
Baru saja quinsya dan sagara sampai di pijakan tangga, di arah ruang tamu terlihat Putra dan orang tua Quinsya sedang berbincang di sana.
Sagara langsung menggenggam tangan Quinsya tanpa sadar begitu melihat arah pandang Putra menuju pada dirinya dan juga Quinsya.
“Om, tan, Putra boleh permisi duluan kan, mau main bareng Caca” ucapan putra membuat kedua orang yang sedang membelakangi itu menoleh.
“Ohh caca udah turun, ya udah sana sama Caca” ujar Cessa.
“Itu Co_” mulut Rafa dibekap langsung sama Cessa, istrinya itu tau Rafa akan mengamuk melihat putrinya di gandeng pria selain dirinya.
“Mau kemana ca?” tanya Cessa menggantikan ucapan Rafa.
“Ini mam mau ke dapur kami berdua kelaparan” ujar Quinsya sambil berjalan menuju Dapur.
Putra mempercepat Langkah kakinya menuju Quinsya dan Sagara, “Ikutan dong gue juga lapar”
Quinsya menatap curiga pada Putra, “Lo gak di kasih makan sama orang tua lo? Datang datang minta makan sama gue emang gue emak lo”.
Putra tertawa senang sambil mencubit gemas pipi Quinsya tapi hanya beberapa detik karena sagara dengan cepat menampis tangan Putra dari pipi quinsya, “Dia juga minta makan sama lo, kok gue gak boleh” Putra berbicara sambil sesekali melirik sinis pada sagara. “Untung gue datang ke sini, kalau gak di duluin lagi gue” batin Putra.
“Itu beda, Muse itu patner caca, sebagai patner ya caca harus memastikan Muse dalam keadaan kenyang” Bela Quinsya.
Putra semakin mendekati quinsya, “Gue juga mau dong jadi patner caca yang manis ini” ujar Putra.
“Udah gak buka lowongan” tolak Quinsya lagi, “Muse mau makan apa?” Quinsya kini menatap Sagara dengan mata berbinar berbeda dengan putra yang memicing sebal.
“Apa aja” jawab Sagara singkat.
“Oke tunggu bentar” dengan enggan Quinsya melepas gengaman tangan Sagara, tampak wajah tidak suka saat tangannya melepas tangan sagara, “Lo ngapain masih ngitilin gue” gerutu Quinsya pada Putra yang masih mengikuti Quinsya menuju kulkas, dan bukannya berhenti di meja bar seperti sagara.
__ADS_1
“Habis lo gak tanyain gue mau makan apa?” kata Putra.
“Gue gak nawari lo karena emang gak niat buatin” ketus Quinsya.
“Yahh caca jahat banget sama gue, jangan gitu dong nanti lo bisa jatuh cinta sama gue” goda putra sekali lagi.
Quinsya menghela nafas panjang, “Benci bisa berubah jadi cinta, tapi gue gak ada benci dan gak ada cinta gimana dong?” ledek Quinsya sambil menahan tawa. “Ya udah sana duduk dekat muse, biar gue buatin juga, gerah gue lo dekat dekat gini” usir Quinsya sambil mendorong Putra menjauh darinya.
“Asikkk makasih caca Cantik” seru Putra senang.
.
“Jangan berpikir gue akan menyerah untuk mendapatkan hati caca” bisik Putra pada Sagara.
Sementara sagara sendiri hanya diam tidak menanggapi Putra, membuat pria itu semakin geram melihat sagara.
“Lo pikir dengan jadi muse bagi caca, lo udah menang, jangan harap gue, akan biarkan begitu saja, pasangan menikah aja bisa bercerai, apa lagi lo yang gak jelas hubungannya seperti apa” gumam Putra lagi dengan suara pelan.
“Lo gak punya mulut apa? Gue dari tadi ngomong sama lo, tapi lo hanya diam membisu, lo gak takut gue ambil caca dari lo?!” gumam putra lagi dengan suara pelan.
“Dia bukan milik gue, jadi ngapain gue kibarkan bendera perang dengan lo, jika dia bahagia bersama lo gue gak masalah melepasnya” akhirnya sagara menjawab Putra, “yang pasti dia tidak akan bahagia bersama gue” batin sagara.
Putra menatap tidak percaya pada Sagara, bagaimana mungkin sagara mengatakan hal seperti itu, seperti dia tidak memiliki keinginan untuk merebut hati Quinsya.
...💐💐💐💐💐...
Sekitar 30 menit masakan Quinsya sudah jadi, Quinsya lebih dulu meletakkan makanan di hadapan sagara dengan senyuman manisnya, sedangkan dia memberikan makanan di depan putra sambil cemberut.
“Makasih” ucap sagara tulus.
__ADS_1
“Sama sama” balas Quinsya dengan senyum semakin lebar.
“Wahhh Nampak banget gak ikhlasnya kasih nih orang muka lo senyum selebar mungkin, pas ngasih gue mana ada senyumnya muka lo sepet banget seperti pantat ayam” komentar Putra.
Quinsya menatap putra dengan mata memicing, “Udah syukur gue buatkan, bukannya makasih, malah marah-marah, sana main sama abang, gue mau berduaan dengan muse gue” usir Quinsya.
“Ya ampun ca, gue kaduin sama om Rafa, kalau lo cuma mau berduaan dengan nih cowok” ancam Putra.
“Lo emang nyebelin! Gak bisa biarkan gue senang!” omel Quinsya.
Putra geleng geleng kepala, “Lo kayak gini bisa buat nih cowok lari dari lo ca, jangan nempelin nih cowok, dia aja gak ada bilang perasaannya ke lo, dari pada lo sakit hati perasaan lo gak di terima dia mending ke gue aja”.
Kembali Quinsya menatap sinis putra, “emang hubungan gue sama Muse itu seperti apa? Kami patner bukan pacaran, dan lagi ngapain muse harus jawab perasaan caca, caca gak pernah nyatain cinta atau minta muse untuk terima perasaan caca, putra aja yang ngebet minta kejelasan hubungan orang lain, ngapain sih ikut campur” gerutu Quinsya sebal. Sagara menggenggam tangan Quinsya untuk membuat gadis itu sedikit tenang, entah Quinsya yang salah karena tidak pernah meminta kejelasan hubungan mereka atau Sagara yang salah karena selalu diam dan tidak mengatakan isi hatinya pada siapapun, tapi Cuma satu yang pasti Sagara mulai nyaman berada di dekat gadis itu, dia mulai bisa tertawa dan menjadi manusia normal, jika bersama Quinsya.
“Sorry, gue gak maksud buat lo marah” sesal Putra. “Lo gak suka hadiah dari gue ya” Putra berusaha mengganti topik pembicaraan di antara mereka.
“Suka, tapi gue lebih suka yang gue pakai sekarang” jawab Quinsya ketus sambil sesekali melirik pada Sagara yang masih tenang makan.
“Siapa yang kasih hadiah kalung itu ca?” tanya Putra lagi.
“Ra-Ha-Si-a” ucap Quinsya sambil mengulum senyumnya.
Walau Quinsya mengatakan Rahasia tapi putra tau itu adalah kalung hadiah pemberian Sagara, dia bisa melihat bagaimana tatapan kedua orang di sebelahnya penuh rahasia dan cinta. Cinta? Putra tau sagara menyukai gadis itu juga, tapi yang dia tidak tau kenapa Sagara tidak mau melawan ucapannya dalam memerebutkan Quinsya malah pasrah melepaskan gadis itu, entah sagara merasa dia bukan tandingannya atau sagara memang tidak berniat memiliki hubungan khusus dengan Quinsya, dan itu masih tanda tanya di kepala Putra.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
bonus pict
Quinsya sedang masak
__ADS_1