
Jangan tanya sampai berapa kali mereka melakukannya tadi malam, Sagara tidak memberi ampun pada istrinya, pria itu sepertinya sudah menjadi sosok papi rafa yang ketagihan dengan hubungan suami istri. Buktinya saat ini sagara sudah bangun dan bugar, sementara Quinsya masih tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya.
Sagara hanya diam memperhatikan Wajah tidur istrinya sesekali tangan pria itu merapikan rambut Quinsya yang menutupi wajahnya, agar dia bisa menikmati wajah bangun tidur Quinsya.
Mata lentik istri sagara akhirnya terbuka dan bertatapan langsung dengan mata sagara, saat itu juga Quinsya langsung mengalihkan pandangannya, hal pertama yang membuat Quinsya mengalihkan pandangannya karena malu, malu dia ternyata bisa melakukan hubungan suami istri dengan suaminya, dan malu karena melihat beberapa cakaran pada bahu dan leher sagara akibat ulah dirinya.
“Sayang, jangan malu malu gitu, aku jadi menginginkan lagi” goda sagara.
Mata Quinsya langsung melotot dan dia segera menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya, saat menunduk quinsya baru sadar jika dia tidak mengenakan apapun saat ini, membuat wajah quinsya semakin berubah merah.
“Sayang, kenapa masih sembunyi gitu, kita udah melakukannya beberapa kali semalam” goda sagara lagi. Pria itu terus saja menampilkan senyuman mautnya karena tingkah Quinsya. “apa mau melakukan lagi?” lanjut sagara.
“lagi?!” kepala Quinsya langsung menyembul keluar, yang semalam aja sakitnya belum hilang mau nambah lagi, tapi kata papi rafa kalau menolak suami nanti jadi berdosa, wajah gadis itu mendadak berubah sedikit takut.
Tawa kecil sagara kembali terdengar dalam ruangan itu, “bercanda sayang, pasti masih sakit kan?”
Tanpa sadar Quinsya menganggukkan pelan kepalanya.
“Ayo mandi” ajak sagara, pria itu sudah tegak dari tempat tidurnya dengan sangat santai sagara meraih boxer dan memakainya setelah itu duduk di pinggiran tempat tidur Quinsya.
Mata Quinsya masih melotot melihat tonjolan pada celana boxer sagara ditambah bentuk tubuh sixpack milik suaminya sedikit ternodai dengan adanya bekas cakaran dari Quinsya.
“Mau lagi sampai ngelihatin gitu” goda sagara.
Kepala Quinsya menggeleng dengan cepat takut sagara akan merubah candaannya menjadi benaran, dan berakhir dia tidak bisa bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
“Pria kalau pagi hari memang biasa junior nya bangun, apa lagi kalau melihat istrinya sendiri, udah otomatis bangun sayang” jelas sagara.
Sekarang Quinsya akhirnya mengerti kenapa papi dan mami nya sering telat untuk sarapan apa lagi jika hari libur, mami sering di kunciin papi di dalam kamar.
“Aku siapkan air hangat dulu, baru kamu berendam ya” ujar sagara. Memang sejak tadi yang berbicara adalah sagara, karena Quinsya berubah menjadi boneka kembali setelah malam panas mereka berdua.
.
Setelah berendam selama satu jam Quinsya akhirnya mulai merasakan kembali kakinya, saat masuk kamar mandi dia di gendong oleh sagara, karena kaki Quinsya lemas dan tidak bertenaga, ditambah sakit dan bagian sensitive gadis itu sedikit bengkak.
“Muse~” panggil Quinsya dari dalam kamar mandi, walau sudah bisa berjalan kecil Quinsya masih membutuhkan bantuan suaminya yang tampan untuk keluar dari kamar mandi jika dia tidak ingin terjatuh.
Hanya dalam hitungan detik sagara masuk kembali ke dalam kamar mandi, dengan sangat hati hati pria itu menggendong Quinsya dan mendudukkan gadis itu di tempat tidur, di sana sudah ada pakaian Quinsya lengkap dengan pakaian dalam gadis itu.
Kamar mereka yang berantakan juga sudah terlihat rapi bahkan selimut bernoda merah juga sudah menghilang digantikan selimut baru. Di samping tempat tidur juga sudah ada sarapan lengkap khusus untuk Quinsya karena sagara sudah menyantap sarapannya saat istrinya itu di dalam kamar mandi.
“engg” angguk Quinsya, gadis itu masih tampak malu dan tidak bisa berkata apapun sejak malam pertama mereka.
“Apa istriku masih malu mengeluarkan suara karena tadi malam dia terus berteriak terus muse terus” canda sagara.
‘plak’ Tangan Quinsya memukul pelan dada sagara yang sudah berlapis t-shirt putih. Quinsya juga melotot pada sagara karena membuatnya semakin malu, mengingat tadi malam dia memang tanpa sadar berteriak seperti itu dan ketika mengingatnya lagi quinsya akan menjadi malu.
“bercanda sayang, makan dulu ya, aku akan mandi” setelah berkata begitu Sagara akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
...💐💐💐💐💐...
__ADS_1
Seperti ucapan sagara, pria itu menahan Quinsya di dalam kamar hotel tempat mereka menginap selama beberapa hari ini, anggap saja mereka sedang bulan madu karena tidak bisa bulan madu di luar negri atau tempat liburan lainnya karena keadaan ayah sagara dan persidangan yang belum usai.
Sagara menahan Quinsya bukan untuk mengganggu istrinya itu, dia hanya ingin Quinsya beristirahat karena sudah melayaninya tadi malam.
Untung saja operasi dan jadwal persidangan sedang tidak ada di hari itu, jadi kedua pasangan itu bisa bersantai di kamar hotel saja.
Mereka berdua menonton berbagai film dan drama di dalam kamar hotel itu, layaknya sedang honeymoon berdua.
“Muse bagaimana nasi banak tante riri?” tanya Quinsya tiba tiba.
“Dia di titipkan di panti asuhan tempat om Xelo” jawab sagara.
“Kasian ya, kenapa tidak ayah adit aja yang angkat jadi anak angkat?” tanya Quinsya lagi.
“Anak haram ezra ada banyak sayang, bukan hanya rehan ada beberapa orang, sama seperti opa eddy, lagi pula ayah sedang sakit, anak umur 11 tahun emang bisa ngurusin ayah? Dan merawat ayah? Pastinya aku harus turun tangan mengurus anak itu, bukan aku benci padanya, tapi dia terlalu pasrah tidak mau berusaha dan mengutarakan perasaannya, dia juga dulu selalu berbohong seperti riri, sebaiknya dia tinggal di panti asuhan tempat om xelo, aku yakin dia akan bisa berubah di sana, dia memang adikku, tapi kalau aku memberikan kasihan pada satu orang adik sepupuku, maka adik sepupu yang lain akan tidak terima dan berdatangan mendatangiku” jelas sagara.
Quinsya mengangguk mengerti dia kembali menyandarkan kepalanya pada bahu sagara, “Emang selain Rehan ada lagi yang datang?”
“ada, beberapa dari mereka menuntut om ezra untuk memberikan biaya untuk anak mereka, karena melihat hanya riri dan rehan, selingkuhan om ezra yang diberikan biaya hidup bulanan, mungkin karena hanya riri saja yang mendekati keinginannya sementara yang lain hanya Cuma main main saja, tidak ada yang bermanfaat bagi dirinya” kata sagara.
Quinsya kembali menganggukkan kepala, dia juga kasihan pada anak tante riri yang diceritakan sagara, tapi mendengar ucapan sagara, Quinsya jadi setuju dia hidup di panti asuhan om Xelo, karena di sana adalah panti asuhan yang sering papi rafa berikan donasi, anak anak yang hidup di sana kebanyakan berprestasi dan menjadi lebih baik.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
bonus pict
__ADS_1