My StuPid Girl

My StuPid Girl
127. Perpisahan


__ADS_3

Dua pasutri itu asik bercanda dan saling menggoda, mereka tidak sadar didepan mereka ada 2 orang sedang menatap mereka dengan wajah keduanya sama sama cemberut dan sebal melihat tontonan romantis di depan mereka.


“Capek gue Ru, gak di tempat orang tua, gak di sini, semuanya sedang pamer kemesraan, gak pada tau apa sedang ada anak gadis yang mau beranjak dewasa” gerutu Violet sambil bertopang dagu menatap sagara dan Quinsya dengan mata memicing.


Dua orang yang disindir Violet segera menoleh dan tertawa meminta maaf pada dua anak remaja yang sedang duduk di hadapan mereka.


“Lo aja bego, ngapa mau liatin udah jelas keluarga kita itu kalau udah suka sama orang bucin nya minta ampun, noh liat papa, bagai anak kucing yang gak mau jauh dari induknya” ujar biru yang asik menyantap makanannya. Yang dikatakan Biru memang benar saat ini papa Prince sedang mengejar juli yang sedang sibuk mengurus pesta pernikahan azmi dan Hana, dan pria itu tidak pernah jauh dari istrinya.


Lain lagi dengan papi rafa dan mami cessa, mereka sedang menyantap makanan mereka, mami cessa seperti anak kecil yang disuap kan makanan oleh papi rafa, tidak kalah romantic, mommy Queen dan daddy King sedang menyanyi di atas panggung untuk pasangan pengantin yang baru menikah, lalu jangan tanya opa harry dan oma dona,merekalah pemimpin dari pasangan bucin itu.


“Bang saga, dan kak caca bisa gak sih kalau mau cium cium di tempat lain, jangan merusak mata anak umur 15 tahun ini” ancam Violet pada sagara dan Quinsya.


“Ralat masih 14 tahun, jangan korupsi umur” protes Biru.


Wajah Violet yang tadinya marah kini menatap malas pada saudara kembarnya, “suka suka gue ru! Pokoknya tahun ini umur gue 15 tahun Cuma belum ulang tahun aja! Lo jangan motong motong ucapan gue ngapa! Lagi serius ini!” Amuk Violet, “Kita lanjutkan, bang_” Violet tidak jadi melanjutkan ucapannya karena saat dia menghadap depan untuk kembali memperingati sagara dan Quinsya, kedua orang itu sudah tidak ada di tempat duduk mereka, alis keduanya sudah pergi dari sana.


‘Plak’ dengan pukulan kuat Violet melayangkan pukulan pada punggung biru.


“Sakit olet!” pekik Biru yang kesal karena pukulan Violet.


“Nama gue Violet bukan olet! Udah capek capek bapak gue motong kambing lo ganti nama gue” amuk violet gara gara sagara dan Quinsya tidak ada dan amarah gadis itu menumpuk pada saudara kembarnya.


“Bapak kita sama oon! Lo keluar dari lubang yang sama dengan gue! Dan nama gue biru bukan ru!” pekik Biru, dia yang tadinya malas meladeni violet kini ikut emosi karena pukulan yang violet berikan padanya.


“Kalian pasti bertengkar terus! Itu dicariin sama papa dan mama” bulan datang dan berusaha menengahi pertengkaran dua anak kembar itu. Bulan memang sudah dianggap keluarga oleh keluarga bagaskara, makanya dia terbiasa memanggil nama orang di keluarga bagaskara dengan panggilan seperti biasanya.


“Tau nih! Si biru cari gara gara terus sama gue, mau minta masukkin kedalam perut mama lagi” gerutu Violet sambil tegak dari kursinya.


“mana muat oon, badan gue udah gede” balas Biru.

__ADS_1


Bulan hanya bisa geleng geleng kepala dan menarik tangan violet agar tidak berdebat dengan Biru, dua anak kembar itu memang lebih sering bertengkar dari pada kompak tapi ada saatnya mereka terlihat kompak.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Hari keberangkatan Aryan, azmi dan Hana akhirnya tiba, ketiga orang itu secara kebetulan mengambil hari yang sama untuk berangkat ke negara tempat mereka menimba ilmu.


Saat ini mata Quinsya dan mami cessa terlihat bengkak karena terus menangis, mereka bukan melarang kedua pria itu pergi namun Quinsya dan mami cessa masih saja tetap sedih karena berpisah jauh dengan azmi dan Aryan.


“Udah dong mam, gak malu diliatin sama orang?” bujuk Aryan. Sementara mami cessa masih menangis dalam pelukan putra sulungnya, sementara itu Quinsya menangis dalam pelukan saudara kembar yang paling sering bertengkar dengannya yaitu azmi.


“Mami ikut aja ya, ntar siapa yang ngurus abang di sana” ujar mami cessa.


“Sekalian aja kita pindah ke luar negri kalau mami juga ikut, papi mana bisa pisah dari mami, sejam aja rasanya bagai satu tahun” ujar papi rafa sambil terkikik geli.


“Itu namanya papi melebay, mana ada pisah sama mami cuma sejam berasa satu tahun” protes azmi. “ini lagi kemana suami ni anak kok biarin gue peluk istrinya terus” lanjut azmi dengan tawa kecil.


“kita pergi Cuma 3 sampai 4 tahun tapi mami dan caca nangis kayak kita gak balik lagi, udah dong nangisnya dek, ntar liburan semester abang balik, dan bawa oleh oleh” ujar azmi.


Kepala Quinsya menjauh dari dada azmi, “oleh oleh apa?”


Azmi tertawa keras melihat wajah bengkak adiknya, “nanti abang bawa ponakan bu__”


‘Plak’ azmi tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Hana baru saja memukul punggungnya dengan keras.


“Apaan sih yang, kan emang benar kita honeymoon juga di sana, sudah pasti honeymoon harus berusaha buat anak kan” canda azmi.


“Hahahha benar itu, kalau hana hamil, kami semua nyusul ke sana nemani kalian selama hana hamil” sahut papi rafa.


“Kalau abang ar?” kini Quinsya menatap Aryan yang masih sibuk membujuk mami cessa berhenti menangis.

__ADS_1


“Adek mau apa? Nanti abang carikan” ujar Aryan.


“Kalau opa maunya Aryan pulang bawa calon yang cantik” celetuk opa harry.


Aryan menggeleng dan tertawa kecil, “opa~ abang itu kuliah cari ilmu bukan cari calon istri” kekeh Aryan.


“Ya bisa aja bang, siapa yang tau Abang ar kecantol bule cantik di sana, jadi betah dan gak balik balik lagi” celetuk Dafa.


“Mami devi! Papi dafa pengen cari yang kedua tu” adu Aryan. Dafa sendiri sudah di jewer telinganya oleh devi.


“Hayooo papi dafa rasain tuh” ledek azmi.


“sayang udah dong peluknya, udah cukup lama lama aku cemburu yang” rengek Rafa sambil berusaha memisahkan cessa dari Aryan.


“Ihh papi cemburu aja, ini anak mami mau pergi jauh dari rumah, papi enak bisa setiap hari sama mami” gerutu cessa dengan mata yang masih terlihat bengkak.


“Udah malu sama orang orang yang liat, mereka juga sudah mau terbang sayang” ujar papi rafa.


Memang Aryan, azmi dan hana tidak pergi menggunakan pesawat pribadi yang papi rafa punya, mereka sengaja ingin mengambil penerbangan biasa tapi memakai kursi VIP.


“Tapi mami masih sedih” protes cessa.


Aryan dan azmi memeluk mami cessa sekali lagi dan mencium pipi wanita itu lalu pipi Quinsya, “Udah ya, ini sudah di panggil, abang pergi ya mi” pamit Aryan dan azmi, tidak lupa mereka juga berpamitan dengan yang lainnya sebelum benar benar pergi.


“ini nih punya anak otak encer jadi harus siap siap buat pisah dari mereka” gerutu mami cessa sambil menatap punggung anak anaknya.


Rafa dan yang lainnya hanya bisa tertawa mendengar gerutuan dari cessa.


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2