
Sagara yang tadinya asik bermain rambut Quisya kini mulai memberikan ciuman ciuman kecil pada bahu dan wajah quinsya.
“muse~ geli” gumam Quinsya berusaha mengelak dari ciuman sagara.
Sagara mengulum senyumnya, “geli atau malu” godanya.
“Malu” ucap Quinsya jujur, “ini masih pagi”.
Sagara kembali menyunggingkan senyumnya, dia masih sibuk menciumi wajah Quinsya, “emang kenapa kalau masih pagi, gak bisa ya?” goda Sagara sekali lagi.
Quinsya menunduk malu, dia hanya membiarkan Sagara mengangkat dagunya untuk mulai mencium bibir gadis itu dengan sedikit panas. Sagara tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang malu malu selesai dia mencium gadis itu, Pria itu semakin mendekatkan tubuhnya dengan Quinsya dan mendekap erat gadis itu. “aku ingin melakukan itu sejak tadi malam, apakah benar benar tidak bisa?” bisik sagara.
Quinsya memutar matanya dan tersenyum kecil, “bukankah tadi pas bangun tidur sudah?”
Sagara mendengus geli, “Sayang yang tadi pagi itu tidak masuk hitungan”.
“kok gak masuk hitungan? Kan udah itu tu” kata Quinsya dengan wajah polosnya.
Sagara kembali terkekeh geli, dia kembali menghujami wajah Quinsya dengan ciuman kecil, “istri sagara kok polos banget sih, makin gemas jadinya” kekeh sagara.
Quinsya mencubit purut sagara dengan gemas, “muse~ jangan godain caca terus, masih malu dengan yang tadi pagi” ucap Quinsya sambil menyembunyikan wajahnya.
“ng baiklah, kali ini kamu lepas sayang, tapi nanti malam gak bisa lepas” Sagara akhirnya melepaskan pelukannya dari Quinsya, membiarkan gadis kecil itu berlari keluar dari kamar hotel mereka.
...🌵🌵🌵🌵🌵...
Sagara dan Quinsya tampak sibuk membereskan pakaian Aditya, saat ini pria itu sudah masuk ke rumah sakit, memang operasi akan dilakukan beberapa hari lagi, tapi Aditya memang diharuskan masuk ke rumah sakit lebih dulu, untuk melakukan beberapa pengecekan sebelum operasi terjadi.
“Ayah ingin kalian berdua bulan madu, kenapa kalian malah menemani ayah di sini?”
Sagara merangkul Quinsya dan mengelus puncak kepala istrinya itu, “istri saga yang mau yah, saga bisa apa kalau dia yang sudah minta” kata sagara memberikan penjelasan pada Aditya.
“Caca memang gak mau bulan madu dulu?” tanya Aditya untuk memastikan ucapan sagara itu adalah kebenaran.
__ADS_1
Quinsya mengangguk beberapa kali, “iya ayah, caca pengennya honeymoon bareng bareng semuanya” ujar Quinsya dengan polosnya.
Aditya tertawa pelan, “Itu namanya liburan keluarga, bukan honeymoon, kasian anak ayah gak bisa honeymoon bareng istrinya”.
Sagara ikutan tertawa kecil lalu tangannya terangkat untuk mengelus puncak kepala Quinsya dengan lembut. “Bagi saga, dimanapun kami berada, asal bersama Quinsya itu sudah menjadi honeymoon” ucap sagara.
“Ihhh muse sekarang suka banget gombal” gerutu Quinsya dengan wajah cemberutnya, “Yah, apa ayah yang mengajarkan pada muse cara menggombal”
Aditya bukannya menjawab malah tertawa pelan diikuti dengan sagara. Tawa sagara membuat Aditya semakin tersenyum bahagia, dulu dia sangat jarang melihat tawa bahkan senyum dari putranya sendiri.
“Jangan lama lama ganggu ayah Aditya, dia butuh istirahat, ini sudah sangat malam” Papi rafa datang dengan menggunakan jas putih yang biasa dipakai oleh para dokter.
“Wuuaahhh papi pakai jas dokter baru kelihatan profesinya” ledek Quinsya.
“emang selama ini papi gak Nampak ya pintarnya?”
Quinsya tertawa kecil, “Selama ini papi seperti pengacara, pengangguran banyak acara, soalnya ngikutin mami terus kemana mami pergi” kekeh Quinsya.
Rafa hanya bisa geleng geleng kepala liat tingkah putri kecilnya, “udah sana kalian balik, ini sudah malam, gak mau belah duren?” goda papi Rafa.
Sementara sagara sendiri hanya mengulum senyum dia tau Quinsya terus saja mengelak untuk diajak malam pertama, jadi sagara tidak mau memaksa gadis kecil itu, sudah cukup dia mendapatkan Quinsya disisi nya.
“Dek, ingat loh, setelah adek menikah surga adek di telapak kaki suami, kalau adek terus tolak suami adek, dosanya makin tambah banyak loh” canda Rafa, pria itu tertawa melihat wajah putrinya yang langsung berubah cemas.
“Gak apa sayang, kalau suaminya gak marah dan terima kamu gak dosa” ujar Sagara sambil mengelus pipi Quinsya dengan lembut.
“Yeeei kamu saga, udah papi bantuin juga, malah dibenerin omongan papi”.
Sagara hanya tertawa pelan dan masih mengelus elus pipi Quinsya.
“Pi, sakit gak malam pertama itu?” tanya Quinsya tiba tiba.
Mendengar pertanyaan Quinsya Rafa dan Aditya tertawa keras, dua orang pria dewasa dan sudah punya istri itu sudah tau gimana rasanya malam pertama, tapi mereka tidak tau bagaimana kalau di posisi cewek, Kalau rafa dulu yang gak pernah belajar tentang bagaimana malam pertama dia gagal membuat cessa merasa enak, jadinya malam pertama mereka gagal, kalau Aditya sudah coblos duluan sebelum menikah, kedua duanya sama sama merasa enak, jadi Aditya tidak tau harus bilang apa.
__ADS_1
“Kenapa gak tanya mami aja?” tawar Rafa.
Quinsya malah cemberut menatap rafa, “udah, kata mami harus ngerasain sendiri, terus caca baca baca di internet katanya sakit saat malam pertama itu” ujar Quinsya dengan polosnya.
Rafa memperhatikan sagara yang terus diam dan tersenyum menatap Quinsya, “Seperti nya gak sakit, papi yakin saga itu berpengalaman, benarkan saga?”
Mata cantik Quinsya melotot menatap Sagara, “Muse udah pernah malam pertama?!” pekik Quinsya diikuti tangisnya.
Dengan panik sagara memeluk Quinsya dan mengelus elus punggungnya, “enggak sayang, aku belum pernah melakukan itu dengan siapapun” ujar Sagara dengan panik.
Rafa dan Aditya masih tertawa melihat bagaimana Sagara mendiamkan istri kecilnya yang sangat polos, bisa bisanya gadis itu bertanya tentang hubungan badan di depan orang tua tanpa malu lagi.
“Tapi muse pandai ciuman! Hiks hiks, caca sampai gak bisa nafas waktu muse cium” teriak Quinsya masih terisak.
Muka sagara mendadak pucat, bagaimana bisa Quinsya mengatakan hal itu di depan orang tuanya, mana rafa dan Aditya kompak menertawakan dirinya malah menjadikan dia dan Quinsya sebagai tontonan.
“Muse juga ajarkan caca cara remas jamur__” mulut Quinsya langsung sagara bekap dengan tangannya.
“nanti ya sayang kita bicara dikamar, jangan di sini” ujar sagara yang sudah panik.
Rafa dan Aditya masih tertawa keras, memperhatikan pasangan suami istri yang baru menikah 1 hari itu.
“Jamur apa ca?” tanya rafa di sela tawanya.
“Jamur milik muse pi, besar dan hangat” jelas Quinsya dengan polosnya.
Sagara hanya bisa menampilkan wajah tanpa ekspresi, istrinya terlalu polos dan sedikit bodoh, dia tidak bisa memarahi kepolosannya.
“Sayangnya papi, kalau didepan orang lain jangan bicara seperti ini ya” ujar rafa yang sudah bisa mengontrol tawa nya.
“Kan kita keluarga pi, jadi gak apa dong?” ujar Quinsya polos.
Rafa mengulum senyum dan menatap sagara, “Ajari istrimu secara perlahan saga, dia terlalu polos dan lugu, jadi maafkan dia ya” kekeh papi rafa.
__ADS_1
Sagara hanya bisa menganggukkan kepala dan pasrah dengan kelakuan istrinya.
...☘️☘️☘️☘️☘️...