
“Dek!” Azmi kembali menjauhkan tangan Quinsya dari sagara. “ini anak orang benaran! Bukan halusinasi” pekik Azmi.
“HAH?!” Quinsya sempat nge blank selama beberapa saat baru mata indah itu berkedip cepat, “asli? Adek gak sakit? Bukan halusinasi adek?” tanya Quinsya. Sebenarnya dulu saat pengobatan Quinsya pernah merasakan halusinasi seperti yang dia alami karena obat yang harus dia konsumsi makanya Quinsya menganggap kehadiran sagara salah satu halusinasinya.
“Benaran, asli! Abang yang bawa kesini demi adek abang yang paling abang sayang” ujar Azmi dengan lembut.
“Ja-jadi__” Quinsya mulai memutar ulang tingkah lakunya yang baru saja dia lakukan, dari mencubit pipi hingga meremas dada sagara, “WAAAAAA!!!!” gadis itu berteriak kencang dan berlari menuju tangga.
“HAHAHAHA” tawa azmi terdengar sangat kuat, “WOIII dek ngapain lari sini makan!” teriak Azmi disela tawanya.
“itu anak siapa sih mi, kok bisa seperti itu” keluh Rafa.
“lah kan anak papi, papi yang selalu manjain, nah itu jadinya” kekeh Cessa. “nak saga maaf ya si caca masih baru bangun tidur” ujar mami cessa.
Sagara tidak menjawab pria itu masih menunduk malu karena perlakuan anak gadis rafa barusan.
“Bang angkat adek kesini bang” perintah Rafa.
Azmi segera tegak dari kursinya untuk menggendong Quinsya yang sudah berlari menuju kamarnya.
“ABANG! TURUNIN CACA!” dari arah tangga terdengar teriakan Quinsya yang meminta turun dari gendongan Azmi, pria itu sedang menggendong Quinsya seperti karung beras di bahunya.
“Udah gak usah malu! Biasanya malu maluin anggap aja caca lagi ngigau” ujar Azmi menenangkan Quinsya yang berontak di dalam gendongan.
“Iya iya! Jadi turunin caca cepat!” pekik Quinsya dengan keras.
“Awas kalau lari” azmi memberi peringatan sebelum menurunkan Quinsya dari gendongannya.
“Iya iya! Lagian siapa yang lari, orang adek Cuma terkejut aja” gerutu Quinsya sambil duduk di sebela Cessa.
“benarkah? Gak malu? Habis pegang pegang dada orang?” ledek Azmi.
Quinsya melototkan matanya pada abang kedua yang selalu suka mengerjainya, “jangan di bahas!” protes Quinsya.
Azmi mengangguk sambil menahan tawanya.
...🎋🎋🎋🎋🎋...
__ADS_1
“hmm muse cari aja posisi yang nyaman, biar bisa caca Lukis”.
Setelah selesai makan malam Quinsya membawa Sagara ke kamarnya meminta sagara menjadi model lukisnya. Dan sekarang kedua orang itu sedang berada di studio milik Quinsya yang berada di dalam kamar gadis itu.
Sagara menatap seluruh sudut tempat itu, matanya menangkap beberapa rak buku yang memang di sediakan rafa untuk gadis kecilnya, “boleh gue sambil baca?” tanya sagara.
“Boleh kok ambil aja, itu buku baru semua caca belum pernah buka” aku Quinsya, dia memang tidak pernah memegang buku-buku pelajaran yang dibelikan Rafa, hanya buku novel yang gadis itu suka baca.
Sagara segera mengambil salah satu buku dari rak buku Quinsya setelah itu pria itu berbaring di salah satu sofa Quinsya sambil mulai membaca buku itu.
Cukup lama pria itu membaca dia bahkan lupa kalau Quinsya sedang melukisnya.
“Sayang, ini udah malam sekali, kasian saga besok kalian kan masih harus sekolah” suara mami cessa tiba-tiba membuat Quinsya dan sagara tersadar dari kegiatan mereka, jam juga sudah menunjukkan pukul 11 malam, sagara sedikit merenggangkan tubuhnya karena mulai merasa kaku dan kesemutan.
“Dikit lagi mi” ujar Quinsya yang masih fokus untuk melukis.
“Dek~ nanti papi gak bolehkan sagara kesini lagi loh, cepat tidur lagi” perintah Cessa sekali lagi.
Quinsya cemberut tapi dia mematuhi perintah cessa, gadis itu mulai merapikan sedikit barang-barangnya.
“iya gak apa tan” jawab sagara, “gue ke kamar Azmi ya” ujar Sagara dengan lembut.
“hmmm iya” ujar Quinsya dengan lesu.
“besok bisa sambung lagi, nanti lo bisa sakit kalau sering tidur kemalaman” ujar Sagara lagi.
Senyum Quinsya langsung merekah begitu sagara memberikan perhatian padanya, “Janji ya” gadis itu menyodorkan jari kelingkingnya pada sagara.
“janji” jawab sagara sambil mengaitkan kelingking mereka.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Paginya Quinsya seperti biasa sangat sulit untuk dibangunkan biasanya Cessa harus meletakkan makanan pada mulut gadis itu baru dia bangun sambil mulai mengunyah makanannya, tapi kali ini cara terampuh baru saja di tunjukkan oleh azmi dengan cara menggunakan sagara untuk membangunkan Quinsya. Dan cara itu lebih cepat dan ampuh dari cara yang biasa Cessa lakukan.
“Yang tolong pakaikan” Rafa turun dengan baju lengkap dengan kemeja dan menenteng dasi yang belum terpasang sempurna di lehernya.
“sini”cessa memberikan intruksi pada Rafa untuk mendekat.
__ADS_1
Melihat tingkah kedua orang tuanya Azmi, Aryan dan Quinsya sama sama menghela nafas panjang.
“Bro sebaiknya lo menunduk atau tutup mata” bisik Azmi pada Sagara.
Sagara yang masih belum tau apa yang terjadi masih tetap fokus pada makannya, matanya tidak sengaja melihat mami cessa yang sedang memasangkan dasi di leher papi rafa langsung di cium oleh rafa. Sagara langsung menunduk begitu melihat adegan live di depan matanya.
“Mi, pi! Ini masih pagi bisa gak jangan mesra-mesraan di depan anak dibawah umur” protes Azmi begitu kedua orang tuanya sudah selesai melakukan aktifitas memalukan yaitu berciuman.
“Stttsss protes aja! Kalau mau sana cari sendiri” balas Rafa.
“emang boleh abang cium cium?” tantang Azmi.
“gak boleh, masih dibawah umur belum punya ktp dan belum nikah, jadi belum boleh” ujar rafa dengan tawa kecil.
“lah tadi nyuruh abang cari sekarang bilang gak boleh gimana sih papi” gerutu azmi.
“jangan dengerin kata papi, kalian fokus aja senang-senang di sekolah, jangan pikir tentang pacar pacar dulu” ujar cessa.
Sagara sedikit terdiam mendengar ucapan cessa barusan, dia pernah makan bersama ayahnya tapi nasehat ayahnya adalah fokus belajar dan jadi yang terbaik, bukan seperti cessa malah mengatakan fokus bersenang-senang. Sagara memang tidak menempati posisi nomor satu disekolah tapi dia lumayan pintar karena selalu masuk kedalam urutan 3 besar, sagara juga seorang kapten basket yang selalu mendapat posisi nomor satu setiap ada lomba basket.
“Ajaran yang menyesatkan” Azmi geleng-geleng kepala dan tertawa kecil.
“udah siap-siapnya? Kita berangkat sekolah lagi” ujar rafa yang sudah siap-siap untuk pergi bekerja.
“Bentar dulu” mami cessa berlari kecil menuju dapur dan membawa 4 buah bekal di tangannya, “ini untuk Aryan, azmi, caca, dan sagara, dihabiskan ya, mami maunya bersih begitu sudah sampai di tangan mami” ujar cessa.
Sagara tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada cessa, ini pertama kalinya dia mendapatkan bekal dari seorang ibu tentu sagara merasa bahagia.
“oke mam” jawab Quinsya dengan senyum cerahnya.
...🎍🎍🎍🎍🎍...
bonus pict
Sagara lupa tempat keasikkan membaca
__ADS_1