
“Ketemu lagi Quin, lo beli sebanyak itu buat apa?” ujar vera begitu matanya bertatapan dengan quinsya yang berbalik badan.
“buat melukis, gue seorang pelukis” jawab Quinsya sopan.
“Totalnya lima puluh lima juta tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah, pembayarannya pakai apa mbak?” tanya kasir.
Vera dan sahabatnya melotot mendengar total belanjaan yang dibayarkan oleh Quinsya, dia saja liburan ke bali dengan tiket gratis yang dia dapat dari voucher, sedangkan gadis cantik di depannya sangat mudah mengeluarkan uang yang sangat banyak.
“pakai kartu aja mbak” ujar Quinsya.
“Biar gue aja yang bayarkan” ujar sagara.
“hmm.. gak boleh, apa gunanya caca malak abang hehehe” Quinsya tertawa kecil sambil mengeluarkan empat buah kartu dari dalam dompetnya. “pilih mbak yang mana kartu yang digunakan” ujar Quinsya pada petugas kasir.
“Caca!” suara panggilan seorang pria membuat Quinsya berbalik ke belakang untuk melihat pria yang memanggilnya.
“Abang! Ngapain abang kesini?” tanya Quinsya.
Vera langsung menundukkan wajah begitu melihat wajah pria yang datang menghampiri Quinsya. Dia ingat itu adalah pria yang dia teriyaki sebagai maling.
“Ada yang mau abang beli, ini semua belanjaan kamu?” tanya farel.
Quinsya mengangguk pelan, “iya bang”.
Farel memberikan barang yang mau dia beli, pada petugas kasir, “tambah ini mbak, bayar pakai ini” farel memberikan black card yang ada di dalam dompetnya.
“Yahhh abang, kok abang yang bayarkan, ini caca udah malak abang az dan abang ar buat bayar” ujar Quinsya.
Farel mengelus puncak kepala Quinsya dengan lembut, tapi baru tiga detik sagara sudah menepis tangan farel, entah kenapa pria itu tidak suka melihat interaksi farel dan Quinsya padahal mereka saudara, berbeda dengan interaksi antara Quinsya dengan kedua saudara kembarnya.
“hari ini abang yang teraktir, kemarin waktu caca ulang tahun abang gak datang dan gak kasih kado ultah kan, ini aja gantinya” ucap farel dengan lembut pada Quinsya tapi menatap sagara sedikit sinis.
“Kalau gitu makasih banyak bang, bisa tolong bawakan ke rumah juga kan? Caca mau jalan sama muse” ujar Quinsya dengan senang.
Farel mengangguk pelan tapi ekspresinya sekarang sedang menunjukkan emosi palsu, pria itu berpura pura tersenyum, menjawab Quinsya.
__ADS_1
“dada bang! Vera gue duluan ya” pamit Quinsya sambil merangkul lengan Sagara.
Farel menatap gadis yang di sapa adik sepupunya, gadis itu masih menundukkan kepala tidak mau menunjukkan wajahnya.
“Lo temannya caca?” tanya Farel dengan nada datar.
“Baru kenal, tadi” jawab Vera, gadis itu masih menundukkan kepala takut mengangkatnya karena takut ketahuan.
“Ohh” Farel hanya bergumam pelan, “jadi berapa total semuanya mbak?” tanya farel pada kasir perempuan itu.
“Lima puluh tujuh juta enam ratus lima puluh dua ribu rupiah” ucap petugas kasir.
Farel memberikan black card yang tadi masih dia pegang, “saya bisa minta bantuan salah satu petugas di sini untuk mengangkat ke mobil saya?” tanya farel.
“Tentu mas, sebentar” setelah kasir itu pergi tidak berapa lama datang petugas lain yang mengangkat barang barangnya dan barang barang Quinsya ke dalam mobil. Farel berlalu begitu saja pada teman yang baru Quinsya temui.
“wuiihh gila, pantas kinclong dan cantik gitu, orang kaya banget, pasti perawatannya gak terhitung mahalnya” celetuk sahabat vera saat Quinsya, sagara dan farel sudah menghilang dari sana. “lo kenapa nunduk terus sih” tambah gadis itu heran dengan kelakuan vera.
“Itu cowok yang barusan membayar belanjaan” Vera menunjuk ke arah farel yang sudah menghilang.
“Lia dia cowok itu, cowok yang waktu itu gue teriyaki maling kue gue” ucap Vera.
“Ya ampun ver! Lo bukannya dapat jodoh dan gaet orang kaya seperti itu malah lo teriyaki maling, ampun dah” lia sampai geleng geleng kepala liat tingkah Vera yang selalu menomor satukan makanan. Makanya dia marah besar kalau ada yang mencuri makanannya.
.
“caca dekat sama bang farel?” tanya sagara pada Quinsya.
Quinsya yang lagi asik memakan ice cream langsung menghentikan suapannya dan menatap sagara, “Sama seperti saudara yang lain dekatnya, kenapa muse” jawab Quinsya.
Sagara menggeleng pelan, “gak ada, Cuma tanya aja” sagara menjulurkan tangannya untuk membersihkan bibir Quinsya yang sedikit belepotan akibat ice cream yang dia makan.
‘Deg’
Quinsya terdiam sebentar lalu berpura pura acuh dengan perlakuan spontan sagara tadi, sagara akhir akhir ini lebih memperlakukan dia dengan special, dan itu selalu membuat Quinsya senang serta berdebar debar.
__ADS_1
“Muse, caca boleh tanya gak?”
“tanya apa?” menopang dagu sambil menatap mata Quinsya dengan lekat, membuat gadis polos itu semakin linglung dan grogi ditatap oleh sagara.
“umur berapa muse mulai mendapatkan uang penghasilan sendiri” tanya Quinsya penasaran.
“gak terlalu ingat, tapi saat itu aku masih sangat kecil, karena kelaparan aku menjadi tukang cuci piring di warung makan dan gaji pertama yang aku terima adalah semangkuk nasi beserta lauk nya” jawab sagara dengan sangat lancar.
Quinsya mengabaikan ice cream nya dan meraih sebelah tangan sagara dan mengelus tangan itu dengan lembut, “Tangan muse mirip tangan papi, hangat dan nyaman” ucap Quinsya.
Sagara menggenggam tangan Quinsya yang sedang mengelus tangannya, “mau aku kasih tau satu rahasia lagi?” tanya sagara.
“Apa?”
“Aku punya trauma jika berdekatan atau berbicara dengan wanita” bisik sagara dengan suara pelan.
Quinsya memiringkan kepalanya bingung dia lalu menunjuk sebelah tangannya yang di genggam oleh sagara. “Ini apa? Caca bukan cewek ya?”
Sagara tersenyum sambil mencubit gemas pipi Quinsya, “Aku menganggap kamu special, awalnya aku memang melakukan perlawanan begitu di dekatimu, tapi kamu berbeda dari wanita yang selama ini mendekati ku, Aku tau kamu special, tapi aku takut untuk melangkah lebih maju dari kita yang sekarang, aku adalah pria yang penuh luka, aku takut akan melukaimu jika kamu berada di dekatku”
“Caca tidak selemah itu muse, kita jalani saja seperti sekarang, asal muse menganggap caca itu special itu sudah cukup” ujar Quinsya, dia tidak akan memaksa sagara untuk menjadikan dirinya sebagai kekasih, karena Quinsya tau seberapa dalam luka yang diterima sagara dari semua perlakuan orang tuanya.
‘brak’
Quinsya sedikit terkejut karena seseorang menggebrak meja mereka.
“Disini kamu ya!” bentak seorang wanita paruh baya sambil menunjuk kearah wajah sagara.
Sagara menghela nafasnya panjang, dia malas berurusan dengan tantenya itu, “ca, udah siap makannya?” tanya Sagara dengan lembut.
Quinsya hanya mengangguk pelan, dan mengikuti sagara yang tegak dari kursinya.
“Hai anak Monster! Gara gara kau putraku tidak diberi biaya hidup lagi! Apa yang kau katakan pada mas Adit!” teriak tante riri saat sagara mulai berjalan meninggalkan dirinya.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1