
“mau kemana ni?” tanya darel setelah masuk ke dalam mobil, pada dua remaja perempuan itu.
“Ke mall aja bang pengen beli alat Lukis baru” jawab Quinsya.
“Ya udah kita ke sana, mira mau kemana?” tanya Darel.
“hmmm… mira pengen cari alat masak baru buat di restoran mira, temani ya bang” ujar amira. Remaja 15 tahun itu sebenarnya sudah punya sebuah café kecil yang memang hadia dari kedua orang tuanya, mengikuti jejak mommy Queen, Amira sangat suka memasak dan dia suka melihat orang menikmati makanannya makanya dia meminta café untuk hadiah ulang tahun.
“Di mall banyak, kita ke sana aja, asal kalian berdua janji gak bakal pisah dari abang, kita datangi tempat pilihan kalian satu persatu bukan berpencar” peringatan dri darel sebelum dia menyalakan mobil, dia tidak bisa memilih salah satu dari 2 saudaranya walau tidak ada hubungan darah Darel tetap menyayangi mereka, dan tidak ingin keduanya berada dalam bahaya, karena tadi dia sudah berjanji.
Darel dan Farel sudah mengetahui bahwa mereka bukan anak kandung dari Queen saat orang tua aslinya datang ke rumah keluarga bagaskara dan meminta keduanya untuk mencocokkan sum sum belakang mereka, karena papa kandung Darel dan farel butuh cangkok sum sum tulang belakang untuk kesehatannya.
Awalnya kedua pria itu marah karena selama itu Queen dan King menyembunyikan rahasia mereka, tapi setelah berpikir keduanya sadar Queen dan king tidak mengatakannya karena kedua orang itu tulus menganggap mereka anak, bukan orang asing yang bereka rawat.
Untung saja seluruh saudara darel dan farel tidak ada yang tau kalau saudara mereka bukan saudara kandung, karena sampai sekarang Queen dan king tetap tidak mau mengatakan identitas asli Darel dan farel.
“Janji” jawaban Quinsya dan Amira menyadarkan Darel yang sedang melamun.
Baru juga Darel mau menyalakan mobilnya, pintu sebelah Darel terbuka.
“loh abang farel mau ikut juga?” tanya Quinsya.
“bahaya, kalau Cuma darel yang jaga kalian, meleng bentar bisa hilang anak orang” kekeh Farel.
“emang siapa sih yang nakal” gumam Quinsya.
“itu kamu!” jawab darel, farel dan amira serentak.
Quinsya menunjuk dirinya sendiri, “kok caca? Caca ini anaknya lemah lembut adem ayem loh” bela Quinsya.
“kagak percaya, lemah lembut apanya, si Arthur pernah kena smack down sama lo” ungkap Amira.
“itu kan karena Arthur nakal” balas Quinsya.
“Siapa yang ngilang tiba-tiba saat jalan di mall tahun lalu? Waktu dicariin ternyata sedang melukis di rumah” ungkap Amira lagi.
“itu kan karena caca lagi pengen melukis” bela quinsya lagi.
“Ya setidaknya kasih tau, jadi abang darelgak perlu nyariin lo” ujar Amira.
“iya deh caca salah terus”.
__ADS_1
“udah jangan bertengkar, kita jalan sekarang ya” darel segera menjalankan mobilnya menuju mall.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
“Ca, pegang tangan abang” ujar Farel saat mereka telah memasuki mall.
Quinsya memicing kan matanya, lalu melihat Amira yang sangat santai menggandeng Darel, terlihat seperti pasangan kekasih. “Gak ah caca bukan anak kecil” tolak Quinsya, gadis itu memang sangat sulit di atur sejak dinyatakan sembuh.
Farel geleng-geleng kepala dan segera mempercepat langkahnya mengikuti Quinsya, benar pikirannya Quinsya tidak tidak akan mudah di atur.
Sementara Amira dan Darel mengekori kedua orang itu dengan santai, karena mereka tau tujuan awal adalah tempat jual alat Lukis.
“Abang gak sibuk di kantor?” Amira memulai obrolan pada abang sulungnya.
“Gak juga, kan abang masih kuliah jadi kerjaan tidak sepenuhnya jatuh di tangan abang” ujar Darel, dia menatap Amira dengan tatapan yang sulit di artikan, untung saja amira saat ini tidak melihat bagaimana cara darel menatapnya.
“Abang kenapa sih udah gak mau tinggal di rumah lagi? Mommy kangen loh sama abang” darel dan farel memang sudah tinggal di sebuah apartemen yang mereka beli sendiri, kedua orang itu hanya sesekali tidur di rumah utama karena secara tidak langsung mereka menghindari beberapa orang di sana.
Pandangan Darel beralih melihat Farel yang terus menatap Quinsya dengan lembut, seiring berjalannya waktu kedua pria kembar itu mulai jatuh hati dengan adik mereka, dan mereka tidak mau sampai ketahuan, karena hubungan adik dan kakak tidak akan pernah bisa menyatu.
“Kan abang masih sering tidur di rumah utama, abang kan laki laki perlu tau cara hidup mandiri” elak Darel.
“Bukan karena abang sedang menyembunyikan pacar abang kan?” Amira memicing curiga.
“Hmm, kalau saat ini abang belum boleh punya pacar” kata amira dengan cepat, remaja 15 tahun itu memang lebih overprotective pada abang sulungnya.
“Kenapa? Kok abang gak boleh? Kapan abang bolehnya?” pancing Darel.
Amira memegangi dagunya berpikir sejenak, “sampai mira punya pacar juga” jawab amira.
Kali ini darel yang tidak dapat menahan ekspresi wajahnya, “udah ada pria yang mira suka?” Darel berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.
“belum ada, Mira mau cari yang seperti abang” jawab Amira dengan jujur.
Darel langsung mengulum senyum, “Mira juga belum boleh pacaran sampai sudah usia 20 tahun” ujar darel.
“yahh kok gitu, gak seru dong, teman-teman mira udah banyak yang punya pacar” keluh Amira.
“Pokoknya gak boleh, atau abang cari pacar juga kalau mira gak nurut” tantang Darel.
“iya deh mira janji” ucap Mira.
__ADS_1
...🌿🌿🌿🌿🌿...
Sedang asik memilih Quinsya langsung berbalik dan menatap farel dengan wajah sedih, “bang, caca lupa bawa ponsel dan dompet, jadi gak bisa beli” ujar Quinsya.
“Udah pilih aja, abang yang bayarin hari ini” ujar Farel.
Quinsya menatap farel dengan mata memicing, “abang ada uang?”
‘Tak’ farel menjitak kening Quinsya sedikit kuat hingga membuat gadis itu sedikit meringis.
“akhhh sakit bang!” Quinsya memegangi dahinya sambil bersungut kesal.
“kamu pikir abang keluar dari rumah dan tidak punya uang lagi gitu?” kata Farel.
Dengan polosnya Quinsya menganggukkan kepalanya pelan.
“enak aja, berapa harganya biar abang belikan berapapun itu, paling kalau uang abang kurang abang tinggal telepon papi rafa, bilang kalau anaknya ngerampok abang” kekeh Farel.
“bisa juga abang, caca gak ngerampok loh, Cuma malak aja dikit” Quinsya langsung berbalik dan memilih cat serta canvas yang dia inginkan.
Mata Quinsya berbinas saat melihat seorang pria yang melintas di depannya, pria itu hendak berjalan keluar.
“Muse!” teriak Quinsya, gadis itu hendak berlari mengejar jejak pria yang tadi dia panggil muse.
“Mau kemana kamu ca?” tahan Farel.
“bang lepasin caca, itu ada muse caca bang” kata Quinsya sambil berusaha melepas tangan Farel yang menahannya.
“Ca! jangan pergi seenaknya” ujar Farel.
“Bang lepasin caca mau ngejar dia” pekik Quinsya kesal.
“Gak boleh!” tolak farel.
“Loh ini kenapa?” tanya Darel saat melihat Farel sedang menahan badan Quinsya agar tidak pergi.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
bonus pict
abang darel dan abang farel
__ADS_1