
📱“Halo sayang kenapa telepon mommy?” suara Mommy Queen terdengar dari dalam telepon Quinsya.
📱“Mom, caca mau min_” ucapan caca terhenti karena ponselnya direbut paksa oleh Rina, dan gadis itu langsung mematikan ponsel Quinsya dengan cepat.
“Gak perlu, lo gak perlu teraktir gue! Gue gak mau berteman dengan orang pelit seperti lo” umpat Rina sambil menyerahkan ponsel Quinsya secara kasar.
Bukannya menampilkan wajah sedih Quinsya malah tersenyum menatap Rina, “Caca bukannya pelit, tapi kalau gak mau teman dengan caca gak apa kok, gak masalah” balas Quinsya dengan entengnya.
Rina mendengus kesal karena Quinsya tidak terlihat takut dengannya, malah gadis itu terlihat biasa saja, padahal bukan ini rencananya, mereka berencana akan menghabiskan uang Quinsya dan membuat gadis itu bangkrut dengan mentraktir mereka tapi yang ada Quinsya malah tidak membawa uang sepeserpun.
Ke empat orang itu saling pandang dan memberi kode.
“Udah udah, Rina jangan gitu, gue gak minta balasan dari traktiran gue yang waktu itu, gimana kalau kita makan aja sekarang, gue lapar banget ni” Tina membuat rencana baru untuk mengerjai Quinsya.
Sedangkan gadis yang ingin mereka kerjai malah terlihat acuh tidak peduli sama sekali.
.
Tina membawa Quinsya dan yang lainnya pada restoran mewah yang ada di mall itu.
“Ca gak apa kan makan disini? Tapi gue gak bisa teraktir lo lagi ca, uang gue habis buat traktir lo kemarin itu” Sindir Tina pada quinsya, “dan mira gak boleh teraktir caca, kan tadi caca gak mau pinjam uang mira” ancam Tina sebelum Amira menawarkan diri untuk mentraktir Quinsya.
“Caca saudara gue Tina, tolong lo jangan kekanakan” Ujar amira sedikit kesal.
Tina menatap sinis Amira, “jadi lo mau membantu caca?” dari sorot matanya Tina memberi peringatan pada Amira.
Amira sebenarnya tidak takut tapi genggaman tangan Quinsya membuat gadis itu tidak jadi melawan ucapan tina.
“Gak apa mir, gue belum lapar nanti gue minum aja” ujar Quinsya santai.
Mereka akhirnya memasuki restoran itu, Tina and the gank memesan banyak sekali makanan, mereka terlihat sangat rakus, tujuan pertamanya mereka akan membuat Quinsya iri dengan mereka makan banyak sedangkan Quinsya hanya memesan lemon tea dan tujuan kedua, mereka akan lari saat mau membayar bill makanan. Tapi masalahnya di sana ada Amira saudara sepupu Quinsya rencana pasti akan hancur berantakan jika amira yang turun tangan menggantikan Quinsya untuk membayar.
__ADS_1
“Mir ada barang yang pengen gue beli bisa temani gue keluar bentar ya? Nanti kita ke sini lagi” ujar Rina pada amira yang sedang asik menyantap makanannya.
“nanti aja setelah dari sini” tolak Amira secara halus.
“Gak bisa gue takut barangnya habis soalnya itu limited edisi” Rina masih berusaha membujuk Amira untuk menemani dirinya pergi.
Amira menyenggol lengan Quinsya yang sedang asik memainkan ponselnya entah dengan siapa dia bertukar pesan.
Quinsya menoleh sekilas lalu mengangguk pelan membolehkan amira untuk pergi. Setelah amira pergi bersama Rina dan Dwi, Tina ikutan permisi dia sengaja meninggalkan tasnya agar Quinsya tidak curiga.
“Ca gue ke WC bentar ya, lo gak apa kan di sini bareng Fani bentar”
Quinsya sekali lagi menjawab dengan anggukan kepala, dia tau rencana licik empat orang itu, dan sayangnya kelicikan mereka kalah cepat dengan Quinsya karena sejak tadi Quinsya sudah berhasil menyembunyikan ponsel milik Tina untuk berjaga-jaga kalau Tina dan yang lain melarikan diri.
“Ca, gue ke tempat Tina bentar ya, dia bilang gak ada tisu di wc, jadi gue mau kasihkan tisu buat dia” Setelah Tina menghilang Fani juga ikut undur diri sambil mengambil tas tina yang ada di kursinya.
Quinsya mengangguk sambil berusaha menyembunyikan senyumannya, bagaimana caranya Tina memberi pesan, jelas jelas ponsel Tina ada pada dirinya, semakin yakin Quinsya jika dirinya hendak dikerjai oleh Tina dan yang lainnya.
📱“Assalamualaikum muse” salam Quinsya pada si penelpon.
📱“Waalaikum salam, lagi dimana?” suara lembut pria yang di sukai Quinsya terdengar dari dalam telepon.
📱“dalam mall dekat restoran XXX, dan caca di tinggal sendirian buat bayar bill, hehehhe padahal caca gak ada uang” Quinsya menatap pelayan yang sedari tadi menunggu dirinya.
📱“APA?! Minta nomor rekening restoran itu biar gue yang bayarkan” teriak sagara dengan nada yang tinggi.
📱“Gak apa, caca bisa kok, muse kesini aja jemput caca ya, caca kelaparan ini” ujar Quinsya memelas.
📱“Ya udah tunggu di sana, gue secepatnya ke sana” Dengan cepat sagara mematikan telepon.
“Mbak jadi gimana pembayaran semua makanan ini?” tanya si pelayan pada Quinsya, dia sempat mendengar pembicaraan quinsya dengan si penelpon.
__ADS_1
“Mbak, saya kan sedang di kerjai oleh teman-teman saya disini, mereka pergi meninggalkan saya yang gak punya uang sama sekali, begini aja mbak” Quinsya mengeluarkan ponsel Tina yang ada dalam sakunya, “Mbak boleh jual ponsel ini atau mbak ambil untuk mbak seharga makanan yang ada disini” ujar Quinsya dengan senyum manisnya. Kebetulan sekali ponsel Tina tidak di kunci jadi Quinsya tidak perlu meminta bantuan azmi untuk membobol ponsel milik tina.
“Mbak benaran ponsel mahal ini untuk saya jika saya membayarkan semua makanan ini?” tanya si pelayan tidak percaya.
“Benaran, saya udah bosan dengan model ponsel saya yang itu, ni saya udah beli yang baru, jadi yang itu gak guna lagi, gimana?” tawar Quinsya.
“Ya udah mbak gak apa, ini ponselnya masih bagus, kalau jual seken juga laku berjuta-juta saya juga lagi pengen ganti ponsel, mbak tenang aja saya sedang gajian saat ini, nanti saya bayarkan semuanya, berarti ini milik saya kan sekarang?” Si pelayang langsung mengambil ponsel yang ada di tangan Quinsya tanpa curiga.
“Iya gak apa, sekarang saya boleh pergikan?”
“Iya mbak, makasih ya, tapi ini ponsel gak bisa mbak ambil lagi loh”
Quinsya tersenyum pada si pelayan, "tenang aja gak bakal saya ambil, kalau gitu saya pergi ya” Quisnya berjalan keluar dari restoran itu dengan sangat santai, dia menunggu di depan restoran seperti yang di minta sagara.
.
“Tina ! fani!” Teriak Dwi memanggil Tina dan Fani dari kejauhan.
Amira mengerutkan keningnya bingung karena Tidak melihat Quinsya bersama dua orang itu.
“Mana caca?” murka amira.
Tina menghentikan tawanya dan menatap Amira dengan wajah serius, “gue tinggalin di restoran tadi, mungkin sekarang dia disuruh cuci piring buat bayar makanan kita” ungkap tina sambil kembali tertawa.
Amira hendak berjalan kembali ke restoran tapi tangannya langsung di tahan Tina, “Jangan beraninya membantu saudara lo itu, atau lo yang bakal jadi bulan bulanan kita semua, lo juga benci kan sama saudara lo?”
...🌻🌻🌻🌻🌻...
makasih atas dukungannya atas novel ini, jika mau lebih banyak update kasih dong like, hadiah, vote dan bintang lima yang banyak biar author seul bisa semangat update karena banyak hadiah nya
Terima kasih 😘💕😘💕😘💕
__ADS_1