My StuPid Girl

My StuPid Girl
84. Cara Rafa dan Cessa Menasehati


__ADS_3

Quinsya hanya diam saja ketika tangannya ditarik sagara, gadis itu begitu syok mendengar ucapan sagara tadi.


‘Gadisku’ ucapan itu terus terngiang ngiang di kepala Quinsya, selama ini hanya quinsya yang menyatakan kepemilikan pada sagara, seperti mengatakan muse miliknya, Quinsya memang tidak meminta timbal balik tapi memang ada harapan ingin di balas. Dan sepertinya keinginan itu terlaksana, sagara baru saja mengatakan dengan tegas bahwa dia adalah milik sagara.


Suasana hati Quinsya saat ini sangat berbunga bunga, gadis itu bahkan tidak sadar dia sudah ada di parkiran motor dan sedang di pasangkan helm oleh sagara.


“Kita mau kemana?” tanya Quinsya setelah sadar dari lamunannya.


“Pulang, udah malam, nanti om Rafa marah sama kita” jawab sagara.


Quinsya melirik pada jam tangan yang bertengger di tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


“masih banyak barang yang mau caca beli” rengek Quinsya.


Sagara mengcubit gemas hidung Quinsya, “besok aja, bahaya kalau pulangin anak kesayangan om rafa malam malam, bisa gak dapat izin untuk jalan lagi” goda Sagara. Pria itu sudah bisa bercanda dan tersenyum jika di hadapan Quinsya.


Akhirnya kepala Quinsya mengangguk pelan, gadis itu tidak sanggup berkata kata lagi, kata ‘gadisku’ juga masih terngiang ngiang di kepalanya, dan itu semua mampu membuat quinsya yang biasanya seperti cacing kepanasan menjadi gadis penurut.


“Pegangan ca” perintah sagara sebelum menyalahkan motor miliknya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Di depan pintu rumah papi rafa sudah menunggu bersama para satpam.


“Wuiiihhh non caca akhir akhir ini sering jalan ni” ledek satpam yang melihat caca baru turun dari motor.


Quinsya yang di ledeki hanya bisa menyengir malu karena di ledeki.


“Om, maaf pulangnya agak malam” ucap sagara pada papi rafa.


“hmm, udah makan malam kalian berdua” tanya papi rafa masih dengan tampang mengerikannya.


“Pi~ gantengnya ilang loh kalau mukanya gitu terus” ledek Quinsya sambil memeluk papi rafa.

__ADS_1


“Gak akan, papi mau bagaimanapun tetap ganteng tiada duanya” balas papi rafa, “Sana makan malam dulu, kamu juga saga” lanjut papi rafa.


“Makasih om, saga pulang aja, ayah pasti udah nunggu makan malam bersama di rumah” jawab sagara dengan sopan.


“Ya udah hati hati pulangnya” kata papi rafa.


“Muse~ hati hati dijalan!” seru quinsya.


“Iya makasih om” ujar sagara, lalu dia menatap gadis manis yang masih setia memeluk papinya dari samping. “aku pulang dulu ya” pamitnya sebelum kembali memasang helm di kepala.


Quinsya yang di pamitin langsung menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik sang papi, ”ya ampun pi, manis banget muse caca” gumam quinsya setelah sagara benar benar pergi.


“dek, sadar dek, masak suka yang begituan sih” ledek papi rafa. Pria itu memang tidak pernah melarang Quinsya dekat dengan sagara selagi masih dibatas kewajaran. Dia juga gak masalah putrinya sudah mulai menyukai pria, karena perasaan suka itu wajar dan tidak bisa kita tahan kapan waktunya datang.


“Pi~ emang caca gak boleh pacaran ya?” tanya Quinsya masih dalam pelukan sang papi berjalan menuju pintu rumah.


“Gak boleh, kalau punya teman special boleh tapi gak belum boleh pacaran” larang papi rafa.


“Pacarannya gak aneh aneh kok pi~” rengek Quinsya.


“adek pengen itu~” Quinsya menunjukkan bibirnya yang di monyongin seperti meminta ciuman. Dan mendapatkan pukulan pelan pada bibirnya.


“Anak kecil pikirannya udah sampai situ, katanya gak aneh aneh, yang adek minta itu aneh loh, gak boleh adek” larang papi rafa sekali lagi dengan suara sangat lembut, dia tau umur seperti putrinya pasti sudah masuk dimana rasa penasaran akan hubungan pacaran itu sangat menggebu gebu, bukannya dia gak pernah muda, justru karena rafa pernah merasakan muda dia tau bagaimana pergaulan anak muda yang sudah dibiarkan untuk berciuman itu seperti apa.


“Ihhh papi~ papi dan mami aja nikah umur 17 tahun” Rengek Quinsya.


Rafa berjalan dengan Quinsya yang masih memeluk dirinya. Ayah dan anak itu masih berdebat dengan permintaan Quinsya tentang pacaran.


Sampai didalam rumah Rafa mendudukkan putrinya di sofa lalu dia ikut duduk disebelahnya. “Adek, yakin adek masuk surga gak?” tanya papi Rafa.


Quinsya menjawab dengan gelengan kepala pelan.


“Kalau adek gak yakin, masak mau tambah dosa lagi, ciuman itu hanya boleh dilakukan dengan orang yang sudah menikah, pacaran pun belum boleh ciuman, papi tau adek sedang diumur yang penasaran dengan rasa ciuman itu seperti apa, tapi percaya sama papi, pria yang baik itu akan menjaga wanitanya sampai dia sudah menghalalkannya, adek mau dapat pria yang baik kan?” tanya rafa dengan lembut.

__ADS_1


Kembali Quinsya menjawab hanya dengan gerakan kepala yang mengangguk pelan.


Papi rafa memegang kedua pipi Quinsya agar menatap matanya, “dengerin papi, jika sagara adalah jodoh adek, apapun rintangannya adek dan sagara akan tetap bersama, tidak peduli banyak lalat yang mendekat, papi yakin sagara itu adalah pria yang baik, jadi adek harus bersabar menunggu sampai kalian bisa menikah ya” nasehat papi rafa.


“Kalau pelukan gak boleh pi?” tanya quinsya dengan wajah cemberut.


Rafa tersenyum kecil melihat mata Quinsya, putri kecilnya sudah mulai dewasa dan sekarang sedang di masa puber. “sebenarnya gak boleh, tapi kalau semuanya papi larang kamu pasti penasaran dan ingin melakukannya, jadi boleh hanya sebentar saja, dan tidak boleh sampai membiarkan sagara memijat mijat bagian sensitif adek ya” ujar papi rafa.


“Bagian sensitive itu apa pi?” tanya quinsya dengan polosnya.


Rafa pusing mau bagaimana cara menjelaskan pada putri kecilnya yang sedang dalam masa puber.


“Lagi bicara apa ini?” tiba tiba mami cessa muncul dan ikutan duduk disebelah rafa.


“Sayang jelaskan ke adek mana bagian yang tidak boleh di pegang pegang oleh cowok” bisik papi rafa pada mami cessa.


Mami cessa mengulum senyumnya ketika tau apa yang dibicarakan bapak dan anaknya. “sana menyingkir, biar mami yang menjelaskan” dengan cepat rafa tegak dari duduknya dan berpindah posisi dengan cessa.


“Biar mami yang jelaskan ya sayang” ucap rafa dan memberikan cessa ruang untuk berbicara dengan quinsya.


“Caca tadi tanya sama papi apa bagian sensitive perempuan?” tanya mami cessa.


Dengan polosnya quinsya mengangguk, dia memang terlalu disayang dan dilindungi hingga masih terlalu polos dengan hubungan antara pria dan wanita masih sangat tabu buat quinsya.


“Ini, ini, dan ini” mami cessa memegang gunung kembar quinsya lalu perut quinsya dan turun ke bagian diantara paha quinsya. “saat disentuh adek merasa apa?” tanya mami cessa.


“malu mam” jawab quinsya dengan wajah yang sudah memerah.


“Detak jantung adek berdetak luar biasa kan?”


Quinsya mengangguk cepat.


“Itu adalah bagian sensitive pada perempuan, jangan biarkan pria yang bukan suami adek untuk menyentuh bagian itu, kecuali suami adek, adek mengerti?” tanya mami cessa.

__ADS_1


...🎍🎍🎍🎍🎍...


__ADS_2