
Quinsya menunggu Sagara di taman dekat komplek perumahan yang biasa dia datangi. Gadis itu duduk di salah satu bangku yang ada di taman. Bibir Quinsya tiba tiba menyunggingkan senyuman karena mengingat bagaimana dirinya dulu yang tidak bisa keluar tanpa kawalan dari saudara atau orang tuanya. Tapi sekarang dia bisa pergi tanpa kawalan karena dirinya yang sudah sehat.
Dari kejauhan sagara melihat Quinsya yang duduk di taman, pria itu diam diam mendekati Quinsya untuk mengejutkan gadis itu.
“Menungguku?” ucap sagara begitu dia berhasil meraih wajah Quinsya untuk di dongakkan ke atas.
Quinsya tersenyum senang, “lama banget” ucap gadis itu. “sini duduk” Quinsya menepuk bangku sebelahnya menyuruh sagara untuk duduk di sana.
Sagara segera berjalan dan duduk di tempat yang Quinsya perintahkan.
“Muse udah makan?” tanya gadis itu penasaran, bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyuman karena bahagia, bisa jalan berdua muse tanpa kawalan dari dua kesatria nya.
“Hmmm…” Sagara sengaja menunda jawabannya menikmati menatap wajah menggemaskan Quinsya entah sejak kapan pria itu suka sekali menatap wajah Quinsya.
“udah atau belum?” kini Quinsya berubah cemberut menanggapi Sagara yang hanya berdeham dan tersenyum.
Sagara mengangguk singkat, “udah kok” jawab pria itu.
“Curang, caca belum makan, temani caca makan ya” pinta gadis itu dengan wajah memelas.
Sagara kembali menganggukkan kepalanya singkat, senyum masih merekah di bibirnya, pria es yang selalu ditakuti itu kini lebih sering tersenyum jika bersama Quinsya, hanya melihat wajah menggemaskan Quinsya dia bisa menyunggingkan senyumannya bukan senyum palsu melainkan senyum tulus dari dasar hatinya.
“Ayo! Mie ayam di dekat sini enak banget, muse pasti bakal suka!” Ajak Quinsya sambil menyeret tangan Sagara.
Pria itu tertawa pelan, percuma dia mengatakan sudah makan atau tidak mau makan, karena ujung ujungnya dia harus makan juga bersama Quinsya jika dia tidak membeli satu mangkok pun, Quinsya akan dengan sigap menyuapinya.
Quinsya melepaskan tangan sagara dan berlari riang menuju tempat tujuannya, sesekali dia menoleh kebelakang dan tersenyum saat melihat sagara yang berjalan pelan mengikutinya.
Dari arah kejauhan seorang pria menatap sedih pada Quinsya yang tertawa dan tersenyum bahagia bersama pria pilihannya.
“HAH! Saudara tidak akan bisa bersama” lirih pria itu lalu kembali masuk ke dalam mobil nya. Pria itu adalah Farel, pria yang menyukai Quinsya sejak gadis itu masih kecil bahkan saat gadis itu masih bayi, saat tangan mungil Quinsya menggenggam tanganya dengan sangat erat dan tersenyum manis pada nya.
__ADS_1
Awalnya dia marah begitu sadar perasaannya adalah cinta bukan sayang sebagai saudara tapi sayang pada seorang wanita, tapi ketika kenyataan siapa dirinya terungkap, farel senang namun juga sedih, senang jika perasaannya tidaklah salah karena mereka tidak ada hubungan darah, tapi sedih karena dia adalah keluarga Quinsya, lebih tepatnya saudara sepupu.
Mana mungkin dia melamar Quinsya sementara dia merupakan anak dari tante Quinsya, namanya sudah tercatat dalam kartu keluarga.
Sebenarnya apa yang salah? Kenapa perasaannya tidak bisa hilang, padahal sudah berkali-kali dia menjauhi gadis itu, tapi perasaannya tidak pernah hilang.
.
“Enak kan?” tanya Quinsya yang baru saja berhasil menyuapi sagara.
Sagara tidak bersuara hanya mengangguk mengiyakan, pria itu heran kemana semua makanan yang dimakan Quinsya hilang, karena gadis itu tidak terlihat gendut, dia saja sampai harus olahraga untuk tetap mempertahankan bobot badan dan bentuk tubuhnya agar tetap stabil dan berbentuk. Semenjak dekat dengan Quinsya pria itu lebih banyak makan, karena berapa kalipun menolak dia akan tetap kalah dengan tangan Quinsya, gadis itu selalu memaksanya untuk ikut makan dengan cara menyuapi sagara, jika sagara menolak dia akan merengek dan memelas mengatakan tangannya sakit.
“Lagi ya” Quinsya kembali menyendokkan makanannya dan mengarahkan ke mulut sagara, kembali dua orang itu makan seperti orang yang sedang berpacaran, tapi sebenarnya hubungan mereka hanya patner, patner yang memastikan sagara tidak kelaparan dan kesepian, patner yang selalu bersedia menemani Quinsya dan membantunya kapan saja.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Amira datang ke rumah Quinsya pada hari minggu bersama teman teman palsunya, mereka awalnya datang ke rumah Amira dan meminta gadis itu menemani mereka ke rumah Quinsya.
“Waalaikum salam” jawab cessa dan rafa bersamaan. “Mami sama papi mau kencan berdua mumpung hari minggu, kalian kesini pasti mau main sama caca, tu caca lagi di empang belakang katanya lagi mau cari ikan buat dibakar” kekeh Cessa, di halaman belakang rumah Rafa memang sengaja membuat kolam kecil buat main Quinsya, dulu gadis itu suka memancing bersama opa harry di vila lama mereka, akhirnya sekarang sengaja rafa buat empang di belakang rumah agar gadis itu tidak pergi mancing kemana mana.
Bukan hanya ada empang kecil tapi ada kolam renang yang mewah di samping rumah, ada juga lapangan basket, tempat baberque bersama keluarga besar dan juga ada lapangan tennis, rumah yang memang di modifikasi seperti keinginan para anak Rafa.
“masih aja romantis mami sama papi, ya udah mira ke empang sama teman teman”
“Ohh itu harus biar tetap awet sampai maut memisahkan kami” kekeh mami cessa.
Saat kedua orang tua Quinsya menghilang tina mendekat untuk berbisik pada Amira, “itu orang tuanya Quinsya?” tanyanya penasaran, saat di pesta tidak terlalu terlihat jelas, sekarang mereka baru bisa melihat jelas orang tua Quinsya yang masih sangat muda dan energik. Tidak seperti orang tua mereka.
“Iya kan kemarin kalian udah liat” ujar Amira.
“Emang awet muda atau masih muda?” tanya Tina lagi diikuti mata penasaran yang lainnya karena tadi mereka sempat terpesona dengan ketampanan papi Rafa.
__ADS_1
“Masih kepala 3, emang muda” jawab amira santai.
“Berarti si caca anak MBA?!” seru Fani tidak percaya.
“Silahkan kalian cari catatan sipil tentang pernikahan orang tuanya, orang tua caca menikah saat masih sekolah dan wajar dong mempunyai anak saat masih muda, jangan nyebarin gossip disekolah tentang orang tuanya, atau kalian yang akan kena tuntut oleh keluarga gue, itu peringatan aja, bukan gue yang bertindak tapi satu keluarga gue yang bertindak untuk membela” nasehat Amira.
“Ru-rumahnya mewah banget ya mir?” ujar dwi takjub.
“Ini baru satu, masih banyak rumah yang lain” ucap amira bangga, dia sengaja menyindir secara tidak langsung pada teman temannya tentang kekayaan saudaranya itu.
“masih jauh mir?” Tanya Rina, karena sejak tadi mereka berjalan melewati lapangan basket masih belum kelihatan.
“dibalik pagar pohon itu” tunjuk Amira.
Empang itu memang berisi banyak ikan, jika sudah pada besar akan di ambil dan dibagikan pada para pembantu yang ada disana.
“Caca!” panggil Amira pada sosok gadis yang sedang berbaring di atas tikar menjadikan paha sagara sebagai bantalnya. Tina cs kembali kesal melihat pemandangan itu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
bonus pict
sagara dan quinsya di taman
__ADS_1