
Setelah di ancam dan paksa akhirnya Tina mengakui semua kesalahannya pada sang papa, memang terjadi perdebatan yang cukup alot.
Tina yang sama sekali tidak mengetahui bagaimana kekayaan dan kuasa orang tua Quinsya, sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat hal itu pada Quinsya, dia bahkan meremehkan orang tua Quinsya yang menarik modalnya dari rumah sakit milik papa nya. Gadis itu masih tidak tau apapun tentang uang dan kekayaan, dia hanya menganggap dirinyalah yang paling kaya di sekolah.
Hidup dipenuhi kemewahan Tina gelap mata dan menganggap semua hal itu mudah, padahal kekayaannya masih jauh dari keluarga Quinsya. Setelah diberitahu tentang bagaimana dampak yang terjadi pada perusahaan papa nya, Tina akhirnya bersedia pergi ke rumah sakit bersama papa nya, memohon ampun pada quinsya.
.
Tidak hanya Tina, fani, Dwi dan Rani, juga datang ke rumah sakit dalam waktu yang bersamaan, ke empat gadis itu sekarang sedang berhadapan dengan Quinsya yang berada di tempat tidur, sedang memakan buah yang disuapi oleh sagara.
Senyum meremehkan keluar dari bibir Quinsya.
“Ada apa? Kalian mengakui kesalahan kalian padaku?” ledek Quinsya, gadis itu memang tersenyum sinis pada Tina CS, terlihat seperti tokoh jahat padahal dirinya yang menjadi korban dari Tina CS.
“Tuan Rafa, saya mohon maafkan putri saya, dia terlalu saya manjakan hingga menjadi seperti sekarang, saya mohon tolong batalkan semua keputusan anda tuan, nasip para pekerja bergantung pada saya tuan” lirih papa Tina.
Tina menatap kesal papanya yang memohon pada orang tua Quinsya, papa nya terlihat sangat kecil di mata orang orang.
“Om! Anaknya aja masih gak terlihat menyesal tuh!” celetuk Quinsya, gadis itu menjulurkan lidahnya pada Tina dan tertawa mengejek.
“TINA! CEPAT MINTA MAAF!” perintah papa tina.
“Gak mau! Gak ada bukti kalau Tina melakukannya! Kenapa tina harus minta maaf!” elak Tina, bagaimana bisa dia meminta maaf pada Quinsya di depan sagara.
“TINA!” bentak papa tina sekali lagi.
“Kamu juga Rina minta maaf!” papa Rina ikutan menyuruh putrinya meminta maaf pada Quinsya.
Rina menundukkan kepalanya sambil terisak, dimarahi dan mendapatkan tamparan dari orang tuanya membuat gadis itu menangis, harga dirinya jatuh bersamaan dengan dirinya yang memohon ampun pada Quinsya.
“Ca… maafin gue, gue bersalah, gue gak tau kalau lo bakal masuk rumah sakit, gue minta maaf ca” lirih Rina.
__ADS_1
“Ogah! Gak mau!” jawab Quinsya dengan santainya, gadis itu kembali membaringkan badannya di tempat tidur.
Para orang tua pelaku terlihat terkejut mendengar jawaban Quinsya, mereka pikir anak seperti Quinsya akan mudah memaafkan karena mereka sudah memarahi dan memukuli anak mereka, mereka pikir Quinsya bisa memberikan belas kasihan.
Rina menatap papa nya dengan mata berkaca kaca, meminta pertolongan.
“Tuan Rafa, putri saya sudah meminta maaf, apa yang harus saya lakukan agar putri saya mendapatkan maaf dari putri anda tuan?” tanya papa Rina.
Rafa mengedikkan bahunya acuh, “tanya sana pada putriku, semua keputusan ada di tangan putriku, termasuk perusahaan kalian akan kembali jalan semua ada ditangannya” ujar rafa.
“Ca, gue gak ada salah apapun, tapi kenapa papi lo ikut buat keluarga gue menderita” seru Tina dan Fani, mereka berdua memang tidak ada dalam bukti yang ditemukan oleh Azmi, makanya keduanya merasa keluarga Quinsya salah sasaran.
“Anggap aja gue benci dengan kalian berdua, kasian kan kalau Cuma dua orang yang kena, kalian sebagai teman sepenanggungan juga ikut kena tumbal berkat persahabatan kalian yang erat, baik kan gue bagi bagi hukumannya biar adil” jawab Quinsya sambil bertopang dagu menatap ke empat wanita itu.
“Lo tega menghancurkan keluarga gue, Cuma karena itu?! Dimana sisi kemanusiaan lo?!” pekik Tina tidak percaya, dia masih dengan keteguhan yang mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah.
“Gue bukan manusia, gue ini peri, iya kan mami~” ujar Quinsya dengan manja pada mami cessa.
“Iya, kamu peri kecil mami” sahut Cessa.
“Saga ! lo liat wanita ini! dia tega menghancurkan keluarga gue Cuma karena benci deng_”
“TINA! Hentikan semua ucapanmu! Akui semua kesalahanmu!” potong papa tina, dia tau putrinya pasti ikut campur dalam kejadian itu.
“Percuma pa! dia hanya tidak menyukaiku! Jadi mau minta maaf pun, dia tidak akan memaafkanku! Liat sendirikan bagaimana Rina meminta maaf dan menangis tapi, tidak dia maafkan! Dia gadis yang sangat jahat pa!” umpat Tina.
Keluarga Quinsya masih diam mendengar pertengkaran itu, mereka masih menunggu Quinsya meminta bantuan pada mereka, walau sebenarnya mereka sudah sangat geram dengan kelakuan ke empat gadis yang mengerjai Quinsya.
“Minta maaf tu yang tulus, percuma minta maaf, ujung ujungnya melakukan lagi!” celetuk amira yang tidak tahan dengan kelakuan mantan temannya.
“mana mungkin mereka bisa minta maaf dengan tulus, pasti mereka akan melakukan lagi” sahut Azmi.
__ADS_1
“Gak! Nak Quinsya, om janji putri om gak bakal mengganggu Quinsya lagi, jadi om mohon ampuni putri oom ya” pinta papa Fani.
“iya Quinsya, om juga akan jaga kelakuan anak oom” sahut ayah Dwi.
“Quinsya om janji akan menarik semua fasilitas putri oom, dia pasti tidak akan melakukan hal yang seperti itu lagi” ujar papa tina, papa Rani juga ikutan momohon maaf pada Quinsya atas nama putrinya.
“Kalau ngelakuin lagi gimana om? Sudah 2 kali loh mereka melakukan hal yang sama, kata orang kesempatan itu hanya sampai 2 kali kan” ucap quinsya dengan acuh.
“benar kata putri saya, saya sudah memberi peringatan, tapi putri kalian tidak ada yang mendengarkan, saya memang low profile, tidak banyak yang tau bagaimana satu ucapan dan tindakan saya akan berpengaruh pada perusahaan itu, jadi sepertinya putri kalian tidak mengetahui bagaimana kuasa saya bisa menghancurkan keluarganya” ujar papi rafa.
“Tuan, saya mohon tolong batalkan keputusan anda, nasib ribuan pekerja ada ditangan saya tuan” ucap papa Tina memohon ampun.
“Caca punya usul om!” seru Quinsya, gadis itu sebenarnya kasihan bukan kasihan pada keluarga empat gadis itu melainkan kasihan pada para pekerja yang harus berhenti bekerja jika keluarga itu bangkrut. “pindahkan mereka semua dari sekolah caca, baru caca maafkan mereka” sambung Quinsya.
“Baik! Om akan mengirim putri oom untuk sekolah di luar kota! Tuan Rafa saya mohon tolong batalkan keputusan tuan” ujar papa Tina.
Rafa menatap putrinya, “adek yakin itu hukuman mereka?”
Quinsya mengangguk dan menarik lengan sagara untuk bersandar pada bahu pria itu, “Mereka jadi tidak bisa dekat dekat muse punya caca”.
Papi rafa geleng geleng kepala liat tingkah putrinya. “Saga! Menjauh dari putri papi!” peringat rafa.
Sagara mengangkat kedua tangannya keatas, “bukan saya om” ucap sagara sambil tersenyum.
“Ihh papi, gak bisa aja liat putrinya senang” dengan enggan Quinsya melepas lengan sagara dan kembali berbaring.
Mengabaikan ucapan putrinya, rafa berbicara serius pada keempat pria paruh baya yang memohon padanya berkali kali, “saya akan membatalkan keputusan saya, tapi dengan syarat putri anda harus menjauh dari putri saya, dan ini adalah kesempatan terakhir yang saya berikan, silahkan lakukan apapun untuk memperingatkan putri kalian, kalian tau seberapa besar kuasa saya” ancam Rafa di akhir kalimatnya.
“Baik, tuan, terima kasih” ucap serempak keempatnya.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1