
“Lo suka sama gue” ujar Azmi spontan, dan membuat semuanya menatap azmi dengan mata melotot.
“Wahhhh! Lo pede banget ya!” hana menatap Azmi tidak percaya. “Oke gue akui gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama lo, saat gue liat lo di toko milik keluarga gue, tapi gue bukan orang jahat yang bakal merebut orang yang gue suka dari kekasihnya! Gue gak suka jadi pelakor, lagian apa hubungannya caca sama lo!” gerutu Hana kesal, gadis itu memang selalu berkata ceplas ceplos tanpa filter.
“eheemm ehheemm” Quinsya berpura pura terbatuk, begitu juga yang lain, semuanya mengulum senyum mendengar pernyataan cinta hana. “sejak kapan ya abang gue punya pacar?” sindir Quinsya sambil menahan tawanya.
“A- Abang?! Lo dan caca saudara?!” pekik hana tidak percaya.
“Lebih tepatnya saudara kembar, Aryan, Azmi dan Alquinsya, saudara kembar tiga” jelas Amira.
“ahhh oke, tapi gue jujur gak ada maksud dekati lo melalui caca” Hana mengangkat tangannya bersumpah bahwa yang dia lakukan murni karena Quinsya adalah muse bagi dirinya. “Gue udah nyerah saat tau lo udah punya pacar” ulang Hana.
“Hai sayang! Udah pesan makan?” suara vito membuat Hana menatap tidak percaya, karena saat ini pria itu merangkul bahu Amira dan duduk disebelah gadis itu.
“Udah abang mau?” tawar amira.
“Kalian putus?” ucap Hana spontan sambil menatap azmi dan amira secara bergantian.
Quinsya yang melihat kebingungan Hana, kembali tertawa keras, “ahhh gue ngerti sekarang, han, gue perkenalkan ya, itu abang kembar pertama gue namanya Aryan, yang lo sukai abang kembar kedua gue namanya azmi, dan gue si paling bungsu, kita kembar tiga, lalu” Quinsya tadi menunjuk kedua saudara kembarnya dan menatap almeer, “Itu saudara sepupu gue namanya almeer, dan amira adalah saudara kembar Almeer, jadi bisa dibilang azmi dan amira itu saudara sepupu” jelas Quinsya.
Hana menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan Quinsya, kini wajah gadis itu memerah bak tomat rebus, dari dulu dia memang suka ngomong apa adanya dan sekarang dia sadar telah mengungkapkan berkali kali bahwa dia menyukai Azmi.
“Jadi, dimana kalian berdua bertemu?” goda Quinsya sambil bertopang dagu dan menatap azmi serta hana secara bergantian.
“No comment” jawab azmi lalu pergi begitu saja dari kantin.
“Bang! Kok lari! Ini ada cewek yang suka sama abang loh!” ledek Quinsya sambil tertawa keras.
“Ca! hentikan gue malu!” ucap Hana sambil menutup wajahnya.
“Apa yang lo suka dari abang gue?” tanya Quinsya penasaran.
__ADS_1
“ca~ please jangan dilanjutkan ya, disini banyak orang” pinta hana dengan wajah memelas.
Quinsya semakin tertawa lebar, “Baiklah, tapi nanti saat lo ukur baju gue, bilang ya~” goda Quinsya.
.
“ada apa ini, yang?” bisik Vito.
“Nanti mira ceritakan, abang gak sibuk UAS? Kok ke sini?” tanya amira.
“Kangen sama kamu makanya ke sini bentar, mau isi tenaga” balas Vito.
“Udah bang isi tenaganya? Kalau terlalu lama gue potong tangannya bang” ancam almeer dengan senyum mengancam ke arah Vito.
Vito cepat cepat mengangkat kedua tangannya, “sorry, Cuma peluk aja bentar,sorry adik ipar” kekeh Vito.
Amira geleng geleng kepala liat tingkah almeer dan keluarganya yang lain, dia tidak bisa berpelukan lebih dari lima detik dengan Vito, paling intens hubungan mereka Cuma panggil sayang dan rangkul rangkulan bentar, karena semua keluarganya sangat menjaga amira.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
“ada apa tante ke sini?” tanya sagara.
“Saga! Bantuin tante saga! Tante mohon! Tante sudah tidak sanggup lagi buat menanggung malu ini saga, bantuin tante buat bicara sama ayahmu!” Tante riri mendekati sagara dan memegang tangan pria itu dengan wajah memelas.
Mata sagara menatap pria kecil yang tegak dibelakang riri, ada sedikit kemiripan wajah pria itu dengan wajah dia dan ayahnya, tapi kenapa Aditya tidak mau mengakui itu adalah anaknya.
“Masuklah” ajak sagara, dia sudah tidak bisa menunggu ayahnya untuk bertindak, sagara akan menyelesaikan semuanya, jika dia anak ayahnya sagara akan berusaha menerima itu.
Senyum dibibir riri langsung mengembang begitu mendapat perintah dari sagara untuk segera masuk ke dalam rumah itu.
.
__ADS_1
“Kamu pulang _ kenapa kamu membawa masuk dua orang itu saga?!” pekik Aditya.
“Selesaikan urusan ayah, aku dan dia sekarang, aku sudah tidak peduli ayah mau menikah atau tidak dengan dia” tunjuk sagara pada riri.
“saga! Ayah hanya mencintai bunda mu, ayah tidak akan pernah menghianati dia!” teriak ayah Aditya.
“Kalau gitu selesaikan sekarang yah! Jangan menundanya lagi! Ayah takut? Jika memang benar dia adalah anak ayah?!” tebak sagara.
Aditya terdiam memang itulah yang dia takuti selama ini, Aditya sengaja mengulur waktu karena takut akan kenyataan sebenarnya, dia takut bahwa anak yang di kandung riri adalah anaknya.
“Mas adit, Rehan benar anakmu mas, tolong percaya aku, aku sudah menunjukkan tes DNA Rehan yang menyatakan bahwa dia adalah anakmu, kenapa mas tidak juga percaya?” lirih Riri.
“Duduk tan, kita bicarakan semua ini sambil duduk” ujar sagara, dia juga ikut mengambil duduk jauh dari Aditya dan riri.
“Ayah! Kenapa ayah tidak mau mengakui itu anak ayah, tidak ayah liat ada kemiripan dari wajahnya?” tanya sagara.
Aditya menggeleng cepat, “tidak saga! Itu tidak benar, ayah tidak pernah ingat pernah melakukan dengan wanita ini” ujar Aditya.
Sagara melihat adiknya yang sudah berlinangan air mata, ketakutan mungkin karena Aditya yang menatapnya horror, “Lo jangan hanya bisa menangis! Apa lo memang perlu pengakuan seorang ayah?!” teriak sagara pada Rehan, anak riri yang mengaku sebagai adit tiri sagara.
“Saga! Jangan begini, kasian adikmu saga” riri berusaha melindungi putra satu satunya.
“Hah” sagara menghembuskan nafas berat, menatap dua orang dewasa yang sama sama egois di depannya. “lakukan tes DNA sekali lagi, tapi saga yang menentukan dimana tes itu dilakukan” putus sagara.
“kenapa?! Tante sudah melakukan tes DNA itu, dan sudah menyatakan bahwa rehan adalah putra ayahmu, kenapa harus melakukan itu lagi?!” pekik Riri tidak terima.
“Karena hasil bisa saja hasil tes DNA itu dipalsukan” sindir sagara.
“Tidak mungkin! itu adalah hasil tes di rumah sakit terkenal! Tidak mungkin bisa di palsukan” tolak riri, “atau kamu yang ingin memalsukan hasil tes DNA putra tante?” ujar riri.
Sagara menatap ayahnya yang terdiam, “Ayah! Apa tante riri meminta izin pada ayah saat dia melakukan tes DNA, antara ayah dan dia?” sagara menunjuk rehan dengan tangannya.
__ADS_1
Ayah Aditya menggelengkan kepalanya, sebenarnya pria itu ragu dan takut, jika memang benar itu adalah anaknya, tapi ada juga sebagian dalam dirinya yang mengatakan jika rehan bukan anaknya.
...🌷🌷🌷🌷🌷...