
“Bisa tolong jelaskan apa yang sedang lo lakuin ke gue?” tanya si pria dengan senyum sinisnya. Bibir pria itu tersenyum tapi bukan senyum tulus melainkan senyum devil.
“hahahha maaf hahahha” Quinsya bukannya menunduk sedih dan merasa beralah dia malah tertawa melihat kekacauan yang dia buat. “Habis muse di panggil panggil gak berhenti berhenti jadi caca harus mempercepat lari caca, dan karena berlari dengan makanan yang belum sepenuhnya caca cerna jadi keluar deh” kekeh Quinsya sambil menggaruk tengkuknya.
“Lo muntah di sepatu dan baju gue cuma karena gue gak berhenti?” tanya si pria.
“Iya” jawab Quinsya dengan polosnya, mata gadis itu sudah berbinar-binar menatap Si pria tampan.
“MUSE?!”
“Iya, Muse larinya cepat banget” sekali lagi Quinsya menjawab dengan polos.
“MUSE!? Gue sagara bukan Muse ata musa atau apalah itu, nama gue sagara” tekan Saga.
“Ohhh oke saga maaf ya, ayo kita cuci baju muse dulu” dengan santainya Quinsya menarik tangan Sagara menuju salah satu wastafel yang ada di dekat sana.
Saga terdiam entah kenapa kakinya mengikuti Quinsya kemana gadis itu membawa dirinya pergi.
‘Byur’
“Hahh!” Saga tersadar dari lamunannya saat air menghantam badannya yang terkena muntahan, sekarang bukan hanya Sebagian bajunya seluruh baju Saga sudah basah dengan air.
“Bersih” Quinsya memuji dirinya sendiri atas hasil membersihkan saga.
“Lo sakit jiwa ya?” akhirnya Saga murka juga, seorang cewek cukup cantik tidak sangat cantik malah, sedang memanggilnya dengan nama ‘muse’ bukan hanya itu gadis itu muntah dan menyiram saga dengan air.
Quinsya menggelengkan kepalanya cepat. “Caca gak sakit jiwa, normal kok” jawab Quinsya dengan penuh percaya diri.
Saga memijat keningnya entah apa yang terjadi tiba-tiba datang wanita gila seperti Quinsya. “bisa gue pergi caca?” tanya Saga sambil menahan amarahnya, dia tidak mau menjadi bahan tontonan jika dia mengamuk.
“gak boleh, ikut caca pulang dulu” Quinsya menggenggam tangan Sagara dengan kuat, mata gadis itu sudah berbinar-binar begitu tangan mereka menyatu.
Saga sempat terdiam saat Quinsya mengaitkan tangan mereka, tapi beberapa detik kemudian dia sadar dan berusaha melepaskan tangan Quinsya dengan sopan, Saga sendiri heran kenapa dia tidak bisa bersikap terlalu kasar pada wanita cantik itu.
__ADS_1
“Caca!” Teriakan seorang pria membuat Sagara dan Quinsya sama sama menoleh ke arah suara. “caca ngapain dek, astagfirullah lo kenapa bro?” pekik Azmi saat melihat keadaan Sagara yang basah dari badan hingga sepatu, bahkan bentuk badan sixpack pria itu terlihat karena bajunya yang basah.
“Lo kenal ni cewek alien? Tolong lepasin dari gue” Saga menunjuk Quinsya dengan sebelah tangannya yang memegang plastic makanan.
Tanpa bersuara Aryan melepaskan paksa tangan Quinsya dari tangan Sagara, hingga mendapat protes dari Quinsya.
“abang! Udah susah susah caca dapatkannya, nanti Muse caca lari bang” teriak Quinsya pada Aryan.
Tanpa bicara Aryan menggendong Quinsya bak karung beras, tidak peduli adiknya meronta-ronta, dia menunduk pada sagara seolah sedang meminta maaf.
“hehehe sorry ya bro, adik gue seorang seniman, jadi otaknya sedikit unik, lo mau ke rumah gue dulu buat mandi dan ganti baju?” Azmi menggantikan tugas Aryan yang sudah berjalan pergi.
“Gak apa, apa dia sering seperti itu? Kenapa gak di ikat aja?” Ucap sagara dengan datar.
“hahahha, lo ada ada aja bro, adik gue itu masih normal, hanya sedikit nyentrik aja, sorry banget ni, ahh ini” Azmi mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar dan meletakkan di tangan sagara, “untuk biaya laundry”.
Sagara menggelengkan kepalanya serta meletakkan kembali uang yang diberikan ke tangan Azmi, “Gak apa bro, jaga adiknya aja biar gak lepas lagi” Saga menganggap cewek alien tadi gila atau sedikit idiot. Pria itu bahkan menganggap detak jantungnya yang bergemuruh saat tangan Quinsya menggenggam tangannya adalah karena takut akan orang gila.
Sekali lagi Azmi tertawa, dia menganggap apa yang dikatakan Sagara adalah lelucon buat dirinya. “hehehe canda lo bisa aja bro, ya udah gue pergi dulu ya” ujar Azmi.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
“Abang itu muse Caca, lepasin bang nanti hilang lagi” teriak Quinsya yang berontak di dalam gendongan Aryan, kedua orang itu sama sama tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihat keduanya seperti seorang penculik dan korban penculikan.
“. . .” seperti biasa Aryan selalu irit bicara, pria itu tau jika di ladeni maka Quinsya akan lebih mengamuk, jadi lebih baik diam seperti pepatah diam itu emas.
“abang!” teriak Quinsya sekali lagi sambil memukul mukul punggung kekar Aryan.
“. . .” masih tidak ada jawaban dari Aryan, pria itu masih diam dan mengabaikan setiap pemberontakan Quinsya mau remaja itu memukul atau bergerak gerak Aryan masih dengan kekuatannya mengangkat Quinsya bak karung.
“Abang perut caca sakit” kali ini Quinsya berbicara dengan pelan.
Mendengar pernyataan Quinsya yang terakhir baru Aryan menurunkan Quinsya dari gendongannya.
__ADS_1
Tapi baru satu detik kaki Quinsya menginjak tanah, gadis itu sudah berlari kencang meninggalkan Aryan, yang tidak sempat untuk menangkap Quinsya alhasil Aryan harus berlari mengejar Quinsya.
Dari kejauhan Azmi yang sudah selesai berbicara dengan Sagara melihat Quinsya yang berlari menuju dirinya, dengan cepat pria itu mengambil posisi untuk menangkap Quinsya.
“Hop! Mau kemana?!” Azmi dengan mudah kembali menangkap Quinsya yang berlari kearahnya.
“abang sakit sakit” rintih Quinsya dengan wajah yang sudah memelas.
Azmi menggelengkan kepalanya “gak percaya, caca terlalu banyak cara liciknya” ujar Azmi. Sekarang pria itu menggendong paksa Quinsya ala bridal style.
‘Tak’ Aryan baru memberikan jentikan pada kening Quinsya begitu pria itu sampai dihadapan Azmi.
“Ihh sakit! Caca itu sedang mengejar Muse caca, itu adalah inspirasi bagi setiap pelukis abang” gerutu Quinsya.
“Kalau di dekatin begitu, dianya akan kabur dari caca, kita dekati pelan-pelan, dia ada disekitar sini berarti rumahnya berada di sekitar kompleks ini, kitab isa pelan-pelan mencari informasi dan biodata tentang pria itu” ujar Azmi sambil tersenyum licik.
Arya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat adik kembarnya merencanakan niat jahat untuk pria yang sebentar lagi akan menjadi bahan percobaan untuk Quinsya.
Senyul devil Azmi menular pada Quinsya, “Abang harus bantuin caca ya” kata Quinsya semangat 45.
“Rebes, abang siap laksanakan perintah Queen” jawab Azmi.
“hah” Aryan hanya bisa kembali menarik nafas panjang,berharap semoga pria itu tidak melaporkan kedua adiknya sebagai penguntit di kemudian hari.
“kalo gitu caca turun, kali ini caca gak ngejar Muse lagi” janji Quinsya.
Azmi mengabulkan ucapan adiknya itu, dia segera menurunkan gadis itu dari gendongannya.
...💐💐💐💐💐...
bonus pict
si polos Quinsya
__ADS_1