
Hari ujian akhirnya dimulai, kursi dan meja sudah diberi jarak agar siswa siswi tidak bisa mencontek. Azmi dan Aryan sengaja di pisahkan di kelas yang berbeda karena para guru mendengar keduanya selalu mendapatkan nilai yang sama padahal keduanya tidak pernah bekerja sama.
Fani masuk ke dalam kelas dan mencari namanya di meja, memang saat ujian para siswa dan siswi di duduk berdasarkan nama yang sudah dibuat di meja oleh para guru.
“lo udah siap fan?” tanya Dwi yang duduk bersebelahan dengan Fani.
“Tentu udah dong, gue yakin gak ada yang bisa ngalahin gue” ujar fani bangga.
“Gue dengar si anak baru serius belajar mengejar ketinggalannya” sindir Dwi sengaja mengeraskan suara agar Quinsya yang ada dikelas yang sama bisa mendengar ucapan mereka.
“Dia pasti gak bakal bisa ngalahin gue, soalnya gue sejak kecil selalu dapat posisi nomor satu” sindir fani, dia terlalu meremehkan orang-orang yang ada di sekitarnya karena memang tidak pernah turun dari posisi nya.
“Wuuaaahhh fani keren, semoga fani bisa dapat posisi satu lagi” Bukannya marah Quinsya malah memuji Fani dengan tulus, adik Aryan dan Azmi itu sama sekali tidak sadar telah di sindir, entah dia polos atau berpura-pura polos, karena isi otak Quinsya masih di pertanyakan.
Justru Fani yang emosi mendengar ucapan Quinsya, dia belum tau kepintaran kedua saudara Quinsya yang sudah teruji sampai ke luar negri.
“Lo gak bakal bisa ngalahin gue mau belajar segiat apapun ca” ujar Fani.
Quinsya menganggukkan kepalanya, “iya, caca kalau soal pelajaran gak pintar, otak caca lambat nangkap, jadi papi bilang gak apa walau nilai caca pas pasan” ujar Quinsya dengan polosnya.
“Lo mau jadi apa dengan otak seperti itu ca? persaingan itu butuh nilai tinggi butuh otak ca” sindir Fani.
“jadi pelukis, soalnya gak butuh otak, cuma butuh kreasi” jawab Quinsya dengan polosnya.
Fani hendak mengejek lagi, tapi tidak jadi karena teringat harga lukisan Quinsya yang fantastis, dia berpura pura membuka buku tidak mau berdebat lagi dengan Quinsya.
...🎄🎄🎄🎄🎄...
“ponsel baru tin?” tanya Rani pada Tina saat mereka sedang makan di kantin.
“iya” jawab Tina singkat, gadis itu sedang tidak bersemangat, Setelah beberapa bulan baru dibelikan ponsel oleh orang tuanya.
“kok turun tipe ponsel lo? Dulu lebih canggih” ujar Rina.
__ADS_1
“mending gue di belikan lagi, ponsel gue yang kemarin hilang gak tau hilangnya dimana, ortu gue sampai marah besar dan gak bolehkan gue beli ponsel selama berbulan bulan” gerutu tina. Setelah pergi bersama Quinsya terakhir kali, Tina baru sadar ponselnya hilang, dia sibuk mencari kemana aja hingga ke restoran tempat terakhir kali dia ingat memegang ponsel, tapi saat di lihat CCTV ternyata video saat dia ada di restoran sudah hilang entah bagaimana caranya yang pasti pihak restoran juga kebingungan.
Setelah itu Tina bahkan mencari keberbagai tempat dia berjalan hingga putus asa hingga menyerah, dia akhirnya mengatakan pada orang tuanya tentang ponselnya yang hilang, bukannya dibelikan yang baru tina malah kena marah hingga berbulan bulan dia tidak dibelikan uang ponsel, kartu ATM nya juga pada di tahan, begitulah nasipnya, tidak tau saja tina bahwa itu kerjaan Quinsya bersama abangnya Azmi yang handal meng hack cctv.
“Lah lo kan orang kaya, kok beli ponsel aja gak sanggup tin” sindir Rina, entah seperti apa pertemanan mereka, selalu saling menyindir dan pamer harta.
Tina menatap sinis Rna, “gue emang kaya, tapi karena gue gak padai dalam menjaga barang ortu gue gak bolehkan beli ponsel baru” elak Tina.
“Bilang aja ortu lo yang kaya, bukan elo” celetuk Quinsya tanpa takut.
Tina menatap horror pada Quinsya yang asik menyantap bekal yang dia buat sendiri di rumah, bersama beberapa makanan kantin, “kalau ngomong itu ngaca! Lo aja gak bawa uang sepeserpun dan selalu minta sama ortu lo!” bentak Tina.
Quinsya menunjuk Aryan, “bank pertama” lalu quinsya menunjuk Azmi, “bank kedua” dan terakhir Quinsya menunjuk Ameer, “bank ketiga, gue punya banyak bank berjalan kenapa gue harus bawa uang, enak yang gratisan tin” kekeh Quinsya.
Ketiga pria yang ditunjuk Quinsya hanya bisa tertawa sambil geleng geleng kepala, memang benar semua kartu atm dan uang ada di dalam dompet para abang Quinsya, gadis itu memang selalu mengosongkan dompetnya agar bisa di traktir para abang abangnya yang ganteng dan kayanya luar biasa.
“Lo masih minta minta kan” tegas Tina.
Tina mengepalkan tangannya kesal dia tidak dapat mengatakan apapun lagi, Quinsya telah membuat dirinya malu. Pandangan Tina kini tertuju pada sagara yang makan dengan tenang di sebelah Quinsya, pria itu terlihat tidak peduli denga napa yang terjadi, hanya sesekali pria itu menggantikan tugas azmi dan Aryan untuk mengelap mulut Quinsya yang belepotan akibat makanan.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
“FINISH!” teriak Quinsya di akhir hari ujian mereka, bukan hanya Quinsya hampir satu kelas bersorak riang karena ujian kenaikan kelas sudah berakhir.
Quinsya langsung mengambil tasnya dan berlari menuju kelas sagara, karena saat ujian kelas mereka terpisah.
“Muse!” teriak Quinsya sambil bergelayut pada lengan pria itu.
“hati hati jangan lari lari nanti jatuh” ucap Sagara yang terlihat khawatir pada Quinsya, beberapa teman mereka langsung melihat sagara dengan mata melotot, melihat perubahan Sagara.
Memang sekarang ini Sagara mulai banyak perubahan jika bersama dengan Quinsya, sudah setengah tahun mereka bersama dan sagara semakin dekat dengan keluarga Quinsya.
“Hehehhe” Quinsya nyengir sambil menengadahkan kepalanya menatap sagara. “kita jalan jalan yuk, caca stress karena ujian ini” wajah Quinsya berubah sendu.
__ADS_1
Sagara mengulum senyum sambil mengacak puncak kepala Quinsya, “mau kemana?” tanya pria itu.
“Hmmm… taman! Eehhh gak jadi bioskop aja, ehh gak jadi ke dufan aja, hmmm…” quinsya tampak kebingungan mau jalan jalan kemana membuat Sagara gemas dan mencubit pipinya.
“pulang dulu baru kita ke taman, kalau ada waktu baru bioskop, dan ke dufan nya saat kita libur sekolah” ujar Sagara dengan lembut.
Quinsya mengangguk senang dengan keputusan sagara.
“Woii bro, ayo kita pulang” teriak azmi di depan pintu.
Quinsya memicing menatap azmi, “muse aja yang di panggil caca gak dipanggil” gerutu gadis itu, tapi dia tetap jalan sambil bergelayut manja pada lengan sagara.
“Kalian itu paket lengkap, jadi abang gak perlu panggil adek, karena kalau saga jalan adek juga ikut jalan” ujar azmi sambil tertawa keras.
“Iya juga ya” Quinsya mengangguk setuju dengan ucapan azmi.
Sepeninggalan sagara dan Quinsya, para murid di kelas sagara masih diam membisu seperti patung melihat interaksi sagara dan Quinsya.
“mereka udah pacaran?” tanya salah satu siswi.
“Setahu gue saga nolak dia? Kenapa tadi mereka berdua mirip seperti orang pacaran?” celetuk siswi lainnya.
“Fani! DWI!” panggil para siswi di kelas sagara saat melihat Fani melintas di depan pintu kelas mereka.
Dua orang yang dipanggil membalikkan badan dan menatap heran para siswi yang berkumpul dan memanggil nama mereka.
“Apaan sih?”
“sagara dan Quinsya itu udah pacaran ya?” tanya mereka pada dua gadis yang sangat menggilai sagara.
“APAAN! MANA MUNGKIN MEREKA PACARAN!” teriak Fani marah, dia tidak terima mendengar rumor kalau sagara yang dia sukai sudah di miliki oleh quinsya, murid baru yang selalu membuat dia emosi.
...🎋🎋🎋🎋🎋...
__ADS_1