
UAS akhirnya usai juga, Sagara, Quinsya dan yang lainnya berhasil melewati masa ujian terberat setelah perjuangan selama beberapa tahun, setelah lulus mereka semua ada yang berpisah dan ada yang tetap bersama.
Seperti Quinsya, Aryan dan azmi, 3 saudara kembar yang memiliki passion berbeda pada masa depan mereka, walau selama ini mereka selalu bersama, saat memasuki masa perkuliahan akhirnya mereka mulai menjalani masa depan mereka masing masing, Aryan berhasil diterima di Harvard University jurusan kedokteran, putra pertama rafa itu memang sangat condong ke dalam dunia kedokteran, walaupun sulit, karena dia anak lelaki, Rafa dan cessa akhirnya membiarkan saja keinginan Aryan untuk melanjutkan study di Harvard University.
Sedangkan azmi memilih universitas yang ada di Indonesia, tapi pada jurusan yang berbeda dengan adiknya Quinsya. Sedangkan sagara dan Quinsya masih memikirkan kemana mereka akan pergi.
Siapa yang tau masa depan, karena masa depan bisa kita ubah jika kita mau berusaha. Walau berat sebagai orang tua untuk melepaskan anak anak mereka yang ingin menjelajahi dunianya, Rafa dan cessa berusaha untuk tegar dan mengikuti keinginan mereka bertiga.
.
Sagara tampak gugup, karena saat ini dia sedang berhadapan dengan Rafa, sehari setelah ujian, seperti ucapannya sagara hendak pulang ke rumah dan meminta Aditya untuk membatalkan perjodohannya, namun saat dia hampir sampai ke rumah sagara melihat beberapa mobil yang sama baru memasuki halaman rumahnya, dia yakin itu adalah donatur ayahnya. Merasa tidak akan bisa menang sagara akhirnya memilih ke rumah Quinsya.
“Jadi kamu mau mengatakan apa?” tanya rafa.
“Om, maaf sagara sebenarnya ingin melamar Quinsya, saga tau ini lancang karena sagara kesini tanpa ayah, dan terlihat tidak serius, tapi sungguh sagara sangat mencintai putri om rafa, sagara ingin menikah dengannya, tapi saat ini ayah sagara tidak bisa mengikuti keinginan sagara, pria itu lebih memilih membayar hutang jasa pada seseorang dari pada perasaan saga, saga kesini ingin meminta bantuan pada om rafa” Sagara menjeda ucapannya dan menunduk menatap tangannya yang sejak tadi saling meremas sangking gugupnya. “Tolong bantu sagara menyelesaikan masalah sagara dengan ayah, mungkin dengan adanya orang dewasa di sisi sagara ayah bisa mengerti, sagara tidak ingin di jodohkan, hati sagara hanya untuk Quinsya, tolong saya om rafa” pinta sagara, kepala pria itu masih menunduk tidak berani menatap rafa.
Bagaimana dia tidak takut, sagara datang melamar seorang anak dari keluarga yang sangat sempurna hanya seorang diri tanpa siapapun yang menemaninya, terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang bermain main, padahal dia sangat serius, ditambah dia malah meminta bantuan pada rafa, yang belum tentu lamarannya diterima oleh rafa atau tidak.
“papi~!” panggil Quinsya dengan kencang karena rafa tidak memberikan respon dari tadi.
__ADS_1
Rafa mengulum senyum melihat wajah cemberut Quinsya, jika ditanya dia sedih akan melepas putri satu satunya, rafa pasti akan menjawab sedih. Tapi, dia tidak bisa egois dengan kehendaknya karena rafa sendiri tau jika dulu menikah terlalu awal dengan cessa.
“Kamu sangat mencintai putriku?” tanya rafa.
Sagara akhirnya memberanikan diri untuk melihat kearah rafa. Kepala pria itu mengangguk beriringan dengan ucapan “iya” yang keluar dari mulutnya.
“kenapa tidak membawa ayahmu?” tanya rafa lagi.
Kini kepala sagara menunduk ragu, dia ingin membawa Aditya tapi keadaan tidak memungkinkan. Aditya sendiri tidak mencari sagara selama beberapa bulan pria itu pergi, bukan karena tidak ingin tapi Aditya sedang menjalani pengobatan di rumah sakit jadi dia sengaja tidak mencari sagara.
“Ayah ingin menjodohkan ku dengan orang yang sudah menjadi donatur ayah” aku sagara dengan jujur.
“kenapa tidak menerima perjodohan itu saja? Orang tua biasanya selalu menunjukkan jalan terbaik buat anaknya” Rafa mencoba menguji sagara saat ini.
Rafa hanya tersenyum menatap putrinya yang sedang marah.
Sagara kembali mengangkat kepalanya agar dapat menatap Rafa, “om memang benar semua orang tua hanya ingin memberikan jalan yang terbaik pada anaknya, tapi tidakkah orang tua itu mendengarkan dulu pendapat dari anaknya, bagi sagara hanya Quinsya yang mampu masuk kedalam hati saga, tidak ada gadis lain yang bisa memasukinya, saya mohon tolong bantu saya untuk meyakinkan ayah” pinta sagara sekali lagi.
Rafa tertawa pelan sekali lagi, “kamu yakin papi akan menerimamu menjadi menantu?” goda rafa.
__ADS_1
“PAPI!” protes Quinsya, karena rafa terlihat bercanda terus sejak tadi.
Rafa menatap Quinsya yang cemberut menatapnya, “sabar sayangnya papi, jangan suka emosi gitu” canda rafa.
“Makanya papi serius dong!” gerutu Quinsya.
“kamu mau menikah dengan sagara?”
Quinsya terdiam, tapi beberapa detik kemudian kepalanya mengangguk pelan.
“Kalian berdua tau arti dari kata menikah?” tanya rafa. “menikah itu bukan sekedar menyatukan dua hati dan keluarga, apa kalian berdua yakin saling mencintai? Jika kalian masih tidak yakin sebaiknya tidak usah menikah, akan banyak masalah yang timbul, seperti perbedaan pendapat siapa yang mau mengalah dan siapa yang bersikap egois, sifat jelek kita akan keluar saat sudah hidup bersama pasangan kita, dan saat itu kalian tidak bisa berbalik lagi, jangan pernah memikirkan cara bercerai karena kalian sendiri yang memutuskan untuk bersama, menikah artinya banyak, menerima apapun kekurangan pasangan kalian, siap menanggung semua hambatan yang datang, jangan berpikir menikah adalah akhir, karena itu adalah awal perjuangan kalian, kalian berdua mampu menghadapinya? Atau hanya pemikiran anak kecil yang ingin melakukan hubungan s**, makanya kalian ingin menikah” Rafa sengaja menyindir di akhir penjelasannya.
Sagara mendengarkan setiap penjelasan Rafa dengan serius, kemudian kepalanya mengangguk pelan, “saya sagara Brady Kurniawan mencintai Quinsya dengan segenap hati dan jiwa saya, bukan hanya karena pemikiran anak kecil atau hawa nafsu yang om rafa maksud, selamanya akan mencintai Quinsya dan tidak akan pernah mengkhianatinya, atau berpikiran negative tentangnya, saya akan selalu percaya pada quinsya dan mengutamakan kebahagiaan Quinsya, jika seandainya ada masalah yang terjadi saya akan membicarakannya langsung dan tidak akan lari dari masalah itu, saya serius mencintai putri om rafa” ujar sagara dengan tegas.
Rafa tersenyum mendengar jawaban sagara, dia kini menatap quinsya yang sedang terisak kecil. “kemarilah gadis kecil papi” ujar rafa.
Perlahan Quinsya datang dan duduk di sebelah papi rafa dan mami cessa.
Rafa mengelus puncak kepala putrinya, “caca mencintai sagara?” tanya rafa pada quinsya.
__ADS_1
Kepala quinsya bergerak naik turun menandakan dia mengiyakan ucapan rafa, “Sangat caca tidak tau sejak kapan rasa suka caca berubah jadi cinta, tapi caca merasa sesak jika tidak ada sagara disekitar caca, maaf pi, caca ingin menikah dengan saga, memang terlalu cepat, tapi caca tidak akan salah memilih jalan hidup caca” ujar Quinsya dengan penuh keyakinan
...🌹🌹🌹🌹🌹...