My StuPid Girl

My StuPid Girl
39. Papi Rafa Menjaga Posisi


__ADS_3

“Ya terus oper oper saga! Cepat! Yaaaaa goollll!” teriak azmi riang karena sagara berhasil membuat gol bersama dirinya, saat ini para pria sedang bermain game di kamar Azmi lebih tepatnya bermain playstasion, dan di sana ada azmi, Aryan, sagara, dan Rafa, Rafa? Benar pria 3 anak itu juga ikutan bermain bersama anak anaknya, melihat sagara yang datang ke rumahnya Rafa menantang pria itu bermain game akibat insiden pelukan Quinsya, karena itu sekarang sagara dan azmi bertanding melawan Rafa dan Aryan.


“Aiisss gara gara abang nih” gerutu rafa pada Aryan.


“lah, kok gara gara abang, kan papi juga ikut andil” Aryan berusaha membela dirinya.


“Papi biasanya gak pernah kalah ini bisa kalah, jadi ini gara gara abang gak bisa main” tuduh Rafa.


Azmi tertawa senang melihat papi rafa yang bersungut kesal. “Ya elah pi baru kalah sekali selama ini azmi gak pernah menang lawan papi sekarang bisa menang” seru Azmi senang.


Cessa dan Quinsya geleng geleng kepala melihat perdebatan ke tiga pria itu sementara sagara sendiri diam saja.


“Mi, lusa kan ujian kok papi malah ngajak Muse main game? Kan tujuan dia datang kesini buat belajar mi?” bisik Quinsya pada mami cessa.


Cessa menahan tawanya sambil menutupi mulut agar tidak ketahuan tertawa, dia tau suaminya sedang mengerjai sagara karena kesal sagara mendapatkan pelukan dari putrinya, “entahlah” jawab Cessa.


Kedua ibu dan anak itu duduk di sofa dengan posisi yang sama melipat kedua tangan di dada dan menyilangkan kaki mereka sambil menonton para pria bermain game.


“Ulang lagi mainnya, masih belum dihitung tadi” teriak Rafa tidak terima dengan kekalahannya.


Quinsya mendekatkan bibirnya pada telinga cessa, “mi, kenapa papi marah?” bisik Quinsya dengan suara pelan.


Mami Cessa menatap Quinsya sambil tersenyum manis, “papi hanya ingin menjaga posisi papi” jawab mami cessa ambigu.


Quinsya kembali berbisik pada mami cessa, “apa muse mengincar jadi papi caca?”.


Mami cessa tertawa pelan dengan menutup mulutnya, kepalanya menggeleng pelan, “bukan sayang, bukan posisi yang itu”


“Kalau gitu posisi jadi suami mami?” bisik Quinsya lagi.


Cessa tidak menjawab lagi dia hanya sibuk tertawa, “entahlah” ucapnya di sela tawanya.


...🌱🌱🌱🌱🌱...


Setelah bermain cukup lama dan berakhir seri satu sama permainan akhirnya berhenti, lebih tepatnya dihentikan oleh mami cessa, karena kasian melihat sagara yang terus di tindas suaminya.


Sekarang sagara berada di kamar Quinsya untuk mengajari gadis itu, Quinsya masih tidak mau di ajari oleh kedua abangnya, jadi sagara datang ke rumah mereka pada malam minggu untuk mengajar Quinsya.


“yang ini di kali_” ucapan Sagara terhenti.

__ADS_1


‘Brak’ pintu kamar Quinsya terbuka tiba tiba dan pelakunya adalah papi rafa.


“Papi?!”


“papi Cuma mau tanya, nak sagara nyaman kan nginap di sini?” ujar papi rafa.


“Nyaman om” jawab sagara singkat.


“baiklah” papi rafa kembali keluar kamar dan pintu kamar otomatis tertutup.


“jadi kita ulangi ya, ini di kali_” kembali ucapan Sagara terhenti.


‘Brak’ pintu kamar quinsya di buka lagi oleh papi Rafa.


“Nak saga mau makan mochi? Ini papi beli langsung dari jepang, kemarin papi dan mami baru liburan disana” Papi rafa masuk dengan membawa piring berisi mochi.


“Iya om makasih” ucap sagara tulus sambil memberikan senyum sopan.


“bagus belajar perlu makan juga, jangan lupa makan” ujar rafa, setelah meletakkan makanan di dekat meja belajar mereka, papi rafa baru pergi lagi.


5 menit berlalu sagara masih mengajarkan Quinsya.


‘Brak’ kembali pintu kamar terbuka lagi pelakunya tentu saja papi Rafa, pria itu sedang datang membawa nampan berisi minuman padahal di kamar quinsya ada kulkas kecil berisi beberapa macam minuman di sana bahkan ada jus yang dibuatkan mami cessa.


“MAMI!!!! PAPI GANGGU CACA BELAJAR!” teriak Quinsya yang sudah tidak tahan lagi dengan ulah papi rafa yang terus mengganggunya belajar.


Dalam hitungan detik Mami cessa sudah ada di kamar Quinsya.


“aww aww sayang sakit!” teriak papi Rafa, karena telinganya di jewer oleh mami cessa.


“anak belajar di ganggu terus! Jangan ganggu ganggu caca belajar” omel mami cessa.


Quinsya tertawa lebar melihat papi rafa yang mendapat jeweran dan omelan dari mami cessa. Sementara sagara mengulum senyum karena takut Rafa akan mengamuk padanya.


“Bu-bukan sayang, papi gak ganggu, papi niat baik kasih makanan dan minuman” kilah rafa.


“mami udah letakkan berbagai macam snack di sini dan ada juga minumannya, alasan aja!” omel mami cessa lagi.


“Ta-tapi yang~”

__ADS_1


“Buka aja pintu caca, tapi jangan ganggu ganggu caca belajar” ucap Quinsya pasrah.


Rafa langsung tersenyum lebar, “bagus, itu lebih baik, ayo yang~” Rafa mengajak cessa keluar kamar Quinsya masih dengan tangan cessa yang menempel di telinganya, rasa sakit akibat jeweran cessa sudah menguap bersama rasa senang di hati dengan keputusan Quinsya.


“Hah, papi memang ada ada aja” gerutu Quinsya.


...🌴🌴🌴🌴🌴...


“saga mau tambah?” tanya cessa pada sagara yang sedang menyantap sarapan pagi bersama keluarga Tiandra.


“Ahh enggak tan, ini udah banyak” tolak sagara dengan sopan.


Rafa menatap sagara dengan sinis, “Masakan istri saya tidak enak? Sampai kamu gak mau tambah?” sindir Rafa.


“Bukan om” sagara menatap rafa yang masih memicingkan mata padanya, “mau tante, rasanya saga mau tambah lagi” ucap sagara akhir nya.


Azmi, Aryan dan Quinsya tertawa kecil melihat sagara yang tidak bisa melawan papi rafa.


Bukan tidak mau melawan hanya saja sagara segan dengan kedua orang tua Quinsya.


“Enak kan masakan mami, saga juga harus makan banyak biar bisa tahan ngajarin putri mami” ujar mami cessa.


“emangnya caca kenapa mi?” protes Quinsya.


“caca itu lemot kalau masalah pelajaran, pintarnya untuk hal hal lain yang lebih gak penting” jelas mami cessa.


“contohnya apa mi?” tanya Quinsya lagi penasaran.


“Ngerjain orang kamu paling jagonya” ujar mami cessa dan di angguki semua orang yang ada di sana.


“Lah caca kan anak mami, jelas bibitnya dari mami, kita sebelas dua belas mi” bangga Quinsya, tentu saja gadis itu tidak mau kalah.


“haha- ha – ha” tawa Rafa segera berhenti karena mendapat tatapan sinis dari istrinya, “mami kamu pintar sayang” ucap rafa mencari jalan aman, agar si ular piton masih bisa masuk gua.


“dengar tu apa kata papi” ujar cessa bangga.


“Iya iya, caca sendiri yang lain di sini” ujar Quinsya cemberut.


“ohhh jangan salah putri papi itu istimewa, itu karena malas aja makanya caca gak pintar, kan sekarang caca udah rajin, semua usaha pasti ada hasil yang baik tapi caca harus berusaha dengan giat” ujar rafa.

__ADS_1


“Iya pi” jawab Quinsya.


...🌵🌵🌵🌵🌵...


__ADS_2