My StuPid Girl

My StuPid Girl
96. Sindiran Halus


__ADS_3

📲“bagaimana?” suara pria di sebrang sana langsung bertanya pada riri, karena dia tau riri sedang membujuk Aditya untuk mengakui anaknya.


📲“bagaimana apanya! ? Kita dalam masalah sayang!” pekik riri, Rehan hanya menatap mami nya dengan wajah sendu, sejak dulu dia tau bahwa dia bukanlah anak dari Aditya tapi dirinya tidak berani berkata apapun karena takut akan dibuang oleh mami nya.


📲“Dalam masalah bagaimana? Kau masih belum bisa membujuk anak itu?” sindir pria yang menelpon Riri.


📲“Mereka mau minta tes DNA ulang, tapi di saksikan oleh semuanya” umpat riri.


📲“Apa yang susah, dimana rumah sakitnya? Biar aku yang mengurus semuanya” kekeh pria itu.


📲“Tian Hospital” jawab riri.


Tidak ada suara dalam beberapa menit karena pria di telepon sempat terkejut dengan rumah sakit yang menjadi tempat tes.


📲“kenapa kau tidak meminta ganti rumah sakit?!” amuk pria itu.


📲“mas Ezra! Aku sudah berusaha, dia bahkan menyewa pengacara fajri untuk tes DNA lusa, bagaimana ini semuanya akan ketahuan ketika tes DNA itu dilaksanakan!” Riri tidak kalah mengamuk seperti Ezra.


📲“Arrgghhh! Sial ya sudah akan aku cari cara untuk memanipulasi tes itu” umpat Ezra baru mematikan ponselnya.


...🌿🌿🌿🌿🌿...


“Muse!” Quinsya langsung melambaikan tangannya begitu melihat sagara yang baru saja turun dari motornya. “kenapa lama?” memang tadi sagara dan Quinsya berencana datang ke butik milik hana, bersama almeer, azmi, amira dan Vito. Sebenarnya hanya Quinsya karena hana ingin membuatkan baju untuk gadis itu, tapi Amira ingin ikut juga karena penasaran dan ingin pacaran dengan Vito, tapi almeer dan Azmi ikut sebagai bodyguard lebih tepatnya kambing hitam si pengganggu agar Vito dan amira serta sagara dan Quinsya tidak melakukan hal melebihi batas.


“Sorry, yang lain udah pada berangkat?” tanya sagara sambil memasangkan helm pada quinsya.


“hmm udah, abang udah duluan” ujar Quinsya sambil naik ke atas motor besar milik sagara.


“Ya udah pegangan yang kuat” ujar sagara.


.


Lima belas menit Quinsya dan sagara baru sampai di butik milik Hana.


“Selamat datang ada yang bisa kami bantu?” tanya pekerja di butik itu, ketika sagara dan Quinsya baru saja masuk ke dalam butik.


“Hana mana?” tanya Quinsya langsung.

__ADS_1


“Ohh, apa kalian teman Hana? Mari ikut saya” ujar pekerja itu, mereka mulai berjalan menuju ruang kerja hana.


...🌲🌲🌲🌲🌲...


“Ngapain sih kita kesini” gerutu Azmi.


“Kalian berdua boleh pergi, jika tidak mau disini” sindir Hana kesal.


Azmi manatap kesal hana, “bukannya lo suka sama gue! Lo harusnya senang gue ada disini”.


“Suka?! Sudah tidak lagi! Setelah tau sifat cowok yang gue sukai seperti elo!” umpat hana kesal, dia masih sibuk mengukur badan amira, untuk membuatkan baju untuknya.


“hahahha bilang aja lo malu kan” sindir Azmi.


“Malu? Ngapain gue malu, gue udah hilangin perasaan gue sejak lo pura pura punya cewek, dan sekarang benar benar hilang” Hana terus menjawab ucapan azmi tanpa melihat pria itu, entah sejak kapan hubungan dua orang itu berubah menjadi tom and jerry.


Azmi yang kesal dengan ucapan hana langsung mendekati gadis itu dan mengukungnya di dinding, “yakin gak suka lagi sama gue?” tanya azmi tepat didepan wajah hana.


“Ya elah az! Itu aja perlu di permasalahkan, lo kenapa sih!” sindir Almeer.


Azmi akhirnya melepaskan kungkungannya dan kembali duduk di sofa, meninggalkan Hana yang terdiam seperti patung, “liat, lo masih suka sama gue, baru digituin aja udah grogi dan jadi patung” ledek Azmi, dia mulai bermain game bersama almeer dan vito.


“Udah ngaku aja, kalau ngaku gue bakal kasih kesempatan” kekeh azmi, yang masih sibuk dengan gamenya.


“Wahhh! Ada ya orang yang narsis luar biasa seperti lo!” umpat Hana kesal.


“Siapa yang narsis?” Quinsya tiba tiba muncul dan masuk ke dalam ruangan itu.


“Ca, usir aja abang lo, ide ide gue buyar gara gara dia” umpat Hana kesal.


Quinsya mengulum senyumnya melihat abang kembarnya berpura pura main sambil sesekali melirik kearah Hana yang terus mengomel.


“Awass matanya copot” sindir Quinsya sambil menahan tawa.


“lo, ngomong apa ca?” tanya amira heran.


Quinsya cepat cepat menggeleng dan nyengir, “gak ada apa apa Cuma ngomong sendiri” ujar Quinsya. “Han, emang bisa ngukur baju tanpa lepas baju?” tanya Quinsya penasaran.

__ADS_1


Hana melirik para cowok yang duduk di sofa, “sebenarnya lebih bagus pakai baju tipis, tapi karena ada cowok cowok gak jelas, terpaksa gue memperkirakan sendiri” sindir Hana.


“Gue disini sebagai bodyguard adek gue! Jangan peduliin gue” balas Azmi.


“Gue juga, ni orang berdua gak boleh dibiarin hanya berdua saja, bahaya” sambut Almeer.


“Gue gak se jahat itu al, emang pernah gue melebihi batas selain pelukan dan rangkul atau genggam tangan” seru Vito.


“Cium pipi sudah pernah” ujar almeer.


Vito langsung menoleh pada amira meminta penjelasan pada gadis itu.


“Bukan mira yang ngadu, tapi kamu lakuin di depan umum ada cctv lagi” ujar Amira cepat agar vito tidak salah paham dengan dirinya.


“Sekedar pemberitahuan, keluarga gue tidak suka hubungan pacaran, maunya langsung menikah, contohnya ortu Quinsya dan azmi, menikah tanpa pacaran” ujar almeer.


“Benaran?” tanya vito tidak percaya.


“gak liat muka orang tua gue masih tergolong sangat muda? Nyokap hamil umur 18 tahun” ujar azmi santai.


“Kalau gitu gue bisa lamar amira setelah gue lulus dong?” tanya Vito cepat.


“Lo punya apa bang? Mau lamar amira? Kalau belum bisa membiayai amira, jangan berharap bisa menikah dengannya, keluarga gue gak butuh orang kaya, yang butuh pekerja keras dan bisa memberikan makan untuk anak istrinya” ungkap almeer dengan santainya.


Vito sempat terdiam sebentar sambil menatap satu persatu pria dan wanita yang ada di sana, “Gue anak dari pengusaha, dan gue punya saham di perusahaan milik orang tua gue, setelah lulus kuliah, sudah dipastikan gue adalah penerus ayah gue” ujar vito.


“Jangan membanggakan kekayaan keluarga bang, keluarga gue juga kaya raya, gue juga punya saham, yang dibutuhkan keluarga gue bukan seorang anak orang kaya tapi anak yang bisa bekerja dan berusaha untuk menghasilkan uang” sindir Almeer.


“Lo punya usaha?” tanya vito akhirnya.


Almeer dengan cepat mengeluarkan kartu namanya dan memberikan pada Vito, “gue manajer perencana di perusahaan papi rafa, lebih tepatnya gue yang ngatur setiap ada event besar di perusahaan itu” ungkap almeer.


Vito terdiam menatap kartu nama Almeer, kini dia menatap azmi yang masih sibuk bermain game, “Gue wakil direktur di perusahaan bokap, ini adalah game yang gue ciptakan sendiri” Azmi menunjukkan game yang sedang dia mainkan.


“caca pelukis, adik gue punya café milik dia sendiri” ungkap almeer sebelum vito bertanya.


Kini tatapan terakhir jatuh pada sagara yang hanya diam mendengarkan, “kalau dia baru resmi menjadi konsultasi investment di perusahaan bokap gue” azmi menunjuk sagara untuk menjawab tatapan vito.

__ADS_1


“Apa hanya gue yang gak bekerja disini?” tanya vito akhirnya.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2