
“Muse~” panggil Quinsya dari dalam kamar mandi.
Sagara yang di panggil segera datang dan berjalan mendekati Quinsya. “Ada apa?” tanya sagara di depan pintu kamar mandi.
“Tutup mata muse, dulu” ujar Quinsya.
“kenapa harus tutup mata?” bukannya mengikuti sagara malah balik bertanya.
“bukakan resleting dress di punggung Quinsya” ujar Quinsya malu malu.
Sagara kembali mengulum senyumnya, padahal tadi mereka berdua sudah berciuman panas, Quinsya masih saja malu dengan dirinya, sudah sah menjadi suami istri tapi Quinsya masih bersikap malu malu.
“Belum puas ciumnya?” tanya sagara.
“ihh! Caca itu minta bukain dress, kok malah ditanya cium sih!” gerutu Quinsya sebal.
“habis kita udah ciuman dengan sangat panas kok masih malu memperlihatkan bentuk tubuh kamu ke suami sendiri yang?” kekeh sagara.
Mengabaikan ucapan sagara, Quinsya segera berbalik dan memperlihatkan punggungnya pada sagara, “bukakan aja! Jangan tanya tanya!” perintah Quinsya.
Dengan sengaja sagara membuka resleting dress Quinsya dengan pelan dan dengan sengaja menyentuh punggung Quinsya membuat gadis itu panas dingin dan kegelian.
“Muse~ udah belum?”
Sebenarnya sudah selesai, tapi sagara sengaja semakin mendekati Quinsya dan mencium bahunya yang terbuka, “Belum, ada yang menyangkut” bisik sagara, membuat Quinsya semakin meremang.
“cepetan caca capek!” desak Quinsya, baru saja dia selesai berbicara dress itu sudah turun sebatas pinggang hingga memperlihatkan dua buah gunung kembar Quinsya. “Kyyaaaa! Muse keluar!” pekik Quinsya dan langsung menutup pintu kamar mandi dengan kuat.
Sementara sagara sendiri sudah tertawa kencang di depan pintu kamar mandi. “aarrggg Quinsya! Aku bisa gila karenamu!” gumam sagara pada dirinya sendiri.
.
Di dalam kamar mandi Quinsya sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan terduduk di lantai kamar mandi, malu dan gugup bercampur menjadi satu, mereka memang sudah menikah, tapi tetap saja Quinsya masih malu memperlihatkan tubuhnya yang tidak berbalut dengan apapun di hadapan sagara.
"muse pasti sudah liat" teriak quinsya tapi tidak mengeluarkan suara.
“Sayang~ maaf aku terlalu menggoda mu, jangan marah ya” suara teriakan sagara terdengar dari balik pintu.
Quinsya masih tidak mau menjawab, dia masih terlalu malu untuk mengeluarkan satu patah kata saja.
.
1 jam kemudian Quinsya baru keluar dari kamar mandi, dia memang sengaja berlama lama berendam di kamar mandi karena menunggu sagara tidur, setelah yakin tidak ada suara diluar sana Quinsya baru keluar dari kamar mandi dan dengan Langkah pelan berjalan mendekati tempat tidur.
__ADS_1
“Muse__” Quinsya langsung menghentikan ucapannya saat menyadari sagara sudah tertidur masih menggunakan kemeja pernikahannya, sementara jas pria itu sudah dilepas dan tidak tau ada dimana. “maaf, aku masih terlalu malu” bisik Quinsya dan memberikan kecupan singkat pada kening sagara.
Quinsya ikutan berbaring disebelah sagara sudah mengenakan pakaian tidurnya. Secara perlahan gadis itu masuk kedalam selimut agar sagara tidak terbangun. Namun sayang saat dia sudah masuk sepenuhnya, sagara langsung memeluk tubuh gadis itu hingga Quinsya memekik kencang karena terkejut.
“Jangan malu padaku, sekarang kita ini suami istri” bisik sagara.
“I-iya” ujar Quinsya pelan.
Keduanya memang tidak melakukan malam pertama mereka, mungkin karena kelelahan karena beberapa detik kemudian kedua orang itu sudah tertidur lelap dengan berpelukan erat.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Mata quinsya yang terpejam perlahan terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Sagara yang sedang tersenyum menatapnya.
“Morning my Queen” sapa sagara sambil mengecup singkat bibir Quinsya.
“hnngggg” Quinsya hanya melenguh pelan dan menutup wajahnya dengan selimut, Quinsya merasakan wajahnya memanas karena senyuman sagara.
“Jangan menutupi nya dariku” sagara kembali membuka selimut yang menutupi wajah quinsya, dan saat ini wajah pria itu berhadapan langsung dengan wajah Quinsya. “aku mau melihat semuanya, saat kamu malu malu, saat kamu grogi, saat marah, senang dan juga sedih, aku ingin melihat semuanya” gumam sagara.
Quinsya menatap sagara yang berada di hadapannya dengan jantung yang sudah berdetak cepat. Gadis itu tidak bisa berkata kata lagi, dia yang biasanya cerewet dan tidak bisa dikalahkan kini mendadak menjadi sebuah boneka.
“Kenapa Quin ku sangat pendiam di pagi hari?” goda sagara.
Sagara terkekeh, tangan pria itu menyibakkan rambut Quinsya yang sedikit menutupi wajahnya, “aku ingin menikmati kesempatan yang diberikan padaku, bukan sedang menggoda mu”.
“tapi jantungku tidak tenang” ujar Quinsya malu.
Sagara mengambil sebelah tangan Quinsya dan meletakkannya di dada pria itu, “aku pun juga begitu, sayang, apa kamu bisa merasakannya? Bagaimana jantung ini berdetak kencang, hanya kamu yang bisa membuatnya seperti ini, sekarang aku baru merasa hidup, setelah kehadiranmu” ucap sagara.
Quinsya tersenyum simpul dan mendekatkan telinganya pada dada sagara, “berdetak sangat kencang” ujar Quinsya.
“hmm, dan kamu juga membangunkan sesuatu yang tidak seharusnya bangun sayang”.
Dengan polosnya Quinsya menatap sagara, “membangunkan apa?”
Sagara memejamkan matanya sebentar lalu membuka lagi, “benda pusaka yang ingin kamu miliki dulu” kata sagara.
Kening Quinsya semakin berkerut karena kebingungan, “benda pusaka? Emang apa itu?”
Sagara ingin rasanya langsung memberi tahu gadis itu, namun melihat wajah polos istrinya sagara hanya bisa menghela nafas panjang, “pergilah mandi duluan, ini sudah jam 7 pagi” perintah sagara.
“tapi masih pengen baring seperti ini” Quinsya semakin mengeratkan pelukannya pada sagara, lalu gadis itu terdiam mendadak. “muse~ kenapa di perut caca ada sesuatu yang keras ya?” tanya Quinsya. Tangan gadis itu hendak menuju kedalam selimut untuk menyentuh benda keras yang dia rasakan itu, namun tertahan oleh sagara.
__ADS_1
“itu benda pusakanya sayang” jawab sagara.
“Benda?” Quinsya meneguk salivanya karena mulai mengerti maksud ucapan sagara. “apa dia bangun?” tanya Quinsya pelan.
Sagara mengangguk pelan dan tersenyum pada Quinsya.
“Apa sakit?” tanya Quinsya dengan suara yang pelan.
Sagara tidak menjawab dengan suara, melainkan menjawab dengan anggukan kepala pelan.
“. . .” gantian Quinsya tidak mengeluarkan pertanyaan lagi, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, karena ini pertama kalinya dia merasakannya walau bukan secara langsung. Melihat pun itu milik azmi dan Aryan saat umur 5 tahun, yang dia sendiri sudah lupa bagaimana bentuknya.
“Mau menyentuhnya?” tanya sagara pelan.
“Ehhh??” ditanya seperti itu Quinsya semakin panik dan kebingungan.
Tanpa menunggu jawaban Quinsya sagara membuka resleting celananya dari dalam selimut, mengambil tangan Quinsya dan meletakkannya pada benda pusaka sagara.
“hangat” ucap Quinsya pelan. Ini pertama kalinya dia menyentuh benda pusaka milik suaminya.
Tangan sagara membantu Quinsya untuk bergerak di bawah sana. “Hnngghhh” lenguh sagara saat Quinsya sudah mulai bergerak sendiri.
“apakah enak?” tanya Quinsya pelan.
Sagara hanya menganggukkan kepalanya, mata pria itu sudah terpejam menikmati sentuhan dari istri sah yang baru kemarin dia halalkan.
Quinsya tersenyum senang melihat wajah sagara yang terlihat pasrah dan keenakan. Semakin memperkuat genggamannya.
“auuu! Sayang kenapa memegangnya seperti itu?” pekik sagara.
“Ha-habisnya caca tidak tau” gumam Quinsya gugup.
“Pelan sayang, kalau seperti itu akan menyakitiku” ujar sagara.
“ihh caca gak tau!” gerutu quinsya yang semakin gugup dan kesal, kesal karena tidak tau harus berbuat apa.
Sagara mengulum senyum dan mengecup singkat kening gadis itu, tangannya sekali lagi mengambil tangan Quinsya dan mengajarkan bagaimana cara menyentuhnya, “pelan seperti ini, jangan di remas” ucap sagara.
Wajah Pria itu sudah kembali merasa kenikmatan saat Quinsya mulai mengikuti arahannya.
...🎄🎄🎄🎄🎄...
bonus pict
__ADS_1