My StuPid Girl

My StuPid Girl
124. Tidak percaya


__ADS_3

Azmi menatap mata hana lebih lekat, “Gue gangguin lo agar bisa berkomunikasi dengan lo, karena sejak awal pertemuan kita tidak bagus dan gue udah buat kesalahan fatal dengan pertemuan kita, cara satu satunya untuk mendekati lo hanya dengan mengganggu lo dan mengejek lo tiap hari” ungkap azmi.


Hana masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Azmi, memang Sebagian dalam dirinya berharap ucapan Azmi itu sungguh sungguh dari dalam hati namun Sebagian lagi menolak untuk percaya ucapan yang dilontarkan azmi.


“Lo bercandakan?” tanya hana tidak percaya, sekali lagi gadis itu menatap Azmi tidak percaya.


“rasain ganggu dan kerjain aja terus cewek yang abang suka, jadi sulit percayakan dia” celetuk Quinsya, setelah itu dia bersembunyi di belakang punggung sagara, suaminya itu hanya bisa memohon maaf pada azmi karena ulah istrinya.


Azmi berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat pada Quinsya karena saat ini dia masih berhadapan dengan calon mertuanya.


“Aku serius hana, gimana caranya biar kamu percaya sama Aku? Aku sangat menyukaimu memang caraku salah, tapi aku tidak bisa membayangkan kamu menghilang dari keseharian ku, please jangan tolak gue” lirih Azmi.


Hana masih diam menatap azmi yang duduk tegap, dilihat dari mata pria itu memang sedang memancarkan keseriusan tapi hana masih takut untuk percaya.


“Udah terima aja, kakak tau loh diam diam kamu sering liat foto azmi yang tersimpan dalam galeri fotomu” ungkap Flora.


Mata Hana langsung melotot sempurna memberi ancaman pada Flora yang baru saja membuka rahasianya.


“Jadi bagaimana pak abi? Apakah lamaran putra saya diterima?” tanya papi Rafa.


Papa abi tampak khawatir dan kebingungan, dia memandang azmi dan hana bergantian, “Mereka masih 18 tahun bukankah terlalu cepat untuk menikah pak rafa” tolak papa Abi secara halus.

__ADS_1


Azmi semakin lemas mendengar penolakan itu. Sementara papi rafa mengulum senyumnya.


“Apa yang pak abi takutkan? Saya dulu menikah saat umur 17 tahun bahkan saat saya dan istri saya memasuki tahun kedua di SMA, pak abi juga tau putri saya juga sudah menikah diumur 18 tahun, pak abi kan datang juga ke acara akad nikah putri saya” kata rafa sambil membelai puncak kepala Quinsya.


“Umur mereka masih terlalu muda pak rafa, saya takut saat ini mereka hanya cinta monyet, apa lagi putra bapak belum lulus kuliah, saya tau pak rafa memang seorang pembisnis handal, tapi ini mengenai pernikahan pak rafa, saya tidak bisa menyerahkan putri saya pada putra anda, kita tidak tau masa depan yang akan terjadi” ungkap papa Abi secara sopan.


Papi rafa tertawa sedikit keras dan menepuk punggung azmi, “sebutkan kualifikasi mu bukan hanya menyatakan perasaan, katakan berapa kekayaan yang kamu dapat tanpa bantuan papi”.


Mendengar ucapan papi rafa, azmi dengan cepat mengeluarkan kartu nama yang dia punya, “maaf saya tidak memperkenalkan diri pada om abi secara lengkap, Saya adalah wakil direktur di perusahaan papi rafa, posisi ini saya dapatkan bukan karena saya adalah anak dari papi rafa, melainkan karena usaha saya sendiri” Azmi menjeda ucapannya dan mengeluarkan ponselnya, “Ini beberapa permainan yang saya ciptakan, paling rendah penghasilan saya dalam 1 bulan adalah 3 milyar, saya sendiri yang menciptakan game itu dan sampai saat ini permainan itu masih sangat di minati para anak muda, tapi jika tidak saya masih memiliki beberapa penghasilan selain dari game yang saya luncurkan, walau saya belum lulus kuliah penghasilan saya sudah lebih besar dari anak yang baru lulus dari universitas” lanjut azmi.


Papa abi tampak tidak percaya dan mengambil kartu nama yang diberikan oleh azmi.


“saya tau pak abi sulit untuk percaya, saya dan keluarga berani kesini karena memang percaya diri dengan kualifikasi yang putra saya miliki, kalau dia tidak memiliki pekerjaan mana mungkin saya berani untuk melamar putri pak abi” tambah papi rafa.


“Seperti putri pak abi yang menjadi desainer sejak dia masih muda, putra saya juga memiliki kemampuan di bidang IT, setiap anak saya memiliki kehebatan mereka sendiri, menantu saya juga sudah memiliki penghasilan sendiri makanya saya mau menerimanya menjadi menantu” jelas papi rafa.


“Kalau begitu..” papa abi menatap hana yang masih diam, dia memang tau azmi sudah memiliki penghasilan sendiri tapi gadis itu masih terlalu gengsi untuk menyatakan perasaannya pada azmi.


“jangan gengsi gitu, kalau nolak terus, cowoknya bisa lari loh” celetuk darel, yang sejak tadi diam.


Hana menatap azmi yang saat ini sangat percaya diri dengan apa yang dia miliki, lalu menoleh pada papa abi.

__ADS_1


“Gimana hana? Kamu mau menerima lamaran nak azmi?” tanya papa abi.


Perlahan tapi pasti kepala Hana bergerak naik turun menandakan lamaran Azmi diterima, “Hana terima tapi, hana beberapa bulan lagi akan kuliah di luar negri, hana gak mau hubungan jarak jauh dengan suami hana kelak” ujar hana.


Azmi tersenyum manis, “kalau itu tenang saja, aku akan kuliah di sana juga, jadi kita bisa tinggal satu rumah” ujar azmi, pria itu sudah tampak ceria karena lamarannya diterima.


“maksudnya apaan? Aku kuliah di universitas Cambridge, bagaimana kamu bisa kesana, jadwal ujiannya sudah lewat sekarang hanya pendaftaran bagi yang sudah mendapatkan surat rekomendasi dari mereka” seru hana.


Papi rafa tertawa kecil, “Kedua putra papi sangat istimewa, mereka bahkan mendapat beberapa undangan dari universitas di luar negri tanpa mengikuti ujian sekalipun, penelitian yang dilakukan kedua putra papi berhasil menarik perhatian para professor dunia, salah satunya adalah universitas Cambridge, jadi dia tidak perlu ujian untuk masuk kesana” jelas papi rafa.


Sekali Lagi papa abi tampak kagum dengan azmi yang akan menjadi calon menantunya, dia tidak menyangka kedua putrinya bisa mendapatkan orang hebat dan pintar.


“Baiklah kalau begitu saya terima lamaran yang diajukan oleh pak rafa” ujar papa abi sekali lagi.


“Yes!” tanpa sadar azmi bersorak bahagia membuat orang orang di sana menertawakan dirinya.


“Baiklah pak Abi, kalau begitu saya yang akan mempersiapkan pernikahan mereka, saya inginnya mereka menikah dalam waktu 2 bulan lagi, apa pak abi memperbolehkan itu?” tanya papi rafa.


Papa Abi berpikir sebentar lalu menganggukkan kepalanya, “maaf saya tidak bisa membantu banyak pak rafa, saya menyerahkan semuanya pada pak rafa, tidak perlu mewah keluarga saya tidak terlalu suka dengan kemewahan” ujar papa abi.


“baik” angguk rafa, lalu dia menoleh ke arah hana, “hana, apa kamu memiliki impian dalam pernikahanmu? Seperti pernikahan di negeri dongeng, atau di taman yang mirip seperti taman peri?” tanya papi rafa.

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2