My StuPid Girl

My StuPid Girl
128. Pingsan


__ADS_3

“Sayang! Caca!” sagara terus memanggil manggil Quinsya kesana kemari, tadi dia memang sedang di ruang kerjanya sebentar untuk bermain sedikit saham, dan Quinsya meninggalkan dia karena bosan melihat grafik yang tidak dia mengerti arti dari grafik itu.


“Cari siapa ga?” tanya ayah Aditya yang sedang menikmati sore nya dengan membaca majalah bisnis sambil minum the hangat. Aditya memang sudah lebih sering berada di rumah karena perusahaan miliknya sudah diserahkan kepada salah satu kenalan Rafa untuk di Kelola sementara dia hanya menerima bersihnya saja atau mengambil keputusan berat.


“Caca, yah, ayah ada Nampak?” tanya sagara sedikit panik.


Aditya tertawa pelan, entah karena sagara dan quinsya pasangan baru atau memang anaknya itu tidak bisa jauh dari quinsya, saat ini sagara terlihat sangat cemas.


“tadi ayah liat dia masuk ke ruang lukisnya” ujar Aditya. Sagara memang merombak rumahnya dan menambah satu studio Lukis buat Quinsya, karena hobi gadis itu dalam melukis.


Tanpa pikir panjang sagara berlari menuju studio Lukis milik istrinya.


‘Ceklek’


Mata sagara melotot melihat Quinsya sedang terkapar di lantai dengan cat yang sudah mengenai bajunya.


“sayang!” pekik sagara. Dan langsung menggendong Quinsya, setelah itu dia berlari keluar ruangan itu dengan Quinsya yang ada di tangannya.


“ada apa saga?!” Aditya segera berlari ketika mendengar sagara berteriak keras, tidak hanya Aditya, tapi beberapa pembantu juga datang akibat teriakan sagara. “astagfirullah, caca kenapa?!”


“Gak tau yah, kita ke rumah sakit sekarang yah” lirih sagara, mata pria itu sudah berair.


“ya sudah, pak budi cepat keluarkan mobil!” perintah Aditya dengan cepat.


“Nanti aja yah, saga akan bawa caca ke kamar. Lebih cepat telepon papi rafa di banding ke rumah sakit” ujar sagara, dia berlari menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.


Sagara meletakkan tubuh istrinya dengan pelan di atas tempat tidur, membersihkan cat yang menempel di tangan dan lengan Quinsya, namun belum sempat mengganti baju Quinsya karena takut terlalu lama menelpon papi rafa.


Langkah pria itu terburu buru mengambil ponselnya, lalu menelpon nomor rafa.


📲“Assalamualaikum pi” ucap sagara begitu teleponnya diangkat oleh rafa.


📲“waalaikum salam_” jawab rafa, belum sempat rafa melanjutkan ucapannya sagara sudah lebih dulu memotong ucapan pria itu.


📲“Pi, bisa kerumah sekarang? Caca pingsan pi” ucap sagara panik.

__ADS_1


📲“Baik!” jawab papi rafa cepat.


📲“Saga, kamu masih disanakan?” suara papi rafa kembali terdengar.


📲“Iya pi” isak sagara.


📲“Kamu tenang dulu, lihat caca periksa pernapasannya apa nafasnya teratur atau lambat?” suara rafa terdengar tenang tapi sebenarnya pria itu cukup panik saat ini.


📲“Sedikit lambat pi” jawab sagara.


📲“Apa ada darah keluar dari hidung atau mulutnya?” tanya rafa lagi.


📲“Tidak ada pi, tadi rafa menemukan caca pingsan di ruang lukisnya, dan sagara tidak melihat darah” jawab sagara cepat.


📲“Baiklah, papi mengerti, sekarang papi akan segera kesana” ujar rafa. Memang selama 1 bulan ini rafa tidak pernah melihat putrinya, karena Quinsya sedang sibuk untuk membuka galeri Lukis miliknya, sementara sagara sibuk kuliah di jurusan Bisnis, jadi selama itu rafa tidak terlalu tau dengan perkembangan dari Quinsya dan sagara, kedua orang itu tinggal di rumah Aditya, menemani pria itu.


Setelah memutuskan teleponnya sagara segera mendekati Quinsya, dan mengganti baju istrinya dengan pelan.


‘tok tok tok’


“Boleh yah” teriak sagara, dia masih tampak sibuk membersihkan sisa cat yang menempel pada tangan Quinsya.


“kamu tenang saja ya semua pasti baik baik saja” ujar Aditya berusaha membuat putranya tenang. Namun sayang ucapannya tidak bisa membuat sagara menjadi tenang, karena


“sayang bangun sayang, aku membutuhkanmu sayang” lirih sagara sambil menggenggam tangan Quinsya dengan erat. Pria itu menyesal kenapa dia tidak mengambil jurusan kedokteran, sekarang dia tidak tau apa yang terjadi pada istrinya.


.


Papi rafa datang bersama mami cessa, hanya dalam beberapa menit setelah dikabari oleh sagara.


“Sudah berapa lama Quinsya pingsan?” papi rafa langsung bertanya pada sagara begitu memasuki kamar pasangan pengantin itu.


“gak tau pi, sekitar 1 jam saga kerja, dan Quinsya di studio lukisnya, sagara gak tau kapan tepatnya dia pingsan pi” jelas sagara.


Rafa mengangguk dan mengeluarkan alat medis yang biasa sedia di rumah dan mobilnya. Pria itu mulai memeriksa Quinsya dan sebuah senyuman keluar dari bibirnya.

__ADS_1


“tenang aja caca gak apa, bentar lagi dia bangun kok” ujar rafa sambil merapikan alat kesehatannya kembali.


“Yang, kalau caca gak apa apa, kenapa dia bisa pingsan?” tanya Cessa karena cemas melihat putrinya yang tertidur.


“Kelelahan, kalian pasti main gulat sampai pagi kan?” tebak papi rafa sambil tersenyum pada sagara.


Sagara yang dituduh hanya bisa menunduk malu, “maaf pi, lain kali gak bakal sampai pagi” ucap sagara pelan.


Bukannya marah papi rafa malah tertawa, “bukan papi ngelarang, papi juga suka main sampai pagi, tapi liat dulu gimana kondisi istri kamu” ujar papi rafa.


“Sebenarnya saga udah berhenti pi tapi caca mancing saga, jadi lanjutin lagi” ucap sagara sedikit takut.


Tawa kembali terdengar tapi bukan hanya dari rafa, Aditya dan cessa juga ikutan tertawa keras.


“Wajar sih, keinginan ibu hamil ya seperti itu” ujar Rafa disela tawanya.


Kini Aditya dan cessa berhenti tertawa dan menatap rafa dengan intens. “yang apa maksud kamu?” desak cessa, karena dia tidak terlalu mendengar ucapan rafa.


“Bentar lagi kita akan jadi kakek dan nenek” ujar rafa sambil menunjukkan senyumannya.


“Kyaaaaaa” Cessa langsung memeluk Rafa dengan kuat, “kamu beneran kan yang? Caca hamil?” tanya cessa lagi untuk memastikan.


Rafa mengangguk pelan, “benar sayang, siapkan makanan bernutrisi sana, caca kurang darah karena kelelahan, dan dia butuh banyak nutrisi karena anaknya kembar” ujar sagara.


“Beneran yang?! Baiklah mami akan siapkan langsung makanan yang sehat buat putri mami” pekik cessa, dia langsung berlari keluar dari kamar sagara dan Quinsya.


“lalu sekarang sagara, papi perlu bicara penting sama kamu, tapi setelah Quinsya bangun” Rafa menatap sagara yang terlihat masih syok, dia mengelus lengan sagara agar pria itu tenang.


“Rafa, apa caca benar benar baik saat ini?” Aditya yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.


“kondisi ibu dan bayi sehat, hanya sedikit kurang darah dan kelelahan, memang bukan kabar bagus, tapi memang biasa terjadi pada ibu hamil, aku sangat tau kondisi putriku, sejak kecil bagaimana kesehatannya dan bagaimana dia berjuang melawan penyakitnya aku sangat tau itu, apa boleh kalian semua pindah ke rumahku agar aku bisa memantau langsung Kesehatan caca?” kali ini Rafa minta izin pada Aditya.


“yah, saga mohon, caca memiliki tubuh yang lemah sejak kecil, saga takut sesuatu terjadi pada caca, jadi apa boleh saga dan caca pindah ke rumah papi untuk beberapa tahun?” pinta sagara dengan wajah memelas.


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2