My StuPid Girl

My StuPid Girl
19. Kambuh


__ADS_3

“Caca! Adik jelek! Caca nakal!” teriak Azmi begitu memasuki rumah.


“apa sih teriak-teriak manggil caca?” Mami cessa keluar dari arah dapur menuju ruang santai. “loh ada cowok ganteng ternyata, teman abang ya?” sapa mami cessa.


“Sayang jangan godain cowok lain, apa lagi kalau ada suami tampanmu ini” Dari arah belakang mami Cessa tangan Rafa langsung merangkul pinggang cessa dan mencium tengkuk istrinya.


“Papi mami stop! Ini ada teman abang masih aja mesra mesraan!” protes Azmi pada kedua orang tuanya. “maaf bro kebiasaan emang tu orang tua gak ingat umur” Azmi menepuk bahu Sagara dengan pelan.


Sagara sendiri tidak tau harus seperti apa karena dia tidak pernah berinteraksi dengan keluarga apa lagi melihat orang tuanya mesra seperti Cessa dan Rafa.


‘Plak’ Cessa menepuk tangan rafa yang ada di pinggangnya, “tauk nih papi kamu bikin mami kesal aja setiap hari” omel Cessa.


“Yang kok gitu, udah gak cinta lagi sama aku” rengek Rafa.


“Udah udah stop actingnya papi, mana caca? Nih abang udah bawa muse nya kesini” tunjuk Azmi pada Sagara.


Rafa langsung berubah serius menatap sagara, “jadi dia, caca lagi di kamar, kalau dia tidur jangan di ganggu, muse bisa menunggu disini sama papi kan?”.


“Oke abang cari caca dulu, jangan dibuat takut anak orang pi, nanti caca marah sama papi” teriak Azmi dari arah tangga.


“Gak dibuat takut kok Cuma_”


“Cuma apa?! Berani papi buat takut gak dapat jatah selama seminggu” ancam Cessa dengan mata sinisnya menatap rafa, “Nak muse ayo kita duduk dulu, bik! Tolong ambilkan minum buat tamu kita!” perintah Cessa pada asisten rumah tangganya.


Sagara hanya mengikuti cessa dalam diam, dia tidak berniat meralat ucapan cessa tentang panggilannya, dia juga tidak mau banyak bicara, karena memang sudah kebiasaannya.


“Bang Aryan, sini temani tamu caca” Arya baru saja turun, pria itu terlihat sedikit berbeda dari sekolah karena pakaian pria itu terlihat seperti anak culun kutu buku dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.


“Bik ambilin abang jus buah, abang haus” setelah berkata begitu Aryan duduk di sebelah sagara.


“Siapa nama kamu?” tanya Rafa dingin.


“sagara” jawab Sagara singkat.


“umur kamu berapa?” tanya rafa lagi.


“16” jawab sagara lagi singkat.

__ADS_1


Rafa menghela nafas sedikit lebih panjang dari biasanya, “emang biasanya kamu bicara sesingkat itu pada orang?” sindir Rafa.


“kebiasaan itu pi, disekolah dia seperti abang Aryan” suara azmi terdengar dari arah tangga.


“kok mami berasa dejavu ya liat nak sagara” kekeh Mami cessa.


“ya jelas mom, tuh suami sama anak mami yang pertama mirip dengan saga hahhahha” Azmi tertawa keras dengan ucapannya sendiri.


“mana adek bang?” tanya Rafa.


“tidur pi, boleh abang ganggu tidurnya?” kekeh Azmi, biasanya jika Quinsya tidur sangat tidak boleh diganggu hanya boleh di ganggu saat ada masalah penting seperti berangkat sekolah, atau urusan penting lainnya, dan jika di ganggu jika bukan konteks hal mendesak maka Rafa akan marah besar pada siapa yang membangunkan putri kesayangannya.


“Biar aja, nanti bangun sendiri pas kelaparan nanti malam” ucap Rafa.


“kalau gitu nak saga menginap disini aja ya, caca pasti marah kalau dia bangun dan tau kamu pulang begitu aja karena dia tidur” ujar Cessa dengan lembut.


“Maaf tan” tolak Sagara secara halus.


“Biar tante yang ngomong sama orang tua saga, menginap aja di sini, kamu kan teman abang azmi dan abang Aryan, jadi gak apa nginap dulu sehari” bujuk cessa lagi.


“tapi tan_”


Sagara menghela nafas panjang dan tersenyum seadanya, “tidak perlu om, tidaka bakal ada yang tau saga pulang atau tidak” ujar sagara pelan.


Cessa melihat raut sedih dari wajah sagara, dia melihat kearah suaminya, sekarang dia tau kenapa dia selalu merasa seperti merasa dejavu, kondisi sagara yang hidup tanpa kasih sayang mirip dengan suaminya dulu, “ya udah nak saga harus sering-sering main ke sini, biar mami masakin masakan kesukaan kamu, nak saga makanan favoritnya apa?”


“gak ada tan”


“hmm ya udah gak papa, tapi kalau ada kasih tau mami ya” ujar cessa dengan lembut.


Sagara menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum tipis yang tulus, dia memang tidak bisa memuji atau berterima kasih secara berlebihan begitulah sagara, karena hidupnya selama ini selalu kesepian.


...🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


Tepat saat makan malam Quinsya baru turun menuju meja makan, gadis itu turun sambil bernyanyi dan menari. “mami~ caca lapar!” teriak Quinsya dengan suaranya yang sangat kencang.


“nah itu liat anak gadis papi, teriak-teriak kayak di hutan” mami cessa geleng geleng kepala liat tingkah putri bungsunya.

__ADS_1


“Itu anak kamu juga sayang, gak ingat kita buatnya sama sama” goda Rafa sambil mencium punggung tangan istrinya.


“oke sudah stop! Papi dan mami bisa gak sih jangan mesra mesraan di depan anak yang masih belum cukup umur!” protes Azmi kesal.


“sebulan lagi ulang tahun yang ke 16 biar siap siap menuju dewasa” kekeh Papi Rafa.


“Mami! Caca La_” ucapan Quinsya terhenti saat melihat Sagara yang duduk disebelah abangnya dengan pakaian santai. “Pi, mi! caca kambuh lagi sakitnya” gadis itu mulai terisak kecil.


“Lah adek sakit apa?!” panik Rafa melihat putrinya yang terisak.


“Halusinasi pi” Quinsya mulai mendekati Sagara dan mencubit pipi Sagara, “kan pi, berasa nyata halusinasi adek” sambung Quinsya lagi.


Rafa kembali duduk di kursinya sambil geleng geleng kepala.


“Pi~ gak papa ya caca halusinasi kayak gini?” keluh Quinsya.


“hmmm” hanya dehaman yang di dapat Quinsya dari papi Rafa.


Tiba-tiba Quinsya tersenyum devil, tangan yang tadinya berada dipipi sekarang mulai turun menuju dada Sagara.


“EIittsss adek mau apa?!” Azmi dengan cepat menahan tangan Quinsya yang hendak meremas dada sagara.


“Emang abang bisa liat halusinasi caca ya?” tanya Quinsya polos dia masih merasa sagara yang duduk di meja makan adalah halusinasinya. “Akkhhhh sakit bang ar!” pekik Quinsya sambil memegang pipinya yang baru saja dicubit oleh Aryan.


“Sakit kan dek, sekarang coba liat lagi masih ada gak orang yang adek liat” ujar Azmi.


Quinsya kembali melirik sagara, wajah pria itu sudah memerah seperi tomat.


“Bang kok masih ada muse caca di sini?” Tangan gadis itu terangkat memegang keningnya sendiri, “adek gak panas kok, apa adek perlu di bawa ke rumah sakit lagi?” kali ini tangan Quinsya kembali memegang pipi sagara tapi tangan itu kini mencubit pipi sagara dengan keras hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


“Dek!” Azmi kembali menjauhkan tangan Quinsya dari sagara. “ini anak orang benaran! Bukan halusinasi” pekik Azmi.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Bonus pict :


Quinsya menggila 😂😂😂

__ADS_1




__ADS_2