
“Jadi lo kabur dari rumah? Karena apa?” tanya azmi, Sagara baru saja selesai menceritakan kenapa dia ada di apartemen itu dan kenapa dia bisa tidak datang ke sekolah. Sagara terlalu capek karena dia bekerja semalaman dan tertidur baru saat pagi harinya, makanya saat Quinsya membunyikan bell, dia terlihat baru bangun tidur. Sagara belum menceritakan semuanya, karena masih memikirkan perasaan Quinsya.
“hmmm… kalian tidak lapar?” sagara berusaha mengalihkan pertanyaan yang diajukan oleh azmi.
Quinsya tanpa banyak bicara hanya mengeluarkan kotak bekal yang dia simpan dalam tas dan memberikannya pada sagara.
“Bekalmu” ujar Quinsya dengan wajah cemberut dan mata memandang sinis.
Sagara mengulum senyum memperhatikan Quinsya yang ngambek dengannya, pria itu masih diam membuka kotak bekal dan mulai menyantap makanan itu, selama sagara diam tiga orang yang ada di apartemen sagara juga diam menunggu sagara bercerita.
“aku mau di jodohkan, makanya aku kabur” ujar sagara dengan santainya sambil menyantap bekal buatan Quinsya.
“Dijodohkan? Dengan siapa?” Quinsya terlihat panik dan semakin mendekat ke arah sagara.
“Cucu donatur ayah” ungkap sagara lagi, dia memang tidak bisa mengelak dari Quinsya, gadis itu seperti bisa membuat sagara mengatakan apa saja jika dia sudah bertindak.
“Apa ayah saga menyetujui perjodohan itu?” tanya quinsya takut takut.
Sagara segera mengedikkan bahunya, “entahlah aku tidak tau, orang itu sangat berjasa pada ayahku, aku yakin ayah sangat berat menolak, karena itu aku kabur” jelas sagara.
“terus lo akan selamanya tinggal di sini bro?” azmi ikutan bertanya pada sagara.
Senyum kecil mengembang dari bibir sagara, saat melihat wajah Quinsya yang tampak sedih, tangannya terangkat mengelus puncak kepala Quinsya, “Hanya sampai ujian sekolah sudah selesai, aku ingin fokus dengan UAS tidak ingin di ganggu dengan yang namanya permohonan untuk perjodohan, setelah itu aku akan kembali pulang ke rumah” sagara menjeda ucapannya sambil menatap mata quinsya dengan lekat, “aku tidak akan lari dari masalah, dan tidak akan meninggalkan ayah sendirian terlalu lama, jadi jangan cemas gitu” lanjut sagara dengan nada yang lembut.
“Kenapa gak langsung lo tolak aja bro?” tanya azmi lagi.
“Udah, udah gue tolak, tapi ayah gue berat di hutang budinya dengan orang tua itu, jadi untuk sementara gue ngungsi aja bentar, biar gak dengar pembahasan itu” ujar sagara.
__ADS_1
“Nanti pas muse pulang, kalau ayah muse tetap maksa untuk terima perjodohan itu gimana?” lirih Quinsya.
Sagara menatap Quinsya dan tersenyum kecil melihat gadis itu, ingin rasanya dia memeluk erat quinsya tapi sayang saat ini di depan mereka ada dua kesatria yang selalu siap memenggal kepalanya jika bertindak lebih pada Quinsya.
“Jauhkan pikiranmu dari caca” peringat Aryan. Pria itu akhirnya mengeluarkan suara tapi bukan untuk memberi nasehat tapi memberi peringatan.
“Pikiran apa bang?” tanya azmi kebingungan.
“Anak kecil gak usah tau” ujar Aryan beranjak sari duduknya, “lo ada buku bacaan di sini?” tanya Aryan pada sagara.
“ada di ruang kerja gue ada banyak” ujar sagara.
Tanpa banyak bicara Aryan berjalan menuju ruang kerja sagara, meninggalkan azmi dan quinsya yang sibuk memikirkan ucapan Aryan tadi, sementara sagara hanya mengulum senyumnya.
“Muse~ Nanti pas muse pulang, kalau ayah muse tetap maksa untuk terima perjodohan itu gimana?” kembali Quinsya mengulangi pertanyaannya.
Azmi menghembuskan nafasnya panjang, dia mulai berbaring di sofa panjang sagara dan menatap langit langit apartemen itu, “emang susah kalau saingannya itu hutang budi balas jasa, hal itu bisa membuat orang menjadi teman atau lawan” gumam azmi.
“Tapi yang berhutang bokap, bukan aku, jadi seharusnya yang menikah dia dong, bukan aku, paling nanti kalau pak tua itu masih memaksa bokap buat bayar hutang balas budinya, aku kasih uang atas uang yang dia keluarkan hingga membuat bokap seperti sekarang” ungkap sagara.
Azmi menoleh melihat sagara sekilas, lalu kembali menatap langit langit, “itu bukan uang yang sedikit, pastinya” ujar azmi.
“Makanya gue sibuk kerja tadi malam, sampai subuh, buat ngumpulin uang melunasi hutang balas jasa bokap” jelas sagara.
Suara tawa azmi mulai terdengar, “gue pikir lo sibuk kerja cari duit buat modal nikah sama adik gue, ehhh malah buat bayar hutang” kekeh azmi.
Quinsya langsung mengalihkan wajahnya menatap ke arah balkon, saat ini gadis itu salah tingkah akibat ucapan ceplas ceplos dari azmi, ditambah tatapan sagara yang sejak tadi tidak pernah lepas menatap dirinya.
__ADS_1
“Itu juga gue lakukan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui” ujar sagara, tangan pria itu diam diam menggenggam tangan Quinsya karena saat ini azmi tidak melihat mereka berdua, dan Aryan sedang ada di ruang kerjanya.
Mata azmi menutup dan bibirnya mengembangkan senyuman, “lima detik gue kasih waktu buat lepasin tangan lo dari tangan caca, belum sah, jangan pegang pegang adik gue” peringatan keluar dari mulut azmi, entah dari mana pria itu tau, tentang apa yang dilakukan sagara saat ini.
Quinsya yang kepergok langsung melepaskan tangannya dari tangan sagara, mengumpat dalam hati kenapa dia bisa datang bersama dua kesatria nya, mana ada waktu untuk bermesraan kalau setiap nyentuh aja udah di kasih peringatan.
“Ponsel!” pekik Quinsya berusaha mengalihkan pembicaraan. “Kenapa ponsel muse gak aktif sejak kemarin malam?”
“Baterainya habis, dan aku gak mau ketahuan sedang ada disini, jadi kemungkinan akan beli ponsel baru, pengganti untuk sementara, agar tidak ketahuan lokasi keberadaan ku, tapi…” sagara menjeda ucapannya, menatap azmi dan Quinsya secara bergantian, “kalian tau aku ada disini dari mana? Apa tebakan aja?” lanjut sagara.
Suara tawa azmi kembali terdengar, “tebakan? Hahaha, mana ada orang yang bisa lari dan bersembunyi dari keluarga gue, papi punya program ciptaannya sendiri, program itu bisa mencari keberadaan orang orang yang berusaha bersembunyi dan memalsukan identitas, jadi kalau lo udah menjadi suami adik gue, jangan harap bisa kabur dan bersembunyi menyimpan rahasia dari keluarga gue, bakalan ketahuan” seru azmi.
Sagara sedikit tidak percaya dengan ucapan azmi, karena kehebatan program yang dibicarakan azmi, “apa bisa mencari siapa saja?” tanyanya penasaran.
Azmi kini membuka mata dan melihat kearah sagara, “ada orang yang pengen lo cari?” tebak azmi.
Kepala sagara bergerak keatas dan bawah, “ada, tapi nanti saja kalau bokap sudah meminta bantuan untuk dicari orang itu” ujar sagara.
“Siapa?” tanya Quinsya penasaran.
“Tante riri dan anaknya rehan” jawab sagara.
“Abang bisa kok carikan sekarang” ujar Quinsya.
“Nanti aja, sekarang gue masih belum bisa ketemu sama ayah, sedang tidak mau mendengar upaya pembujukan perjodohan” kekeh sagara.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1