
makasih buat hadiah hadiahnya, author jadi kasih bonus satu lagi deh, kalau mau author up lebih banyak tolong bantu like, hadiah, vote dan bintang ⭐ lima nya ya
Terima kasih
...💐💐💐💐💐...
“Ikut makan” quinsya mengarahkan sendok yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya ke arah Sagara.
Sagara tersenyum senang saat Quinsya mengarahkan sendok pada mulutnya, dengan senang hati pria itu memakan apa yang di suapkan oleh Quinsya.
Dua orang itu asik makan sambil suap suapan, lebih tepatnya Quinsya yang menyuapi sagara lalu menyuap dirinya sendiri, pandangan itu membuat iri beberapa pengunjung, beberapa ada tersenyum melihat kemesraan pasangan itu tapi ada juga yang marah dan emosi contohnya Tina and the Gank.
“Tin, gue gak mau lama-lama liat mereka mesra begitu” gerutu Fani.
“bentar, sebentar lagi” geram Tina sambil mengepalkan tangannya geram.
“Mau nunggu apa lagi sih?!” geram Fani kesal.
“Kalau kita muncul sekarang, Sagara akan semakin marah dengan kita! Dia akan tau kita mengikutinya! Makanya sebentar lagi” balas Tina kesal.
.
“makanan kesukaan muse apa?” tanya Quinsya sambil memberikan suapan pada sagara.
“hmm” sagara mengunyah makanannya baru menjawab Quinsya, “gue gak punya makanan spesifik yang gue suka, apa aja yang penting bukan racun, gue makan” jawab sagara setelah mulutnya kosong.
“Kalau caca suka banget dengan makanan yang memakai mie, tepung tepungan, dulu caca gak pernah boleh makan mie sembarangan, hanya mie hambar tanpa penyedap rasa, itu pun mie hasil buatan” Quinsya mulai bercerita tentang dirinya.
“Sekarang sudah bisa?”
Quinsya mengangguk, “maka dari itu, sekarang caca suka sekali dengan mie, apa lagi mie instan” ujar Quinsya di ikuti tawanya.
“tapi gak boleh banyak-banyak makan mie, bisa sakit” nasehat Sagara.
“iya caca tau, setiap bulan caca masih cek Kesehatan kok, papi kan dokter jadi setiap akhir bulan papi akan cek Kesehatan caca dari kadar kolestrol sampai tensi caca, walau caca sudah sembuh papi dan mami masih protective kalau soal kesehatan, kalau bisa di rumah itu semuanya makanan yang berasal dari bahan organic, kebetulan opa mempunyai kebun dan peternakan sendiri, biasanya bahan-bahan makanan berasal dari perkebunan dan peternakan opa” ungkap Quinsya.
“Om rafa itu dokter? Kok sering berada di rumah? Biasanya dokter sibuk” tanya Sagara kebingungan, karena ayahnya yang seorang pengusaha saja sibuknya minta ampun sampai tidak sempat pulang ke rumah.
__ADS_1
Quinsya tertawa kecil mendengar pertanyaan Sagara, “papi memang dokter, malah dia dokter yang paling dicari, karena setiap dia melakukan operasi, dan semua operasi itu tidak ada yang gagal, tapi papi gak mau mendedikasikan dirinya bekerja di rumah sakit, dia tidak mau waktu dengan keluarganya membuat papi jauh dari mami, jadi papi hanya menjadi dokter untuk kasus tertentu, jika dia harus turun tangan, selain dokter papi juga pemilik perusahaan teknologi dan game, walaupun begitu, papi selalu menyempatkan diri untuk bersama mami lebih lama dibanding bersama pekerjaannya”.
“Gue iri, seandainya ayah gue bisa seperti om Rafa, mungkin bunda gue gak akan jatuh sakit dan tersiksa” gumam Sagara pelan.
Quinsya menggenggam tangan sagara yang ada di atas meja, “masa lalu biarlah berlalu, jangan di pikirkan lagi, bagaimana kalau kita jalan lagi, tapi sebelum itu gue pengen pesan minuman buat dibawa” ujar Quinsya.
“Pesan aja” ujar sagara.
.
Kedua orang itu kembali berjalan mengelilingi mall.
“Gimana kalau kita nonton?” tanya Quinsya.
Sagara melihat jam di tangannya, “Udah hampir malam, om Rafa nanti marah” ujar Sagara.
Quinsya cemberut, “tapi gue masih belum puas jalan” gumam Quinsya pelan.
“bentar lagi kita ujian kenaikan kelas, gimana kalau kita taruhan” ujar sagara.
“Kalau besok nilai caca gak ada yang merah, gue janji bakal temani caca kemanapun caca mau, gimana?” Sagara memang dimintai tolong oleh Azmi untuk memberi semangat pada Quinsya agar mau belajar untuk mengejar ketinggalannya. “gue gak minta harus masuk 10 besar hanya tidak ada merah, nilai pas pasan juga gak apa” ulang sagara.
“kemana aja?”
“iya kemana aja” ujar sagara, dia tersenyum melihat ketertarikan Quinsya.
“Pantai? Berdua saja gimana?”
“Boleh tapi agak sulit kalau Cuma berdua, om rafa pasti gak bolehkan”.
Quinsya mengangguk setuju papi rafa memang over protective, “kalau gitu bareng abang, tapi kita jalannya Cuma berdua tanpa abang, biar aja abang mau ngapain”.
Sagara menganggukkan kepala, “baiklah, jadi deal?”
“Deal!” seru Quinsya sambil tersenyum senang.
“CACA!” teriakan Tina sedikit membuat Quinsya terkejut, gadis itu spontan berlindung di belakang tubuh sagara. “ya ampun ca, kita cariin kemana mana, pas kita balik lo udah gak ada, sorry ya ca, kenapa gak nunggu kita balik sih” sambung Tina dengan ekspresi panik yang dibuat buat.
__ADS_1
“iya ca, kok lo hilang begitu aja, padahal kita udah balik, saga apa lo yang bayarin makanan kita, pasti caca ngomong yang jahat-jahat tentang kitakan” Fani ikut menambah bumbu dalam acting Tina.
Sagara masih diam menatap datar pada empat wanita di depannya, dia masih tidak mau mengeluarkan suaranya dan hanya menyembunyikan Quinsya di belakang tubuhnya.
“saga tolong jangan salah paham, kami cuma izin bentar, pasti caca ngadu yang enggak enggak sama lo” Rina ikutan dalam menjelekkan Quinsya di mata Sagara, mereka yakin sagara yang membayar makanan mereka karena Quinsya mengadu pada sagara sekarang mereka berempat harus memutar balikkan hayalan mereka, agar terlihat seperti Quinsya yang bersalah.
“Ca! lo jangan playing victim dong! Lo sembunyi gitu di belakang saga, lo jahat banget ca, menghancurkan image kami di depan saga” Dwi berpura pura menangis agar acting dia dan ketiga temannya terlihat sungguhan.
“Wuuaaaa” keempat orang itu terkejut mendengar tangisan Quinsya yang lebih kencang dari dwi yang hanya mewek sedikit, dan menarik perhatian setiap pengunjung yang ada di sana. Akting nangis Dwi masih kalah dengan acting nangis Quinsya yang berteriak keras seperti anak kecil dan mendapat perhatian orang orang. Beberapa ada yang tertawa melihat Quinsya yang menangis karena terlihat lucu dan menggemaskan. “caca gak ada ngadu kok di bilang ngadu, yang bayar semua makanan itu juga caca, kalian jahat huuaaaaa”.
Keempat orang itu terdiam kaku mendengar tangisan Quinsya, mereka menatap sagara dengan pandangan kebingungan.
“Gue gak ada bayar apapun” suara sagara akhirnya keluar.
“Caca, kami minta maaf, kami kira lo panggil Saga buat bayar makanan kami, jangan nangis dong” Tina kini kelabakan, mereka sudah kalah taktik dengan Quinsya.
Sagara sendiri memeluk gadis itu sambil mengelus punggungnya berusaha menenangkan Quinsya yang menangis keras.
“Sebaiknya kalian jangan dekati caca lagi, gue gak suka kalian ganggu caca” ancam Sagara dengan nada dingin pada ke empat orang itu.
“Saga, kita gak bermaksud jahat kok, kita Cuma bercanda, lo pasti taulah candaan anak muda zaman sekarang kan, saga jangan nilai kami jahat dong” lirih Fani.
“di mata gue kalian yang salah, bercanda kalian keterlaluan” Sagara menggandeng tangan Quinsya untuk kembali berjalan.
“saga! Saga dengarin penjelasan kami, si caca pasti sengaja buat image kami hancur, dia gak suka kami dekat dengan lo” Tina berlari mengikuti Langkah sagara.
“Boleh gue tanya, kapan ya kita pernah dekat?” ucap saga dingin, pertanyaan menohok itu membuat Tina dan yang lainnya terdiam, mereka akhirnya tidak mengikuti sagara dan Quinsya lagi.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
bonus pict
sagara dan Quinsya sedang kencan
__ADS_1