My StuPid Girl

My StuPid Girl
66. Nasehat Papi


__ADS_3

Memang benar yang dikatakan oleh papi rafa, pria itu sedang duduk di teras rumah sambil membaca ipad miliknya ditemani dengan secangkir the hangat yang masih mengepulkan asap.


“Assalamualaikum papi ganteng!” teriak Quinsya begitu kakinya menginjakkan pekarangan depan rumah.


“Assalamualaikum om” salam sagara dengan sopan.


“Waalaikum salam, sana adek masuk buat kwetiau yang di inginkan, saga sini bicara sama papi” perintah sagara pada dua anak remaja itu.


“Papi~” Quinsya menatap papi rafa dengan serius.


“Gak bakal papi apa apa in, sana masuk cepat!” perintah papi rafa sekali lagi.


“Awas kalau ancam ancam muse” ancam Quinsya sebelum dia berlalu pergi ke dalam rumah.


“Lah, kok anak yang ngancam papinya, emang keturunan bagaskara” papi rafa senyum sambil geleng geleng kepala.


.


Sagara dan Rafa yang hanya berdua di depan teras rumah masih saling diam, selepas Quinsya pergi.


Tadi sebenarnya Rafa hanya tidak mau putrinya berduaan dengan sagara di dapur makanya dia menahan sagara di dekatnya.


“Kemana aja tadi?” Rafa akhirnya mulai mengintrogasi Sagara tentang perjalanannya dengan sang putri.


“ke mall, beli ice cream dan jalan ke taman kota om” jawab sagara lengkap memang itu kenyataan yang terjadi.


“Kam_”


📳


Ucapan rafa terhenti karena suara nada dering telepon sagara berbunyi nyaring. “Maaf om” ucap sagara sambil mematikan ponselnya tanpa menjawab.


“Kenapa tidak di jawab?” tanya Rafa.


“Bukan orang penting om, tadi om mau bilang apa?” sagara berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


“Ayah kamu tadi kan yang telepon?” tanya rafa dengan nada lembut.


Sagara mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya, “maaf om, saga tidak suka berbicara dengan ayah, makanya saga tidak menganggapnya penting” ucap sagara pelan.


“Saga, angkat kepala kamu dan dengarkan papi bicara” perintah rafa.


Perlahan sagara mengangkat kepalanya menatap rafa.


“Setiap orang tua di dunia ini sangat menyayangi anaknya, jangan pernah lari dari masalah, hadapi semua itu karena semakin kamu lari maka masalah itu akan semakin melebar dan berbelit, yang awalnya mudah diselesaikan tapi bisa jadi susah karena banyak factor yang muncul, seperti benang kusut, kalau kusutnya Cuma sedikit kitab isa menguraikannya tapi semakin lama kita biarkan maka kusutnya semakin banyak dan sulit untuk di uraikan” nasehat rafa.


“Ada juga orang tua yang tidak sayang dengan anaknya om, kalau mereka sayang mereka tidak akan membiarkan anak itu untuk hidup sendirian tanpa orang tua, kalau mereka sayang, tidak akan ada luka pada tubuh anak itu, kalau mereka sayang, mereka akan ada seperti oom dan tante pada Quinsya” ujar sagara pelan.


Rafa menepuk pelan bahu sagara, anak remaja di sebelahnya ini sudah sangat tersakiti, jadi akan sulit untuk menyembuhkannya, rafa jadi takut putrinya, apakah mampu menyembuhkan sagara.


“Kamu sudah pernah bertanya alasan kenapa mereka melakukan itu padamu?” tanya rafa dengan lembut.


Sagara menggeleng, “tidak perlu, semua sudah terlambat om, terlalu terlambat” lirih sagara.


Rafa kembali menepuk bahu sagara dengan lembut, “tidak ada kata untuk terlambat, mintalah penjelasan pada ayahmu, tentang kenapa dia melakukan itu, dengarkan semua ceritanya, luapkan semua perasaanmu padanya, ceritakan apa yang kamu rasakan, dan jangan mengambil kesimpulan sendiri, dengarkan saja semua ucapan ayahmu setelah itu cari tau sendiri, apakah ucapan ayahmu benar atau tidak, kalau perlu bantuan papi, papi bersedia membantu” ujar rafa.


“Tidak apa kalau belum siap, tapi ingat kata papi, jangan mengambil kesimpulan sendiri, pasti ada alasan setiap Tindakan yang dilakukan oleh orang tua kita” kata papi rafa sambil memberikan senyum hangatnya pada sagara.


“Muse~ ayo makan!” suara teriakan Quinsya terdengar dari dalam rumah.


Sagara dan rafa sama sama tersenyum mendengar suara melengking Quinsya.


“sana masuk, nanti dia ngomel-ngomel gak jelas sama papi” kekeh rafa.


“Iya om” sagara tegak dan menunduk hormat pada rafa, “makasih nasehatnya om, saga akan lakukan jika saga sudah menyiapkan hati saga” ujar sagara sebelum menghilang masuk ke dalam rumah.


.


“Bicara apa aja tadi sama papi? Papi ada ngomel ngomel kayak ibu ibu komplek sebelah?” tanya beruntun Quinsya pada sagara yang baru saja duduk di hadapannya.


Sagara tidak menjawab, pria itu tersenyum dan menahan tawanya mendengar pertanyaan beruntun dari Quinsya.

__ADS_1


“Ihhh muse jangan senyum senyum, caca serius ini, papi omelin muse ya? Apa aja yang papi bilang?” ulang Quinsya sekali lagi.


“Gak ada apa apa, om rafa Cuma tanyain tadi kemana aja” ungkap sagara.


Quinsya memicing curiga pada sagara, “benaran Cuma itu?” selidik Quinsya sambil memasukkan satu suap makanan ke dalam mulutnya.


Sagara mengangguk, “benaran Cuma itu” ucap sagara penuh keyakinan.


“Papi gak marah marah, atau ngomel ngomel?” selidik Quinsya lagi.


“Apaan sih dek, suka negative thingking gitu sama papi, masih ada sisa kwatiau nya gak?” papi rafa tiba tiba muncul di meja makan.


“Gak ada udah habis, perut caca belum kenyang” ujar Quinsya sambil tertawa jahil pada sang papi.


“Saga, nanti kalau pulang hati hati ya, papi ke kamar duluan, dek mana ucapan selamat malam buat papi?” tanya rafa.


“Untuk hari ini off dulu, caca masih sebal sama papi” canda Quinsya.


“ampun dah” kekeh rafa sambil berlalu memasuki lift.


...💐💐💐💐💐...


Pukul setengah Sembilan malam sagara baru sampai di rumahnya, pria itu menghela nafas panjang sebelum memasuki rumah.


“Hebat kamu sekarang ya? Kamu masih sekolah saga! Kenapa kamu keluyupan sama wanita!” bentak ayah Aditya begitu sagara baru melangkahkan kakinya beberapa Langkah ke dalam rumah.


Sagara mendesah panjang, apa karena nikah muda, sikap ayahnya tidak dewasa sama sekali, atau apa karena ayah Aditya tidak punya orang tua alias yatim piatu sejak kecil makanya pria itu tidak bisa menjadi panutan dalam hidup sagara.


Ayah sagara memang menikah dengan ibu sagara saat mereka baru lulus sekolah, saat itu bunda airi juga sudah tidak punya orang tua kandung hanya ada ibu tiri bunda airi, karena Aditya saat itu masih miskin, ibu tiri itu melepaskan airi menikah dengan Aditya, tidak tau setelah menikah ternyata Aditya berhasil dan menjadi kaya raya membuat ibu tiri dan kakak tiri airi iri padanya.


“Selamat malam yah, ini malam minggu wajar jika anak remaja keluar bersama pasangannya” jawab sagara dengan nada datar.


“Tugas kamu itu hanya belajar saga! Bukan pacar pacaran! Mau jadi apa kamu ! posisi satu saja tidak bisa kamu raih!” omel ayah Aditya.


Sagara berusaha menahan kesabarannya, dalam hati dia berharap memiliki ayah seperti papi rafa atau daddy king, yang tidak menuntut anaknya jadi apapun, tapi tetap memberi arahan dengan lembut.

__ADS_1


...🎋🎋🎋🎋🎋...


__ADS_2