
“nyebelin banget sih” gerutu Amira begitu masuk ke dalam mobil milik Darel. Hari ini Darel berjanji mau menemani amira untuk mencari barang-barang untuk cafenya.
“kenapa ngomel-ngomel gitu” tanya darel heran.
“Hari ini Si caca masuk ke sekolah tapi kehadirannya sudah buat heboh sekolah, masak kelakuan caca harus di sangkut pautkan dengan mira, jadi kesal mira sama orang-orang itu” ungkap Amira pada darel.
Darel menghentikan mobilnya sebentar di pinggir jalan, “Kamu tau kenapa mereka membuat kamu jadi kesal seperti ini?”
Amira menggelengkan kepalanya pelan.
“Mereka ingin mengadu domba kalian, agar mira mau memarahi Caca dan membuat caca jadi minder, jadi sekarang gimana menurut mira? Mira kesal sama caca?” kata darel dengan halus.
“Sedikit, habisnya caca kayak anak autis bang! Gak bisa ya bersikap normal seperti orang lain, orang mikirnya dia harusnya masuk sekolah luar biasa bukan sekolah ini” gerutu Amira.
Darel tersenyum dan mengelus kepala Amira, “normal gimana dek? Kamu tau hidup caca sebelum dia bisa melakukan apapun yang dia suka, seberapa sering dia hanya terbaring di rumah sakit, menahan dirinya untuk tidak terlalu bersemangat tidak boleh terlalu sedih bahkan dari makanan hingga jadwal hidupnya di atur, setelah dia sembuh tentu dia balas dendam dengan apa yang tidak bisa dia lakukan saat dulu dia hanya menonton sekarang dia bisa menjadi pemainnya, jangan bertengkar dengan saudara sendiri, tidak baik” nasehat darel.
Amira tertunduk sedih, dia memang sedikit kesal dengan tingkah kekanakan dan memalukan yang dilakukan Quinsya, walau tadi dia tertawa tapi dia merasa kesal juga, tapi setelah mendengar nasehat dari darel, Amira baru sadar Quinsya memang salah dan memalukan, tapi itu semua bentuk dari balas dendam gadis itu, karena dia dulu hanya bisa menjadi penonton.
“Hmmm maaf” lirih Amira.
Darel tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya kembali.
“jangan minta maaf sama abang, berbaikan dengan caca dan jangan memojokkan dia” kata darel dengan lembut.
“iya bang” jawab Amira pasrah.
Darel tertawa kecil, “jadi hal apa yang membuat adik abang ini sampai malu dengan saudara sepupunya?” selidik Darel.
“hmmm caca bersikap seperti seorang idiot, dan menjadi bahan pembicaraan satu sekolah makanya mira sedikit kesal” ungkap amira.
“iya apa sikap idiot yang mira bilang itu?” tanya Darel lagi.
“Dia makan sangat banyak, nyatakan suka sama orang lain di depan umum, tidur dikelas sambil ngorok, hmmm masih banyak lagi mira sampai malas menghitungnya” Amira memaparkan kelakuan Quinsya pada saudaranya itu.
Darek yang mendengar cerita amira malah tertawa keras dia tidak menyangka adik sepupu nya itu mampu melakukan hal yang dianggap orang lain sangat memalukan.
__ADS_1
“Bukankah itu pesonanya Caca, dia mampu menarik perhatian orang lain dan tetap di anggap lucu” kekeh Darel.
Amira menatap darel sebal, “tapi itu memalukan bang!” amira memicing kesal pada darel yang menganggap Quinsya lucu.
“Tapi para seniman itu memang aneh dari dulu kan?”
“Jadi maksud abang caca itu tidak memalukan? Mira gak suka cara caca cari perhatian” gerutu Amira.
“iya iya, jangan menggerutu lagi” Darel berusaha menghentikan pembahasan tentang Quinsya.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
“ca, lagi sibuk?” amira duduk di sebelah Quinsya yang sedang menonton acara tv sambil memakan cemilan buatan mami cessa.
Quinsya menggelengkan kepalanya pelan, “gak, kenapa emang?” tanya Quinsya.
“Gak ada Cuma mau nanya gimana rasanya sekolah tadi?”
“hmmm… menyenangkan soalnya caca bisa ketemu dengan muse” jawab Quinsya dengan senyum cerahnya.
“Lo gak takut muse akan jauhin lo?” tanya Amira.
“iya jauhin liat lo yang seperti tadi, cowok pasti jijik liat cewek yang seperti tadi” sindir Amira secara halus.
Quinsya menoleh menatap amira dan menyunggingkan senyumannya, “inilah gue mir, gue mau Muse tau gue apa adanya, bukan gue yang berubah” kata Quinsya.
“Tapi cinta perlu pengorbanan ca, berubah demi kebaikan itu adalah perjuangan demi mendapatkan cinta”.
“kenapa cinta serumit itu ya? Mungkin karena caca masih 15 tahun jadi caca gak ngerti arti dari cinta” kekeh Quinsya.
“benar itu, jadi diri sendiri aja ca, jangan berubah demi orang lain tapi kalau mau berubah demi diri sendiri, bukan demi orang lain, karena sangat susah berubah demi orang lain, itu bukan lagi cinta tapi perjanjian, jika perjanjian itu hilang maka cinta akan berakhir, di dalam cinta tidak ada yang namanya perjanjian” Darel tiba-tiba muncul dan ikut berbicara dengan dua gadis kecil itu.
Quinsya tersenyum senang mendengar ucapan Darel, “ciee abang tumben kata-katanya bijak” ledek Quinsya.
“Mira kan Cuma kasih nasehat bang, caca kan suka sama sagara, jadi mira kasih nasehat biar bisa dekatin sagara caranya seperti apa” kata Amira.
__ADS_1
“Emang ada yang nolak adik abang yang cantik ini?” canda Darel.
Quinsya tertawa keras, “benar tu bang, caca kan masih 15 tahun jadi gak perlu berubah dulu demi cinta ya, nanti kalau udah kadaluarsa umur caca baru deh berubah demi cinta” kekeh Quinsya.
“Gue Cuma kasih tau ca, nanti menyesal saat orang yang lo suka menjauhi lo” Amira tegak dan meninggalkan Quinsya dan Darel di ruang nonton.
“Caca salah ya bang?” tanya Quinsya pada darel.
Darel mengelus puncak kepala Quinsya, “gak kok, si mira lagi sensi aja dia”.
...🌱🌱🌱🌱🌱...
“ca! caca!” panggil Azmi berkali kali, tapi Quinsya tidak juga terlihat. Pria itu akhirnya memilih berjalan menuju ruang Lukis, disana adiknya sedang tampak serius. “pantas di panggil gak nyahut” gumam Azmi, dia kembali menutup pintu ruang Lukis Quinsya.
Azmi berjalan cepat menuju meja makan.
“mana adek bang?” tanya Cessa.
“lagi melukis mi, kemungkinan gak bisa di ganggu” kata Azmi.
Cessa langsung tegak dan mengambilkan makanan dan minuman buat putri bungsunya. “ini bawakan ke kamar caca, jadi nanti kalau udah keluar, dia bisa langsung makan” Cessa menyodorkan makanan pada Azmi menyuruh pria itu untuk membawa makanan yang sudah dia siapkan di nampan.
“oke bos” azmi segera membawa makanan tadi menuju kamar Quinsya.
“Gimana tadi caca di sekolah bang?” tanya Rafa pada Aryan.
“Ya seperti biasa kalau gak merusuh dan tidur di kelas apa lagi yang caca lakuin” ujar Aryan.
“benar pi, tadi caca tidur di kelas dan suara ngoroknya membuat satu kelas menatapnya” ameer tertawa keras menceritakan apa yang Quinsya lakukan.
“Mi, pi, kok gak di nasehati caca untuk jangan tidur di kelas, itu kan namanya gak menghormati guru, orang-orang jadi menjelekkan caca dan mengatakan caca anak idiot” Amira kembali memprotes aksi Quinsya.
“Ya gak apalah sayang, nanti caca sadar sendiri kalau yang dia lakuin itu salah, mami lebih senang caca tidur di kelasnya dari pada tidur di rumah sakit” jawab Cessa.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
bonus pict