
“Hai anak Monster! Gara gara kau putraku tidak diberi biaya hidup lagi! Apa yang kau katakan pada mas Adit!” teriak tante riri saat sagara mulai berjalan meninggalkan dirinya.
Sagara mengabaikan ucapan tante riri, dia tidak peduli menjadi tontonan orang orang yang melintas di sana, pria itu sama sekali tidak mau peduli saudara tiri yang di sebut oleh tantenya tadi, dirinya saja bisa bertahan hidup tanpa uang pemberian ayahnya, kenapa anak tante riri tidak bisa seperti dirinya, umurnya bahkan sudah 11 tahun.
“JAWAB SAGARA!” bentak tante riri dengan keras.
Quinsya menahan tangan sagara yang ingin berbalik badan menghadap tante riri.
“Tidak apa, hanya sebentar” bisik sagara sambil mengelus pipi Quinsya dengan lembut. “Tante mohon maaf pertama aku sama sekali tidak menyuruh pak tua itu untuk menghentikan pendanaan pada anak tante, kedua aku malah mendorong pak tua itu agar segera menikahi tante, dan ketiga tolong jangan ganggu hidupku tan” ujar sagara tegas.
Tante Riri mengepalkan tangannya kesal dengan ucapan Sagara, “Kau pasti bohong! Kau pasti memprovokasi Adit dengan mengatakan tentang Airi kan! Adit akan lemah setiap kau mengatakan tentang airi!” bentak tante Riri.
Sagara menghela nafas panjang, “terserah tante mau percaya atau tidak, aku sudah mengatakan semuanya” tanpa menunggu balasan dari tante riri, sagara segera pergi menarik Quinsya untuk segera menjauhi wanita itu.
“Dasar tidak tau terima kasih! Anak monster sepertimu tidak pantas hidup! Seharusnya kau berterima kasih padaku! Karena airi menitipkan mu padaku!” teriak tante riri, tapi sagara hanya berlalu pergi bersama Quinsya.
“La~ la~ la~ la~ la~” bersamaan dengan teriakan tante riri, Quinsya bersenandung dengan kuat, dia tidak mau sagara mendengar teriakan yang terus menghinanya.
Sagara mengulum senyum mendengar senandung Quinsya, dia pikir Quinsya akan bertanya siapa wanita tadi dan ketakutan, tapi yang ada, gadis itu malah bernyanyi keras dengan nada sumbangnya, tidak peduli menjadi tontonan, Quinsya juga tidak peduli mau dibawa kemana oleh sagara, gadis itu tampak tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh tante riri.
.
“Maaf ya” ucap sagara setelah mereka berdua sampai di taman kota.
“Hmm? Buat apa?” tanya Quinsya dengan wajah polosnya.
“Lo harus dengar ucapan tante riri tadi” ujar sagara.
Quinsya tersenyum dan mengelus telapak tangan sagara, “berhenti meminta maaf karena tidak ada yang salah dari tadi”.
Sagara menganggukkan kepalanya pelan, setelah itu dia tertunduk dalam diam.
“Muse~” panggilan Quinsya dengan lembut, sagara yang dipanggil perlahan mengangkat kepalanya perlahan menatap mata indah milik Quinsya.
“Hmm?”
“Muse dengarin caca” Quinsya menatap lekat mata sagara, “apapun yang terjadi caca gak akan meninggalkan muse, silahkan muse lari dari caca, tapi kemanapun muse berlari caca akan terus mengejar muse, caca keras kepala dan egois jadi muse harus sabar menghadapi caca, karena target caca gak bakal boleh lepas, sekali terperangkap dalam jerat caca gak bakal caca biarkan lepas” lanjut Quinsya sambil mengedipkan sebelah matanya.
“caca gak takut dengan ku?” tanpa sadar sagara bertanya sesuatu yang paling ditakutkan dirinya.
__ADS_1
Quinsya menggeleng, “wajah tampan seperti ini bagaimana bisa caca takut” kekeh Quinsya sambil mengelus pipi sagara dengan lembut.
Sagara langsung memeluk Quinsya dengan erat, “Bolehkan sebentar saja seperti ini” bisik sagara.
“Tentu” Quinsya balas mendekap tubuh sagara, gadis itu tersenyum senang karena sagara tidak menjauh darinya.
📳
“Bentar…” Quinsya menjauhkan sedikit dirinya dari sagara, “papi telepon” gumam Quinsya.
“angkat aja” ujar sagara sambil melepaskan pelukannya dari Quinsya.
📲“halo pi” sapa Quinsya.
📲“halo halo, kalau angkat telepon itu assalamualaikum, bukan halo halo orang islam gak” omel papi rafa.
📲“Hehehe, papi kok udah esmosi pi, iya assalamualaikum papi gantengku” jawab Quinsya sambil tertawa pelan.
📲“Waalaikum salam, gimana papi gak sewot anak gadis jam 7 malam belum juga pulang ke rumah” omel Rafa.
📲“Ya ampun pi, belum jam 12 teng, kan caca Cinderella” canda Quinsya.
📲“Pulang sekarang caca, atau papi buat larangan gak boleh keluar dari rumah setelah jam 6” perintah papi rafa.
📲“Pulang caca? Atau papi jemput kamu di taman itu sekarang juga!” ucap papi rafa tegas.
📲“dari mana papi tau caca di taman? Papi pasang mata mata sama caca?” kali ini Quinsya sedikit marah karena keberadaannya langsung diketahui papi rafa, gak tau dia sedang meluk sagara, bisa bisanya papi rafa menelpon disaat yang tidak tepat.
📲“Iya papi pasang alat penyadap dan gps pada tubuh adek! Jadi pulang sekarang atau papi yang menyusul, kalau papi yang nyusul, adek gak boleh jalan berdua lagi dengan sagara” Rafa memberikan ancaman pada putri tercintanya.
📲“Iya iya ni adek pulang” gerutu Quinsya, dia menarik tangan sagara sambil tetap menelpon papi rafa.
📲“Pulang dalam waktu 15 menit dek” perinta papi rafa.
📲“Papi mau anaknya pulang dengan selamat atau tidak?”
📲“Ya selamat lah”
📲“Kalau gitu jangan pakai batas waktu gitu, 15 menit dari sini ke rumah itu jauh pi, belum lagi macetnya, kalau ngebut bahaya loh anak gadis papi bisa kecelakaan, jadi mau yang mana? Selamat atau tidak?” ancam balik Quinsya.
__ADS_1
📲“Ya udah pulang dengan selamat, papi gak kasih batas waktu, tapi pulang sekarang” ujar Papi rafa pasrah, putrinya memang selalu pandai menjawab, memang keturunan keluarga bagaskara mulutnya pada lancar ngomong semua.
Quinsya mengulum senyum karena berhasil membuat rafa masuk jebakannya.
📲“Kalau gitu, adek makan malam dulu ya, baru pulang, perut adek sedang gak tentram ini pi, cacing di perut adek lagi demo minta diisi”
Terdengar suara helaan nafas dari dalam telepon, sementara sagara yang sejak tadi mendengar hanya bisa geleng geleng kepala dan tertawa pelan.
📲“Gak ada mampir mampir, makan di rumah aja! Atau papi susul sekarang juga!” ucap rafa tegas.
📲“Yahh~ papi~ caca lagi pengen makan kwetiau yang di ujung jalan dekat rumah itu, kwetiau nya enak pi, boleh ya, cacing di perut caca lagi disko ini pi”
📲“Tadi demo sekarang disko! Gak ada itu! Balik dek! Ini peringatan terakhir, di rumah ada bahan bahan buat kwetiau, buat aja di rumah, ajak saga juga” ujar papi rafa sekali lagi.
Quinsya hanya bisa pasrah mengikuti perintah sang papi, kalau sudah dikatakan peringatan terakhir maka itu adalah akhirnya.
📲“Iya iya ni adek pulang, pulang dengan perut yang gak aman” gerutu Quinsya.
📲“Pulang dek! Papi tunggu depan rumah! Awas mampir mampir, papi udah bilang pasang gps dan alat sadap di tubuh adek” bohong papi rafa, dia sebenarnya hanya meletakkan gps pada ponsel dan anting milik Quinsya selebihnya tidak ada.
📲“Iya papi cerewet, kita belum baikan loh, mau adek masih marah sama papi?” ancam Quinsya.
📲“Udah baikan, kanvas permintaan adek udah sampai dan sudah dipasang di studio, jadi jangan marah marah berdosa marah terlalu lama sama papi” ujar Rafa.
📲“Hah! Baiklah papi caca pulang sekarang, assalamualaikum” Quinsya langsung mematikan ponselnya sebelum suara rafa terdengar olehnya, gadis itu menatap sagara dengan wajah sedih.
“Ayo pulang, kita bisa jalan lain kali” ujar sagara.
Quinsya hanya mengangguk pelan.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
bonus pict
caca lagi ngamuk gara gara papi over protective
__ADS_1