
Fani, dwi, dan siswi siswi yang lain menatap tidak suka ke arah Quinsya yang diberikan akses untuk duduk di tempat anak anak basket istirahat.
“Gue iri deh sama si anak baru itu, namanya caca kalau gak salah, iri banget gue” ujar Tina salah satu penggemar dari Sagara.
“Iri kenapa? Lo mau punya otak bodoh dan idiot seperti dia, bahkan dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan guru-guru” ucap Fani dengan ketusnya.
Tina menatap Fani sekilas lalu kembali melihat anak-anak basket berlatih. “Lo juga iri kan? Makanya lo menghina dia seperti itu, dia lahir sebagai putri penguasa, siapa yang tidak kenal keluarga tiandra penguasa ilmu Kesehatan dan teknologi, dia punya dua abang yang memiliki kecerdasan di atas rata rata, bisa di bilang satu calon doker hebat satu lagi insinyur, bukan hanya keluarga yang mapan dan menyayanginya, dia juga mudah sekali menghasilkan uang dengan hasil lukisan yang dia jual, cantik, kaya, di sayang, siapa yang tidak mau jadi dia, tanpa otakpun semua kebutuhan sudah terpenuhi” ujar Tina.
“Yang dikatakan tina benar, gue juga mau jadi dia” sambut Mega.
“Gue gak mau, bikin jijik aja tau, liat tinggah gue di bayangkan seperti gadis idiot itu” ujar fani diangguki oleh dwi.
“Cara lo berdua salah untuk menjatuhkan tu anak, sudah jelas keluarganya hebat, lo mau menjatuhkan dia dengan cara mengirim video memalukan? Jangan harap kalian bisa, tu si calon insinyur dia pernah mendapatkan banyak penghargaan atas ciptaan beberapa program hebat padahal masih kecil, gue yakin ponsel kita semua sudah di kuasai dia makanya tidak ada satu orangpun yang bisa mempermalukan dia” kata Tina sambil menunjuk Azmi dengan mulutnya.
“terus seperti apa?! Berbuih mulut kami menghinanya, dia tidak pernah mendengarkan” kesal Dwi.
Tina tertawa pelan, “jadi musuh dalam selimut, minta maaf dan buat dia jadi sahabat kalian, bukan hanya dimanja dengan kekayaan dia, manfaatkan dia kuras habis uangnya, dan buat dia jatuh secara perlahan”.
“Bagus juga ide lo, kenapa gak pernah terpikirkan oleh gue ya” Fani terlihat senang dengan ide yang baru saja di sampaikan Tina padanya, seseorang bisa hancur dengan adanya musuh di dalam selimut, yaitu teman.
“Baguskan, lebih bagus lagi kitab isa dekati saudaranya, sagara kan Cuma satu, dan dia tidak bis akita miliki bersama, tapi masih ada 3 pria tampan lainnya yang masih bisa dibagi-bagi” ujar Tina dengan senyum sinis.
“Lo mau dekati saudaranya? Gue sih ogah, kalau gitu sagara buat gue” ujar Fani.
__ADS_1
“Liat dulu siapa yang dipilih sagara, baru bis akita tentukan yang dapatkan sisanya, sagara tetap pilihan gue, secara gitu pemilik hotel nomor satu se indonesia” kata tina tidak mau kalah.
“Udah-udah kita lakukan satu persatu, yang paling pertama kita harus menjatuhkan dia” dwi menunjuk Quinsya dengan pandangan matanya, karena jika menunjuk dengan tangan akan ada yang tau rencana mereka.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Besoknya fani dan dwi sudah menyiapkan kue yang sangat cantik dan enak untuk diberikan pada Quinsya.
Saat ini gadis itu sedang melukis pemandangan di atas mejanya, bukan sagara lagi.
“Ca!” panggil Fani dan Dwi secara bersamaan.
“. . .” tidak ada jawaban dari Quinsya, karena gadis itu masih fokus dengan lukisannnya. Quinsy ajika melukis memang sangat susah diganggu, dia sadar ada yang berbicara padanya, tapi mulut gadis itu hanya mau terbuka saat dia menginginkannya.
“Caca!” fani mencoba memanggil Quinsya sekali lagi.
Sagara menatap Quinsya yang serius menempelkan cat pada mejanya walau sekarang tidak terlihat bentuknya tapis agar tau meja itu akan menjadi lukisan yang sangat indah.
“Ca!” Dwi henda menyentuh Quinsya tapi tangannya di tepis oleh Azmi dengan cepat.
Azmi maju dan membuat kedua gadis itu mundur secara teratur. “mau apa?! Hah?!” kata Azmi sedikit ketus.
“I-itu kami berdua mau minta maaf dengan Quinsya dan memberikan ini untuknya, sebagai tanda permintaan maaf kami” ujar Fani, gadis itu sedikit takut dengan azmi mendengar rumor kalau azmi seorang hacker, karena dia pintar dalam teknologi computer.
__ADS_1
“Ambil aja buat kalian, adik gue sedang sibuk gak bisa di ganggu kalau dia sedang dalam proses melukis” ujar Azmi.
“Apa susahnya sih berhenti sebentar aja, sombong banget” gumam Fani pelan namun masih terdengar oleh telinga azmi.
Azmi menghela nafas panjang, “Lo mau makanan ini terbuang sia sia? Adik gue gak bisa di ganggu jika sedang serius atau kalian akan rugi jika mengganggu nya” Azmi memberi kode pada fani dan dwi untuk melihat ke arah pintu masuk, namun mereka berdua belum sadar kode yang azmi berikan.
“ada apa ini?” suara guru membuat fani dan Dwi sedikit terkejut.
“A-anu pak kami mau memberikan ini ke caca, dan sekaligus minta maaf, si caca sombong banget gak mau nanggapi kami padahal hanya sebentar” ujar dwi, berharap pak guru akan memarahi Quinsya.
Azmi menunduk sebentar pada guru yang ada di dekat mereka tanda menyapa, “bapak yakin akan menganggu Quinsya, sekali adik saya diganggu jika dia sedang serius maka lukisannya akan terhenti tidak tau sampai kapan akan di lanjutkan lagi, ini bisa dimanfaatkan oleh pihak sekolah loh pak” goda azmi.
Memang benar yang dikarakan oleh Azmi, jika Quinsya melukis tanpa model dan hanya hayalan dalam otaknya maka gadis itu akan sulit di ganggu hingga sketsa awalnya selesai, jika tidak maka lukisan itu akan terhenti tapi jika ada model Quinsya bisa menghentikan kapanpun dia inginkan karena model bukanlah hayalan dari otak gadis itu.
Pak guru itu melihat lukisan Quinsya yang belum jadi gadis itu masih terus melukis tanpa menghiraukan keributan disekitarnya, jelas saja karena telinganya saat ini sedang di sumbat dari earphone dan terdengar suara klasik dari dalam sana jadi suara yang lainnya hanya sedikit terdengar.
“Kalian berdua kembali duduk di kursi kalian, jangan mengganggu Quinsya yang sedang serius” putus pak guru.
Fani dan dwi terlihat marah dan kesal karena lagi-lagi rencana mereka gagal, padahal bereka berniat berteman dengan Quinsya walau teman palsu.
.
“Sial emang seberapa berharganya sih lukisan yang di buat dia” gerutu dwi sambil kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
“Tunggu aja, dan lihat seberapa cantik dan berharga lukisan Quinsya, dan berapa nilai dari lukisan itu” ujar Ameer yang tidak sengaja mendengar ucapan Fani. “ahh sekedar informasi caca baru saja melelang lukisannya dan mendapatkan uang senilai 500 juta 2 hari yang lalu” tambah Ameer, dia suka memanas manasi orang seperti fani dan dwi.
...🌼🌼🌼🌼🌼...