My StuPid Girl

My StuPid Girl
24. Teman Palsu


__ADS_3

Saat bell pulang sekolah berbunyi saat itu juga nasi goreng di piring Quinsya habis.


“Euuugghhh” sendawa Quinsya terdengar keras gadis itu langsung menutup mulutnya dan tertawa kecil pada sagara, pria itu saat ini sedang mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis alien di sebelahnya.


“Udah kenyang?”


“Hehehe udah, sekarang mau ngelanjut melukis” kata Quinsya sambil tertawa lebar.


‘Tak’ sagara menjentik kening Quinsya tidak kuat, “udah habis waktunya gue mau Latihan basket lagi” ucap Sagara.


“aduhh, muse lama lama mirip abang ar, suka jentik jentik kening caca” gerutu Quinsya dengan wajah cemberut.


“iya, sekarang gue tau gimana susahnya jadi Aryan” keluh Sagara.


“Hmm?” Quinsya memandang Sagara dengan wajah kebingungan.


“Udah sana balik ke ruang kesenian, lo gak bakal ngerti” ujar Sagara.


“Hmmm? Maksudnya apa dulu, kasih tau caca” tanya Quinsya bersikeras.


“Susah jadi Aryan harus jagain adik seperti lo” jelas Sagara.


“ohhh jelas, caca kan cantik abang jadi kesusahan mengusir orang-orang yang mau mendekati caca” ujar Quinsya bangga.


Sagara menganggukkan kepala sambil tertawa lepas, “PD banget ya neng” ledek Sagara.


Quinsya memicing kesal pada sagara, “emang caca Cantik” Gadis itu mendekatkan wajahnya pada sagara secara tiba-tiba, “Coba perhatikan lebih dekat, caca cantikkan?” sambung Quinsya.


‘Deg deg deg’ lagi lagi detak jantung sagara tidak dapat diatur saat jarak mereka sangat dekat.


“Hmm cantik, gue ke kelas duluan!” Sagara memundurkan tubuh Quinsya dengan pelan dan langsung berlari pergi menjauh dari Quinsya.


“IIHhhh Muse! Tungguin caca!” teriak caca yang juga ikutan mengejar Sagara yang berlari.


...🎍🎍🎍🎍🎍...


“Ca! ngapain di sini?” tanya amira pada Quinsya yang sedang duduk dipinggir lapangan basket sendirian.

__ADS_1


“Tuh” caca menjawab sambil menunjuk kea rah Sagara, Aryan, Azmi dan Ameer yang sedang bermain basket di lapangan.


Amira mengangguk dan ikutan duduk di sebelah Quinsya bersama sahabatnya Rina.


“Lo gak ada teman ca?” sindir Rina sambil tersenyum mengejek.


Quinsya menoleh sebentar untuk menunjukkan senyuman manisnya pada Rina setelah itu kembali melihat kea rah depan dan mengeluarkan sketbook nya dari dalam tas, “ada tu yang di lapangan” jawab Quinsya santai.


Rina semakin tersenyum meremehkan, “maksud gue teman cewek, para cewek di kelas lo pasti jijik sama elo yang suka tidur sambil ngorok” sindir Rina sekali lagi.


“Rin, tolong jangan bahas itu” bisik Amira pelan tapi masih mampu di dengar Quinsya.


Bukannya marah atau malu Quinsya menggaruk belakang lehernya sambil nyengir, “hehehhe akhir-akhir ini caca sibuk melukis muse sampai tengah malam, jadi ketiduran deh” ucap Quinsya polos.


Rina melototkan matanya, terkejut karena mendapatkan jawaban di luar dugaannya, Quinsya sama sekali tidak malu telah dia sindir, jelas jelas Rina mengatakan kejelekan Quinsya.


“Lo gak malu? Saga pasti jijik ada cewek jorok yang nguntit dia kemana aja” Rina berusaha menjatuhkan Quinsya sekali lagi, dia masih ingin membuat Quinsya jatuh hingga membuat gadis itu tidak berani ke sekolah lagi.


“MUSE!!!” teriak Quinsya dengan suara kencang.


Dari arah lapangan Sagara menoleh dan meminta time out sebentar, pria itu segera mendekati Quinsya.


Quinsya nyengir sebelum bertanya pada pria itu, “Muse jijik dengan caca, karena caca tidurnya ngorok?”


“hah gue pikir ada apa” hela Sagara panjang. “dasar alien” sambung muse, setelah itu dia kembali memasuki lapangan basket.


“MUSE APA JAWABANNYA! CACA GAK NGERTI” teriak Quinsya lagi.


“Cari tau sendiri alien!” jawab sagara lalu kembali fokus Latihan basket, orang orang dilapangan basket hanya tertawa melihat interaksi sagara dengan Quinsya sementara yang berada diluar lapangan basket pada iri dan cemburu atas interaksi dua orang itu.


“lah caca kan bodoh gak bis acari tau sendiri, Rina bantuin cari jawaban” ujar Quinsya sambil menatap Rina yang masih tampak terkejut dengan aksi yang baru saja sagara lakukan.


“Dasar sial!” umpat Rina, dia segera pergi dari sana karena kesal dengan Quinsya.


“kok marah sih? Caca salah apaan?” gumam Quinsya pada dirinya sendiri.


Selepas rina pergi hanya tinggal Quinsya dan amira di sana dalam suasana canggung. Quinsya masih sibuk melukis sedangkan amira hanya diam menonton latihan basket, dia memang biasa selalu pulang bersama Ameer, makanya Amira ada di sana hanya sesekali Darel datang menjemput Amira.

__ADS_1


“Apa yang lo suka dari Saga?” tanya Amira secara tiba-tiba.


Quinsya menghentikan gerakan tangannya yang sedang melukis, “entah lah gue gak tau, emang suka harus ada alasan ya?” tanya balik Quinsya.


“Ya iyalah, kalau gak ada bisa aja sama seperti yang lain, perasaan suka lo itu palsu”.


“hmmm…” Quinsya berdeham pelan, “kalau suka harus pakai alasan, pasti susah dong, nanti kalau alasan menyukai itu hilang rasa suka itu bisa hilang juga” gumam Quinsya pelan.


Amira terdiam mendengar jawaban Quinsya untuk beberapa saat. “kita baru 16 tahun, dan lo udah yakin bahwa perasaan lo itu suka?” tanya Amira lagi.


“hehehe caca kan aneh, pikiran caca berbeda dari yang lain, jadi… ya bisa saja itu terjadi” jawab Quinsya dia kembali melanjutkan gambar yang dia buat.


“maaf ca” ucap Amira pelan.


“Maaf buat apa?”


“gue udah malu dengan keadaan lo saat ini, gue janji gak bakal jelekin lo lagi” kata amira pelan.


Quinsya tersenyum tulus pada amira, “jadi amira yang biasanya saja, jangan membantah mereka atau membelaku, diam saja dengarkan saja apa kata mereka, kalau mira membela caca, amira tidak akan kuat di bully satu sekolah, amira boleh kok ikutan ngehujat caca, biar mereka percaya mira tidak di pihak caca” ujar Quinsya.


“Tapi__”


“Caca tau kok caca banyak membuat keluarga malu, tapi mau gimana lagi, kalau caca berubah sesuai keinginan kalian, semua keinginan caca tidak bisa caca lakukan, bagi caca tidak ada malu dalam kamus caca, caca juga minta maaf semuanya sangat memperhatikan caca karena Kesehatan caca, mira jangan perlihatkan membela caca di sekolah, karena mira tidak akan tahan melawan mereka semua” potong Quinsya.


Amira membalas senyuman Quinsya dengan tulus, “baiklah, kalau gitu gue pergi ngejar rina, dia pasti marah karena gue gak bela dia”.


“Iya, hati hati” balas Quinsya setelah itu dia melanjutkan gambarnya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


bonus pict


Sagara lagi latihan basket



__ADS_1


si manis quinsya



__ADS_2