan menghasilkan anak kalian harus bertanggung jawab pada anak dan istri kalian mau tidak mau” ujar papi rafa.


“Benar kata papi rafa, kalian harus siap, tanggung jawab seorang ayah bukan hanya menafkahi keluarganya, tapi banyak hal, memberikan kasih sayang, menyayangi, memberikan waktu kalian untuk keluarga, percuma kalian hanya menafkahi, kakek nenek istri dan anak kalian bisa memberikannya, Sekarang kalian akan punya anak, jangan pernah terkejut dan marah dengan perubahan sikap istri kalian saat hamil dan setelah melahirkan” opa harry menambahkan.


“Saat ini kalian berdua akan dihadapkan dengan masalah besar yang terjadi dalam rumah tangga kalian, darel dan Sagara jangan pernah marah dan bilang tidak cinta lagi karena istri kalian berubah, sebagai suami harus lebih peka, salah sedikit saja istri kalian mungkin akan marah, dan dan terlihat sangat mengerikan, kalian sebagai suami terima saja, jangan pernah emosi balik, wajar seorang ibu hamil dan melahirkan itu moody an, dia sedang membawa beban berat akibat ulah kalian, selama 9 bulan dia membawa anak kalian di perutnya, menahan sakit saat melahirkan, jika kalian bisa menggantikan posisi itu baru kalian boleh ikut marah, jangan pernah lari dan bersembunyi, dengan sengaja sibuk bekerja dan tidak pulang ke rumah, istri kalian hanya butuh perhatian, jangan balik emosi saat istri kalian curiga kalian selingkuh, wajar seorang ibu hamil dan melahirkan hidungnya sensitive, bau cewek yang berjalan bersebelahan dengan kita bisa menempel di tubuh kita, jangan balik emosi, semua itu wajar, kalian yang sebagai suami harus bisa menyikapi semua itu, apa kalian mengerti?” tanya Rafa.


Sagara dan Darel diam sambil menggenggam tangan pasangan mereka masing masing, “Mengerti pi” jawab mereka serentak.


Aditya terdiam mendengar ucapan rafa, dulu yang dia lakukan karena airi terus marah marah adalah melarikan diri, dia capek mendengar celotehan airi dan umpatan istrinya yang menuduh dia selingkuh, Aditya jadi lebih sering meninggalkan airi, sekarang dia tau sikap nya terhadap istri sudah salah sejak awal bahkan sebelum rencana pembunuhan itu di lakukan.


“Bagus jika kalian mengerti, sekarang caca dan flo, dengerin papi, kalian akan menjadi seorang ibu, jangan pernah merendahkan diri kalian, kalian berdua harus percaya diri, susah loh menjadi seorang ibu, banyak wanita di luar sana ingin menjadi ibu tetapi mereka tidak bisa, kalian harus bisa percaya diri dan jangan merendah, rendah hati boleh tapi jangan rendah diri, apa kalian mengerti?” tanya papi rafa lagi.


Kepala flora dan Quinsya mengangguk pelan mendengar ucapan rafa. “iya pi” jawab keduanya serentak.


...☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2